Keluarga Rindu

1309 Words
Sejak orangtuanya bercerai, Rindu memutuskan untuk tinggal sendiri. Saat itu, ayahnya bolak-balik membujuknya agar pulang ke rumah. Namun, Rindu malah mengancam akan berbuat yang aneh-aneh kalau terus dikekang. Mau tidak mau ayahnya pun menyerah. Dia hanya mengawasi diam-diam dari jauh dan rutin mengirimkan uang bulanan. Setelah bisa menghasilkan uang sendiri, Rindu sengaja memblokir rekening lamanya agar ayahnya tidak perlu kirim uang lagi. Dia benar-benar tidak ingin bergantung lagi. Rindu bukannya ingin memutus hubungan, karena meskipun ingin, itu tidak akan bisa. Sampai kapan pun mereka akan tetap terikat dalam banyak hal. Hanya saja, Rindu tidak bisa lagi tinggal bersama dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seluas-luasnya jarak yang coba dibentangkan Rindu selama ini, dia sadar, bahwa pada akhirnya dia akan kembali menggulung jarak itu ketika tiba saatnya untuk menikah. Dia tidak mungkin menikah diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya. Hari ini, meski teramat enggan, pada akhirnya Rindu memang tidak bisa mengelak ajakan Duta untuk menemui ayahnya. Ayah Rindu masih tinggal di Jakarta, melanjutkan bisnis propertinya yang semakin sukses. Dari pernikahan keduanya, dia sudah dikarunia dua orang anak. Saat tiba di depan rumah ayahnya, Rindu sempat ingin mengurungkan niat. Rasanya dia tidak siap berhadapan dengan apa pun yang ada di dalam sana. Namun, Duta berhasil meyakinkannya, bahwa ini bukan sesuatu yang harus dihindari. Setelah memencet bel, Rindu mendadak tegang. Telapak tangannya lembab. Di rumah inilah dia dibesarkan hingga menjadi gadis remaja yang periang, sebelum akhirnya kekacauan keluarganya mencuat perlahan-lahan. Sembari menunggu pintu dibuka, Rindu menghela napas panjang beberapa kali secara teratur. Yang datang membuka pintu adalah Diana, mantan sekretaris pribadi ayahnya yang kini sudah jadi istri. Mengingat apa yang perempuan ini lakukan di masa lalu, Rindu begitu berat mengakuinya sebagai ibu tiri. Tidak peduli Diana sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di mata Rindu, perempuan ini tetap pelakor. "Rindu?" Diana melongo sekian detik, sebelum akhirnya mendekap Rindu sangat erat. Dia memang tidak mengucapkan apa-apa, tapi pelukan itu seolah merangkum apa-apa yang tersimpan di dasar hatinya. Rindu tidak membalas pelukan itu, hanya menunggu Diana menyudahinya. "Aku ingin ketemu Papa," ujar Rindu datar setelah Diana melepaskannya. "Ayo masuk." Diana menarik tangan Rindu dan menuntunnya hingga duduk. Kepada Duta, dia mempersilakan dengan anggukan pelan. "Tunggu sebentar, ya." Duta membalas senyum Diana dengan sopan, sementara Rindu diam saja. Diana pun bergegas ke dalam sambil teriak memanggil suaminya dengan girang. "Rin, senyum, dong," pinta Duta sambil menggenggam tangan Rindu setelah mereka hanya berdua di ruang tamu luas itu. "Aku udah usaha, Ta, tapi nggak segampang itu." Rindu meringis samar. "Pelan-pelan. Pasti bisa, kok. Aku yakin banget, kamu punya hati yang lapang." Rindu lumer dalam tatapan Duta. Cowok ini selalu bisa menenangkannya. Beberapa saat kemudian, Diana kembali bersama Roy—ayah Rindu. Tidak hanya mereka, ada Aidan dan Aiman, adik tiri Rindu yang berumur tiga dan tujuh tahun. Keharuan Roy membuncah melihat anak gadisnya kembali ke rumah ini. Dia ingin tersenyum, tapi yang terjadi malah air matanya tumpah ruah. Sepasang tangannya gemetar saat direntangkan, berharap Rindu bisa datang ke pelukannya. Awalnya Rindu tidak merespons, tapi setelah mendapat anggukan kecil dari Duta, Dia pun melabuhkan diri di pelukan itu. Roy kian tergugu. Dia menghirup aroma tubuh putrinya dalam-dalam. Kenangan indah mereka pun bermekaran. Rindu membalas pelukan itu seadanya. Banyak sekali kalimat yang ingin terucap, tapi semuanya tersangkut di tenggorokan. Setidaknya pelukan ini berhasil menyusutkan kekecewaan yang sudah menggunung di hatinya. Meski rasanya belum puas, Roy meleraikan pelukannya dan mempersilakan Rindu kembali duduk. Giliran Duta mendekat. Dia memperkenalkan diri dan mencium tangan Roy dengan santun. "Aidan, Aiman, salim dulu sama Kak Rindu," suruh Diana kepada kedua putra kecilnya. Tanpa canggung, anak-anak itu pun langsung menghampiri Rindu. Tingkah lucu mereka membuat Rindu gemas. Dia mencium pipi mereka. Usai salaman, si kecil Aidan tidak kembali ke mamanya, dia malah menawarkan diri untuk dipangku Rindu. Rindu pun langsung mengangkat bocah itu ke pangkuannya. "Duh, maaf, ya, dia emang suka sok akrab," ujar Diana dengan nada kekehan. "Nggak apa-apa. Aku suka, kok, anak kecil." Rindu menjawil pipi Aidan. Melihat pemandangan itu, Roy merasa sangat bahagia. Seolah-olah hidupnya kembali utuh. "Om, saya yang mengajak Rindu ke sini," ujar Duta setelah kembali duduk di samping Rindu. Roy membalas tatapan pemuda itu dengan senyum mengembang sempurna. Terima kasih tak terucap mengalun di matanya. "Insyaallah, kami berencana menikah dalam waktu dekat." Seketika Roy menegakkan punggung, netranya melebar. "Kami datang untuk memohon restu." Alih-alih membalas ucapan Duta, Roy malah beranjak untuk memeluknya. Sedari awal dia suah bisa menebak kalau pemuda ini ada hubungan dengan putrinya. Namun, sungguh di luar dugaan, ternyata mereka membawa kabar pernikahan. Air mata haru Roy buncah di pundak Duta. Meski yang terdengar hanya isakan tertahan, Duta seolah paham makna tepukan pelan di punggungnya. Dia ikut berkaca-kaca. "Kabar bahagia ini patut dirayakan," sela Diana. "Gimana kalau kita makan malam bareng?" "Nah, ide bagus, tuh," sambar Roy sambil menyeka air matanya. "Tinggallah sampai malam, sudah sore juga, kok." Dia menatap Rindu penuh harap. Sebelah tangannya masih melingkar di pundak Duta. Baru saja Rindu ingin menolak, tapi Duta menyahut lebih dulu. "Boleh, kok. Kebetulan kami udah nggak ada acara apa-apa setelah ini. Ya, kan, Rin?" Dimintai persetujuan setengah menjebak seperti itu, Rindu tidak punya pilihan selain mengangguk dan tersenyum lemah. Roy langsung bersorak dalam hati sambil memeluk Duta sekali lagi. Bukan main senangnya. Sambil menunggu malam, Roy mengarahkan Rindu untuk beristirahat di bekas kamarnya. "Papa melarang siapa pun menggunakan kamar ini, dan sengaja tidak mengubah tatanannya karena Papa selalu berharap suatu saat kamu akan kembali ke rumah ini," ujar Roy saat membuka pintu kamar lama Rindu. Suaranya bergetar. Meski tidak mengucapkan apa-apa, Rindu benar-benar takjub. Perlahan, dia melangkah masuk. Benar-benar tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama saat pertama kali dia tinggalkan. Dia berkeliling, memungut kenangan di setiap sudut, membiarkannya berdetak dan kembali hidup di ruang kepalanya. "Nak Duta, nanti istirahatnya di kamar tamu, ya." Roy memegang pundak Duta dengan sebelah tangan. "Baik, Om. Tapi, saya boleh, kan, menemani Rindu sebentar?" "Silakan." Sepeninggal Roy, Duta menyusul masuk. "Jadi ternyata kamu suka pink?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan. Apa-apa di kamar itu semuanya memang bernuansa pink. "Dulu." Rindu berhenti di depan jendela yang mengarah ke taman samping. "Kalau sekarang?" tanya Duta lagi sambil menghampiri cewek itu. "Aku tidak hanya meninggalkan rumah ini, tapi semua hal yang mengingatkan dengan kehidupan dulu, saat aku masih punya keluarga yang utuh." Duta masih merasakan kekecewaan yang teramat pekat di kalimat itu. "Dulu, kalau lagi bete, aku suka berdiri di sini, menatap tanaman-tanaman itu. Biasanya Mama akan berdiri di belakang, di posisi kamu itu, untuk mencurahkan nasihat-nasihatnya." "Kamu kangen nggak sama beliau?" "Kangen sekaligus jengkel." Duta menghela napas panjang. Memang tidak mudah membalikkan hati yang telanjur ditumbuhi kekecewaan selama bertahun-tahun. "Aku emang nggak bisa gantiin posisi Mama kamu, tapi mulai sekarang, dadaku selalu siap untuk menampung laramu." Di luar dugaan, tiba-tiba Rindu berbalik dan memeluk Duta sangat erat. Tangisnya pecah di d**a cowok itu. Rupanya dia menahan ini sedari tadi. Meski kaget, Duta lekas membalas pelukan itu. Dia membelai rambut Rindu perlahan-lahan. "Masa lalu adalah sesuatu yang sudah selesai. Kita tidak akan pernah bisa kembali untuk memperbaikinya. Kalau pun bisa, sebaiknya jangan. Mending kita fokus sama apa yang ada di depan kita." Rindu terus terisak. "Apa pun masalahnya, Papa Mamamu pasti punya alasan dan pertimbangan tersendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerai. Ada kalanya saling melepaskan memang lebih baik, daripada memaksakan terus bersama tapi malah saling menyakiti." Seiring air mata yang terus bergulir, Rindu merasakan sesak di dadanya berangsur-angsur reda. "Dan soal merasa diabaikan, bisa jadi itu hanya ada di pikiran kamu. Buktinya kamar ini. Papamu nunggu kamu pulang setiap saat." Setelah merasa baikan, tiba-tiba Rindu terlonjak kaget. Dia menarik diri dari pelukan Duta secepat mungkin. "Eh, sori," ujarnya salting. Dia seolah baru sadar, barusan memeluk Duta cukup lama. "Nggak apa-apa. Santai aja kali." Duta tersenyum geli. "Btw, badan kamu enak banget dipeluk. Empuk." "Dutaaa!!!" Rindu langsung menoyor d**a cowok itu. *** [Bersambung] Ciyeeee .... Btw, aku senyum-senyum sendiri pas nulis adegan Rindu salting. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD