Kerusuhan Grup KKN

1302 Words
Malam ini grup KKN dihebohkan oleh sebuah link yang dikirim oleh Bams. Bukan link haram seperti biasanya, melainkan link video Duta di channel Rindu. Bams: Demi apa aku baru lihat? Ansar: Ini serius? Aldi: Jangan-jangan makan-makan kemarin perayaan jadian yang berkedok hari ulang tahun? Ferdi: Gaes, link yang anak SMA kemarin masih pada nyimpen nggak? Udah capek-capek manjat tapi nggak ketemu. Alfaden: Kamu apa-apaan, sih, Fer? Main keluar jalur aja. Tuh sange ditahan dulu. Salah satu penghuni grup bentar lagi laku ini. Luthfi: Tau tuh si Ferdi, nggak bisa banget mengondisikan otak di jam segini. Ferdi: Sori sori. Emang itu video apaan? Aku belum buka. Bentar, buka dulu. Ervin: Anjirrrr .... Duta senyum-senyum saja menyimak obrolan di grup absurd itu. Meskipun Duta termasuk di dalamnya, tapi Duta tidak pernah ikut sebar link. Link dari teman-temannya pun keseringan diabaikan. Pernah, sih, sesekali dibuka. Namanya juga cowok normal. Namun, terlepas dari rutinitas berbagi link haram itu, Duta merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Karena ada 11 orang dengan karakter yang berbeda-beda, memang tidak selalu harmonis. Namun berkat mereka, setidaknya Duta merasa punya keluarga kedua di perantauan ini. Sebagian besar dari mereka juga berasal dari luar Jawa. Ferdi: Busettt! Ini bukannya cewek yang kemarin makan sama kita? Sonang: @Ferdi Telat! Lie: Bohay banget btw. Nikah sama dia hemat tapi, nggak perlu beli kasur. Zukril: @Lie Hus! Dilarang ngomongin fisik! Lie: @Zukril Iyya, Pak RT. Ansar: Kalau ini beneran, cowok KKN gugur satu dong. Aldi: Yah ... nggak selusin lagi. Sonang: @Aldi Tapi nggak apa-apa. Ini kabar bahagia yang patut disambut dengan hati riang. Tono: @Duta ke mana ini? Kok, nggak ada suaranya? Bams: Bang @Duta, kami butuh penjelasan. Alfaden: Duttt??? Zukril: Taaa!!! Duta masih terus menyimak tanpa tahu harus menjelaskan mulai dari mana. Andai Bams menemukan video itu di hari pertama tayang, Duta akan berkata dengan enteng, bahwa video itu hanya settingan, dia dibayar. Namun, ada baiknya juga video itu baru masuk ke grup KKN sekarang, karena video settingan itu rupanya berlanjut ke hal yang lebih serius. Tuhan memang perancang skenario yang sempurna. Duta jadi tidak perlu capek-cepek menjelaskan dua kali. Lie: Gaes, kumpul di kamar Duta sekarang! Duta terbelalak melihat chat terakhir itu. Benar saja, beberapa menit kemudian teman-temannya langsung menyerbu kamarnya. Suara ketukan pintu bersahut-sahutan di luar. Mereka bisa makin anarkis kalau diabaikan. Duta pun mengencangkan lilitan sarungnya, lalu beranjak membukakan pintu. "Kok Abang nggak pernah cerita punya hubungan sama Mbak Rindu?" Meski paling muda, nyatanya Bams yang paling duluan bertanya. "Sejak kapan?" sambar Ferdi. Mereka masuk tanpa disuruh. Kamar yang idealnya untuk dua orang itu, kini benar-benar sesak. Mereka duduk melantai. Aldi mengambil stoples wafer roll di atas meja tanpa permisi. Begitu tutupnya dibuka, yang lain langsung menyerbu. "Sebenarnya kalian ke sini karena penasaran sama video itu atau karena kelaparan, sih?" Omongan Duta tidak digubris. "Bukannya selama ini kamu sukanya sama Tiwi?" tanya Sonang sambil mengacung-acungkan wafer roll. "Tiwi, kan, nolak dia, makanya langsung lirik yang lain," ujar Ansar sambil meraih guling di atas kasur, lalu memangkunya. "Segampang itu?" Lie melayangkan tatapan sangsi. "Ini bukan soal gampang nggak gampang, tapi yang namanya cowok emang harus berani terus melangkah. Masa harus stuck di satu cewek yang jelas-jelas udah nolak kita?" Alfaden sok bijak. Duta benar-benar kewalahan meladeni kehebohan teman-temannya ini. "Kok, jadi melebar ke mana-mana, sih?" Bams menengahi. Detik selanjutnya tatapannya berfokus ke Duta. "Video lamaran itu beneran, Bang?" Agar kerusuhan ini lekas berakhir, Duta pun mengangguk. "Abang bakal nikah sama Mbak Rindu?" Bams memperjelas. Duta kembali mengangguk. "Bukannya kalian baru kenal, ya? Kok, bisa langsung yakin pengin nikah?" Pertanyaan Zukril seolah mewakili yang lain. "Kalau jodoh mau gimana lagi?" Duta mengedik lemah. Teman-temannya bersitatap, masih dengan tampang setengah percaya. Ervin yang sedari tadi diam, malah beranjak lebih dulu untuk memeluk Duta sambil mengucapkan selamat. Yang lain pun bergabung. Momen peluk-pelukan yang rada brutal pun tidak terhindarkan. Gelak tawa berhamburan. Mereka seperti klub olahraga yang baru saja memenangkan pertandingan. Dikeroyok seperti itu, Duta hanya bisa pasrah. "Nanti pas hari pernikahan, ngucapin selamat nggak boleh dengan tangan kosong, ya," seloroh Duta setelah peluk-pelukan itu selesai. Teman-temannya pun langsung bersorak. "Huuu ...." "Dasar!!!" *** "Ta, katanya kamu mau nikah, ya?" Ini masih pukul tujuh kurang, cepat banget kabar itu sampai ke telinga Nenek Suha. "Mohon doanya ya, Nek." Duta yang sedang memilih kue untuk teman kopi mengangkat sebentar pandangannya, lalu tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Nenek ikut bahagia. Tapi, kamu, kok, nggak pernah cerita ke Nenek? Calonnya orang mana? Atau sama pegawai bank itu, ya?" "Bukan Tiwi, kok, Nek. Insyaallah, secepatnya akan Duta kenalin ke Nenek." "Nenek tunggu, ya. Nenek penasaran seperti apa cewek pilihan kamu itu." Duta hanya mengembangkan senyum sekali lagi, lalu membayar kuenya dan pamit. Di lokasi proyek, kabar Duta akan menikah juga sudah tersebar ke mana-mana. Hal itu dimanfaatkan oleh Duta untuk bicara dengan mandornya, bahwa dia akan sering-sering izin tidak masuk kerja untuk mengurus segala sesuatunya. Mandornya sangat memaklumi. Sepulang kerja, akhirnya Duta sudah mantap untuk mengabari ibunya, bahwa rencana pernikahan yang dia singgung beberapa hari yang lalu benar-benar akan berlangsung. Karena ibunya minta dikirimi foto Rindu, kemarin sebelum pulang, Duta memberanikan diri mengajak Rindu selfie. "Loh, untuk apa?" Begitu tanggapan Rindu kemarin. Permintaan selfie dari seorang Duta tentu terasa aneh. "Ibuku penasaran dengan calon menantunya," jawab Duta sambil mengeluarkan ponsel dan langsung menyalakan kamera. Rindu pun tersipu. "Tapi aku lagi berantakan ini." "Fotonya cuma mau dikirim ke Ibuku, kok, bukan juri kontes kecantikan." Rindu terkekeh. Dia meraih selembar tisu di atas meja, lalu mengelap area hidungnya agar tidak terlalu berminyak. Meskipun hanya foto, kesan pertama itu penting. "Posenya gimana?" tanya Rindu sambil menyisir rambutnya dengan jari, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Biasa aja." Duta pun mengangkat ponselnya dengan kemera depan yang sudah siap. Begitu Duta akan mengambil gambar, tiba-tiba Rindu menyela. "Bentar, Ta, aku kelihatan gendut banget kalau dari arah kanan. Kita tukaran tempat duduk." Duta tersenyum geli sambil geleng-geleng. Dia pun mengabulkan permintaan cewek itu tanpa protes. Foto diambil sebanyak tiga kali. Kemudian Rindu membanding-bandingkan sebentar, sebelum akhirnya memilih foto pertama yang akan dikirim. Duta senyum-senyum sendiri mengingat momen kemarin. Barusan Duta sudah mengirim foto itu ke WA Dika, adiknya yang paling gede. Terpaksa lewat perantara karena ibunya masih memakai ponsel jadul, tidak bisa menerima kiriman gambar. Beberapa detik kemudian Dika membalas. Dika: Jadi yang dibilang Ibu benar, Kakak akan nikah sama cewek Jakarta? Dika: Ini orangnya? Dika: Wah, semok banget, Kak. Hehehe .... Anda: Anak kecil dilarang komen. Dika: Aku udah SMA kali, Kak. Urusan cewek udah ngerti dikit-dikit. Anda: Hus! Ingat, ya, kamu nggak boleh pacaran sebelum lulus. Dika: Pas kuliah udah boleh berarti. Anda: Mending fokus belajar dulu, deh. Soal cewek akan ada masanya, kok. Dika: Baik, Tuan. Hamba siap melaksanakan setiap perintah. Duta terkekeh. Adik pertamanya itu memang rada bawel. Anda: Sana, tunjukin ke Ibu fotonya. Dika tidak membalas lagi. Sampai akhirnya ibunya menelepon. Duta lekas mengangkatnya. "Assalamulaikum, Bu." "Waalaikumsalam, Nak." "Kok, suara Ibu bergetar?" heran Duta. "Ibu sakit?" "Nggak, Nak. Ibu hanya terharu melihat kamu menemukan calon pendamping hidup. Rasanya pengin nangis saking senangnya." Duta tersenyum lega. "Siapa nama calon menantu Ibu?" "Rindu, Bu." "Masyaallah, dia cantik banget. Semoga Ibu tidak salah menilai, tapi pancaran matanya terlihat tulus. Biasanya hal seperti ini akan berbanding lurus dengan hati." Sulit dijelaskan, tapi kalimat itu membuat udara di sekitar Duta terasa sejuk seketika. Diam-diam hatinya mengaminkan. Obrolan itu pun masih berlanjut. Ibunya mengajukan cukup banyak pertanyaan. Duta meladeninya dengan sabar. Setelah obrolan itu berakhir, satu hal yang paling disyukuri Duta adalah, ibunya sama sekali tidak menyinggung soal fisik Rindu. Duta memperhatikan foto yang tadi dikirim ke ibunya. Ternyata ibunya tidak asal ngomong. Rindu memang cantik. Senyumnya tampak serasi dengan pipi bulatnya. Mungkin hal ini kurang disadari karena orang-orang akan lebih fokus ke bentuk tubuhnya. Ajaibnya, kini Duta menyadarinya. Dan hal itu sukses membuat hatinya bergejolak. *** [Bersambung] Uhuk uhuk .... Ada yang mulai merasakan sesuatu, nih. ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD