Ancaman

1070 Words
Bermenit-menit setelah Duta pergi, Rindu masih terpaku di kursinya. Dia merasa bersalah dan takut di saat bersamaan. Dia tidak bisa menahan Duta, terlebih memaksanya. Karena jika dia yang berada di posisi cowok itu, mungkin juga akan bertindak yang sama. Wajar kalau Duta marah. Wajar kalau Duta tersinggung. Atau apa pun yang dia rasakan setelah mendengar tawaran Rindu, semuanya wajar. Manusiawi. Satu-satunya yang tidak wajar di sini adalah Rindu dan obsesinya. "Gimana, Rin?" tanya Tasya begitu Rindu tiba di rumah. Ketiga temannya sedang berkumpul di ruang tengah, seolah memang sedang menunggu kepulangan Rindu. Bahu Rindu merosot perlahan. "Ternyata nggak segampang yang kita kira." "Duta nggak mau?" Devi mulai cemas. "Masa, sih, dia nolak bayaran sebanyak itu?" Beni ikut menimpali, sambil mengelus-elus kepala kucing kesayangannya. "Dia bahkan pergi sebelum aku rincikan soal bayarannya." "Ya Tuhan." Tasya menyugar rambutnya ke belakang. "Jadi nasib kita gimana?" "Mending dari sekarang kalian cari aja kerjaan lain buat jaga-jaga," tutup Rindu, kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Dia sendiri sudah pasrah, kalau memang harus kehilangan channel yang dibesarkannya selama ini. Ketiga temannya hanya bisa bersitatap dengan kegalauan yang sama. *** Sepanjang perjalanan pulang, kalimat Rindu terus terngiang di telinga Duta. Dia langsung pergi karena marah, tapi bukan ke Rindu, melainkan ke diri sendiri. Dia merasa gagal jadi laki-laki. Dia merasa gagal bertanggung jawab. Dan dia tidak ingin terkesan memanfaatkan kebingungan Rindu untuk terbebas dari utang. Setibanya di kosan, Duta malah dikagetkan dengan kehadiran anak buah Juragan Dante. Mereka sepertinya sudah menunggu sedari tadi, sekarang menyambut Duta dengan seringai menyeramkan. Duta tidak akan lari kali ini. Dia akan menghadapi mereka. Duta turun dari vespanya dan menghampiri mereka, meski tidak tahu harus bilang apa. "Kok, nggak lari lagi?" tanya laki-laki berewok yang badannya paling besar. Bisa dipastikan dia pimpinan di kelompok itu. "Maaf, Bang, tadi siang aku cuma kaget." "Kaget karena udah berani main-main sama kami?" bentak si berewok. "Pakai ngasih alamat palsu segala lagi! Kamu pikir kami ini kurang kerjaan? Yang mau diurusin bukan cuma kamu doang!" Duta diam saja. Mau beralasan apa pun, dia memang salah. "Terus, gimana tunggakan kamu?" tanya si berewok sambil berkacak pinggang. Emosi membuat tarikan napasnya terdengar keras. "Aku pasti bayar secepatnya, Bang." "Basi! Telepon aja nggak pernah diangkat!" "Kasih aku waktu tiga hari, Bang, aku pasti bayar untuk sekali angsuran." "Nggak bisa! Karena kamu sering ngeyel, juragan maunya langsung dibayar setengahnya." Duta menelan ludah. Dari mana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Si berewok mengambil sesuatu dari saku jaketnya, lalu menyerahkannya ke Duta dengan gerakan kasar. Duta kaget bukan main ketika tahu benda itu ternyata foto ibu dan adik-adiknya. Dari mana mereka mendapatkan foto ini? "Kami sudah capek berurusan sama kamu. pokoknya, kalau minggu depan kamu nggak bayar setengahnya, kamu tahu sendiri risikonya." "Bang, tolong jangan ganggu ibu dan adik-adikku," mohon Duta sambil mengatupkan kedua tangannya. Tahu-tahu matanya sudah berkaca-kaca. Apa pun, asal jangan ibu dan adik-adiknya. "Kamu sendiri yang bisa mencegah itu." Si berewok memperlihatkan seringai menyeramkannya sekali lagi, lalu mengode anggotanya untuk meninggalkan tempat itu. Duta menatap sekali lagi foto Ibu dan adik-adiknya yang sepertinya diambil secara diam-diam itu. Dia teramat gamang. Tangannya sampai gemetar. Duta tidak menyangka jaringan Juragan Dante seluas itu, sampai bisa melacak keberadaan ibu dan adik-adiknya. "Ta, mereka siapa?" Seseorang bertanya dari arah belakang. Sebelum menoleh Duta sudah tahu, itu Nenek Suha. "Eh, Nek." Duta buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memaksakan diri tersenyum. "Mereka dari tadi, loh, nungguin kamu. Emangnya ada urusan apa sama orang-orang serem itu?" "Bukan masalah besar, kok, Nek. Biasalah. Namanya juga cowok." Duta tidak ingin membuat Nenek Suha khawatir. "Itu apa, Nek?" tanyanya kemudian pura-pura, sebelum perempuan senja itu bertanya lebih jauh. Padahal isi kotak yang dipegang Nenek Suha sudah pasti kue seperti biasanya. "Biasalah. Daripada mubazir," jawab Nenek Suha sambil menyodorkan kotak plastik itu. Duta pun menerimanya. "Makasih, ya, Nek." "Dibagi ke yang lain juga, ya. Soalnya tadi Nenek ke dalam, tapi nggak ada siapa-siapa. Nggak tahu pada ke mana." "Paling lagi nongkrong di warkop depan gang, Nek." "Ya udah. Nenek masuk duluan, ya." Duta mengangguk seraya tersenyum. Begitu Nenek Suha pergi, dia pun lekas masuk ke kosannya. Setibanya di dalam, Duta buru-buru menelepon ibunya. Sambil menunggu diangkat, dia mondar-mandir dengan perasaan yang tidak menentu. "Assalamualaikum, Nak." "Waalaikumsalam. Ibu nggak apa-apa, kan?" "Loh, emangnya ada apa? Kok, kedengarannya kamu panik gitu? Ibu baik-baik aja, kok." "Adik-adik juga baik-baik aja, kan, Bu?" "Alhamdulillah, baik. Kamu kenapa, sih, Nak? Nggak biasanya kayak gini." Duta menghela napas lega sambil mengucap syukur berkali-kali dalam hati. "Nggak apa-apa, Bu. Duta cuma lagi kangen sama Ibu dan adik-adik." "Makanya, pulanglah sesekali. Ibu juga kangen banget sama kamu, Nak." "Insyaallah, Duta usahain bisa pulang secepatnya, Bu." "Gimana kerjaan kamu, Nak?" Duta tidak langsung menjawab. Seketika hatinya mencelus. Selama ini dia mengaku ke ibunya bekerja kantoran sebagai staf keuangan. Duta paham, membohongi orangtua adalah dosa besar. Namun, dia juga tidak ingin ibunya kepikiran jika tahu seperti apa kehidupannya yang sesungguhnya di kota keras ini. Tidak hanya itu, Duta juga bohong soal biaya operasi ibunya. Dia mengaku mendapatkan pinjaman dari koperasi khusus karyawan di perusahaan tempatnya bekerja dengan bunga 0%. Katanya lagi, angsurannya bisa saja dibebaskan sesekali kalau prestasinya bagus. Duta tidak bermaksud berbohong, apalagi sok sukses di perantauan. Dia hanya tidak ingin membebani pikiran ibunya kalau sampai orang-orang mencibir. Karena, kalau hanya untuk jadi tukang bangunan, sebenarnya di Makassar juga bisa. Hanya saja Duta sudah telanjur nyaman di sini. Jauh dari radar tetangga julid dan teman-teman seangkatannya yang lebih dulu mengukir cerita kesuksesan. Namun, cepat atau lambat Duta harus tetap menceritakan kondisi kehidupannya yang sesungguhnya. Dia tidak mungkin berbohong selamanya. "Nak! Kok, diam?" "Eh?" Duta terangkat dari lamunan. "Kerjaan lancar, kok, Bu." "Alhamdulillah." "Ya udah, Bu, besok Duta telepon lagi. Tadinya cuma mau dengar suara Ibu, sih." Di seberang sana, ibunya terkekeh ringan. Agaknya perempuan paruh baya itu sangat bahagia memiliki anak seperhatian Duta. "Salam sama adik-adik, Bu." "Iya. Nanti Ibu sampaikan. Kamu di sana baik-baik, ya. Jaga kesehatan." "Iya, Bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Setelah sambungan terputus, Duta langsung memutar otak. Dia tidak ingin menunda-nunda. Dia harus menemukan jalan keluar sebelum Juragan Dante menjalankan ancamannya. Duta mondar-mandir sambil terus berpikir. Dia tidak punya sesuatu yang bisa dijual atau digadaikan. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba nama Rindu melintas. Gerakan kaki Duta seketika terkunci. Haruskah dia menerima tawaran gila cewek itu? *** [Bersambung] Bau-baunya bakal ada yang nikah, nih. ? Kita manis-manis aja dulu, ya. Habis itu baru main kaget-kagetan. ? Btw, makasih banyak, ya, udah ngikutin sejauh ini. ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD