Aku Tidak Ingin Hamil

1504 Words
Kaki Anulika gemetar memasuki rumah sakit kasih bunda, untuk kedua kalinya ia mendatangi rumah sakit tersebut. Perasaan takutnya masih sama seperti kedatangan yang pertama, tetapi kali ini ketakutannya bukan lagi tentang penyakit melainkan kehamilan yang tidak ia inginkan. Menguatkan hati, gadis remaja itu melangkah perlahan menuju ruangan Kalila, mengetuk pintunya dengan rasa gugup yang tak terbendung. Jantung Anulika berdetak cepat, gelisah, takut, cemas, jadi satu, jika ternyata dirinya benar-benar hamil. "Anulika, masuklah. Kami sudah menunggu kedatanganmu.” Kalila membimbing tangan Anulika yang terasa dingin bagai es. Di dalam ruangan itu telah hadir Livia dan Ashraf. Pasangan suami istri itu, menatap Anulika dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Keringat dingi mengalir di dahi Anulika, perasaannya saat ini bagaikan seorang terdakwa yang menerima vonis hukuman mati. Livia berdiri menyambut kedatangan Anulika dan merangkulnya perlahan, mengambil alih tugas Kalila membawa gadis remaja itu duduk di sebuah kursi tepat di sampingnya.  “Ashraf dan Livia, kenalkan ini Anulika. Gadis yang tadi kita bicarakan.” Kalila memperkenalkan Anulika pada kedua sahabatnya.  Anulika mengangguk sopan kepada Ashraf dan Livia, sedikit menyesali keputusannya datang sendirian ke rumah sakit, melihat Livia dan Ashraf bergandengan tangan saling memberikan kekuatan. Seharusnya ia minta ditemani oleh Asha, tetapi membawa anak itu yang belum tahu pokok permasalahan yang terjadi hanya akan membuat keadaan semakin rumit. “Jadi, anak ini yang ....” ucapan Ashraf terputus, mendapat jawaban dengan anggukan kepala kalila yang telah memahami pertanyaan laki-laki itu. Anulika menunduk dalam, tidak berani menentang mata Ashraf yang memandangnya dengan wajah gusar. Apakah laki-laki itu marah karena Anulika telah merampas kehamilan istrinya? Tetapi semua itu belum jelas hingga hasil lab dibacakan oleh Kalila, dan kalau pun benar dirinya hamil, itu bukan kesalahannya. “Kemarin aku sempat meminta sampel urin Anulika untuk pemeriksaan lab, dan hasilnya positiv.” Kalila menyerahkan sebuah amplop putih pada Anulika, yang disambut anak itu dengan tangan gemetar. Tangan Anulika terasa lemas, amplop yang baru saja diterimanya terjatuh ke lantai. Kata-kata Kalila bagaikan vonis hakim di indra pendengar dan telah mematahkan keyakinannya, bahwa ia tidak hamil. Livia membantu memungut kembali amplop yang dijatuhkan Anulika, menyentuh lembut anak rambut Anulika yang menutupi wajah pucat gadis remaja itu. Livia membuka dan membaca isi amplop tersebut, tangannya ikut gemetar.  “Mas, ini ....” Livia menyerahkan isi amplop tersebut pada Ashraf, wajahnya tak kalah pucat dari Anulika. “Bagaimana kita akan selesaikan masalah ini?” tanya Ashraf, tangannya meremas kertas berisikan hasil lab yang diberikan Livia tanpa membacanya sedikit pun. Wajah pria itu tampak murung, kulit sawo matang yang membungkus tubuhnya semakin membuat mukanya tampak gelap. Seorang gadis remaja, hamil dari benihnya yang seharusnya tertanam pada rahim Livia, dan kini bukan saja terancam gagal memiliki buah hati, tetapi mereka semua juga harus bertanggung jawab pada gadis polos yang tidak tahu apa-apa itu. “Aku tidak ingin hamil, sekolahku, keluargaku, sahabatku, dan semua orang akan menjauh serta menuduhku sebagai perempuan murahan,” ucap Anulika lirih. Kekalutan merajai pikiran gadis itu. Tidak ada air mata di wajahnya yang oval, hanya bayang ketakutan yang terpancar jelas dari sikapnya yang gelisah. Berulang kali ia menendang kaki meja, untuk mengusir rasa gugup yang bersemayam. “kau ingin menggugurkan kandungan itu? Tidak iba dengan nyawa kecil yang tumbuh di dalam perutmu?” tanya Kalila berusah meyakinkan Anulika. “Walaupun nyawa di dalam rahimmu hadir karena kesalahan, tetapi ia tetap harus dilindungi.” Anulika terisak, bimbang mendengar perkataan Kalila. Di satu sisi ia tahu, menggugurkan kandungan sangat berdosa, sama saja dengan membunuh. Namun, di sisi lain, dirinya tidak siap untuk menjadi seorang ibu. Apa yang harus ia katakan pada kedua orang tuanya? Bagaimana ia menghadapi para tetangga dan teman-teman yang pasti akan mencemo’oh kehamilannya? Dirinya belum siap menjadi seorang ibu, jangankan mengurus bayi, mengurus dirinya sendiri pun, Anulika masih kepayahan. “Jangan memaksanya Kalila, biarkan Anulika berpikir dulu, dan pastinya kita juga harus membicarakan hal ini pada kedua orang tuanya,” Ashraf berusaha menetralkan keadaan, melalui sudut matanya, ia memberi isyarat pada kalila untuk diam sejenak. “Jangan temui orang tuaku, biarkan aku yang bicara pada ibu,” pinta Anulika. Tiba-tiba saja Anulika merasa di pundaknya tersimpan beban yang sangat berat, membuat tubuh, hati, dan pikirannya terasa letih. Rambut sebahunya menutup wajah oval yang membingkai bibir mungil tetapi tampak pucat, menyamarkan guncangan tubuhnya karena isak tangis yang tertahan. “Kami akan bertanggung jawab untuk semua kesalahan ini. Kita akan menemukan solusi terbaik, tetapi sebelumnya kami semua harus bertemu kedua orang tuamu,” tegas Ashraf. Walau dalam keadaan kalut, tetapi sebagai laki-laki ia tidak akan pernah mundur untuk bertanggung jawab, apalagi di dalam perut Anulika, telah tumbuh benihnya. “Apa kalian tidak bisa membiarkan aku tenang! Seenaknya menanam benih di perutku, kemudian kalian merasa pantas memutuskan yang terbaik untuk hidupku?” teriak Anulika sambil menggebrak meja. Entah keberanian dari mana membuat Anulika berani berteriak pada ketiga orang dewasa yang berada di ruangan itu, tatap matanya nyalang memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang telah membuatnya terperangkap dalam masalah besar. Matanya yang sendu karena kesedihan dan ketakutan berubah merah menyala, memperlihatakan kobaran api kemarahan yang telah membuncah. “Kalian orang dewasa bodoh, yang menciptakan masalah untukku, lantas kalian pikir bisa mengambil alih kendali hidupku? Aku tidak mau anak ini, aku tidak ingin hamil!” kembali Anulika berteriak melepaskan semua beban dan amarahnya. Ia berlari keluar ruangan dengan air mata berurai, di ikuti tatap mata iba dari Livia dan rasa bersalah dari Kalila. Livia terduduk bisu di kursi, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Di hatinya dapat merasakan kekalutan yang dialami Anulika, seandainya hal itu terjadi pada dirinya, mungkin jalan pintas yang akan ia tempuh.  “Biarkan dia sendiri, besok aku coba menemui Anulika lagi,” lirih Kalila. Kemarahan Anulika, puncak kekecewaan gadis itu yang tidak bisa mereka salahkan. “Kirimkan Alamat dan nomor contact anak itu, aku akan suruh orang memantaunya,” pinta Ashraf pada Kalila, yang dibalas anggukan wanita itu, tidak lama ponsel Livia dan Ashraf bergetar, pertanda pesan dari Kalila telah masuk, berisikan alamat lengkap dan nomor handphone Anulika. Pria itu memegang pundak Livia, menenangkan istrinya yang terlalu terbawa perasaan bersalah. Ia berharap dengan menjaga gadis remaja itu dari kejauhan, dapat mengurangi rasa bersalah istrinya, sebab Ashraf sangat tahu, istrinya seorang yang amat perasa. *** Tabrakan antara mobil Deon dan Anulika yang berlari tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya nyaris saja terjadi, jika saja laki-laki dengan rambut panjang terikat itu tidak segera menginjak rem. Sinar matanya, cepat menangkap bayang gadis kecil itu yang bersimbah air mata, melihat sesaat padanya kemudian kembali berlari tanpa mempedulikan bahwa dirinya nyaris saja terluka. Deon memundurkan mobilnya, di depan gerbang sakit ia segera memutar mobinya menyusul Anulika yang masih setengah berlari menuju jalan raya.  “Anulika, mau kemana?” tanya Deon, ia menepikan mobil, menahan langkah Anulika yang hendak berlalu begitu saja melewatinya. “Ayo, masuk. Om antar pulang!” serunya setengah memerintah. Ia tidak ingin membiarkan anak itu sendirian dalam keadaan emosi yang sedang tidak stabil. Khawatir jika gadis remaja itu mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, tegurannya diabaikan oleh Anulika, gadis itu hanya menoleh sesaat kemudian kembali berlari meninggalkan Deon. Laki-laki itu keluar dari mobil dan mengejar Anulika. "Lepasin, Om!" teriak Anulika, menghempaskan tangan Deon yang mencekal pergelangan tangannya. Orang-orang yang lalu lalang, serentak menoleh mendengar teriakan Anulika, memperhatikan kedua orang yang berbeda usia yang sedang bertengkar. Deon melihat sekeliling, agak sedikit malu menjadi pusat perhatian. "Jangan bikin Om malu di tengah jalan gini. Kamu lihat nggak, semua oraang perhatiin Om," bisik Deon, matanya memohon pada Anulika yang ikut mengedarkan pandangan, malu pada orang-orang yang menatap mereka tanpa kedip. "kenapa, sih, semua orang dewasa selalu mengangap diri mereka super hero? kekacauan yang kalian buat, harus aku yang menanggungnya dan kemudian kalian mendikteku untuk tidak melakukan ini dan itu!" sembur Anulika setengah berteriak, semakin membuat orang-orang datang mendekat. "Anulika, kalau kamu tetep ngotot ribut di jalan, kayak gini, Om bisa bonyok dikeroyok massa, dikira p*****l," ucap Deon setengah berbisik. Sesaat Anulika tertawa di tengah tangisnya, membayangkan wajah Deon yang babak belur dihajar Massa karena salah paham. Gadis remaja itu akhirnya menurut saat digandeng Deon menuju mobilnya. "Kamu sudah makan?" tanya Deon yang dibalas Anulika dengan gelengan pelan. Bagaimana dirinya bisa ingat makan, kalau sepanjang pagi hingga menjelang siang pikirannya dipenuhi dengan kehamilan, dan lebih parah lagi, saat di rumah sakit, Ashraf, laki-laki angkuh pemilik anak di dalam perutnya itu, mengampangkan semua masalah. "Om juga belum, kita makan sama-sama, ya?" tanya Deon lagi, kali ini dibalas anggukan oleh Anulika. "Mau makan apa dan di mana?" kembali Deon bertanya. "Makan nasi pake ikan pepes, minumnya air jeruk hangat," jawab Anulika polos. Air liurnya serasa mengembang, membayangakan menikmati ikan pepes dengan nasi putih hangat dan air jeruk. "OK, kalau begitu kita ke resto milik teman Om, ada saung kecil dengan hidangan sea food di tepi pantai. Cocok untuk tempat menangis, marah, dan berteriak meluapkan kekesalan," ucap Deon ceria. Deon lega melihat Anulika sudah mulai tenang dan mau diajak bicara. gadis remaja itu memang anak yang manis, kemarahannnya muncul hanya karena ketakutan sesaat. Mungkin saat Anulika membicarakan masalah kehamilan, ia mendapat tekanan dari Ashraf atau Kalila.  "Aku nggak mau anak ini, Om,"ucap Anulika tiba-tiba, suaranya terdengar lirih. "Aku malu, kalau dituduh sebagai perempuan murahan." Anulika kembali terisak, wajahnya kembali terlihat kusut menampakkan batinnya yang tertekan. Deon menghembuskan nafasnya kasar, berusaha tetap fokus pada jalan yang dipadati kendaraan. Walaupun dirinya seorang laki-laki, tetapi Deon dapat merasakan beratnya masalah yang harus di tanggung Anulika. Gadis remaja itu cukup tegar mendapati dirinya sedang hamil, yang ia khawatirkan justru pandangan negatif masyarakat.  Ekor matanya kembali melirik Anulika, menatap iba pada gadis remaja yang sudah harus menanggung beban berat kehidupan, karena kesalahan Kalila, istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD