"Selamat pagi suamiku," sapa Rindu dengan nada dibuat-buat.
Duta yang tadinya masih mengucek mata seketika melongo. Dia bangun dalam keadaan perut keroncongan, sengaja langsung ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tahu-tahu Rindu sudah menyiapkan sarapan.
"Sini, Suamiku, sarapan dulu." Rindu cengar-cengir.
Duta masih melongo. Ini nyata atau dia tidur sambil jalan dan sedang mimpi?
"Kok, malah bengong, sih? Ayo, sini. Mumpung masih hangat."
Oke ini nyata. Namun, kenapa Rindu jadi lebay begini?
"Jangan lagi manggil kayak tadi. Geli, ah!" protes Duta sambil mendekat.
"Loh, kenapa? Mulai sekarang kita harus terbiasa mesra-mesraan, biar nanti pas di depan kamera nggak kaku lagi."
"Tapi masa panggilannya harus 'suamiku' segala?"
"Atau mau dipanggil 'Sayang' aja?"
Duta memutar bola mata. "Terserah, deh. Kan, kamu bosnya. Aku cuma dibayar di sini."
Gerakan tangan Rindu terhenti. Dia urung menuang s**u ke gelasnya.
"Tapi, Ta, meskipun pernikahan kita ini sifatnya hanya sementara, mulai sekarang kamu imamku. Kamu boleh, kok, ikut mengambil keputusan. Aku akan nurut."
Kalimat itu diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Duta bisa merasakan kesungguhan di setiap katanya.
Duta mengusap tengkuk, bingung harus merespons seperti apa.
"Eh, ini kamu yang masak?" tanyanya kemudian sambil menunjuk nasi goreng dan beberapa lauk di depannya. Itu cuma pengalihan sebenarnya.
Rindu mengangguk. "Karena memutuskan untuk hidup mandiri sejak dini, aku lumayan jago di dapur."
"Muji diri sendiri, nih, ceritanya?" sindir Duta.
"Biarin!" Rindu mencebik.
Duta terkekeh, lalu mengangkat piringnya untuk mengambil nasi goreng.
"Eh," Cegah Rindu. Dia cekatan menangkis tangan Duta yang hendak meraih centong. "Udah cuci tangan belum?"
Duta menggeleng tanpa dosa.
"Ih, jorok banget, sih, mau main langsung makan aja. Sana, cuci tangan dulu."
Duta mendengkus. Lalu bangkit dengan malas-malasan.
"Sekalian cuci muka. Jangan lupa kumur-kumur juga."
Duta menoleh. "Iyya Istrikuuu ...."
Intonasi dan ekspresi Duta sukses membuat Rindu terpingkal-pingkal.
***
Selesai sarapan, Rindu menemani Duta ke kosannya untuk berkemas. Hari ini juga mereka akan terbang ke Makassar untuk kembali melangsungkan serangkaian upacara pernikahan dalam adat Bugis.
Kosan sepi saat mereka tiba. Penghuninya yang rata-rata pekerja bangunan memang sudah berangkat ke lokasi jam segini.
Duta hanya mengambil beberapa lembar pakaian. Mereka tidak berencana untuk berlama-lama di Makassar. Satu atau dua hari setelah semuanya selesai, mereka langsung balik ke sini lagi.
"Ta!" Nenek Suha teriak dari seberang jalan saat Duta hampir masuk ke mobil.
"Ke sana dulu, yuk," ajak Duta.
Rindu mengangguk.
"Kok, pengantin baru pagi-pagi udah keluyuran?" goda Nenek Suha begitu Duta dan Rindu tiba di depannya.
"Habis ngambil beberapa baju, Nek. Nanti siang langsung ke Makassar soalnya."
"Salam, ya, sama Ibu kamu."
Duta mengangguk seraya tersenyum.
"Oh ya, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu bahagia dan cepat dikaruniai momongan."
Duta refleks mengaminkan. Padahal punya momongan tentu saja tidak ada dalam kontrak.
***
Tasya, Devi dan Beni mengantar Duta dan Rindu ke Bandara. Atas kesepakatan bersama, mereka tidak perlu ikut ke Makassar. Karena punya pertimbangan tersendiri, Duta tidak ingin upacara pernikahan di kampung halamannya dijadikan konten. Tasya dan yang lain sempat menyayangkan, tapi Rindu sudah memutuskan, bahwa Duta berhak mengambil keputusan.
"Gimana malam pertama kalian?" tanya Tasya dengan nada kekehan.
"Menurutmu?" timpal Rindu dengan mata setengah memelotot.
Mendapati ekspresi itu, Tasya beralih ke Duta yang duduk di depan, bersebelahan dengan Beni yang sedang fokus menyetir. "Gimana, Ta?" tanyanya sambil mencolek pundak cowok hitam manis itu.
"Aku diasingkan ke kamar tamu."
Jawaban polos itu sontak membuat mereka terbahak.
"Yah, sia-sia, deh, usaha kita," keluh Devi.
"Lagian kalian ada-ada aja deh." Rindu sok menekuk muka. Padahal dalam hati senyum-senyum sendiri.
Duta dan Rindu tiba di Bandara Soekarno-Hatta dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan mereka. Mereka sengaja, karena ingin sekalian melepas kepergian Saidah.
"Kamu udah telepon Mama?" tanya Duta sambil melangkah beriringan menuju ruang tunggu keberangkatan internasional. "Eh, tapi aku boleh, kan, manggil beliau Mama juga?" tanya Duta lagi buru-buru, bahkan sebelum Rindu menjawab pertanyaan pertamanya.
Hal itu membuat Rindu tersenyum geli. Dia mengangguk saat Duta menoleh ke arahnya. "Udah, kok."
Di ruang tunggu keberangkatan internasional, Saidah langsung berdiri begitu melihat kedatangan Duta dan Rindu. Perempuan berumur akhir 40-an itu menyambut Rindu dengan pelukan.
Jauh di dasar hati kecilnya, sebenarnya Rindu teramat ingin melalui satu momen spesial bersama Papa dan Mamanya. Misal jalan-jalan atau sekadar makan bersama seperti dulu. Namun, itu tidak memungkinkan untuk saat ini. Saidah dan Haan tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka di Korea terlalu lama. Di sisi lain Rindu juga harus segera ke Makassar. Di samping semua itu, Papa dan Mamanya masih terlihat sangat canggung saat bersama.
Meski sudah lama berlalu, kesalahan yang pernah terjadi di antara mereka bukan sesuatu yang bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Rindu sangat paham, karena hatinya juga demikian.
Di ruang tunggu itu, mereka mengobrol ringan, upaya untuk kembali mengeratkan hubungan yang pernah terjeda. Obrolan berat-berat yang menguras air mata sudah mereka lalui di hari pertama kedatangan Saidah. Entah sudah berapa kali Saidah mengucap kata maaf kepada Rindu dengan tatapan penyesalan yang begitu dalam.
Saidah mengaku salah karena pergi begitu jauh meninggalkan Rindu. Namun, saat itu bertahan benar-benar bukan pilihan bijak. Dia merasa berhak menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan dia pikir Rindu akan baik-baik saja bersama Papanya. Hatinya begitu terluka setelah tahu putrinya itu malah memilih tinggal sendiri. Dia pasti banyak melalui hari-hari yang berat.
Pernikahan Rindu membawa berkah tersendiri untuk Saidah. Setelah bertahun-tahun komunikasi yang dia upayakan tersendat-sendat, kini semacam menemukan jalur baru tanpa hambatan.
Tiga puluh menit kemudian, imbauan untuk segera naik ke pesawat bagi penumpang tujuan Kuala Lumpur menggema dari langit-langit ruangan. Mereka sengaja memilih jalur transit karena jadwal penerbangan langsung ke Seoul hanya ada tengah malam.
Saidah dan Haan lekas berdiri.
"Mama pergi, ya, Sayang," ujar Saidah sambil mengelus lengan Rindu.
Rindu mengangguk. "Hati-hati, Ma." Dia mengulas senyum bergetar.
Saidah berusaha keras untuk tidak menangis, tapi sulit. Air matanya pun tumpah ruah saat memeluk Rindu sekali lagi. "Mama minta maaf ...."
Kalimat itu lagi, untuk kali kesekian. Hanya tiga kata, tapi di dalamnya ada makna yang tidak akan pernah habis untuk diuraikan.
Dalam dekapan Mamanya, Rindu mengangguk. "Rindu juga minta maaf, Ma." Akhirnya Dia berhasil mengucapkan hal yang sama, setelah berkali-kali gagal sejak di hari pertama mereka mengobrol dari hati ke hati.
Hal itu membuat Saidah lega luar biasa. Semacam ada bongkahan di dadanya yang tanggal begitu saja.
"Selamat menempuh hidup baru, ya," ujar Haan dengan keterbatasan kosakata bahasa Indonesia dan logat yang aneh. Dia menatap Duta dan Rindu bergantian.
Rindu masih sangat bingung bagaimana harus bersikap ke suami Mamanya yang nyaris seumuran dengannya itu. Akhirnya dia hanya mengulas senyum.
"Kenapa kalian tidak honeymoon di Korea aja? Di sana banyak tempat romantis," ujar Haan lagi dengan senyum yang semakin lebar. Cara bicaranya yang masih Korea banget membuat beberapa kata yang diucapkannya nyaris tidak bisa dipahami maksudnya.
"Bener, tuh," sambar Saidah. "Kami siap jadi tour guide-nya."
Karena Rindu diam saja, akhirnya Duta yang mengambil alih. "Wah, pasti akan sangat menyenangkan. Semoga nanti bisa ketemu waktu yang cocok. Kalau dalam waktu dekat kayaknya nggak bisa karena kami masih agak ribet dengan beberapa urusan."
Saidah mengangguk maklum, kemudian memeluk Duta sebelum pergi. "Titip Rindu, ya," katanya.
Dalam pelukan ibu mertuanya, Duta mengangguk.
Saidah dan Haan melangkah beriringan menuju garbarata sambil terus melambai.
Rindu dan Duta membalasnya dengan mata mengembun dan perasaan yang sulit dijabarkan.
"Ta, makasih, ya," ujar Rindu setelah Haan dan Mamanya tidak terlihat lagi.
"Untuk?"
"Kamu berhasil mengembalikan sesuatu yang bertahun-tahun hilang di hidupku."
"Mama kamu maksudnya?"
Rindu menggeleng. "Keikhlasan memaafkan."
Duta menatap takjub. Itu dua kata yang tidak terduga. "Meskipun hanya untuk setahun, mulai sekarang aku ini suamimu. Kewajibanku untuk menuntunmu ke arah yang lebih baik."
Rindu tidak bisa mengelak, dia telah terjerat pesona suami sementaranya ini. Duta memesona bukan karena wajahnya super glowing, tapi karena dia pandai menempatkan diri di setiap situasi.
"Boleh peluk sebentar?" pinta Rindu tiba-tiba.
"Lama juga nggak apa-apa," ujar Duta dengan nada jenaka seraya merentangkan kedua tangannya.
Rindu pun membenamkan diri di d**a cowok itu. Entah kenapa dan untuk apa. Anggap saja semacam baterai lowbat yang harus segera diisi. Dan charger yang cocok untuk Rindu saat ini hanya Duta.
***
[Bersambung]
Auwww ... sweet banget gak sih? ??
Kira-kira seperti apa, ya, kehidupan rumah tangga mereka nantinya. ?