Insiden Kecil

1186 Words
Gagal menemukan jawaban di tempat kerja, Rindu bergegas ke rumah Ari. Dia semakin yakin ada yang tidak beres. Dia harus tahu ada apa di balik semua ini. Namun, setibanya di rumah yang berlokasi di kawasan perumahan kelas menengah itu, Rindu tidak mendapati siapa pun di sana. Pintu rumahnya tertutup rapat. Sampah-sampah plastik berserakan di halamannya, seolah rumah itu sudah lama tidak ditinggali. Tidak ingin bingung sendiri, Rindu pun bertanya ke tetangga yang kebetulan sedang mengangkat cucian yang sudah kering. Dia merapat ke sisi pagar seraya mengembangkan senyum. "Permisi, Bu. Mau numpang tanya," ujarnya sopan sambil mengangguk ringan. "Ya, Mbak." Ibu berdaster merah terang itu menghentikan sejenak aktivitasnya. "Pak Rahmat sama keluarganya ke mana, ya?" Ibu itu mengernyit. "Pak Rahmat?" "Iya, yang tinggal di sini." Rindu menunjuk dengan jempol rumah di belakangnya tanpa menoleh. "Maksud Mbak keluarga yang cuma ngontrak beberapa hari itu?" "Cuma beberapa hari?" Kening Rindu berkerut dalam. "Maksudnya, Bu?" "Sebenarnya rumah itu sudah lama kosong, Mbak. Sampai akhirnya, beberapa bulan yang lalu ada satu keluarga yang ngontrak di situ. Tapi entah kenapa, mereka cuma tinggal beberapa hari. Habis itu pergi entah ke mana. Saya bahkan belum sempat kenal sama mereka. Mungkin mereka yang Mbak cari." Rindu tercengang, tidak habis pikir. Sampai di sini dia bisa menyimpulkan, bahwa kemunculan Ari di hidupnya berdasarkan skenario buatan. Ada dalangnya. Dan Rindu yakin banget, Tristan di balik semua ini. Seniat ini mantannya itu untuk menjatuhkannya. Semuanya diatur sedemikian rapi. Sampai-sampai Rindu tidak sempat menaruh curiga sedikit pun. Padahal kalau dipikir-pikir, Rindu tidak punya salah apa-apa. Malah, harusnya Tristan berterima kasih. Karena berkat Rindu, dia bisa mengenyam popularitas seperti sekarang. Baiklah, Rindu sudah menganggap ini perang, dan tentu saja dia tidak akan membiarkan Tristan menang begitu saja. Dia harus menemukan kartu mati untuk membungkam cowok sialan itu. Namun ... bagaimana caranya ...? Dengan langkah gontai, Rindu berjalan kembali ke mobilnya. Di saat bersamaan, dari tikungan yang tidak begitu jauh dari posisi Rindu memarkir mobilnya, muncul seorang cowok yang berlari sangat kencang. Karena larinya sambil sesekali menoleh ke belakang, cowok itu pun hilang konsentrasi dan tidak sengaja menabrak Rindu. Rindu yang tadinya sudah meraih gagang pintu mobilnya, seketika mental ke samping. "Auw!" Rindu menjerit kesakitan. Tadinya dia ingin langsung mengumpati cowok yang menabraknya, tapi urung, karena ternyata cowok itu adalah Duta. *** Duta menatap chat room-nya dengan Tiwi yang tidak pernah lagi ada pembaruan sejak penolakan kemarin. Padahal, biasanya pagi-pagi begini mereka sudah tukaran satu dua kalimat penyemangat untuk menjalani hari. Namun, sekarang entah kenapa rasanya segan mengirim pesan lebih dulu. Barangkali Tiwi juga merasakan hal yang sama, atau malah mungkin dia sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Duta lagi. Dalam bentuk apa pun. Ini yang sebenarnya dikhawatirkan Duta dari dulu, imbas kenekatannya menyatakan cinta. Pelan-pelan kembali menjadi asing seperti ini rasanya sangat aneh. Namun, akan lebih aneh lagi kalau jelas-jelas di hatinya tumbuh cinta untuk cewek itu tapi dia tidak punya keberanian untuk mengatakan dan malah memilih berteman selamanya. Cowok sejati harusnya tidak seperti itu. "Woi! Pagi-pagi udah meratapi nasib." Suara keras itu bersamaan dengan jatuhnya tepukan di pundak Duta. Duta terkseiap. Dia mengangkat pandangan dan mendapati salah seorang rekan kerjanya yang ternyata sudah berganti pakaian dan siap memulai pekerjaan hari ini. Meski rasanya agak berat memulai aktivitas tanpa obrolan ringan dulu bareng Tiwi seperti biasanya, pada akhirnya Duta harus tetap bergerak. Dia ke lokasi proyek bukan untuk melamun. Banyak pekerjaan menantinya. Cowok berbadan atletis itu pun menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu mangganti pakaiannya dengan celana training dan kaus lengan panjang. Tak lupa dia mengenakan topi dan menutup wajahnya dengan selembar scrap, agar lebih siap berhadapan dengan debu dan terik matahari. Menjadi tukang bangunan tentu bukan cita-cita Duta datang ke kota ini. Namun, ternyata Jakarta tak seindah yang dibayangkannya. Di balik cover megahnya, banyak kekerasan yang tidak diketahui orang awam. Berbekal gelar Sarjana Ekonomi, Duta memang pernah mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus secara tampilan. Namun, gajinya hanya cukup untuk hidup seorang diri. Sementara Duta rela pergi sejauh ini untuk menafkahi Ibu dan ketiga adiknya. Untungnya sewaktu di Makassar, Duta sudah terbiasa melakoni pekerjaan berat. Seolah-olah dia memang sudah terlatih untuk menghadapi keras kehidupan di Kota Metropolitan. Di jam istirahat, Duta sengaja meluangkan waktu untuk makan di warung yang sebenarnya lumayan jauh dari lokasi proyeknya. Bukan tanpa sebab, karena di warung itulah dia pertama kali ketemu Tiwi. Tahun lalu Duta menangani sebuah proyek di dekat warung itu, dan selalu makan siang di warung itu. Saat itu, Tiwi yang datang sendiri malah lupa bawa dompet. "Duh, maaf banget, ya, Mas, dompetku kayaknya ketinggalan di laci, deh," kata Tiwi saat itu sambil mengaduk-aduk tasnya. Namun, dompetnya ternyata memang tidak ada di dalam situ. "Sebentar, ya, Mas, aku ke seberang dulu ngambil dompet." Karena sedari makan tadi Duta memang sudah curi-curi pandang ke arah cewek yang belum dia tahu namanya itu, melihatnya kebingungan, Duta langsung menyodorkan bantuan. "Mas, pembayaran Mbak ini disatuin aja sama pembayaranku," ujar Duta yang sedang mengantre tepat di belakang Tiwi. Seketika Tiwi berbalik. "Eh, nggak usah. Kantorku dekat, kok, tinggal nyeberang doang." "Nggak apa-apa. Lagian kendaraan lagi padat banget, tuh. Masa kamu harus bolak-balik?" Tiwi menatap sekilas ke arah jalanan yang memang lagi ramai banget karena masih jam makan siang. Butuh waktu lagi untuk menerobos lalu-lalang kendaraan itu tiga kali. "Tapi serius, nih, nggak apa-apa?" tanyanya kemudian untuk memastikan. Duta mengangguk seraya tersenyum. "Atau gini aja, deh, besok kita ketemu lagi di sini. Gantian aku yang bayarin." "Sebenarnya nggak usah diganti segala, sih." "Ini bukan untuk gantiin uang kamu, kok, hanya semacam balas jasa. Pokoknya, besok kita ketemu lagi di sini. Ya?" Duta benar-benar merasa tidak perlu ada timbal balik segala. Namun, cewek yang masih belum dia tahu namanya itu agaknya memang tipe tidak enakan. Akhirnya Duta pun mengangguk setuju. Lagian, cowok mana yang sanggup menolak ajakan bertemu dari cewek secantik itu? Besoknya, mereka benar-benar ketemu di jam makan siang dan terjadilah sebuah perkenalan. Selain untuk mengenang masa lalu, Duta ke sini dengan harapan bisa bertemu Tiwi lagi dan menanyakan langsung beberapa pertanyaan. Namun, hingga Duta selesai makan, cewek semampai itu tidak terlihat. Keluar dari warung, Duta terpaku sejenak menatap ke seberang jalan. Dari sini bank tempat Tiwi bekerja terlihat jelas. Mungkin dia emang nggak makan siang di sini lagi .... "Woe!" Teriakan itu sontak membuat Duta menoleh. Dia langsung terbelalak melihat sekumpulan anak buah Juragan Dante sedang menyerbu ke arahnya. Kenapa mereka tiba-tiba muncul di sini? Tanpa pikir panjang, Duta langsung memacu larinya. Sialnya, dia malah lari ke arah kanan, sementara vespanya terparkir di sudut kiri warung. Sudah terlambat untuk putar balik. Bisa-bisa dia malah tertangkap. Duta terus berlari tanpa arah di sisi padatnya lalu-lalang kendaraan, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah kawasan perumahan. Jalanan bercabang-cabang lebih memungkinkan untuk meloloskan diri. Kendati orang-orang itu sudah tidak terlihat, Duta terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Setelah beberapa kali menyelinap ke lorong-lorong antar blok, tiba-tiba Duta menabrak seorang cewek yang tadinya hendak masuk ke mobilnya. Duta buru-buru ingin membantu cewek itu untuk berdiri setelah mendengarnya teriak kesakitan. Namun, gerakannya malah terkunci sejenak karena ternyata cewek itu adalah Rindu. "Duta?" "Rindu?" Keduanya sama-sama bingung. *** [Bersambung] Kira-kira ada urusan apa, ya, Duta sama orang-orang yang mengejarnya itu? ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD