Kenapa Ari Menghilang?

1093 Words
"Maksudnya, aku ngajak dia nikah?" Agak terbata, Rindu memperjelas. "Mau nggak mau, kan?" Devi berkata begitu sambil mengangkat sedikit pundaknya. "Aku setuju, sih." Tasya menambahkan. "Hitung-hitung tenagaku juga nggak terbuang percuma. Karena konsep konten ala-ala pasutri muda yang tadinya udah aku siapin buat kamu dan Ari jadi bisa dipakai lagi." Cewek bertubuh mungil itu senyum-senyum sendiri. Belum apa-apa konsep untuk video-video lainnya sudah tergambar jelas di benaknya. Rindu mengangkat kedua tangannya, menekan udara dengan gerakan pelan, menahan sedini mungkin agar pikiran kedua temannya ini tidak semakin ke mana-mana. "Aku emang udah setengah waras gara-gara masalah ini, tapi jangan sampai gila beneran, dong." Dia menatap serius kedua temannya bergantian. "Kalian pikir ngajak orang nikah segampang ngajakin makan bakso? Ini Duta, loh. Cowok modelan kayak dia tiba-tiba diajak nikah ...?" Rindu menggeleng samar. "Nggak kebayang pokoknya. Kecuali kalau aku ini cantik, langsing, mungkin beda lagi ceritanya." Tasya dan Devi bersitatap, seolah sedang berdiskusi menggunakan bahasa batin. "Kalau aja Duta mau diajak duduk untuk ngobrol serius sebentar, masalah ini pasti bisa ketemu jalan keluar," ujar Tasya beberapa menit kemudian. Tatapan kedua temannya langsung berpusat padanya. "Misal, nikahnya dibikin pura-pura aja, lalu Duta dibayar sekian setiap bulannya. Gede dikit nggak masalah, yang penting dia mau." "Boleh, tuh." Devi menimpali dengan semangat. "Aku punya kenalan yang bisa memalsukan buku nikah beserta dokumen-dokumennya." "Nggak!" Rindu langsung membantah ide itu. "Itu sama aja memeluk bom waktu. Yang mantau channel kita jutaan orang, loh, tiap harinya. Cepat atau lambat bakal ketahuan kalau aku cuma pura-pura nikah." "Berarti jalan satu-satunya harus nikah beneran, dong." Bahu Rindu merosot tajam. "Harusnya emang gitu. Tapi ...." Dia teringat lagi ucapan Duta tadi malam. "Kalau nikah kontrak?" usul Devi. Tasya dan Rindu langsung menegakkan punggung, seolah baru saja menemukan secercah harapan. "Kamu nikah beneran, nggak akan ada yang bisa membantah, tapi masih bisa kita sisipin aturan-aturan. Duta bisa kita bayar seperti yang Tasya bilang tadi. Dan kalau emang dia bersedia, kalian tinggal bikin surat perjanjian yang tidak memberatkan satu sama lain. Pokoknya dibikin senyaman mungkin." Devi menjentikkan jari di ujung kalimatnya. "Nikah kontrak, ya?" Rindu bergumam ke diri sendiri. Pangkal alisnya menyatu. Bisa dibayangkan seriuh apa isi kepalanya saat ini. "Kayaknya ini emang solusi terbaik, deh, Rin." Tasya meyakinkan. "Itu pun kalau Duta mau." "Tugasmu yakinin dia. Kan, semua ini kamu sendiri yang mulai." Rindu menghela napas berat. Andai bisa mengulang waktu, dia tidak ingin mengenal Tristan sama sekali. "Berapa lama harus nikah kontrak?" tanyanya kemudian. "Mmm ...." Devi tampak berpikir sejenak. "Kayaknya setahun cukup, deh. Itu rentan waktu yang cukup aman sampai Tristan nggak kepo-kepo lagi. Habis itu kalian bisa bikin drama perceraian. Soal itu mah gampang. Bisa dipikirin nanti." Rindu tertegun hingga melupakan sarapannya. Sungguh, dia akan mempermainkan hidupnya sendiri dengan cara seperti ini? *** Minggu ini Rindu sengaja mengosongkan jadwal syuting ke luar kota. Dia menolak lumayan banyak tawaran kerjasama dari berbagai restoran. Karena, andai Ari tidak tiba-tiba menghilang, dia akan sibuk syuting dengan mantan calon suaminya itu. Tasya sudah mematangkan beberapa konsep yang disetujui Rindu. Tentunya atas persetujuan Ari juga. Kalau diingat-ingat, Rindu dan Ari memang sudah melalui beragam persiapan yang cukup matang. Pokoknya sudah sampai ke tahap seolah tidak ada celah sedikit pun untuk kata "batal" menyelinap. Namun, tiba-tiba saja cowok itu menghilang bak ditelan bumi. Sama sekali tidak bisa dihubungi hingga detik ini. Untung belum sewa gedung dan cetak undangan. Kedua hal itu dan hal-hal vital lainnya rencananya akan diurus setelah acara lamaran di taman kemarin. Siang ini, Rindu mendatangi kafe tempat Ari bekerja. Bukan untuk mengemis cinta, dia hanya butuh sedikit penjelasan. Agaknya dia tidak akan tenang kalau masalah ini dibiarkan begitu saja. "Eh, Rin," sapa Dion, rekan kerja yang paling dekat dengan Ari—menurut pengamatan Rindu. "Tumben datang jam segini?" Rindu hanya mengulas senyum. Dia memang sering ke sini, tapi biasanya malam. Dia suka menunggui Ari selesai kerja. Setelahnya, biasanya mereka akan keluar cari makan, atau sekadar keliling-keliling cuci mata. Pertemuan pertama Rindu dengan Ari terjadi di kafe ini, beberapa bulan setelah Tristan menunjukkan boroknya. Interaksi awal sebagai pengunjung dan pelayan sangat standar, tidak ada pertanda akan hadirnya sebentuk rasa yang akan melahirkan bait-bait rindu. Namun, ketika Rindu hendak pulang, Ari yang pas banget lagi berdiri di samping pintu, membukakannya pintu seraya agak membungkukkan badan. "Kafe kami memang tidak menjual harapan, tapi kami akan selalu memastikan orang-orang yang keluar dari sini siap untuk memulai harapan baru." Begitu kata Ari waktu itu. "Kami akan sangat senang kalau Anda berkenan datang lagi." Dia tersenyum sambil menatap dalam ke mata Rindu. Memang bukan jenis senyum yang membius, tapi lumayan membekas. Dan detik itu, tercetus di hati Rindu akan berkunjung ke kafe ini lagi secepatnya. Di kunjungan-kunjungan berikutnya, porsi obrolan Rindu dan Ari bukan lagi sebatas pengunjung dan pelayan. Anehnya, Rindu begitu mudah membiarkan cowok itu memasuki kehidupannya di tengah patah hatinya akan pengkhianatan Tristan yang belum sepenuhnya pulih. Saat itu Rindu menolak dengan tegas kalau dia hanya menjadikan Ari pelarian. Baginya, Ari adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengangkatnya dari hari-hari berkabung. Namun ... ternyata tidak demikian. "Ari masuk jam berapa hari ini?" tanya Rindu setelah mengisi salah satu kursi yang paling dekat darinya. "Loh, emangnya kamu belum tahu?" "Tentang?" Alis Rindu seketika menyudut. "Dia udah ngundurin diri beberapa hari yang lalu." Rindu tertegun. Kenapa semuanya seolah direncanakan? Dugaan tidak-tidak kian merumpun di benaknya. "Kalian lagi ada masalah apa sebenarnya?" tanya Dion sambil ikut duduk di depan Rindu. "Separah itu, ya, sampai kamu harus pakai cowok lain di videomu?" Meski sangat wajar kalau Dion tahu video itu hanya settingan, Rindu tetap saja cemas seketika, sampai-sampai dia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana kalau masih ada orang lain yang tahu? "Aku kaget banget, loh, pas nonton videonya. Padahal udah bayangin gimana tampang Ari pas ngelamar cewek. Eh, tahu-tahunya yang muncul malah cowok lain." Rindu meringis. Untung banget selama ini dia tidak mengekspose hubungannya dengan Ari. Sengaja, semacam menyiapkan senjata tersembunyi untuk menikam Tristan. Namun, sekarang malah dia yang tertikam. "Aku lebih kaget lagi tiba-tiba Ari nggak bisa dihubungi." Rindu mengembuskan napas berat, lalu bertopang dagu. "Dia pernah cerita sesuatu nggak, sih, ke kamu?" Dion mengingat-ingat sebentar. "Nggak, sih. Selain urusan kerja, selama ini obrolan kami cuma seputar game dan film. Pertemanan kami belum sampai ke level curhat-curhatan. Sesekali dia emang ngomongin kamu. Tapi omongan biasa aja. Nggak ada yang gimana-gimana." "Lalu, apa, ya, alasannya tiba-tiba menghilang?" Dion mengedik. "Pas udah nonton video kamu itu, aku langsung nelpon dia, tapi nggak aktif." "Jadi, sejak ngundurin diri kalian nggak pernah komunikasi lagi?" Dion mengangguk. Rindu kembali tertegun. Ada apa sebenarnya? *** [Bersambung] Kira-kira Ari ke mana, ya? Kok tega banget sama Rindu .... ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD