Saking semangatnya ingin ketemu Duta, Rindu datang tiga puluh menit lebih awal. Kali ini dia yang memilih tempat, sebuah kafe bernuansa retro dengan iringan live akustikan. Perpaduan yang cukup hangat.
Rindu menyiapkan penampilannya kali ini sedari sore. Entahlah, dia belum pernah sepenuh pertimbangan begini saat memilih pakaian. Dia sampai bertanya ke Mbah Google segala tips berpakaian untuk cewek berisi seperti dirinya.
Sambil menunggu, Rindu melihat-lihat kolom komentar video-videonya di YouTube. Dia membubuhkan tanda hati di komentar-komentar yang bernada positif. Puas di sana, dia beralih ke i********:. Ternyata Bams mengirim pesan beberapa jam yang lalu. Isinya masih lanjutan pertanyaan-pertanyaannya di angkringan kemarin. Rindu pun membalasnya, merincikan sebisanya.
Melihat antusias Bams, Rindu seperti melihat dirinya bertahun-tahun silam saat baru akan memulai channel-nya. Dan di masa-masa seperti itu, rasanya sangat menyenangkan jika bertemu seseorang yang tidak pelit ilmu.
Setelah chat Rindu dengan Bams lumayan panjang, barulah Duta tiba. Malam ini dia mengenakan kaus hitam, dipadukan dengan jins biru malam yang sobek di bagian lututnya. Rambut ikalnya sengaja dibiarkan acak-acakan. Dan itu malah membuatnya terlihat lebih "sesuatu".
Setelah cincin, sekarang malah dompet. Besok-besok apa lagi? Duta benar-benar tidak habis pikir. Sejak pertemuan di taman kemarin, kenapa kini takdirnya seolah terikat dengan Rindu?
"Dari tadi?" tanya Duta sambil menarik kursi, lalu duduk berhadapan.
Rindu menggeleng dusta seraya tersenyum.
"Kamu kelihatan beda, deh, malam ini," ujar Duta seraya memicing.
"Kelihatan lebih lebar, ya? Atau lebih bulat?" seloroh Rindu.
Duta terkekeh geli. "Bukan itu, kok. Serius." Cowok itu memperhatikan Rindu lagi. "Entahlah. Intinya beda aja. Mungkin karena udah nggak panik."
Tawa mereka mengudara.
Diam-diam hati Rindu menghangat. Semoga yang tadi itu benar-benar pujian. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyiapkan penampilannya ini.
"Semoga kamu nggak sedang menahan malu, ya, demi duduk bareng aku di sini."
"Ya nggaklah!" Duta mengibaskan tangan.
Pelayan datang menginterupsi dengan menyodorkan buku menu.
"Karena di angkringan kemarin kamu yang bayar, sekarang gantian, ya," ujar Rindu seraya membuka-buka buku menu. "Mau nggak mau harus mau. Kan, sekarang kamu lagi nggak punya uang. Orang dompetnya masih sama aku."
Duta terkekeh lagi. "Ngomong-ngomong soal dompet, aku curiga, nih. Jangan-jangan nggak jatuh, tapi sengaja dibikin ketinggalan."
Rindu langsung mengangkat pandangannya. "Ha?" Dia terkekeh singkat. "Maksudnya, aku gitu yang sengaja ngumpetin dompet kamu?" Dia menunjuk mukanya sendiri.
"Kali aja, kan?" Duta menahan tawa.
"Demi?"
"Soal itu hanya kamu dan Tuhan yang tahu."
"Sebahagia kamu aja, deh." Rindu tersenyum geli sambil geleng-geleng. "Daripada ke-ge-e-ran mending cepat pesan. Kasihan Mbaknya berdiri lama."
Pelayan di samping mereka mengulas senyum.
Duta pun mengembalikan tatapannya ke buku menu.
"Kamu mau makan atau minum aja, Dut?"
"Ta!" Duta buru-buru mengoreksi.
Rindu memutar bola mata. "Iya, maksudnya Ta."
"Bentar, emang rencananya kita bakalan berlama-lama, ya, di sini?"
"Terserah kamu, sih."
Duta mengedarkan pandangan sejenak. "Karena tempatnya lumayan asyik, plus dibayarin, makan boleh, deh."
"Ya udah. Buruan pesan, jangan nyengir."
Tarikan sudut bibir Duta malah semakin lebar.
Rindu pura-pura mengabaikannya dengan kembali menekuri buku menu di tangannya. Bukan apa, tampang kocak Duta makin ditatap malah bikin nagih.
Acara memesan selesai beberapa menit kemudian.
"Kamu sering ke sini, ya?" tanya Duta setelah pelayan pergi.
"Dulu, sih."
"Pasti bareng cowok yang tiba-tiba ninggalin kamu itu, ya?"
Tatapan Rindu seketika tertancap di mata Duta. Sekian detik, sebelum akhirnya beralih ke permukaan meja yang masih kosong. Dia tidak menyangka cowok ini akan berkata begitu.
"Tolong jangan bahas itu, Ta. Aku benar-benar malas!"
"Oke." Duta menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi, lalu kembali mengedarkan pandangan. Hampir tidak ada meja yang kosong, dan rata-rata diisi pasangan kekasih.
Saat ini yang tampil akustikan seorang cewek, membawakan lagu "Cinta Datang Terlambat" yang dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Suaranya enak. Empuk. Duta sempat terenyuh saking menikmatinya.
"Yakin nggak mau makan?" tanya Duta saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Makan, kok." Rindu menunjukkan semangkuk salad.
"Cuma makan daun?"
"Buah kali, Ta."
"Itu daun." Duta menunjuk lembaran selada.
Rindu menghela napas kesabaran.
"Jadi kamu rakusnya di depan kamera doang, ya?"
Rindu langsung memelotot.
Duta buru-buru mempersembahkan cengiran perdamaian.
"Sebagai cewek, sebenarnya aku juga pengin banget kali punya badan yang ideal. Biar kalau jalan di tempat umum nggak risi, sama pas nyari baju juga gampang ketemu ukurannya." Rindu memasang tampang meratap. "Tapi nyatanya Tuhan malah ngasih segini. Mau diet, kayaknya mustahil deh. Secara, kan, aku nyari uang dengan cara makan."
"Bagus, dong. Daripada langsing tapi nggak bisa makan enak?"
"Kamu bisa ngomong kayak gitu karena kamu nggak pernah di posisi ini."
"Aku serius. Ibarat tanaman, kamu itu subur, pupuknya terjamin. Jadi, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?"
"Klise!"
Duta terkekeh tanpa suara. "Lagian, kamu nggak perlu kurus, kok, untuk jadi cantik. Karena kelak, kamu akan sangat cantik di mata orang yang tepat, dengan apa adanya kamu saat ini."
Sendok yang dipegang Rindu nyaris terjatuh. Kalimat semacam tadi memang sering Rindu temukan di postingan-postingan orang, tapi Duta mengucapkannya seolah benar-benar tulus dari hati.
Duta sudah kembali sibuk dengan mi udangnya, tidak tahu kalau kalimat terakhirnya masih menyisakan denyut aneh di hati Rindu.
"Ta, nikah, yuk!" ajak Rindu tiba-tiba setelah Duta menghabiskan mi udangnya.
Saking kagetnya, Duta yang sementara minum langsung menyemburkan semua air di mulutnya. Rindu pun kena cipratan.
"Ih, Ta! Apa-apaan, sih?" Rindu langsung meraih tisu dan menyeka lengan serta wajahnya.
"Sori sori!" Duta jadi tidak enak. "Lagian, kamu bercandanya kelewatan."
Sebenarnya Rindu juga tidak ingin menyampaikan maksudnya dengan segamblang tadi, tapi dia tidak ahli merangkai kalimat yang berbelit-belit. Takutnya Duta keburu pulang.
"Aku nggak bercanda, Ta! Aku serius ngajakin nikah."
Seketika Duta mematung, sekian detik seperti orang hilang ingatan. "Kamu nggak keracunan sayur-sayuran, kan?"
Rindu menghela napas panjang sambil meremas semua tisu bekasnya. Tadi sore dia membentuk rapat dadakan dengan timnya untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi Duta dan rencana pertemuan malam ini. Dari gabungan pemikiran mereka, akhirnya lahir beberapa kesimpulan. Dan sekarang saatnya menyampaikannya ke Duta.
"Kita perjelas aja, ya, Ta." Rindu membenahi posisi duduknya. Ini agak sensitif, jadi dia harus hati-hati. "Aku bisa bantu kamu lunasi utang kamu yang 80 juta itu, tapi dengan syarat kita nikah kontrak."
Pangkal alis Duta seketika bertaut. "Maksudnya?"
"Kamu pasti nggak mau, kan, utang kamu makin gede karena terus berbunga? Kamu juga pasti nggak mau, kan, dikejar-kejar lagi kayak tadi siang? Nah, di sisi lain aku butuh kamu untuk mengamankan channel-ku. Jadi, mari kita sebut ini sebagai simbiosis mutualisme."
"Jadi, kamu ngajakin aku untuk mempermainkan ibadah?" Duta menatap tidak percaya.
Punggung Rindu menegak. Apa dia salah memilih kalimat? Ini yang dia takutkan.
"Aku paham banget kalau kamu mikirnya kayak gitu, tapi dengan cara ini kita bisa bebas dari masalah."
Duta tidak menggubris. Dia malah menadahkan tangan. "Sini dompetku!"
"Ta, tolong dipikir-pikir dulu," mohon Rindu.
"Sini dompetku!" ulang Duta dengan nada yang sudah berubah.
Mau tidak mau Rindu pun memberian dompet cowok itu.
"Nikah itu landasannya cinta, bukan utang!" Duta lekas pergi dari sana dengan langkah panjang-panjang.
***
[Bersambung]
Yah, malah pergi.
Kira-kira gimana, ya, biar Duta mau? ?