Keputusan Anulika

1563 Words
Tidak ada yang lebih melelahkan untuk Anulika, selain harus menutupi kesedihan di depan kedua orangnya dan memasang senyum palsu. Setiap hari ia harus bermain peran sebagai anak remaja yang ceria nan pemalas, selalu bangun kesiangan dan terlambat pergi ke sekolah, menghindari sarapan pagi yang menyiksa, agar kedua orang tuanya tidak selalu bertanya tentang morning sick yang ia alami. Di sekolah, hal yang sama juga harus ia lakukan. Menghindari kerumunan siswa dan duduk menyendiri di bangku taman sekolah, bertemankan buku serta sebotol air putih. Tidak ingin semua orang mengetahui perubahannya yang selalu merasa jijik mencium parfum sebagian siswi yang berbau tajam, atau keringat berlebihan sebagian siswa yang gemar olahraga. Sebisa mungkin Anulika menghindari semua orang, termasuk Asha yang semakin hari curiga pada perubahan sikapnya. Asha yang selalu berusaha mengetahui apa yang terjadi padanya, walaupun tidak terlalu ngotot untuk mengorek kebenaran dari mulut Anulika "Anu ... Anulika!" teriak Asha, di sertai tawa cekikikan. Gadis itu datang dengan membawa dua wadah sterofoam yang tersusun rapi di dalam sebuah kantong plastik berwarna putih. Ia berlari kecil menyeberangi lapangan tempat anak-anak bermain basket, menghampiri Anulika yang duduk manis di bawah pohon mahoni. Anulika menghela napas sesaat, bersembunyi di mana pun, Asha selalu bisa menemukanku. keluhnya dalam hati. Bibir mungil Anulika menarik garis tipis keatas, menciptakan sebuah senyum samar, menyambut kedatangan sahabatnya. Raut kekesalan di wajah ovalnya, tak dapat menyembunyikan rasa enggan bertemu Asha. "Bawa apaan?" tanya Anulika basa-basi. "Rujak, beli sama abang-abang yang jualan depan gerbang sekolah. Nih, buatmu." Asha menyerahkan sebuah sterofoam, lantas mengambil posisi duduk, tepat di samping Anulika. "Tumben, beli rujak, Biasanya juga ke kantin, makan bakso." Anulika mendekatkan bungkusan tersibut ke hidungnya, menghidu bau khas rujak tersebut. Aroma bumbu kacang yang menguar dari celah sterofoam membuat air liur Anulika menetes. Perlahan ia membuka tutup sterofoam tersebut, dan mulai mencicipi irisan buah jambu biji berbalut saus kacang kental. "Makan sendirian nggak enak, kamu diajak ke kantin nggak pernah mau," jelas Asha, wajahnya sekilas tampak murung. Anulika terdiam, menghentikan sejenak suapannya, memperhatikan wajah Asha yang berubah mendung. Tebersit ingin bicara jujur pada sahabatnya, tapi bisakah Asha menjaga rahasia besar ini? Kehamilan bukan sebuah kejadian receh, jika hal ini tersebar ke seluruh sekolah, ia bisa dikeluarkan dan masa depannya akan turut dipertaruhkan. Namun, jika ia tidak bercerita dan menyimpan semuanya sendiri, perasaan bersalah akan menghantui karena tidak mempercayai sahabatnya, dan dirinya juga akan semakin tertekan dengan bertambahnya beban pikiran. "Bolos, yuk Sha," ajak Anulika tiba-tiba, membuat sepasang mata bulat milik sahabatnya semakin terbuka lebar. "Aku nggak salah dengar? kamu ngajak bolos?" tanya Asha tak percaya. Selama hampir dua tahun ia berteman dengan Anulika, baru sekali ini sahabatnya mengajak bolos, sedangkan mereka sekarang sedang istirahat pertama. Kegilaan model baru yang ditunjukkan sahabatnya, seorang murid teladan di antara siswa kelas mereka. Anulika mengangguk, "Aku serius! hari ini aja, temani aku main di luar, atau kita ke rumahmu," ajaknya dengan tatap mata memohon. "Tunggu di pagar samping bagian timur sekolah, ada celah kecil pas buat ukuran tubuh kita berdua!" perintah Asha. Jawaban singkat Asha membuat wajah Anulika sedikit cerah, gadis remaja itu membereskan sterofoam yang masih penuh dengan rujak, memasukkannya dalam kantong plastik dan menyusunnya rapi. Tidak lupa botol minum miliknya juga ikut memenuhi kantong plastik tersebut, sementara Asha berlari kecil menuju kelas untuk mengambil tas mereka. Anulika berjalan cepat menuju pagar tempat yang dikatakan Asha. Sudah menjadi rahasia umum, pagar bagian timur merupakan pintu surga untuk anak-anak yang ingin bolos di saat jam-jam pelajaran tertentu. Seringkali banyak murid yang tertangkap basah, tetapi tak sedikit juga yang sukses kabur melalu celah kecil yang ada di sana. "Lama amat, sih jalannya. Kayak keong!" gerutu Asha kesal, melihat Anulika yang baru tiba. "Kamu lewat mana? cepat banget udah di sini?" tanya Anulika heran. "Aku nyuruh Rey, lemparin tas kita dari atas.Tuh, anaknya," tunjuk Asha pada seorang siswa laki-laki yang melambaikan tangan pada mereka berdua. Anulika tertawa kecil, dirinya lupa kalau pagar bagian timur berdampingan dengan kelas mereka yang kebetulan berada di tingkat dua. Asha pasti menghubungi Rey menggunakan ponsel dan meminta teman mereka membantu melemparkan tas dari atas sana. "Yuk, buruan. Entar ada patroli, nggak bisa kabur lagi." Asha menyeret tubuh Anulika, memaksa tubuh mungil mereka keluar melalui celah yang sangat kecil. Keduanya berlari menuju jalan raya, menyetopkan taksi yang kebetulan melintas, mempermudahkan mereka kabur dari lingkungan sekolah. "Taman kota, Pak!" perintah Asha pada sopir taksi, yang dibalas anggukan pria tua tersebut. melalui spion depan, sudut mata sopir itu memperhatikan tingkah kedua gadis remaja yang duduk diam bagaikan penumpang bisu. sepanjang perjalanan, kedua gadis itu hanya diam, terlebih Anulika, matanya tak lepas menatap jalanan melalui kaca jendela mobil yang sengaja ia buka. Menikmati sapaan angin yang menerpa wajahnya yang oval, mengabaikan tatap kesal sopir taksi. Bukan hanya sopir taksi yang kesal melihat Anulika yang diam seenaknya, Asha juga nyaris meledak pada gadis itu. Dirinya lelah menjadi manekin, yang hanya menemani Anulika duduk tanpa bicara sedikit pun. Bahkan saat mereka sudah tiba di taman kota, gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Asha yang terlihat membayar ongkos taksi. Anulika memilih duduk diam di bangku taman yang menghadap danau buatan di depan mereka. melihat airnya yang tenang tanpa riak sedikit pun. "Kamu ada masalah apa, tiba-tiba ngajak bolos, pasti ada sebabnya, 'kan?" tanya Asha, ikut duduk di samping Anulika. Sudah berhari-hari sahabatnya itu berubah, sifatnya seolah bukan Anulika yang Asha kenal, lebih pendiam dan jadi pemurung. Sering kali juga ia merasa kalau sahabatnya itu sengaja menghindar darinya. Anulika menghela napas pelan, dadanya kembali terasa sesak. Kedua pundaknya seakan kembali ditimpa beban berat. "Aku belum siap cerita, Sha," jawab Anulika pelan. kedua sudut matanya berkilau menahan butiran bening yang mengambang. "Kita temenan udah lama, dari pertama ospek kita udah jadi teman dekat. Kamu bisa cerita apa aja padaku, kalau kamu percaya!" sindir Asha halus. Sedikit kecewa melihat Anulika tidak mempercayai dirinya sebagai seorang sahabat. Helaan napas berat dihembuskan Anulika dari mulutnya, "Aku takut, setelah mendengar ceritaku, kamu menjauh dan persahabatan kita terputus." Asha terpegun, tidak menyangka Anulika mengkhawatirkan persahabatan mereka. Ia ikut menatap danau, melihat kilau cahaya matahari yang memantul pada permukaan air danau. "Masalahku adalah masalahmu, begitu pun sebaliknya. Aku nggak akan pernah meninggalkan sahabatku terkurung sendirian dalam masalah!" tegas Asha meyakinkan, ia menggenggam erat tangan Anulika yang terkepal rapat. Tubuh mungil Anulika bergetar, rambut sebahunya ikut bergoyang seirama dengan isakan pelan yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Ia terharu mendengar ucapan Asha yang begitu perhatian. "Aku hamil," ucap Anulika pelan, wajahnya tertunduk dalam dengan air mata yang mulai luruh, membasahi pipinya yang gebu. Jawaban Anulika terdengar bagai bisikan di telinga Asha, tetapi seperti petir yang menyambar jantung gadis itu. pantas saja berapa hari ini, sahabatnya seperti orang yang hilang kendali diri, mood nya berganti sesuka hati, ternyata ada kejadian maha besar yang merubah kepribadiannya. Tanpa diminta, Asha memeluk Anulika, menenangkan sahabatnya yang mulai sesunggukan. jemarinya menghapus air mata yang membanjiri wajah sahabatnya. "Siapa laki-laki b******k yang menidurimu? teman sekolah kita atau orang luar? dia harus bertanggung jawab!" geram Asha, kedua tangannya terkepal menahan marah. "Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki, Sha, Kehamilan ini karena kelalaian dokter di rumah sakit," jelas Anulika, meredakan kesalah pahaman Asha yang berubah menjadi kebingungan. "Maksudmu?" tanya Asha menuntut penjelasan, menatap Anulika yang terlihat mulai tenang. Ingatan Anulika berkelana pada kejadian dua bulan yang lalu, "Ingat nggak, aku pernah meminta di temani ke rumah sakit, untuk nmemeriksakan nyeri haid yang aku alami setiap bulan?" tanya Anulika, dan di jawab dengan Anggukan kepala Asha. "Di saat yang sama, ada pasangan suami istri sedang mengikuti program hamil. Aku sendiri nggak tau, bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku hamil, benih dari laki-laki ...." Anulika tak kuasa meneruskan ceritanya, tubuh mungilnya kembali berguncang. Asha mulai paham. sahabatnya wanita baik-baik, tidak akan terpengaruh pergaulan bebas seperti teman-teman sekolahnya yang lain. Selama berteman dengan Anulika, tidak pernah sekali pun mendengarnya keluar malam atau hang out tanpa izin pada kedua orang tuanya, sehingga semua ucapan sahabatnya itu, bia ia percaya seratus persen. "Om dan tante sudah tau, kalau kamu hamil?" pertanyaan dari Asha mendapat gelengan cepat dari Anulika. Dirinya belum berani menceritakan apa pun pada kedua orang tuanya, takut jika mereka akan salah paham dan menuduh Anulika yang tidak-tidak. "Aku belum berani cerita," keluh Anulika lirih. "Kau harus cerita Anulika, orang tuamu harus tau," "Aku takut mereka salah paham," tutur Anulika lirih. "Trus, apa rencanamu selanjutnya?" Asha mencoba memahami ketakutan sahabatnya. Tidak mudah menyelesaikan masalah yang sedemikian rumit, apalagi yang berhubungan dengan kehamilan. Usia remaja seperti mereka, rentan mendapat tuduhan sebagai remaja penyuka pergaulan bebas, dan beribu fitnahan akan mengalir dari mulut-mulut tak bertanggung jawab yang sangat sok tahu kehidupan orang lain. Jika dirinya berada pada posisi Anulika, mungkin Asha sudah mengambil jalan pintas, menggugurkan kandungannya atau mungkin mengakhiri hidupnya. "Aku belum tau, aku bingung harus bagaimana dan harus apa," jawab Anulika pasrah. Tanpa sadar mengelus perutnya yang masih rata. Beban yang tadi sedikit berkurang karena telah berbagi cerita pada Asha, kembali memenuhi rongga dadanya yang mendadak sesak. Ia ingin tetap sekolah, menjalani hari-hari biasa sebagai seorang remaja, tetapi ia juga tidak bisa menggugurkan janin yang terus tumbuh di dalam rahimnya. Anak di dalam perutnya juga ber hak untuk tumbuh besar, tidak bisa begitu saja mengabaikan nyawa kecil yang bergantung hidup pada dirinya. Namun, jika ia tetap mempertahankan anak itu, bagaimana dengan sekolahnya? masa depan dan hidupnya? Anulika juga tidak yakin jika dapat merawat anak di dalam perutnya dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD