Ada yang Bangun

1144 Words
"Yakin, nih, nggak apa-apa kita tidur sekamar?" Duta merasa sangat perlu untuk memastikan. "Selama kamu nggak macam-macam." "Kalau soal itu, aku nggak jamin, sih." "Ta ...!" Rindu menoyor pundak suami sementaranya itu. Duta terkekeh, sebelum akhirnya malah menempelkan telunjuk di depan bibir. Dia baru sadar, mereka terlalu ribut untuk rumah sekecil ini. Suaranya pasti terdengar sampai di luar. "Gini aja, aku tidur di lantai," putus Duta kemudian. Rindu langsung menunduk untuk melihat lantai semen yang dipijaknya. "Tidur di sini pasti bakal dingin banget, loh." "Gampang, ada selimut." "Ini keras banget, loh." "Tahu, kok, kalau lantai semen itu keras." Rindu memutar bola mata. "Maksud aku, besok badan kamu pasti pegal-pegal semua." "Atau mau tukaran aja, aku yang di ranjang, kamu yang di lantai?" "Ogah!" "Tidur seranjang aja berarti." Duta menaik-turunkan kedua alisnya sambil menahan tawa. "Ngawur!" Rindu lekas naik ke tempat tidur sebelum ekspresi jail Duta membuatnya salah tingkah lagi. Duta ikut naik ke tempat tidur. Rindu sigap menahan pundak cowok itu. "Eh, ngapain?" "Cuma mau ngambil bantal," jawab Duta sambil meraih satu bantal. Setelah itu beranjak mengambil selimut di dalam lemari, langsung dibentangkan ke lantai sebagai alas tidurnya malam ini. Rindu sudah baring dengan posisi membelakang. Pikirannya tidak menentu. Baru saja mencoba memejamkan mata, suara Duta tiba-tiba terdengar lagi. "Selamat tidur, Rin." Kedua mata Rindu sontak terbuka lagi. Dia membalas ucapan Duta hanya dengan gumaman. Sekarang saja suasananya sudah sangat canggung. Sebaiknya jangan ditambah. Lewat tengah malam, hujan turun sangat deras, disertai petir yang seolah hendak menggugurkan jantung serta merobek gendang telinga. Langit-langit rumah Duta tidak berplafon, hanya dibentangi terpal sebagai gantinya. Hal ini membuat suara hujan menerjang atap seng terdengar sangat jelas. Duta terbangun. Bukan karena keributan hujan di luar sana, tapi karena samar-samar mendengar suara isakan. Sepertinya itu suara Rindu. Duta pun naik ke tempat tidur untuk memastikan. "Rin, kamu nangis?" tanya Duta sambil menyentuh perlahan pundak cewek itu. Rindu tidak menjawab, tapi suara isakannya makin jelas. Dia meringkuk memeluk guling. "Kenapa?" "Aku takut petir, Ta," jawabnya dengan suara parau. Duta prihatin. "Ya udah, aku temenin di sini, ya, sampai hujannya reda." Rindu diam saja, dan Duta anggap itu berarti boleh. Dia pun baring di belakang cewek itu dengan posisi menyamping. Tiba-tiba cahaya kilat menyelinap lagi lewat jendela. Duta sigap memeluk Rindu dari belakang. Ketika petir yang kesekian kembali meledak di luar sana, Rindu refleks menggenggam tangan Duta sangat erat. Ternyata takutnya tidak main-main. Setelah petirnya reda, Duta ingin menarik tangannya, tapi Rindu malah menahannya. Sepertinya dia mewaspadai petir susulan. Mau tidak mau posisi itu harus bertahan lebih lama. Duta pun menyamankan posisi dan mencoba kembali memejamkan mata sambil tetap memeluk Rindu dari belakang. Subuhnya, saat Rindu terbangun, ternyata dia masih berada dalam pelukan Duta. Namun, seketika matanya terbelalak karena merasakan sesuatu yang keras mengganjal di belakang tubuhnya. Dia buru-buru menyingkirkan tangan Duta dari pinggangnya dan bergeser menjauh dari cowok itu. Hal itu membuat Duta terbangun. "Kenapa?" tanyanya heran. Rindu tidak menjawab. Jantungnya mau copot rasanya. Ini jauh lebih mendebarkan dari suara petir tadi malam. Meski pertanyaannya tidak direspons, Duta cukup peka untuk langsung paham situasi. Dia pun melirik ke suatu titik. Tidak salah lagi, tonjolan itu pelakunya. Duta meringis sambil menutup selangkangannya dengan bantal. Bagaimana bisa dia seceroboh ini? Harusnya dia tidak boleh lupa, bahwa ada yang akan bangun lebih awal setiap subuh. Dia tepuk jidat. Malu-maluin aja. *** Rindu sudah tanya-tanya ke Duta seperti apa rutinitas di keluarganya. Meski tidak akan tinggal lama di rumah itu, dia ingin memberikan kesan yang baik. Karena itu, pagi-pagi sekali Rindu sudah keluar kamar untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan. Kata Duta, sarapan bareng adalah tradisi yang sangat lekat di keluarganya. "Apa yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Rindu pelan setibanya di dapur. "Eh, Nak." Nursia menoleh dan mengembangkan senyum. "Ibu udah mau selesai, kok." "Yah, saya telat, dong." Rindu meringis tidak enak hati. "Temani Ibu ngobrol aja. Kan, besok kamu udah mau balik ke Jakarta." Rindu pun mendekat, berdiri di samping ibu mertuanya yang sedang mengaduk nasi goreng. "Kamu biasanya sarapan apa?" tanya Nursia sambil mengecilkan api kompor. "Seringnya cuma makan roti, Bu. Jarang banget sarapan yang berat-berat, takut makin melar." Rindu terkekeh. "Loh, badan kamu itu masih bagus, kok. Nggak gimana-gimana banget. Kelihatan sejahtera." Rindu tahu betul, itu hanya kalimat penghibur. "Cantiknya seorang perempuan bukan hanya dari bentuk tubuh, tapi juga dari sini, dan sini." Nursia menunjuk d**a dan kepalanya bergantian. Rindu mengangguk paham. Tidak ada yang lebih melegakan bagi seorang perempuan jika setelah menikah dia diterima dengan baik di keluarga suaminya. Kurang lebih seperti itu perasaan Rindu saat ini, meski Duta hanya suami sementaranya. "Eh, ngomong-ngomong, gimana ceritanya kamu bisa kenal sama Duta?" Nursia mulai kepo. "Selama ini dia nggak pernah cerita soal cewek. Ibu sampai khawatir, takut dia nggak normal." Perempuan paruh baya itu tertawa renyah. "Makanya, pas dia bilang mau nikah, Ibu kaget sekaligus senang banget." Rindu ikut tertawa, tapi bingung harus jawab apa. Dia tidak ingin terang-terangan berbohong di depan ibu mertuanya ini. "Bu ...!" Itu suara Delon, adik terkecil Duta yang baru kelas 2 SD. Dia datang sambil mengucek mata dan sesekali masih menguap. "Kenapa, Nak?" Nursia menoleh ke arah bungsunya sebentar, lalu mematikan kompor karena nasi gorengnya sudah matang. Melihat Rindu juga ada di sana, Delon tidak mengatakan apa-apa. Dia malah memeluk ibunya dari belakang. "Karena paling kecil, dia ini emang paling manja. Rada pemalu juga," terang Nursia sambil memutar badan dan mengelus kepala Delon. Rindu tersenyum ke arah Delon yang menatapnya malu-malu. Kemunculan anak ini cukup melegakan. Setidaknya Rindu tidak perlu menciptakan kebohongan. Sepertinya ibu mertuanya sudah lupa dengan pertanyaannya tadi. "Sana, bangunin Kakak, suruh mandi lalu sarapan bareng. Nanti telat sekolah, loh." Delon pun langsung pergi lagi. Beberapa saat kemudian, tiba waktunya sarapan. Karena sudah tahu menantunya tidak terbiasa sarapan nasi, Nursia cekatan pergi beli roti tawar dan selai cokelat di warung terdekat. Rindu jadi tidak enak hati sudah merepotkan. Harusnya dia ikut makan saja apa pun menu sarapan di keluarga ini. Meja makan bundar itu agak rusuh karena Dika, Dion, dan Delon selalu saja meributkan hal-hal kecil. Mereka sudah siap dengan seragam sekolah masing-masing. "Maaf, ya, Nak Rindu, mereka ini emang susah sekali diajak tenang." Nursia geleng-geleng melihat kelakuan anak-anaknya. Dika yang sering duluan menjaili adik-adiknya, dan juga paling tidak mau mengalah. Padahal dia sudah SMA. "Dik, kamu, kan udah gede, dewasa dikit dong," tegur Duta. "Kalau gabut jangan cari ribut. Mending bantuin kerjaan Ibu." "Kemarin dibilang masih kecil, sekarang tiba-tiba udah gede. Yang benar yang mana, sih, Kak?" Duta memelototi adik pertamanya itu. Dika langsung mempersembahkan cengiran perdamaian. Rindu sama sekali tidak terganggu dengan keributan kecil di meja makan itu. Karena siapa pun tahu, itu bukan jenis keributan yang serius. Hal semacam itu justru bisa merekatkan kebersamaan, tanda bahwa keluarga ini benar-benar hidup. Keluarga seperti ini yang didambakan Rindu sejak dulu, sederhana tapi hangat. Andai Duta bukan hanya suami sementaranya, pasti sangat menyenangkan bisa menjadi bagian dari keluarga ini selamanya. *** [Bersambung]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD