Melunasi Utang

1093 Words
Hari ini Rindu menemani Duta ke tempat Juragan Dante. Rumah mewah berlantai tiga dengan pengawasan super ketat itu selalu saja menguarkan aroma licik yang pekat. Juragan Dante menyambut Duta dengan ekspresi meremehkan. Sebuah cerutu seukuran telunjuk terselip di antara bibi cokelatnya. Sesekali kepulan asap akan meluncur dari sana. "Apa kabar, Dut?" Itu pertanyaan basa-basi terbasi. Duta malas menanggapinya. Duta memang tidak suka dipanggil "Dut", tapi terkhusus Juragan Dante, dia terlalu malas mengoreksi. "Udah capek kucing-kucingan dengan anak buah saya?" Juragan Dante terbahak. Entah apa yang lucu. Di samping Duta, Rindu berusaha tetap tenang, meski kentara sekali dia tidak nyaman berada di sini. Terlebih, sedari tadi Juragan Dante selalu meliriknya. Bukan lirikan yang ramah. "Saya ke sini untuk melunasi utang saya, Pak, sebaiknya nggak usah terlalu basa-basi." Duta berujar sambil menyorot serius. "Mulai sombong kamu rupanya." Juragan Dante tertawa lagi. "Mentang-mentang udah ketemu jalan pintas." "Maksud Bapak?" Duta mengernyit. "Kamu mengencani perempuan ini hanya untuk morotin hartanya, kan?" Wajah Duta seketika memerah. Rahangnya mengencang. "Ini calon istri saya," ujarnya kemudian seraya merangkul Rindu. "Saya memang berutang sama Bapak, tapi Bapak sama sekali tidak berhak mengomentari hidup saya." "Santai aja kali, Dut. Baperan amat." Rindu menepuk pelan paha Duta, mengiriminya isyarat agar jangan tersulut emosi. "Sebaiknya langsung siapkan saja surat bukti pelunasan, Pak. Saya akan transfer sekarang." Duta menoleh ke arah Rindu. Paham maksudnya, Rindu pun langsung mengeluarkan ponselnya dan login ke M-banking. "Boleh sebutkan nomor rekeningnya, Pak?" Masih dengan tampang mengesalkan, Juragan Dante pun menyebutkan nomor rekeningnya. "Transfer berhasil, Pak," ujar Rindu sekian detik kemudian. "Silakan dicek." Juragan Dante memicing ke arah Rindu, lalu lekas mengecek di ponselnya. "Mana surat tanda pelunasannya, Pak?" tanya Duta tidak sabaran. Dia ingin urusannya di tempat ini selesai sesegera mungkin. Asap beraroma tembakau kembali meluncur dari mulut Juragan Dante, sebelum akhirnya mengode salah satu pengawalnya yang berjaga di sudut ruangan. Pengawal berpakaian rapi serba hitam itu pun mendekat dan menyerahkan map berwarna biru. Juragan Dante menerima map itu dan langsung meletakkannya di depan Duta. Tanpa tunggu instruksi lebih lanjut, Duta mengambil alih map itu dan membaca surat pelunasan di dalamnya. Dia membaca per poinnya dengan teliti. Jangan sampai ada hal-hal yang berpotensi merugikan di kemudian hari. Untungnya tidak ada. Duta pun membubuhkan tanda tangannya di atas kolom yang sudah dilengkapi materai. Ada dua rangkap. Duta mengambil salah satunya. "Baik, Pak. Dengan ini artinya urusan kita sudah selesai. Terima kasih pernah membantu saya." Duta mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Karena, meski ujung-ujungnya merepotkan, nyawa ibunya terselamatkan berkat pinjaman dari Juragan Dante. Duta mengulas senyum tipis, lalu berdiri lebih dulu. Dia menyalami Juragan Dante sebelum pergi. "Kalau butuh dana lagi, jangan sungkan datang kemari," ujar Juragan Dante, sambil masih menggenggam tangan Duta. Duta tidak merespons lebih, hanya mengulas senyum sekali lagi. Setibanya di luar, Rindu mengelus punggung Duta. "Udah nggak apa-apa, kan?" tanyanya. Di dalam tadi, dia sempat khawatir karena situasinya agak tegang. Duta menoleh dan tersenyum. "Makasih, ya. Berkat kamu, sekarang aku bisa terbebas dari utang. Rasanya benar-benar lega. Kayak hidup dengan napas baru." "Makasih juga, karena berkat kamu, aku nggak jadi kehilangan channel-ku." "Simbiosis mutualisme." "Yup. Simbiosis mutualisme." Mereka kompak terkekeh. "Oh ya, habis ini kamu ada kesibukan?" tanya Duta setelah tiba di dalam mobil. Kali ini dia yang menyetir. Vespanya ditinggal di rumah Rindu. "Nggak ada, sih," jawab Rindu setelah berpikir sejenak. "Ya udah, aku pengin ngenalin kamu ke seseorang." "Siapa?" "Ada pokoknya. Nanti juga tahu," ujar Duta sambil menyalakan mesin. "Oke." Rindu tersenyum lebar seraya memasang sabuk pengaman. *** Nenek Suha sedang melumuri donat-donat yang baru saja digoreng dengan gula halus, ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah sekaligus warung kecilnya ini. Dia menyipit, mengira salah lihat ketika Duta turun dari mobil itu, disusul perempuan bertubuh subur. "Kenapa mandang Duta kayak gitu, Nek?" tanya Duta setengah terkekeh. "Heran Duta bisa bawa mobil bagus?" Setelah yakin yang kini berdiri di depannya benar-benar Duta, Nenek Suha pun terkekeh. "Tadi Nenek kirain pejabat yang mau ngasih santunan." Tawa mereka berbaur. "Dari mana, Ta? Tumben muncul jam segini. Nggak kerja?" "Hari ini izin, Nek. Ada sedikit urusan." Nenek Suha manggut-manggut. "Ini siapa?" tanyanya kemudian saat tatapannya beralih ke Rindu. "Ini Rindu, Nek, calon istri Duta." "Masyaallah ...." "Saya Rindu, Nek." Nenek Suha mengelus pucuk kepala Rindu saat cewek itu mencium tangannya. "Cantik sekali," puji Nenek Suha sungguh-sungguh. "Makasih, Nek. Jarang-jarang ada yang bilang saya cantik. Orang-orang lebih sering jujur, blak-blakan bilang saya gendut." "Tapi bukan berarti Nenek nggak jujur, loh. Kamu beneran cantik." Rindu tersipu. "Bagaimana pun bentuk fisik yang diberikan Tuhan, kalau disyukuri, Insyaallah berkah. Banyak di luar sana orang kurus mau gemuk." Nenek Suha mengelus lengan Rindu. "Lagian kamu ini nggak gendut-gendut amat, kok. Segini malah bagus, biar nggak dikira gizi buruk." Mereka terkekeh. Harus Rindu akui, Nenek Suha ini tipe orang yang bisa membuat orang lain nyaman berada di dekatnya. "Waktu muda dulu badan Nenek juga segini." "Oh ya?" Nenek Suha mengangguk menegaskan. "Tapi Karena Nenek tetap pede, akhirnya orang-orang bisa menilai sisi lain, bukan cuma gendutnya. Dan pada akhirnya Nenek bisa menemukan laki-laki yang tulus mencintai Nenek apa adanya, tanpa harus mati-matian nahan lapar agar kurus." Rindu terkesan. "Tapi setelah tua malah menyusut begini, tinggal tulang sama kulit." Perempuan senja itu tertawa lagi. Matanya menyipit hingga menyerupai dua lengkungan garis berkerut. "Jadi, sebenarnya yang terpenting itu adalah penerimaan kita terhadap diri sendiri. Nggak usah mikirin omongan orang lain. Insyaallah, hidup akan lebih tenang." Rindu manggut-manggut. Dia benar-benar tercerahkan. "Ngomong-ngomong, Nak Rindu, kok, mau, sih sama Duta? Dia ini aslinya menyebalkan loh. Suka iseng lagi." "Nek!" Duta tahu, pertanyaan itu tujuannya hanya untuk bercanda. Tapi tetap saja, suasananya jadi agak canggung. Rindu pasti kesulitan untuk menjawab. Rindu terkekeh, sebelum akhirnya menjawab, "Dia emang menyebalkan, Nek, tapi setiap kali sama dia, saya justru merasa nyaman, dan dihargai sebagai seorang perempuan." Sepanjang kalimat itu, Rindu menancapkan tatapannya di mata Duta. Duta terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Entah apa namanya. Harusnya tidak dijawab pun tidak apa-apa, tapi Rindu malah mengucapkan kalimat tadi seolah tulus dari hati. Dan itu membuat Duta terhipnotis. "Ini Nenek lagi ngapain?" alih Duta sambil melerai tatapannya dengan Rindu. Padahal, tanpa dijelaskan pun, pemandangan di sekitar mereka sudah cukup untuk mewakili apa yang sedang Nenek Suha kerjakan. "Alhamdulillah, tadi ada yang borong donat, katanya untuk pengajian. Jadi, Nenek bikin lagi." "Alhamdulillah." "Saya boleh bantuin, Nek?" sela Rindu. "Oh, boleh." Nenek Suha menyambut dengan sukacita. Kemudian dia merangkul pinggang Rindu dan mengajaknya duduk. Melihat pemandangan itu, Duta tersenyum. Diam-diam dia meraba dadanya. Di dalam sana masih ada sisa detak aneh akibat kalimat dan tatapan Rindu tadi. Apa ini? *** [Bersambung] Ada yang mau bantu Duta jawab? ??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD