Keinginan Kalila

1468 Words
Menu sederhana yang dimasak Livia sudah tersedia di atas meja, tinggal menunggu kepulangan Ashraf untuk mereka menikmati makan siang bersama. Livia sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintai kekurangannya. Walaupun kini ia sudah tidak segar dan secantik dulu, tetapi kasih sayang Ashraf untuknya tidak pernah berubah. Selesai memasak, Livia menyempatkan diri untuk mandi, memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih segar. Walau tubuhnya sedang dalam keadaan tidak sehat Livia tetap harus memberikan pelayanan terbaik untuk Ashraf. Sedikit berdandan menutupi wajahnya yang semakin pucat akan membuat dirinya terlihat lebih merona, seperti sekuntum mawar yang merekah indah. Livia berlari kecil menyambut kepulangan Ashraf, senyum manisnya tertahan, melihat seorang perempuan cantik yang ia kenal sebagai rekan kerja suaminya, keluar dari mobil. Melalui ujung mata, Livia berusaha meminta penjelasan dari suaminya, sedangkan Ashraf hanya menghadirkan senyum permohonan maaf. “Tadi Mas, ketemu Freya di parkiran dan ....” “Suamimu, mengundangku makan siang bersama kalian, kalau kau keberatan, aku bisa pulang.” Freya sengaja memotong pembicaraan Ashraf, tidak memberi kesempatan pada suami istri itu, untuk merasa keberatan menerima kehadirannya. “Nggak apa-apa, Mbak. Tamunya Mas Ashraf berarti tamuku juga,” sambut Livia dengan senyum. Melalui sudut matanya, Livia dapat melihat Ashraf merasa terganggu dan tidak enak hati dengan kehadiran Freya.  “Ayo masuk, Mas sudah lapar,” ajak Ashraf sambil menggandeng tangan Livia, mengabaikan kehadiran Freya. Livia mengangguk dan tersenyum manis pada Freya, “Ayo, Mbak. Hari ini aku masak ayam asam manis, jamur crispy, dan sop sayuran, juga sambal matah. “Semua makanan kesukaan Mas!” seru Ashraf gembira, ia menarik kursi dan menatap semua hidangan dengan pandangan lapar. Livia mempersilahkan Freya untuk ikut duduk dan memberikan sebuah piring, sementara dirinya melayani Ashraf menyajikan semua makanan ke dalam piring suaminya. Freya yang melihat itu merasa cemburu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pandangan sinis yang tak lepas ia berikan pada Livia. “Kamu nggak pernah ke salon? Tubuhmu makin kurus, wajahmu juga pucat mirip orang penyakitan!” sindir Freya, memperhatikan fisik Livia yang memang terlihat tidak menarik. “Jangan terlalu banyak ngurusin dapur, penampilanmu jadi mirip pembantu.”  Livia tersedak mendengar sindiran pedas yang diberikan Freya padanya. Ia tertunduk malu, mencuri pandang pada suaminya, gagal menjaga kehormatan Ashraf di depan sahabatnya. Kritikan Freya membuat Livia menjadi merasa bersalah dan rendah diri. Aku menyukai istri yang seperti pembantu. Pintar masak, menyenangkan di ranjang dan berdandan cuma untukku.” Ashraf membela Livia, mencium tangan istrinya dan menatapnya penuh cinta.  "Terima kasih, sayang,” ucap Livia, hatinya tersentuh mendengar Ashraf membelanya dari hinaan perempuan yang memang jauh lebih cantik darinya. Pasangan suami istri seolah melupakan kehadiran Freya yang memandang mereka dengan cemburu. Bagaimana seorang pria gagah dengan kehidupan nyaris sempurna, mencintai wanita seperti Livia. Kurus mirip manusia kurang gizi dengan kulit wajah kusam dan pucat, mata cekungseperti perempuan tua. Seharusnya laki-laki sempurna itu berada di sampingnya, hanya mencintainya bukan perempuan separuh tua seperti Livia. Mereka bertiga makan dalam diam. Ashraf yang tersinggung dengan ucapan Freya dan Livia yang malu merasa perkataan perempuan bermata sipit itu saling menaut jemari di bawah meja. Sedangkan Freya menelan makanannya dengan susah payah, menyesal ikut ke rumah Ashraf dan mencoba menjatuhkan Livia, di hadapan suaminya tanpa rencana yang matang. *** Anulika berjalan gontai, gerimis yang turun dan mulai menjadi rintik hujan lebat, mengiringi langkahnya. Menyembunyikan bulir air mata yang mengalir di kedua pipi tanpa permisi. terngiang kembali kata-kata Kalila kalau dirinya kemungkinan besar sedang hamil. Bibir mungil Anulika tersenyum tipis, mentertawakan nasibnya yang telah dipermainkan oleh takdir. Kehamilan yang tidak pernah diinginkan, menjaga diri dari pergaulan bebas tetapi tetap saja terjerumus dalam jurang hitam yang akan memancing tudingan semua orang padanya. “Aaaaaaaaahhhhh’” di tengah hujan deras Anulika berteriak sekuat tenaga, melepaskan perasaan tertekan dan sedih yang membaur jadi satu. Tidak dihiraukannya rasa dingin yang membuat tubuhnya hampir membeku.  Tiba-tiba saja ia merasa lelah, kedua kakinya lemas tak berdaya, Anulika terduduk di tengah jalan raya yang basah. Ia menangis tersedu, tidak kuat menanggung rasa sakit yang tiba-tiba menusuk sangat dalam ke hatinya. Alam seakan ikut merasa berduka dengan keadaan Anulika yang terlihat sangat menyedihkan. “Apa salahku Tuhaaaaaan!” Teriak Anulika, mengalahkan suara hujan yang menderu di sertai angin kencang.  Asha yang mengkhawatirkan keadaan Anulika kerana tidak bisa dihubungi, datang tepat waktu, ia menghentikan mobil dan memnghampiri sahabatnya. Memayungi gadis itu dan merangkulnya di tengah hujan lebat. “Kamu kenapa Anulika? Kenapa jadi kaya gini?” tanya Asha, sambil membimbing sahabatnya masuk ke dalam mobil.  . “Kamu kenapa, sih, ada masalah apa? Tadi siang baik-baik aja, trus tiba-tiba minta dijemput,” Asha mencoba mengajak Anulika bicara, tetapi gadis itu tetap bungkam, hanya air mata yang terus meleleh di kedua pipinya. Bibir Anulika membiru kedinginan, tubuhnya menggigil, tatap matanya kosong, seolah jiwanya sedang tidak berada di dalam raga. “Kalau ada masalah, cerita donk, jangan diem aja!” Asha mulai gusar melihat Anulika yang masih membisu. “Antarkan aku pulang, tolong!" lirih suara Anulika penuh permohonan, menyadarkan Asha kalau saat ini sahabatnya sedang dalam masalah.  “Pulang ke rumahku saja, jangan membuat kedua orang tuamu khawatir melihat keadaanmu yang seperti ini.” Asha melajukan mobilnya, membawa Anulika pulang ke rumahnya. *** “Kau izinkan, dia pulang? Seharusnya bantu aku, menahanya sampai hujan reda!” Kalila nyaris berteriak pada Deon. Suaminya seperti orang yang tak berperasaan, mengiyakan saja keinginan Anulika untuk pulang dalam keadaan hujan. “Bidadari hatiku, anak itu butuh waktu untuk sendiri. Aku sudah menyuruh orang untuk mengikutinya dan kalau terjadi apa-apa padanya, orang suruhanku akan membawanya kembali ke sini,” jelas Deon panjang lebar, menenangkan kekhawatiran Kalila yang berlebihan.  Apa yang dikatakan Deon benar, Anulika membutuhkan waktu untuk sendiri, tetapi membiarkan anak itu pulang sendirian dalam suasana hati yang kacau dan hari sedang hujan lebat, membuat Kalila sangat khawatir. “maaf, Mbak. Anak yang tadi keluar dari sini, sudah di jemput temannya di pertigaan jalan depan” tiba-tiba seorang laki-laki muda pekerja cafe, menghampiri Deon dan Kalila. Deon mengangguk dan menyuruh pemuda itu pergi. “See, dia sudah aman bersama temannya, tidak perlu terlalu khawatir,” ucap Deon pada Kalila yang menatapnya kesal. "Dia dalam keadaan hamil, kalau terjadi sesuatu gimana?” ketus Kalila, tangannya mencubit pinggang Deon gemas. Kehamilan yang masih sangat muda dan pikiran Anulika yang sedang tidak stabil, bisa menjadi pemicu keguguran gadis itu. Namun, sikap keras kepalanya yang berpura-pura sok kuat dan baik-baik saja, memaksa Kalila mengalah dengan membiarkan gadis remaja itu pulang sendirian. Mengikuti keinginan hatinya, Kalila tidak akan membiarkan gadis remaja itu pulang sendirian, memastikannya sampai di rumah dengan selamat walaupun harus menerima kemarahan dari kedua orang tua anak itu. “Fokuskan dirimu untuk besok. Anak itu akan tes kehamilan dan kau harus jujur pada kedua orang tuanya.” saran Deon, sambil menyuapkan sepotong kecil cake ke mulut istrinya. Kalila menarik napas berat, “Aku harus hubungi Livia dan Ashraf, juga?” tanya Kalila bimbang.  “Harus! Kedua orang tua Anulika, Ashraf, dan Livia, semuanya harus hadir,” tegas Deon. “Kalian semua harus bicara, dan apa pun hasilnya, bidadariku harus terima dengan lapang dada.” Wajah tegas Deon tersenyum, berusaha menenangkan hati kalila yang sedang ketakutan. Sesungguhnya Deon juga merasa cemas, semenjak pengakuan jujur istrinya beberapa jam yang lalu, dirinya sudah berinisiatif akan mencarikan seorang pengacara handal untuk mendapingi Kalila. Semua kemungkinan terburuk sudah bermain di dalam otak Deon, hujatan masyarakat, nama buruk, tuduhan malapraktik., pemecatan Kalila dan yang paling parah penjara wanita. Akan tetapi, Deon Masih berharap, Ashraf dan kedua orang tua Anulika mau menbicarakan keteledoran Kalila dengan kepala dingin, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Harapan Deon, semuanya masih memiliki hati nurani karena bagaimana pun ia dan Kalila tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. “Seandainya besok tidak berjalan sesuai rencana dan aku ditangkap polisi atas kasus malapraktik ...”  “Ssstt, tidak akan terjadi, aku akan selalu di samping bidadariku.” Deon memotong ucapan Kalila, meletakkan jari telunjukkan pada bibir tebal istrinya. Kalila tersenyum tipis, sedikit terhibur dengan ketulusan suaminya, tetapi bukan itu yang ia khawatirkan. Dirinya justru mencemaskan Anulika, seandainya orang tua gadis itu tidak mau diajak bicara dan tetap menuntutnya untuk bertanggung jawab, harapan Kalila, suaminya mau turut menutup aib gadis kecil itu. “Ouh, manisnya.” Kalila mencium punggung tangan Deon, wajahnya tersenyum hangat tetapi saat kemudian kembali serius, “ tetapi bukan itu maksudku.”  Trus, bidadariku ingin apa?”  “Seandainya nanti aku dipenjara, nikahi gadis itu!”  Deon tersedak, matanya terbelalak lebar nyaris keluar dari kelopaknya. Permintaan Kalila yang sangat tidak masuk akal, dan terlalu mengada-ada. Menikah dengan seorang gadis remaja enam tahun? Dirinya bisa dituduh sebagai p*****l gila dan mereka berdua akan berakhir di penjara. “Kau mau kita berdua masuk berita nasional?" tanya deon dengan mata terbelalak lebar. "Kalila seorang dokter kandungan yang diduga melakukan Malapraktik, pada seorang gadis remaja enam belas tahun, dan suaminya tersangka p*******a, menikahi korban malapraktik yang dilakukan istrinya.” Deon tertawa kecil, menirukan gaya seorang repoter yang membacakan berita, menjadikan gelas kosong sebagai microphone. Kalila ikut tertawa melihat tingkah kocak suaminya. Memikirkan kemungkinan terburuk membuat Kalila sedikit menjadi lebih bodoh. Namun apa yang dipikirkannya berdasarkan dari hati, Ashraf sangat mencintai Livia, tidak mungkin menikahi Anulika, walaupun gadis remaja itu sedang mengandung anaknya. Sedangkan semua kesalahan ini murni dari Kalila, maka dari itu dirinyalah yang harus bertanggung jawab. “Tapi itu harus kita lakukan, menyelamatkan nama baik Anulika dan anak yang ada dalam kandungannya, keluh Kalila pelan, wajahnya tertunduk dalam memikirkan hal buruk hidup harus bermadu dengan seorang gadis remaja. Suka atau tidak, siap atau tidak, dirinya harus menerima semua hal buruk akibat kesalahan yang ia lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD