Ini makan malam terbaik Roy setelah bertahun-tahun. Sedari tadi dia tidak bosan melirik ke arah Rindu dan Duta yang duduk berdampingan. Meski dari segi fisik agaknya kurang serasi, tapi Duta memiliki sesuatu yang bisa mengimbangi Rindu. Hal itu memancar dari tatapannya.
"Rin, Tante sering, loh, nonton YouTube kamu," ujar Diana di sela-sela acara makan malam itu.
"Papa juga. Hampir semua restoran Jakarta yang tampil di video kamu udah kami kunjungi."
"Oh ya?" Rindu benar-benar tidak menyangka.
Roy mengangguk sambil mengunyah. "Bagaimana tidak, cara makan kamu benar-benar berhasil bikin orang-orang ngiler. Pokoknya akan terus penasaran kalau nggak dicobain juga."
"Papa mau bilang kalau aku ini benar-benar terlihat rakus?"
Mereka terkekeh. Termasuk Aidan dan Aiman yang duduk di sebelah mamanya, meski tidak begitu paham topik yang sedang dibicarakan.
Duta ikut bahagia melihat interaksi keluarga itu. Meski mungkin masih belum sepenuhnya menerima, setidaknya Rindu sudah terlihat lebih cair dan tidak secuek tadi.
"Tambah, Rin. Tante sengaja masak banyak-banyak biar kamu bisa makan lahap kayak di video-video itu."
Mereka terkekeh lagi.
"Oh ya, Rin, Mamamu udah tahu, belum, soal rencana pernikahanmu?"
Rindu berhenti mengunyah, lalu menggeleng pelan.
"Kamu nggak berencana untuk nggak ngabarin dia, kan?"
Rindu menggeleng lagi. "Pasti dikabari, kok, Pa."
"Jangan sampai lupa, ya. Dia pasti sangat senang."
Rindu mengangguk lemah.
Sekarang Saidah—Mamanya Rindu—menetap di Korea, ikut suami barunya yang memang asli sana. Dulu, suaminya itu adalah mahasiswanya. Bukan hanya perbedaan umur yang cukup jauh yang merintangi hubungan mereka, tapi juga kewarganegaraan dan agama. Yang lebih gila lagi, saat itu Saidah masih berstatus istri orang. Meski mungkin biduk rumah tangganya memang mulai oleng.
Demi mempertahankan hubungannya dengan brondong itu, Saidah tidak gentar menerjang semua rintangan yang ada. Dia juga rela melepas pekerjaannya sebagai dosen.
Jika teringat semua itu, Rindu tidak habis pikir, entah segila apa kelakuan mereka dulu. Tentang siapa yang lebih dulu main serong di antara Papa Mamanya, Rindu belum tahu hingga detik ini. Dia sudah tidak berminat mencari tahu. Rasanya tidak ada gunanya lagi.
Kabarnya, Saidah membuka bimbingan belajar bahasa Indonesia di Korea. Rindu tahu itu dari Papanya. Salah seorang rekan Mamanya sesama dosen dulu, juga pernah berkata begitu. Rindu pernah iseng-iseng menelusuri nama bimbingan belajar Mamanya di internet, dan ternyata lumayan populer. Syukurlah. Setidaknya dia tidak melepas semua yang dia punya di sini untuk hidup sengsara di negara orang.
Selesai makan, Rindu dan Duta pamit. Meski masih terasa aneh, kali ini Rindu membalas pelukan Papanya lebih erat dari sebelumnya. Dia juga sudah bisa membalas senyum Diana lebih lebar.
"Kapan Kak Rindu main ke sini lagi?" tanya Aiman dengan polos.
Rindu jadi kikuk.
Duta lekas mengambil alih. "Secepatnya kami akan datang lagi. Atau kalau mau, Aiman sama Aidan aja yang main ke rumah Kak Rindu," tawar Duta dengan riang. Dia sengaja meniru cara bicara anak kecil.
"Emang boleh, Ma?" Bocah kelas dua SD itu mendongak ke Mamanya.
"Kok, nanya ke Mama? Tanya ke Kak Rindu, dong."
Aiman sontak mengalihkan tatapannya ke Rindu.
Rindu pun langsung mengangguk. "Boleh, dong. Kakak tunggu, ya. Nanti Kakak sediain camilan yang banyak."
Aiman langsung melompat girang. Di gendongan Mamanya, Aidan tak kalah antusias.
Mata Rindu mengembun perlahan-lahan. Sudah lama dia tidak merasakan memiliki keluarga seperti ini. Rasanya ajaib. Sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Saat giliran Duta berpamitan padanya, Roy juga memeluknya. "Titip Rindu, ya," bisiknya. "Tolong bantu Om mengobati semua sakit hatinya."
Masih dalam pelukan lelaki berumur awal 50-an itu, Duta mengangguk. "Insyaallah, Om."
Sebenarnya Duta merasa tidak enak, mengingat pernikahan yang akan dia jalani dengan Rindu hanya sistem kontrak. Kesannya, dia menebar harapan palsu di keluarga ini.
***
Hari-hari berikutnya, Duta dan Rindu sibuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahan mereka di KUA setempat. Tak lupa Rindu mengabari Mamanya. Sesuai kata Papanya, Mamanya menyambut kabar bahagia itu dengan sukacita. Dia berjanji akan datang dan tinggal beberapa hari.
Untuk urusan gedung, dekorasi, catering, gaun, undangan, pernak-pernik dan segala macamnya, Rindu serahkan sepenuhnya ke WO yang direkomendasikan oleh Tasya. Katanya, WO itu cukup tersohor karena sering menangani pernikahan selebriti. Tidak heran bayarannya selangit.
Di samping semua itu, Rindu masih harus melalui serangkaian prosesi adat Jawa yang cukup melelahkan. Untuk hal ini ada kerabat Papanya yang merupakan pemuka adat yang dipercayakan mengoordinasi semuanya. Untunglah, karena Rindu agak gagap untuk hal semacam ini.
Di setiap rangkaian acara, Tasya, Devi dan Beni memegang peranan penting. Mereka bertugas mengabadikan momen untuk kemudian disulap menjadi konten yang layak disaksikan jutaan pasang mata. Setiap video rangkaian pernikahan ini yang mereka unggah, selalu mendulang view dan like yang fantastis.
Puncaknya tentu saja saat resepsi. Selain kerabat, tamu undangan didominasi oleh teman-teman Rindu sesama youtuber. Ada juga pihak-pihak sponsor dan beberapa pemilik restoran yang pernah bekerjasama dengan Rindu.
Teman-teman Duta sesama pekerja bangunan tentu saja tidak mau ketinggalan. Terutama bujang-bujang KKN. Mereka datang bersama Nenek Suha.
Hal yang paling membuat Rindu bersyukur adalah, Papa dan Mamanya mendampinginya di pelaminan. Saidah datang bersama Haan—suami Korea-nya—dua hari sebelum resepsi. Mereka menginap di hotel terdekat. Berkat Duta, Rindu berhasil membesarkan hati dan menepikan segenap ego untuk menerima kedatangan Mamanya dengan tangan terbuka. Bahkan, Rindu menawarkan agar Mamanya tidur di rumahnya saja. Namun, sepertinya Haan kurang nyaman dengan hal itu.
Karena nantinya di Makassar mereka akan melalui prosesi adat Bugis dan menggelar resepsi juga, Duta sengaja tidak mendatangkan keluarganya.
Di balik semua kemeriahan itu, tamu dan kerabat tidak ada yang tahu, bahwa ini hanya pernikahan kontrak.
***
Resepsi selesai pukul 22:30. Rindu dan Duta keletihan. Ternyata secapek ini jadi raja dan ratu sehari. Namun, meskipun ini hanya pernikahan kontrak, tidak bisa dipungkiri, ada perasaan bahagia yang bertahta di hati masing-masing. Bukan karena cinta yang telah dipersatukan di jalan halal, tapi karena melihat begitu banyak orang yang datang untuk mendoakan mereka.
Meskipun sebenarnya doa mereka akan sia-sia.
Setibanya di rumah, Rindu heran melihat kondisi rumahnya gelap sempurna. Tadinya dia pikir sedang ada pemadaman listrik, tapi rumah tetangga masih terang benderang.
"Kok, gelap banget, ya?" tanya Rindu sambil berjalan dari arah garasi ke pintu utama. Dia sampai harus menyalakan senter ponselnya.
"Bukannya Tasya dan yang lain tadi pulang duluan, ya?" Duta celingukan. Siapa tahu ada maling atau hal lain yang tidak diinginkan.
"Iya, katanya mau ngedit video buat besok."
"Atau jangan-jangan udah pada tidur?"
"Mereka nggak pernah matiin semua lampu kayak gini."
Daripada terus bertanya-tanya, Rindu lekas mengambil kunci di tasnya dan membuka pintu. Dia menekan sakelar di samping pintu. Seketika lampu ruang tamu menyala. Maka terlihatlah taburan kelopak mawar merah di lantai yang membentuk sebuah jalur menuju sebuah ruangan.
"Apa-apaan ini?" Perasaan Rindu mulai tidak enak. Kayaknya teman-temannya mengerjainya.
"Kayak di film-film, ya." Duta terkikik.
Rindu tidak menggubris. Dia mengikuti jalur kelopak mawar itu yang ternyata mengarah ke kamarnya. Begitu dibuka, aroma mawar yang menenangkan seketika menyeruak. Rupanya kamar itu sudah didekor khas kamar pengantin. Di atas kasur ada buket bunga berukuran besar serta secarik kartu ucapan.
Selamat menikmati malam pertama kalian.
Kami sengaja nggak mau ganggu.
Rindu tergelak setelah membacanya. "Mereka ada-ada aja, deh."
Karena penasaran, Duta mengambil alih kartu ucapan itu.
"Jadi, kita akan melakukannya?" tanya Duta tiba-tiba.
Tawa Rindu reda seketika. Netranya melebar. "Ih, ngaco! Sana, tidur di kamar tamu." Dia mendorong Duta keluar dari kamarnya.
Setelah Duta keluar, Rindu buru-buru menutup pintu. Dia bersandar di daun pintu sambil menekan dadanya, merasakan jantungnya tengah jumpalitan di dalam sana. Wajahnya memerah, malu sendiri membayangkan pertanyaan konyol Duta.
Di luar, Duta terkekeh tanpa suara. Makin ke sini dia makin senang menggoda Rindu. Cewek itu gampang salting, dan terlihat lucu.
Karena punggungnya sudah teramat mendambakan kasur, Duta pun lekas masuk ke kamar tamu dan melempar tubuhnya ke tempat tidur. Dia mendarat dengan posisi telentang. Tatapan kosongnya larut ke langit-langit kamar. Rasanya masih sulit dipercaya, sekarang dia sudah berstatus suami. Dan seumur-umur dia tidak pernah membayangkan akan melewati malam pengantin tanpa cumbu mesra seperti ini.
Nasib!
***
[Bersambung]
Yang sabar, ya, Dut.
Anda belum beruntung. ???