Anulika tertunduk dalam, jari-jarinya saling mengait hingga mengeluarkan keringat dingin. Ia merasa sedang di sidang, duduk di bawah tatapan mata semua orang, yang sibuk mencarinya sejak siang. Sedikit pun gadis remaja itu tidak berani mengangkat wajahnya. Tangan kurus Livia gemetar, melambai pada Anulika, mengajaknya duduk berdampingan di kursi panjang. Ada sesuatu yang harus disampaikannya pada gadis itu, bahwa pernikahan yang akan ia jalani bukanlah permainan yang bisa dihentikan seketika atau sewaktu-waktu hanya karena sebuah kesalah pahaman. Anulika melangkah ragu-ragu, sesekali ia melirik pada Ashraf yang mengusap wajahnya kasar. Tampak laki-laki itu berusaha meredam kemarahannya, hembusan napas yang terdengar menderu keras, semakin memperjelas kalau ia sedang menjaga lidahnya agar

