“Sayang, sayaaaangg!” Teriakan Ashraf memanggil istrinya menggema di seluruh rumah, padahal ia baru saja tiba di muka pintu. Kekhawatirannya pada keadaan Livia membuat Ashraf tidak ingin sedetik punmelepas pandangan dari istrinya. “Sudah pulang, Mas? kok, cepat?” Livia datang tergopoh-gopoh dari arah dapur menyambut kepulangan Ashraf yang tak seperti biasa. Baru saja tadi pagi Ashraf mempercayakan Anulika untuk menemaninya, tetapi belum sampai sehari, laki-laki itu sudah kembali dengan terburu-buru dan berteriak memanggil namanya. “Ada siapa yang datang ke rumah?” tanya Ashraf. Pria itu duduk di kursi sambil membuka sepatu dan kaus kaki, meletakkannya di rak sepatu dan mengambil sendal untuk di pakai di dalam rumah. Mata Livia menyipit mendengar pertanyaan Ashraf, biasanya setiap pu

