Setelah meeting, Ashraf berencana pulang ke rumah, untuk menemani Livia makan siang. Sudah lama laki-laki itu tidak meluangkan waktu bersama istri tercintanya. Menurut Ashraf, ini saat yang tepat untuk mereka lebih mendekatkan diri, mengingat mereka sedang dalam masa program memiliki anak.
Keadaan Livia yang semakin hari terlihat kurang baik, membuat wanita itu semakin kurus dan pucat, mengundang rasa khawatir Ashraf. Nafsu makan Livia yang menurun serta kurang tidur semakin menambah daftar ketakutan pria itu akan keadaan istrinya.
“Ashraf!” Panggil seorang wanita.
Ashraf menghentikan langkahnya menuju parkiran, ketika sebuah suara lembut nan manja memanggil namanya. Ia menoleh sambil melepas kacamatanya kemudian tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggil namanya.
“Hai, Freya. Mau kemana?” tanya Ashraf berbasa-basi.
“Aku yang tanya, kau mau kemana? Aku ingin mengajakmu makan siang,” balas Freya. Sambil menyandarkan tubuh mungilnya ke pintu mobil Ashraf.
Pria itu tersenyum, melihat sikap Freya yang berusaha menggodanya, “Livia sudah menungguku di rumah untuk makan siang,” tolak Ashraf halus.
“Kalau gitu, ayo, kita ke rumahmu, Livia pasti sudah menunggu.” penuh rasa percaya diri Freya masuk ke dalam mobil Ashraf, seolah ia diundang ke rumah laki-laki itu.
Ashraf terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, sedikit bingung dengan Freya yang masuk ke mobilnya tanpa izin, tetapi demi etika dan kesopanan terpaksa ia menuruti keinginan wanita itu, membawanya pulang ke rumah.
“Aku belum kasih kabar Livia, kalau kau mau ikut makan siang di rumah kami,” ucap Ashraf, sambil masuk ke dalam mobil.
Ashraf duduk bersandar di belakang kemudi, menghela napas sebelum menjalankan mobilnya menuju rumah. Jujur saja, dirinya agak keberatan dengan kehadiran Freya, ia memikirkan bagaimana perasaan Livia, melihatnya membawa seorang teman wanita pulang ke rumah tanpa meminta izin terlebih dulu.
Apalagi pakaian Freya terlihat sangat menantang dengan potongan super mini membalut tubuh mungil gadis itu, rambut panjang bergelombang yang sengaja diurai menanbah daya tarik wanita di sampingnya. Ashraf khawatir jika Livia akan menjadi rendah diri dan mungkin marah padanya.
“Ayo, jalan! Kamu bilang Livia sudah nunggu dari tadi.” Freya memaksa Ashraf menjalankan kendaraannya.
Segaris senyum tipis terukir di wajah cantik Freya, wanita itu mulai berangan tentang rencana yang akan ia jalankan untuk mendekati Ashraf. Pria tampan yang di kenal sangat mencintai istrinya itu, akan segera melihat kekurangan Livia dan terpikat pada pesona yang Freya ciptakan.
Laki-laki mana yang akan bertahan dengan istri mandul dan penyakitan, tubuh kurus seperti kurang gizi dan wajah pucat bagai mayat, kecuali Ashraf. Pria tampan, kaya, dan mapan, tetapi terlalu naif dalam masalah hubungan rumah tangga. Rela bertahan berada di samping istri yang tidak menarik, sedangkan seorang wanita cantik yang berada di dekatnya tidak pernah ia lihat.
Freya akan mempelihatkan pada Ashraf, bahwa istrinya hanya bunga kering yang telah kehilangan pesona, dan bunga kering itu harus dikeluarkan dari tempatnya serta diganti dengan bunga baru yang lebih segar, yaitu dirinya.
***
Suara bel sekolah tanda pelajaran usai, membahana, memberi semangat pada para siswa untuk mengakhiri pelajaran dengan cepat. Anulika dan Asha ikut berada di barisan paling belakang para siswa yanag berhamburan menuju halaman sekolah. Mereka berdua berjalan berdampingan menuruni tangga dengan langkah gontai.
“Yakin nggak mau aku temenin?” tanya Asha, mengkhawatirkan keadaan Anulika yang terlihat semakin payah.
“Nggak usah, aku baik-baik aja, ko. Lagian aku ketemu sama dokter cewe bukan sama preman,” tolak Anulika halus.
Ditemani oleh Asha, sama saja akan membuka rahasia penyakitnya pada orang lain. Sebagai sahabat, Asha memang sangat baik, dan karena terlalu baik pula, mulut sahabatnya itu tidak bisa dikunci rapat, jika berhubungan dengan masalah yang menurutnya dapat membahayakan Anulika.
“OK, kalau gitu, aku puluan duluan, bye!” seru Asha sambil berlari kecil menuju kakak laki-lakinya yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
Anulika melambaikan tangannya pada Asha, kemudian menyeberang jalan menuju Cafe Aqila tempat ia janji bertemu dengan Kalila. Mendung di atas kepala membantu Anulika menikmati perjalanannya menuju tempat yang tak seberapa jauh dari sekolah. Langkah gontainya memaksa tubuh mungil yang terasa semakin lemas akibat kelelahan, untuk terus bertahan hingga sampai di tempat tujuan.
Ia membuka pintu cafe, mengedarkan pandangan mencari sosok perempuan dewasa yang menggunakan kacamata. Di dekat meja kasir tampak seorang wanita berkacamata sedang menatap Anulika, tak lama kemudian ponsel gadis remaja itu berdering seirama lambaian tangan wanita itu.
Anulika mendekati Kalila, wajahnya semakin terlihat pucat dengan butiran keringat yang mengalir turun dari dahinya. Tanpa dipersilahkan, Anulika duduk begitu saja di depan Kalila, melepaskan rasa lelah dan lemas yang sedari tadi mengikutinya.
“Baru pulang sekolah? Mau minum apa?” tanya Kalila, tatap matanya melekat, menilisik gadis remaja yang terlihat sedang tidak sehat.
“Aku mau teh chamomile, brownies coklat leleh, dan siomay,” pinta Anulika tanpa melihat buku menu.
Kalila memanggil waitres memesan semua yang diingikan Anulika. Ia tersenyum memperhatikan porsi makan gadis remaja itu yang sangat tidak sesuai dengan tubuhnya. Sepintas, Kalila dapat meraba dugaannya benar, bahwa saat ini Anulika sedang mengandung.
“Berapa usiamu sekarang?” tanya Kalila memperhatikan Anulika yang terlihat kepayahan.
“Bulan kemarin genap enam belas tahun,” jawab Anulika sambil mereguk air putih yang ia bawa dari rumah sebagai bekal sekolah.
Kalila menarik napas pelan, gadis di hadapannya masih sangat muda, jika benar anak remaja itu hamil, ia bisa dituntut melakukan malapraktek pada remaja di bawah umur. Sekarang ia sendiri kebingungan harus bagaimana mengatakan pada gadis itu bahwa diperutnya mungkin telah tumbuh janin yang menitip nyawa pada tubuhnya.
“Bagaimana kesehatanmu akhir-akhir ini, apa yang kau rasakan?” tanpa sadar Kalila menggenggam tangan Anulika.
Seorang waitres datang mengantarkan pesanan Kalila. Mata Anulika berbinar puas melihat semua pesanannya terhidang di atas meja.
“Boleh sambil makan?” tanya Anulika mulai melahap siomay pesanannya yang menggugah selera. Tanpa di sadarinya, air liur menetes dari sudut bibir gadis itu.
Kalila mengangguk, membiarkan Anulika menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.
“Akhir-akhir ini aku mudah masuk angin. Selalu mual dan kurang nafsu makan,” jelas Anulika, tetapi di mata Kalila nafsu makan remaja itu sangat besar.
“Sejak kapan, rasa mualnya datang?” Kalila mulai mencatat dan mengira-ngira berapa usia kehamilan Anulika saat ini.
“Seingatku sudah dua minggu, rasa mualnya datang setiap pagi.” Anulika berusaha mengingat-ngingat sejak kapan dia mulai merasakan mulai dan muntah-muntah.
Kalila semakin yakin, gadis di hadapannya ini sedang dalam keadaan hamil. Bearti proses pembuahan yang kemarin dilakukan berhasil dengan baik walaupun berada di rahim yang salah.
“Sebenarnya aku sakit apa?” tanya Anulika pelan, cemas jika penyakit yang dideritanya bukan penyakit magh biasa.
“Sebelumnya atas nama Kalila, aku minta maaf.” Tiba-tiba Deon yang ada di belakang Anulika ikut duduk di antara dirinya dan Kalila.
Kening Anulika mengerut, menatap Kalila dan Deon bergantian. “Kamu siapa dan kenapa kalian minta maaf?”
Kalila menyentuh punggung tangan Deon, isyarat agar laki-laki itu untuk tidak angkat bicara pada Anulika. Deon menatap istrinya, menggenggam tangan wanita itu, untuk memberikanya keberanian.
“Sebenarnya ada kesalahan besar yang sudah aku lakukan tanpa sengaja. Saat kau kerumah ssakit untuk pemeriksaan dismenore, datamu tertukar dengan seorang pasien yang sedang mengikuti program kehamilan dengan cara inseminasi, dan kemungkinan besar saat ini kau sedang hamil akibat kejadian memalukan itu.” Kalila berusaha menjelaskan secara mudah tentang keadaan Anulika yang sebenarnya.
Membicarakan istilah medis pada seorang gadis remaja apalagi tentang sesuatu hal yang jarang dan tabu dibicarakan masyarakat awam, membuat Kalila agak kesulitan menyampaikan apa yang dimaksudkannya secara gamblang, Namun, beruntung Anulika seorang anak yang cerdas, ia cukup cepat memahami arah pembicaraan Kalila.
“Maksud dokter, aku tidak sakit, tetapi, aku sedang hamil? Dan itu karena hasil pembuahan buatan yang dilakukan oleh ....” ucapan Anulika menggantung begitu saja, ia tampak shock mendengar pengakuan Kalila.
“Kita masih harus memastikannya sekali lagi dengan pemeriksaan medis, apakah kau bersedia?” tanya Kalila penuh harap.
Anulika menghentikan makannya yang terasa hambar, tenggorokannya mendadak kering, memaksa gadis itu meneguk minumannya berulang kali hingga licin tak bersisa. Keanehan yang ia rasakan ternyata bukan karena penyakit, melainkan ada satu nyawa yang berdetak di dalam rahimnya.
“Kalau benar aku hamil, lantas aku harus bagaimana?” pandangan Anulika mendadak kosong, tangannya meraba perut yang masih terasa rata.
Mendadak pikiran gadis itu terasa kosong, ia merasa tidak berpijak lagi di bumi. Bayangan buruk tentang kehamilan di usia muda dan tanpa suami, menari-nari di depan mata. Tudingan masyarakat yang berpikiran buruk tentang pergaulannya, teman-teman yang pergi menjauh, sekolah yang tidak selesai, serta kemarahan ayah dan ibu yang pastinya akan menuduh Anulika telah berbuat asusila.
“Jika benar kau hamil, kita harus membicarakannya dengan kedua orang tuamu,” jawab Kalila.
Sebagai dokter yang bertanggung jawab atas keadaan Anulika, Kalila harus siap menerima segala kemungkinan terburuk dari perbuatannya. Ia harus berani menanggung resiko, di caci maki, di pecat, bahkan mungkin di penjara. Namun, sebelum itu ia harus memastikan dulu kehamilan Anulika dan mengajak gadis itu bicara dari hati kehati untuk membantu sahabatnya Livia.
“Aku tidak siap menjadi seorang ibu, aku belum merasakan pacaran, belum pernah menikah, bagaimana aku bisa hamil?” Anulika tertunduk dengan air mata yang menetes perlahan.
Tuhan, dosa apa yang aku lakukan, kenapa kau titipkan anak di usiaku yang masih sangat muda. Keluh Anulika di dalam hati.
Gadis remaja itu menangis tanpa suara, hanya air mata yang mengalir tanpa permisi, menangisi nasibnya yang begitu buruk. Beribu tanya, kenapa harus dirinya yang mengalami kejadian tak terduga ini, membuat Anulika semakin terpukul.
Kalila dan Deon hanya mampu menatap Anulika dengan perasaan bersalah, Kalila telah membuat seseorang dalam masalah besar akibat kelalaian yang telah meraka lakukan.