Rencana Pernikahan

1068 Words
Pagi-pagi sekali Rindu sudah sibuk merancang strategi yang harus dilakukan kalau sampai channel-nya yang sekarang benar-benar harus dihapus dan terpaksa mulai dari nol lagi. Dia bahkan belum mandi. Dia harus bersiap menyambut hal terburuk sedini mungkin. Mengharapkan Duta sepertinya tidak mungkin lagi, mencari cowok lain pun sama saja mempermalukan diri sendiri. Bisa-bisa dia malah dihujat karena terlalu drama. Di tengah kebingungan Rindu, suara tanda pesan masuk menginterupsi. Ternyata dari Duta. Rindu buru-buru membukanya. Duta Sang Penolong: Tawaran nikah kontrak masih berlaku? Se-to the point itu. Rindu langsung terbelalak. Dia tidak salah baca, kan? Rindu sengaja mendiamkan pesan itu, meski tangannya sudah gatal ingin membalas. Siapa tahu Duta hanya berniat mengerjainya dan akan menarik kembali pesan itu, atau mengaku salah kirim, salah ketik, atau apa pun itu. Karena pesan itu sungguh sulit dipercaya. Namun, hingga sepuluh menit berlalu, Duta tak kunjung menarik pesannya. Rindu pun lekas membalasnya. Anda: Masih. Harusnya tidak sesingkat itu, tapi Rindu benar-benar tidak tahu harus menambahkan kata apa lagi. Duta Sang Penolong: Ayo bicarakan. Aku tunggu di taman kemarin jam 9. Tangan Rindu gemetar. Ponselnya nyaris terjatuh. Dia masih antara percaya dan tidak percaya. Kenapa Duta berubah pikiran setiba-tiba ini? Daripada buang-buang waktu tidak jelas, Rindu bergegas untuk siap-siap. Jangan sampai Duta tiba lebih dulu. Dia tidak boleh merusak mood cowok itu dengan membiarkannya menunggu. Pukul sembilan kurang 15 menit, Rindu pun tiba di taman. Dia langsung mengeluarkan ponsel untuk mengabari Duta kalau dia sudah datang. Namun, sepasang matanya lebih dulu menangkap cowok itu tengah termangu di salah satu bangku. Rindu pun lekas menghampirinya. "Sori, Ta, rada macet," ujar Rindu seraya duduk di samping cowok itu. Duta hanya bergumam seraya tersenyum tipis. Entahlah, Rindu merasa cowok ini agak beda dari biasanya. Dia tampak murung. "Kamu serius mau bahas soal nikah kontrak itu?" tanya Rindu pelan-pelan. Tadinya dia menunggu Duta yang memulai, tapi cowok itu hanya terus menunduk seraya menautkan kesepuluh jemarinya. Duta mengangkat pandangannya, lalu mengangguk. "Kenapa tiba-tiba?" Duta tidak langsung menjawab. Dia seperti sedang memilah kalimat yang tepat, sambil menghela napas panjang beberapa kali. Ekspresi itu menunjukkan bahwa dia tidak sedang baik-baik saja. "Rentenir itu mengancam akan menyakiti ibu dan adik-adikku kalau aku nggak bisa bayar setengahnya minggu depan." "Ya Tuhan ...." Rindu sontak membekap mulutnya. "Saking takutnya, tadi malam aku sampai mimpiin ibu disiksa sama mereka. Aku nggak mau sampai itu terjadi, Rin." Suara Duta retak. Matanya mengembun. Tangan Rindu hendak terulur untuk mengelus punggung Duta, tapi urung. Takutnya Duta tidak nyaman dengan perlakuan semacam itu. "Karena itu aku berubah pikiran dan mau menerima tawaran kamu. Nggak ada cara lain lagi." "Kalau emang semendesak itu, kamu bisa, kok, pakai uang aku dulu, tanpa harus nikah kontrak." "Kok?" Duta mengernyit. "Kemarin, setelah kamu tiba-tiba pergi, aku sadar, nikah kontrak emang bukan perkara gampang. Urusannya bakal panjang. Dan seperti yang kamu bilang, kita mempermainkan ibadah. Bahkan, kita akan menciptakan satu kebohongan besar di depan semua orang." Duta tertegun sejenak. Itu sungguh kalimat yang tidak terduga. "Tapi aku nggak boleh egois. Kamu juga lagi ada masalah, dan tak kalah serius." "Masalahku nggak ada apa-apanya dibanding masalahmu. Masalahmu karena menolong nyawa ibumu, sementara masalahku murni karena kebodohan sendiri. Karena itu, nggak seharusnya aku melibatkan orang lain." Dari rumah, Rindu tidak ada rencana untuk berkata seperti itu. Di dalam tasnya bahkan sudah siap selembar kertas yang memuat beberapa poin perjanjian yang akan mereka sepakati. Hanya saja, tampang sendu Duta telah menyita rasa empatinya tanpa sisa. "Sebelumnya makasih banyak atas kesediaannya membantu. Tapi ... kayaknya aku bakal lebih tenang kalau kita tetap ke rencana awal. Seperti katamu kemarin, simbiosis mutualisme." Duta tersenyum, agar Rindu tidak menangkap kesan terpaksa di wajahnya. "Gini aja, Ta, sebaiknya kita jangan putusin sekarang. Tawaranku untuk bantu kamu tanpa harus nikah kontrak masih berlaku. Dipikir-pikir aja dulu. Kalau mau, tinggal WA aja, aku bakal transfer uangnya. Tapi kalau kamu benar-benar nggak keberatan dengan nikah kontrak, langsung aja ke rumah, kita bakal bahas lebih lanjut detailnya kayak gimana." "Oke." Duta menyanggupi dengan tampang setengah tercengang. Kenapa Rindu tiba-tiba semurah hati ini padanya? *** Setelah menemui Rindu, Duta kembali ke lokasi proyek. Dia hanya izin terlambat, bukan tidak masuk. Hari ini dia tidak segesit biasanya karena otaknya tengah menimbang keputusan besar. Nikah bukan perkara main-main, apalagi pakai kontrak segala. Namun, rasanya juga mustahil membiarkan Rindu menariknya keluar dari lubang masalah tanpa melakukan hal yang sama. Sementara jelas-jelas cewek itu juga butuh pertolongan. Sepulang kerja, Duta langsung menelepon ibunya. "Assalamualaikum, Nak!" "Bu, kalau Duta nikah, gimana menurut ibu?" "Loh, bukannya jawab salam dulu malah langsung ngomongin nikah." "Eh. Waalaikumsalam, Bu." Ibunya terkekeh. "Kamu ini kenapa sebenarnya, Nak? Kok, dari kemarin jadi aneh begini?" Duta hanya balas terkekeh, tidak tahu harus bilang apa. "Tiba-tiba pengin nikah, emangnya kamu udah siap?" "Insyaallah, Bu." Andai ibunya tahu, ini bukan lagi soal siap atau tidak siap. "Udah ada calonnya?" "Kayaknya ada, Bu." "Kok, kayaknya?" Duta kembali hanya terkekeh. "Udah lama kenal?" "Baru, sih, Bu." "Baru?" Nada heran ibunya setengah memekik. "Berarti belum kenal keluarganya?" Duta butuh jeda sebelum menjawab. "Nanti bisa sambil jalan, Bu. Sama seperti bagaimana dia akan mengenal keluarga kita." "Kok, kedengarannya serba dadakan, ya, Nak?" Ibunya terkesan ragu-ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. "Kamu ... nggak hamilin anak gadis orang, kan?" "Astagfirullah, Bu. Nggak mungkin Duta kayak gitu. Duta ingat terus, kok, pesan Ibu." Helaan napas lega ibunya terdengar jelas. "Syukurlah. Ibu nggak enak sama almarhum ayahmu kalau sampai gagal mendidik kamu." Duta terenyuh. Bagaimana kalau ibunya tahu cerita sesungguhnya di balik rencana pernikahan dadakan ini? "Salat istikharah dulu, Nak. Minta petunjuk sama Allah. Nikah itu sesuatu yang disemogakan sekali seumur hidup. Jadi, menikahlah karena memang sudah siap, bukan karena hal lain." Kalimat itu membuat Duta tercekat. Dia tidak menyangka takdir akan membawanya menempuh jalan semacam ini. "Kalau hatimu memang sudah mantap, sebagai orangtua, Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu." "Makasih, Bu. Tapi ini baru rencana, kok." "Kalau jadi, kirimi Ibu fotonya, ya. Ibu penasaran dengan calon menantu Ibu." "Pasti, Bu." Duta terkekeh pelan. "Ya udah, Bu, Duta mau mandi dulu. Baru pulang kerja soalnya." "Mandinya yang bersih, biar makin ganteng pas jadi mempelai nanti." "Ibu bisa aja." Tawa Ibu dan anak itu pun membaur. Setelah mengucap salam dan mengakhiri obrolan itu, Duta tertegun. Ibunya terdengar sangat bahagia. Duta memang belum mengambil keputusan, tapi rencana pernikahan yang sedang dipertimbangkannya hanya kontrak. Sifatnya sementara. Nanti harus mengarang cerita apa ke beliau kalau sudah saatnya diakhiri? *** [Bersambung] Kalau Duta dan Rindu jadi nikah, ada yang mau kondangan bareng gak? ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD