Tidur Sekamar

1046 Words
"Rin, kamu yakin nggak akan nyesel nantinya?" tanya Duta setelah mereka duduk di ruang tunggu penerbangan tujuan Makassar. "Nyesel karena apa?" "Soal pernikahan kita ini." "Kenapa harus nyesel?" Rindu menoleh dan menatap dengan serius. "Kamu, kan, cewek. Meskipun kita memang nggak akan melakukan itu, mau nggak mau kamu tetap akan berstatus janda. Pandangan orang pasti udah beda. Terutama cowok yang berniat menikahimu kelak. Gimana cara kamu menjelaskannya nanti?" Rindu tertegun sejenak. "Jujur, pemikiran itu sempat melintas. Tapi ... pernikahan ini udah semacam keharusan. Jadi, yang terjadinya masih jauh ke depan, mungkin sebaiknya nggak usah terlalu dipikirin dulu. Lagian, sejak ketemu kamu di taman itu, aku semakin percaya, bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan begitu saja. Tuhan pasti selalu menyertakan jalan keluar di setiap kesulitan. Tugas kita adalah mencarinya." Duta manggut-manggut setuju. "Kamu sendiri?" Rindu mengembalikan pertanyaan Duta. "Gimana cara kamu menjelaskan ke perempuan yang nantinya akan kamu nikahi, bahwa meskipun duda, kamu masih perjaka ting ting?" "Ah, cowok mah gampang." Duta mengibaskan tangan sambil terkekeh. "Btw, aku nggak ting ting amat kali. Udah pernah main sendiri." Rindu langsung menoyor pundak Duta. "Njirrr! Nggak usah dibilang juga kali." Duta terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. "Eh, kamu nggak beli oleh-oleh gitu buat Ibu kamu?" tanya Rindu setelah tawa Duta reda. "Oleh-oleh buat Ibu ada, kok. Spesial banget malah." "Oh ya? Apaan?" "Kamu, menantu spesial." "Aku serius kali, Ta." Rindu pura-pura tidak terpengaruh. Padahal diam-diam pipinya bersemu merah. "Ya udah, mumpung masih ada waktu, kita cari oleh-oleh dulu, yuk," ujar Duta yang bahkan sudah berdiri, lalu mengulurkan tangan meminta tangan Rindu. Tatapan Rindu sempat hilir-mudik dari mata ke tangan Duta, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan cowok itu. "Kalau nggak salah di sana ada pusat oleh-oleh," kata Duta sambil menunjuk ke suatu arah. Rindu diam saja. Bergandengan tangan seperti ini rupanya kurang sehat untuk jantungnya. *** Rindu dan Duta tiba di Makassar ketika sore baru saja menyapa. Bayangan mulai memanjang, tapi kadar terik matahari rasanya belum berkurang. Masih sepanas pukul 12.00. Di pintu keluar bandara Sultan Hasanuddin, paman Duta sudah menunggu sekitar 30 menit yang lalu untuk menjemput. Biasanya kalau pulang Duta tidak pernah minta dijemput segala, tidak ingin merepotkan orang lain. Namun, kali ini beda karena Rindu bersamanya. Lagian, menurut adat Bugis, calon mempelai harusnya dipingit minimal tiga hari sebelum hari pernikahan. Kalau mau keluar harus ditemani. Karena konon, menjelang hari pernikahan calon mempelai rawan terkena musibah. Duta sebenarnya tidak percaya degan hal semacam itu, tapi bukan berarti tidak menghargai. Rumah keluarga Duta berada di kawasan padat penduduk yang letaknya lumayan jauh dari bandara. Di pemukiman kelas menengah ke bawah itu sebagian besar tetangga Duta adalah kerabat dari ibunya. Rindu tidak menyangka akan menadapat sambutan seheboh ini. Orang-orang berkumpul di teras rumah Duta, bahkan meluber hingga ke teras-teras rumah lain di sekitarnya. Saat Rindu turun dari mobil, sekelompok anak kecil langsung bersorak. Orang-orang dewasa berkasak-kusuk menggunakan bahasa setempat. Tentu saja Rindu tidak paham. Ditatap puluhan pasang mata dengan rasa penasaran yang meledak-ledak, Rindu hanya bisa menebar senyum canggung. Dia mengikuti langkah Duta dan pamannya, sambil sesekali merundukkan kepala ke arah orang-orang yang memperhatikannya lekat-lekat. Begitu Rindu masuk, orang-orang menyingkir, seolah sengaja memberi kelonggaran agar pertemuan pertama menantu dan ibu mertua ini bisa berlangsung dengan khidmat. "Ini menantu Ibu?" tanya Nursia—Ibu Duta—setelah puas memeluk dan mencium pipi putra sulungnya bolak-balik. Duta mengangguk seraya tersenyum. sebelah tangannya meraih punggung Rindu agar lebih merapat. Air mata haru seketika menenggelamkan sepasang bola mata Nursia ketika Rindu mencium tangannya. Akhirnya, dia bisa merasakan memiliki anak perempuan, meski dalam wujud menantu. "Ternyata kamu jauh lebih cantik daripada di foto," ujar Nursia seraya menangkup pipi Rindu. Rindu mengembangkan senyum terima kasih. Dia masih sangat kikuk. "Silakan duduk, Nak," ajak Nursia sambil menuntun Rindu untuk duduk melantai. Ruang tamu itu sudah dipersiapkan untuk beberapa prosesi adat yang akan berlangsung mulai nanti malam. Sofa diungsikan ke rumah tetangga untuk sementara, kemudian lantainya dilapisi karpet tebal berwarna cokelat. Rindu terlihat anteng di sisi Duta. Seperti halnya menantu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertua, dia berusaha memperlihatkan etika yang baik. "Sori, ya, orang-orang sini rasa penasarannya emang setinggi itu," bisik Duta. "Nggak apa-apa." Rindu balas berbisik. "Malah senang. Serasa jadi pejabat disambut kayak tadi." Mereka tertawa tanpa suara. Beberapa saat kemudian, kerabat-kerabat Duta yang lain mulai bergabung, ikut melantai di ruang tamu sempit itu. Mereka memperkenalkan diri ke Rindu, berbasa-basi sebentar, sebelum mulai menjelaskan secara garis besar apa-apa saja yang harus Rindu jalankan dalam upacara pernikahan adat Bugis. Di tengah obrolan itu, beberapa gadis belia—sepupu-sepupu Duta—datang membawakan minuman dan aneka kue dalam piring-piring besar. "Silakan diminum, Nak," tawar Nursia. Wajahnya berseri sedari tadi. Sebahagia itu rasanya menyambut kedatangan menantu baru. Obrolan itu sengaja dipercepat dan tidak berbelit-belit. Mereka paham, Rindu baru tiba dan harus istirahat yang cukup agar segala tahapan bisa dilalui dalam kondisi fit. Karena status Duta dan Rindu sudah sah sebagai suami istri, tentu saja ritual yang akan dijalankan berbeda dari biasanya. Beberapa tahapan tentu saja tidak perlu lagi. Namun, untuk menghargai adat istiadat, Duta dan Rindu tetap tidak diperbolehkan tinggal seatap untuk sementara. Karena itulah, Rindu diarahkan untuk beristirahat di rumah Kakak tertua Nursia, rumah kerabat di pemukiman itu yang paling jauh dari rumah Duta. Setelah dua hari menjalankan serangkaian upacara adat di tempat terpisah, Duta dan Rindu akhirnya dipertemukan lagi di malam resepsi. Mereka menyewa tenda yang didirikan di sepetak tanah kosong di samping rumah Duta. Semuanya tentu saja jauh lebih sederhana dibanding resepsi di Jakarta kemarin. Tamunya juga sedikit. Hanya warga di sekitar dan kerabat-kerabat Duta. Rindu bisa saja menggelar resepsi semewah di Jakarta, tapi sepertinya memang begini keinginan Duta. Dia ingin menjalankan semuanya sesuai kemampuan keluarganya. Malamnya, setelah resepsi selesai, Rindu dan Duta dihadapkan pada situasi yang sangat membingungkan. Mereka terpaksa harus tidur sekamar. Selain karena jumlah kamar di rumah Duta memang terbatas, akan jadi pertanyaan besar kalau mereka malah tidur terpisah. "Gimana, dong, Rin?" tanya Duta sambil berkacak pinggang dan mengedarkan pandangan mengamati situasi kamar. Kamar yang tergolong sempit ini bekas kamarnya. Setelah dia merantau ke Jakarta diambil alih oleh Dika. Malam ini kamar penuh kenangan ini malah jadi kamar pengantin. Dika terpaksa mengungsi ke kamar adik-adiknya, Dion dan Delon. "Mau nggak mau, kan?" Rindu meringis samar. Ini akan sangat canggung. *** [Bersambung] Wah, gawat! Apakah yang akan terjadi, pemirsa? ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD