Chapter 7

2486 Words
"Kita mau kemana ?" tanya nayla saat samudra terus mengemudi mobilnya, ini sudah 2 jam tapi mereka tak kunjung sampai ke tempat tujuan. Selama perjalanan samudra hanya diam, nayla bahkan sudah menanyakan pertanyaan yang sama lebih dari 10x tapi tidak ada satu pun tanggapan dari pria itu. "Sebenarnya kita mau kem.... "Diam! Kamu tinggal duduk manis tidak usah cerewet bisa ka ?" sahut pria itu tanpa menoleh ke arahnya. "Bagaimana aku bisa diam jika kamu membawaku pergi entah kemana ? Kamu pikir aku ini apa yang bisa kamu bawa kemana mana semaumu ? Aku mau turun disini. Aku masih ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Tepat setelah mengatakan ini, samudra langsung menghentikan mobilnya. "Cepat turun," ucap samudra sambil melepas sabuk pengamannya , dia membuka pintu mobilnya lalu keluar lebih dulu meninggalkannya. "Tunggu!" "Pria sombong bin m***m tunggu !!" Nayla segera berlari menghampiri nya. "Bagimana bisa kamu me.... Astaga," belum sempat menyelesaikan ucapannya nayla sudah dibuat terkejut melihat pemandangan didepannya. Seakan lupa dengan semua kekesalannya, dia segera berjalan menyusuri daerah di sekitar sana. "Ini sangat indah," "Cih tadi saja marah-marah," sindir samudra sambil berjalan kearah salah satu tempat duduk yang ada disana, diikuti nayla yang ikut duduk di sebelahnya. "Darimana kamu tau tempat ini ? Ini sangat indah. Kalau kamu bilang dari awal akan mengajakku kesini pasti aku tidak akan marah marah di jalan tadi," "Kamu saja yang cerewet," "Apa ? Aku tidak cerewet !" "Kalau tidak cerewet lalu apa ? Kamu terus mengomel sepanjang perjalanan," "Y-ya ya itu karena kamu membawaku seenaknya tanpa memberitahu tujuannya," "Sama saja. Ce re wet," Sudah hampir petang tapi pria masih setia duduk di tepi pantai. Ya disana juga terdapat pantai yang tak jauh tidak dari danau tadi. Dari tadi tak ada obrolan sedikitpun, nayla memilih diam duduk disampingnya tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak yang menemani kebisuan antar keduanya. Beberapa kali samudra menghembuskan nafasnya kasar, natyla tahu pria di sampingnya itu saat ini sedang berada dalam suatu masalah. Dia tidak tahu harus bagaimana karena dia juga tidak bisa membantu. dia tidak ingin mencampuri urusan pria itu. Semakin petang udara semakin dingin , nayla benar benar merasakan angin yang menerpa kulitnya. Wajar saja dia hanya menggunakan dress simple selutut dengan lengan yang pendek. Beberapa kali dia mengusap lengannya agar merasa sedikit hangat namun itu sia-sia karena udara semakin dingin. Mendengar pergerakan tangan gadis di sampingnya membuat samudra menoleh. bodohnya dia baru sadar jika dia tak sendiri. Bisa ia lihat nayla merasa kedinginan "gapapa ? Apa kamu kedinginan ? Kamu bisa pergi ke mobil duluan" ucapnya membuat nayla menoleh kaget. "Apa gapapa kalau aku meninggalkanmu disini sendirian ?" tanya nayla yang hanya dibalas anggukan oleh pria itu. Nayla pun segera beranjak pergi , bukan untuk kembali ke mobil tapi dia pergi ke salah satu toko yang tidak jauh dari tempat itu. Dia membeli 2 cup coffe hangat untuknya dan juga samudra. ,,, Samudra terus menatap lurus ke arah laut. Rasa sakit itu kembali muncul ketika mengingat kejadian dimana ia mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan pria lain. Sungguh dia sangat tulus menyanyangi claudia tapi apa balasan yang ia dapatkan ? Hanya penghianatan yang ia dapatkan dan lebih sakit lagi orang yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya sendiri sudah menutupi kebusukan kekasihnya itu. "Minumlah" Dia menoleh, mendapati nayla yang sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan cup coffe hangat. "Ngapain balik ? Bukannya tadi kamu bilang ingin ke mobil ?" Nayla menggeleng "aku mau menemanimu saja," "Jangan kepedean. Aku hanya berjaga jaga saja kalau kamu nnti bunuh diri kan aku juga yang repot karena aku orang terakhir yang bersamamu," "Jadi mau atau tidak?" "Makasih," "Kamu bilang apa ? Makasih ? Sejak kapan seorang langit samudra mengucapkan kata terima kasih ? Hahahaha lucu sekali," balas nayla sambil terkekeh. Samudra hanya diam , dadanya kembali berdetak sangat cepat saat keduanya sangat dekat tadi. Nayla menghembuskan nafasnya panjang "Disini memang tempat yang baik untuk menyendiri , tenang tidak ada siapapun yang mengganggu tapi.. "Tapi ?" "Tapi disini juga sangat dingin. Lain kali kalau ingin bermalam disini kamu harus menyediakan tenda , api unggun dan juga baju hangat," Pria itu tersenyum "ide bagus," ucapnya kemudian. "Apa," "Ide bagus. Kita akan bermalam disini," "Apa? aku tadi hanya bercanda!!" "Tapi itu ide yang bagus. Aku akan menyuruh seseorang untuk membawakan semua keperluan kita untuk bermalam disini. Tunggu sebentar!!" samudea berlari ke mobil nya untuk mengambil ponsel. ,,,, "Tadi nayla bilang mau kemana je?" tanya sina. Ini sudah jam 10 malam tapi nayla belum juga pulang. Sina benar benar khawatir jika terjadi sesuatu dengannya. "Tadi nayla hanya bilang ada kepentingan," "Apa dia bersama samudra?" "Bisa jadi. Bukankah dia bilang jadi asisten 1bulan ? Kemrin dia bilang baru 3 minggu. Mungkin dia sekarang sedang bersama nya. Kamu tahu kan jadwal the seven dream sangat padat," jelas jeje. "Ah dia benar benar beruntung. Andaikan aku yang jadi asisten kak brian pasti bahagia rasanya," ,,,, Samudra benar benar melakukan semuanya. Saat ini sudah ada tenda yang berdiri tegak dengan api unggun beserta beberapa makanan yang ada disana. Dia dan nayla duduk di depan api unggun itu, menikmati pemandangan pantai dan api unggun. Hal yang pertama kali mereka lakukan namun cukup menyenangkan. Beberapa kali api unggun itu hampir padam karena tertiup angin tapi dengan sigap mereka menjaga agar api itu tak padam. "Ini pakailah," samudra melepas jaketnya untuk dipakai nayla. Staf yang diperintahnya tadi lupa membawa pakaian hangat. "Tidak usah kamu juga kedinginan," "Sudah tidak usah menolak. Aku tahu kamu membutuhkannya. Lagi pula aku pria aku kuat menahan dingin," Nayla berdecak kesal sambil menerima jaket itu "cih masih saja sombong," "Kamu tidak apa-apa kan disini?" tanya samudra kemudian membuat nayla menoleh kearahnya bingung. "Orang tua mu. Mereka pasti khawatir karena anaknya tidak pulang," "Gapapa. Ibuku sedang berada di bandung menengok nenek yang sedang sakit. Dan ayah, dia sudah lama meninggal saat aku masih kecil," Samudra kaget mendengar fakta jika ayah nayla sudah tidak ada "maaf aku tidak bermaksud," ucapnya kemudian. "Kalau boleh tahu jadi selama ini ibumu yang membiayai kehidupan kalian ? kalau tidak mau jawab gapapa," Nayla mengangguk "ibu dan aku mengelola toko kue. Yah walaupun tidak seberapa tapi yang penting bisa mencukupi kebutuhan kita setiap hari," "Apa kamu tidak merasa marah ? Marah sama keadaan , kamu pasti sangat susah menjalani hidup tanpa seorang ayah," Nayla menghela nafas kemudian tersenyum namun matanya mulai berkaca kaca. "aku beruntung mempunyai keluarga seperti mereka. Ayah tidak pernah memanjakanku , dia selalu mendidikku agar mandiri. Jadi didikan itulah yang membuatku kuat menjalani semua ini. Awalnya aku merasa marah , marah pada tuhan dan juga diriku sendiri. marah kenapa hidupku harus seperti ini , marah kenapa tuhan memanggil ayahku. tapi aku yakin setiap rencana tuhan pasti akan ada baiknya. Jadi aku mulai menerima semuanya dan menjalani hidup seperti biasa , setidaknya aku masih memiliki ibu. Ibu yang selalu menyayangiku," Samudra mengangguk , dia benar benar tidak tahu jika hidup nayla sekeras ini. Nayla adalah gadis yang kuat, dia tidak pernah mengeluh sedangkan dirinya ? Hanya karena masalah cinta jadi serapuh ini. "apa kamu punya cinta pertama ? Atau pernah pacaran ?" "Eh? Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" tanya nayla terkejut dengan pertanyaan yang samudra lontarkan. "Hanya ingin tahu. Apa masih ada pria yang mau dengan wanita galak sepertimu," "Aku tidak galak! Hanya padamu saja aku galak," "Ya.. Ya.. Ya.. Jadi bagaimana ? Apa jawabanmu?" Nayla menggeleng "Aku tidak punya waktu untuk itu. Waktu ku hanya aku gunakan untuk bekerja dan bekerja. Yang paling utama dalam hidupku saat ini hanyalah membahagiakan ibuku. Jadi aku tidak pernah punya cinta pertama dan aku juga tidak pernah pacaran," "Apa? Jadi kamu juga tidak pernah berciuman?" pekik samudra menanyakan hal yang seharusnya tidak dia tanyakan. "Kenapa kamu bertanya soal itu ?!" "Aku hanya bertanya. Ah aku tahu kamu pasti tidak pernah berciuman," "Kalau iya memangnya kenapa ?" balas nayla kesal. "Tidak apa hanya aneh saja. Kebanyakan wanita seusiamu pasti sudah pernah berciuman atau sekedar pacaran. Tapi kamu ? Berkencan saja tidk pernah," "Ya karena itu tidak penting bagiku. Aku hanya ingin sukses, bukankah cinta bisa datang kapan saja ?" Samudra mengangguk "dan juga cinta bisa pergi kapan saja," lirihnya membuat suasana mendadak menjadi canggung. "Aku sudah hampir 3th berpacaran dengannya. Aku juga sudah berniat akan melamarnya setelah selesai tour konser nanti. Tapi semuanya jadi seperti ini , dia berhianat di belakangku. Dia lebih memilih pria lain. Dia bilang aku yang membuatnya seperti ini , aku yang sering tidak punya waktu untuk dirinya. Ya akulah yang salah , harusnya aku tidak terlalu sibuk bekerja dan mengabaikannya," Nayla hanya diam , ia terlalu takut untuk menanggapi cerita pria ini. Dia takut jika samudra akan marah seperti yang sudah-sudah. "Apa kamu juga begitu ?. Apa kamu juga akan meninggalkan kekasihmu jika kekasihmu sibuk dengan pekerjaannya ?" Nayla hanya diam. Merasa tidak di tanggapi samudra pun menoleh ke arah gadis itu "kenapa kamu diam ?" "aku tidak tahu. Aku terlalu takut menjawab pertanyaanmu , aku takut jawabanku tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan dan bukankah aku sudah bilang aku tidak penah berpacaran jadi aku tidak tahu harus menjawab apa," Mendengar itu samudra hanya bisa tersenyum singkat "Maaf, aku sudah membentakmu kemarin . tidak seharusnya aku marah padamu.. Kamu bahkan tidak tahu apa-apa tapi aku malah memarahimu," "Tak apa. Aku sudah biasa kamu bentak bentak," ,,,, Keesokan paginya, nayla merasakan sesuatu yang berat di perutnya , dengan mata yang masih mengantuk dia membuka paksa matanya , betapa terkejutnya dia saat melihat pria yang semalam bersamanya tertidur sangat pulas di sampingnya. Jangan lupakan tangan pria itu yang melingkar sempurna di perutnya bahkan dirinya saat ini juga tertidur di d**a bidang pria itu. Dengan gerakan cepat nayla menyingkirkan tangan pria itu dari perutnya , dia beranjak duduk mencoba mengingat apa yang terjadi kenapa dia bisa tidur bersamanya. "Ah aku ketiduran," gumamnya pelan. Dia ingat semalam mereka banyak sekali mengobrol , menceritakan kehidupan masing masing , bukankah itu hal yang sangat aneh ? Mereka yang biasanya bertengkar setiap hari mendadak menjadi akur bak sepasang sahabat. Takut jika samudra bangun, nayla segera beranjak keluar dari tenda. Bisa ia rasakan terpaan angin dan suara deburan ombak yang langsung menyambutnya. Di berjalan ke bibir pantai , berdiri disana sambil merentangkan tangan dan memejamkan matanya menikmati udara yang benar benar sejuk. "Bola tuh huaaaa," Nayla membuka matanya saat mendengar suara tangisan seorang anak kecil. anak kecil itu hanya sendiri tidak ada yang mengawasi , dia hendak berjalan menuju laut. Nayla yang melihatnya langsung membulatkan matanya. dengan cepat dia berlari menghampiri bocah itu. "Tunggu!" "Hei kamu mau ngapain ? Kenapa kamu disini ? Kamu sama siapa ? Bahaya disini sendirian," tanya nayla bertubi tubi, kemudian anak kecil itu menunjuk ke arah laut sambil menangis "Bola tu huaaaa," Nayla melihat ke arah laut , benar saja ada sebuah bola yang terbawa ombak , jaraknya memang tak terlalu jauh dari bibir pantai. "Kamu mau mengambilnya ?" tanyanya , anak itu mengangguk "Biar kakak yang ambilkan. Kamu tunggu disini jangan kemana mana. Oke ?" Anak kecil itu mengangguk lagi , nayla melepas flat shoes nya lalu berjalan ke arah laut. "Aih kenapa sedalam ini ? Aku pikir ini masih dangkal," gumam nya saat merasakan air laut udah sebatas pinggang nya. Nayla menoleh ke belakang ,melihat anak kecil tadi dengan tatapan memohonnya membuat nyala harus mengambil bola itu meskipun sejujurnya dia sangat takut karena tidak bisa berenang. "Sudah dekat aku pasti bisa," Tinggal sedikit lagi dia bisa meraih bola itu, tangannya terulur untuk mencoba meraih bola yang tidak jauh di depannya. Ditempat lain samudra bangun. "Kemana dia ?" gumamnya karena tak menemukan sosok yang semalam tidur disampingnya. "Tolong.. Tolong. Ada yang tenggelam!" Mendengar suara orang meminta pertolongan membuatnya segera beranjak keluar dari tenda. Karena penasaran dia mencoba mencari sumber suara itu. "Nayla!" peliknya kaget saat melihat seseorang yang tenggelam di laut. walaupun tidak terlihat jelas tapi dia yakin itu pasti nayla, terlihat dari jaketnya yang gadis itu pakai. "Mas mau kemana, Bahaya !!" teriak seorang ibu-ibu saat samudra langsung berlari menuju laut untuk menolongnya. "To-tolong !!" nayla mencoba menahan nafasnya agar tidak banyak air yang masuk kedalam mulutnya. "Nay bertahanlah !!" "S-samudra?" "Bertahanlah nay!!" Sekuat apapun nayeon menahan nafasnya dia sudah benar benar tidak kuat. Sampai akhirnya dia sudah tak sadarkan diri. Beruntung samudra susah sampai ditempat dia tenggelam, pria itu langsung menarik tangannya, membawanya ke daratan. Semua yang berada bibi pantai langsung mengerumuni nayla yang sudah tidak sadarkan diri , bahkan anak kecil tadi pun sampai menangis. "Bertahanlah nay," Samudra mencoba menekan bagian atas d**a nayla agar dia sadar. Namun beberapa kali dia mencoba gadis sama sekali tidk sadar. "Nay! Bangunlah. Aku mohon," "Beri dia nafas buatan," seru salah satu orang yang berada disana. "Nafas buatan ?" "Iya benar beri nafas buatan. Cepat sebelum terlambat," Samudra menatap ragu wajah nayla yang sudah memucat. "apa aku harus memberinya nafas buatan ?," "Cepat. Kamu tunggu apa lagi ? Kamu mau dia meninggal?" Tidak ada pilihan lain , walaupun ragu tapi ini jalan satu satunya untuk menolong nya. Samudra mulai mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Semua yang berada di sana sudah menutup mata tidak ingin menyaksikan adegan itu sampai akhirnya dia benar benar memberikan nafas buatan. "Uhuk uhuk," beberapa detik kemudian nayla mulai membuka matanya , dia memuntahkan semua air yang masuk kedalam tubuhnya. Samudra juga membantunya menepuk punggung gadis itu. "Kamu gapapa? Sebaiknya kita pulang," samudra memapah tubuh nayla menuju mobilnya untuk pulang. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan gadis itu lagi ,,,, "Gantilah dulu pakaianmu. Itu basah nanti sakit. Kamu masih bisa kan berganti pakaian ?" tanya samudra, nayla hanya mengangguk. Saat ini mereka sedang berada diapartment, samudra tidak bisa mengantar gadis itu pulang kerumahnya dengan keadaan seperti ini. "Aku tunggu diluar," Selagi menunggu nayla berganti pakaian, samudra kembali ke apartment nya sebentar untuk berganti pakaian juga. Setelah itu dia kembali ke tempat nayla..seebelum nya dia juga sudah memesan beberapa makanan untuk mereka. Dia baru sadar dari kemarin mereka sama sekali belum makan kecuali snack. "Kamu kenapa ?" tanyanya saat melihat nayla tidur diranjang "Hanya sedikit pusing," "Kamu kenapa bisa sampai tenggelam? Dasar ceroboh. Lain kali kalau mau bantuin orang itu lihat kondisi dan situasi dulu , jangan main bantuin orang! Kamu gatau kamu hampir terbawa arus ombak kalau aku tidak datang menolong mu bagaimana ?!!" omel samudra dengan raut wajah khawtirnya. Nayla yang melihat itupun sedikit menyunggingkan senyumnya. "Kenapa kamu tersenyum ? Memangnya ada yang lucu ?!" Gadis itu menggeleng "Tidak , hanya saja ada yang aneh," "Aneh ?" "Iya aneh. Baru kali ini aku melihatmu sekhawatir ini padaku . aku kira kamu pria yang sombong dan angkuh. ya walaupun memang begitu tapi ternyata kamu baik juga," Seketika samudra diam , dia baru saja menyadari sikap yang terlalu mengkhawatirkan nayla. Jujur dia juga tidak tahu kenapa bisa se khawatir ini. "Makasih sudah menolongku dan maaf membuatmu khawatir," "Y-ya kamu jangan kepedean dulu. Aku tidak khawatir padamu hanya saja aku tidak mau ikut terlibat dalam masalah jika kamu tenggelam nanti," Nayla tersenyum , pria sombong ini benar benar besar rasa gengsi nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD