Latar Belakang Kehidupan Duta

1021 Words
Duta lekas membantu Rindu berdiri, sebelum anak buah Juragan Dante menemukannya. Untungnya Rindu tidak mengalami luka serius, hanya goresan kecil di telapak tangannya. "Duh, sori banget, ya." Duta meraih tangan Rindu dan memperhatikan luka itu. "Emang ada apa, sih, sampai lari-larian segala?" tanya Rindu sambil meringis menahan rasa perih. Kemudian dia celingukan mencari sesuatu. "Vespamu mana?" "Itu dia!" Teriakan itu diiringi gemuruh alas sepatu yang beradu dengan aspal. Melihat kemunculan orang-orang itu, Duta gelagapan. "Aku harus pergi sekarang!" katanya sambil ancang-ancang untuk lari. Namun, Rindu malah menahannya. "Masuk!" katanya sambil membuka pintu mobil. Tidak ada waktu untuk berpikir. Duta pun bergegas masuk. Begitu juga dengan Rindu, buru-buru menyalakan mobil dan bergegas pergi dari sana. Orang-orang itu masih berusaha mengejar, sampai akhirnya capek sendiri dan menyerah. "Ada apa, sih? Siapa mereka? Ngapain ngejar kamu?" cecar Rindu setelah keluar ke jalan utama. Duta mengatur napas sebelum menjawab. Yang tadi lumayan menegangkan. "Aku punya utang sama bos mereka," jawab Duta tanpa menoleh. Tatapannya lurus ke depan. Kejadian tadi membuat kepalanya dijejali pikiran-pikiran rumit. "Berarti salah kamu, dong." "Ya. Ini emang salah aku." "Yang namanya utang emang harus dibayar. Gimana pun caranya. Jangan malah melarikan diri kayak gini." Duta diam saja. "Emang berapa, sih?" "80 juta." "Astaga!" Rindu sontak membekap mulutnya. "Untuk apa uang sebanyak itu?" "Biaya operasi Ibu. Jantungnya pernah bermasalah." Suara Duta menyendu. Rindu jadi agak tidak enak. Kayaknya tadi intonasi suaranya terlalu penuh penekanan. "Sori, ya. Tadinya aku pikir kamu ngutang sebanyak itu untuk hal-hal aneh." Duta menoleh seraya tersenyum lemah. "Tadinya nggak sampai segitu, sih. Tapi bunganya emang tinggi banget. Sialnya, pekerjaanku bukan jenis pekerjaan dengan penghasilan yang stabil. Aku sering nunggak atau hanya mampu bayar bunganya. Karena, aku juga nggak boleh telat ngirim uang ke kampung untuk kebutuhan Ibu dan adik-adik." Rindu terenyuh. Dia tidak menyangka Duta menjalani hidup sekeras itu. "Tapi kenapa harus sampai kejar-kejaran segala, sih? Kan, bisa dibicarakan baik-baik." "Sudah terlalu sering dibicarakan baik-baik. Karena aku nyicilnya nggak sesuai kesepakatan awal, sekarang mereka malah minta langsung dibayar separuhnya. Dan yang bikin mereka marah kayak tadi, aku pernah ngasih alamat palsu." "Ya Tuhan. Lagian kamu, kok, mau-maunya, sih, berurusan sama rentenir?" "Terus, menurutmu sebaiknya aku pinjam uang ke bank?" Duta menyorot serius. "Bank mana yang mau memberikan pinjaman sebanyak itu ke tukang bangunan yang nggak bisa menjaminkan apa-apa?" Rindu terdiam. Itu benar. "Saat itu aku nggak mikir risikonya sama sekali. Keselamatan Ibu yang paling utama." Tanpa sadar Rindu mencengkeram setir lebih kuat. Bahasan tentang orangtua cukup sensitif baginya. "Lalu, apa rencana kamu selanjutnya?" "Entahlah. Kalau cuma jadi tukang bangunan, rasanya kerja siang malam pun nggak akan bisa melunasi utang itu dalam waktu dekat. Sementara bunganya terus jalan dan mereka orang-orang yang paling nggak mau terima alasan. Anti kompromi pokoknya." Mengetahui masalah yang sedang dihadapi Duta, tiba-tiba Rindu teringat usulan Devi tadi pagi. Namun, agaknya sekarang bukan waktu yang pas untuk membicarakan perihal nikah kontrak itu. Mood Duta pasti sedang kacau. Lagian, Rindu tidak ingin terkesan memanfaatkan masalah Duta untuk kepentingan pribadi. "Eh, mampir bentar, dong," ujar Duta saat melihat logo minimarket beberapa meter di depan sana. Rindu pun menepikan mobilnya di depan