Karena besok sudah harus kembali ke Jakarta, hari ini Duta mengajak Rindu bersilaturahmi ke rumah-rumah sanak keluarganya. Rindu sangat senang karena semua keluarga Duta yang dikunjunginya memberikan sambutan positif.
Sorenya, Duta sekeluarga berziarah ke makam ayahnya. Setelah menyiramkan air dan menabur bunga, mereka mendoakan almarhum.
Rindu memang tidak sempat mengenal ayah mertuanya, tapi melihat bagaimana istri dan anak-anaknya, Rindu yakin, beliau juga orang baik.
Yah, Duta mau ngenalin menantu Ayah. Cuma menantu sementara, sih.
Semoga Ayah tidak kecewa dengan kelakuan Duta ini.
Maaf, karena sampai detik ini Duta belum berhasil mengangkat derajat keluarga.
Duta mengusap nisan ayahnya sebelum undur diri. Tidak terasa, sudah tujuh tahun beliau berpulang. Delon baru lahir waktu itu. Tidak heran kalau anak itu kadang manjanya berlebihan ke kakak-kakaknya, karena tidak ada figur seorang ayah yang bisa dijadikan sandaran.
"Kak, kok, tadi malam nggak ada suaranya?" Pertanyaan Dika membuyarkan lamunan Duta. Mereka jalan bersisian. Sementara Rindu dan ibunya berada beberapa langkah di depan mereka, diapit oleh Dion dan Delon. Letak TPU memang terbilang dekat, masih wajar dijangkau hanya dengan jalan kaki.
"Suara apaan?" Duta mengernyit.
Alih-alih menjawab, Dika malah menautkan jemarinya, lalu mengadu pangkal telapak tangannya hingga terdengar bunyi "plok-plok".
Mata Duta seketika melebar setelah paham maksudnya. "Dasar bocah sinting!"
Dika sigap melarikan diri ketika sang kakak hendak menjewer telinganya. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Nursia lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan anak-anaknya.
***
Malamnya, Duta dan Rindu jalan-jalan ke Pantai Losari. Sekadar menikmati udara malam dan mencicipi jajanan khas Makassar. Bagi Duta, di sini teramat banyak kenangan bersama almarhum ayahnya. Rasanya seperti bergulung-gulung di udara dan menyelinap ke paru-parunya bersama oksigen yang dia hirup setiap saat.
"Udah pernah ke sini sebelumnya?" Duta menoleh sejenak ke Rindu yang berjalan tepat di sampingnya, lalu kembali mengedarkan pandangan. Ini bukan malam Minggu, tapi pengunjung lumayan ramai. Dan rata-rata pasangan yang sedang memadu kasih.
"Pernah," jawab Rindu disertai anggukan kecil, meski Duta tidak sedang melihat ke arahnya. "Kalau nggak salah dua tahun yang lalu. Waktu itu ada kerjasama dengan salah satu restoran bintang lima di daerah Pengayoman. Eh, bener nggak, sih, itu nama jalannya?"
"Iya. Emang ada, kok, nama jalan itu di sini." Kemudian, dengan kedikan kepala, Duta mengajak Rindu duduk di bibir tanggul.
Rindu menurut.
"Berarti kamu udah keliling Indonesia, ya?" tanya Duta lagi setelah mereka duduk berdampingan sambil menjulurkan kaki. Angin malam yang samar-samar menyertakan aroma laut menyapa wajah mereka dengan sopan.
"Nggak juga. Sebenarnya aku jarang menerima tawaran di luar Jawa, kecuali kalau bayarannya gede." Rindu terkekeh.
"Itu wajar, kok. Kan, mesti sebanding dengan tenaganya."
Obrolan di antara mereka terjeda untuk sekian menit. Keduanya terlihat sibuk menikmati suasana dengan cara masing-masing, atau hanya kamuflase di balik upaya menemukan topik baru, sebelum kebersamaan mereka telanjur garing.
"Dingin ya?" tanya Duta setelah tidak sengaja melihat Rindu merengkuh dan mengusap-usap kedua lengannya.
"Kalau iya, kenapa? Mau pakaikan jaket kayak di film-film?"
Duta berdecak. "Kamu ini, nggak bisa banget diajak romantis."
Mereka terkekeh.
"Jangan kayak gitu, Ta. Bahaya. Aku gampang baper soalnya."
"Baper bukan dosa, kok."
"Tapi percuma kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakiti diri sendiri."
"Maksudnya?" Duta mengernyit.
"Udah lumayan banyak cowok modus yang mampir di hidupku. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu rasanya kayak setengah dunia tiba-tiba kiamat."
"Tapi aku bukan cowok modus."
"Memang bukan. Tapi ujung-ujungnya kamu tetap akan pergi setahun kemudian."
Duta tercenung sejenak. "Meski itu sudah tercantum dalam kontrak, tapi kamu dan aku nggak bisa menebak apa yang akan terjadi setahun kemudian."
"Jangan bersikap seolah-olah hubungan kita ini punya harapan lebih, Ta. Karena kita sama-sama tahu, untuk apa kita menjalani pernikahan ini."
Ada kalimat yang nyaris terlontar dari mulut Duta, tapi entah kenapa malah ditelan kembali.
Lalu keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Sebaiknya pernikahan ini memang dijalani sesuai aturan, tidak perlu menambahkan hal-hal yang tidak jelas.
"Ta, aku boleh nanya sesuatu nggak? Tapi jawab yang jujur."
Duta mengangguk dengan ekspresi siap menyimak.
"Emang benar, ya, rata-rata cowok itu mandang fisik?"
"Wah, pertanyaannya berat, nih." Duta tampak menimbang sebelum menjawab. "Jujurnya jujur aja atau jujur banget, nih?" candanya. Padahal Rindu sudah serius menunggu jawaban.
"Ta!"
"Oke." Duta membenahi posisi duduknya terlebih dahulu. "Mungkin iya. Karena jujur, aku pun begitu."
Jawaban itu serupa racun yang disiramkan ke hati Rindu, membuat sesuatu yang mulai tumbuh di sana layu seketika.
"Tapi menurutku agak kurang tepat kalau dibilang mandang fisik. Karena manusiawi banget kalau mata kita ini lebih tertuju ke hal-hal yang telanjur didoktrin sebagai sesuatu yang menarik. Itu naluriah yang nggak bisa disangkal. Terkhusus untuk standar cewek, negara kita ini telanjur mengklaim bahwa cantik itu langsing, tinggi, dan putih. Tiga itu patokan paling mendasar, kan?"
Hati Rindu mencelus. Ketiganya nyaris tidak dia miliki, kecuali kulitnya yang lumayan cerah.
"Padahal di negara lain belum tentu, loh, perempuan tinggi, langsing, dan putih dianggap cantik. Ada negara yang menjadikan kulit cokelat sebagai standar kecantikan. Bahkan tubuh berisi juga ada."
Rindu manggut-manggut. Dia sering membaca artikel yang membahas hal itu.
"Kesimpulannya, setiap cewek dilahirkan untuk jadi cantik. Diakui atau tidak, hanya tergantung pola yang telanjur terbentuk di tempat mereka berada." Duta mengulas senyum penuh makna. "Jadi, kalau tiba-tiba kamu nanya kayak gini karena minder dengan penampilanmu, aku rasa itu bukan sesuatu yang baik untuk dipelihara lama-lama."
"Kamu bisa ngomong enteng begitu karena nggak pernah ngerasain di posisi aku, Ta. Badan segede ini terlalu sulit untuk diajak pura-pura cuek."
"Aku nggak pernah bilang itu mudah, kok. Tapi gini, deh, ibaratnya di dalam sebuah toko, produk-produk dengan kemasan menarik atau cara pemajangan yang unik, memang bakal lebih sering dilirik. Orang-orang akan menghampirinya. Tapi, tentu saja tidak semua orang yang melirik itu akhirnya memutuskan untuk membeli. Karena sekadar ketertarikan awal belum tentu cukup jadi alasan untuk memiliki. Masing-masing orang punya pertimbangan lebih lanjut."
"Itu yang menarik loh. Gimana yang dasarnya aja udah nggak menarik?"
Duta terkekeh. "Tapi aku percaya, dalam sebuah toko tidak ada produk yang diciptakan sia-sia. Terlebih setiap manusia yang lahir ke dunia ini. Intinya sabar. Suatu saat akan datang seseorang yang melihat segala hal dalam dirimu adalah alasan kuat untuk memilikimu."
Rindu membeku. Kenapa kalimat itu seketika membuat dadanya terasa penuh? Ukuran jantungnya seolah bertambah dua kali lipat karena berdetak terlalu cepat.
Semoga orang itu kamu ....
Rindu tidak ingin menanam harapan sia-sia, tapi suara itu tiba-tiba saja menggema di rongga kepalanya.
***
[Bersambung]
Rindu mulai jatuh cinta beneran, nih.
Lantas, bagaimana dengan Duta?
???