minimarket itu tanpa bertanya apa-apa. "Mau ikutan masuk?" tanya Duta dengan sebelah kaki yang sudah turun. Rindu menggeleng. "Kamu aja." "Oh ya, kamu mau minum apa?" tanya Duta lagi setelah berada di luar mobil. "Air mineral aja." Duta pun menutup kembali pintu mobilnya dan lekas masuk ke minimarket itu. Di dalam mobil, Rindu sibuk menimbang, apakah harus menyampaikan tawaran nikah kontrak itu sekarang atau menunggu momen yang lebih tepat. Kalau sekarang takutnya Duta akan tersinggung. Tapi kalau bukan sekarang, takutnya mereka tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu. Ini saja benar-benar pertemuan yang tidak disengaja. Rindu belum memutuskan ketika Duta sudah kembali dengan dua botol air mineral dan satu strip plester luka. "Nih." Duta menyerahkan air minum untuk Rindu. Kemudian dengan satu tarikan dia merobek kemasan plester luka itu dan mengambil satu. Dalam hati Rindu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dilakukan cowok ini? Sampai akhirnya, Duta meraih tangannya yang terluka dan menempelkan plester luka itu dengan hati-hati. Bahkan, dia meniupnya beberapa kali, sebelum melepaskannya kembali. Rindu tercengang. Suhu udara di sekitarnya tiba-tiba terasa meningkat. Hatinya jangan ditanya, semacam ada karnaval di dalam sana. "Ibuku selalu berpesan, agar aku selalu bertanggung jawab terhadap kekacauan yang aku perbuat. Sekecil apa pun itu." Rindu masih kesulitan untuk bicara. Mungkin bagi Duta mengobati luka yang dia timbulkan adalah hal biasa, bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Namun bagi Rindu, momen singkat tadi adalah perlakuan istimewa yang belum pernah dia terima sebelumnya. Bekas goresan di tangannya pun tidak perih lagi. Sembuh seketika. Sedahsyat itu efeknya. "Harus banget, ya, motifnya Mickey Mouse?" seloroh Rindu kemudian. Hanya kalimat itu yang sempat terpikirkan. "Tadinya nyari Winnie the Pooh, tapi nggak ada." Mereka terkekeh. Untuk sementara Rindu benar-benar lupa tentang semua keganjilan Ari yang dia temukan hari ini. Mungkin terlalu cepat mengatakan ini, tapi Duta benar-benar bisa membuat Rindu merasa nyaman. Bahkan di momen absurd yang tidak terencanakan seperti sekarang. "Habis ini kamu mau ke mana?" tanya Rindu setelah menenggak air mineralnya beberapa kali. "Aku habis makan siang saat orang-orang tadi tiba-tiba muncul. Aku harus balik ke warung tadi karena vespaku masih di sana." "Ya udah, aku antar kamu ke sana." "Nggak ngerepotin, kan?" Rindu menggeleng seraya tersenyum. Cewek berpipi bulat itu pun kembali melajukan mobilnya. Pelan-pelan saja kali ini. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apa-apa. Tatapan kosong Duta selalu mengarah ke luar. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sementara Rindu, diam-diam dia sering melirik plester luka di tangannya. Entahlah, kehadiran benda sederhana itu terasa sangat istimewa. "Makasih, ya," ucap Duta setelah mobil Rindu berhenti di depan warung tadi. Rindu membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis. Dia langsung melajukan mobilnya kembali setelah Duta turun. Sekarang dia baru menyayangkan, kenapa tawaran nikah kontrak itu tidak sekalian dibahas tadi? Setelah ini belum tentu ada kesempatan lagi untuk mengobrol bersama Duta selama tadi. Saat Rindu masih sibuk menyayangkan kesempatan emas yang dia lewatkan begitu saja, tanpa sengaja tatapannya mengarah ke suatu benda yang seketika menerbitkan senyumnya. Dompet Duta ketinggalan. Ternyata benar, ya, semesta selalu punya cara tersendiri untuk menakdirkan pertemuan. *** [Bersambung] Kira-kira gimana, ya, reaksi Duta pas diajakin nikah kontrak? ??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD