Tidak ada yang tau hewan apa saja yang ada di Hutan Larangan. Normalnya hutan pada umumnya, ular, babi hutan pasti ada. Tapi nyatanya, selama tinggal di pinggir hutan tidak pernah melihat satu hewan itu pernah masuk atau nyasar ke rumah bibi. Kecuali burung-burung.
Rieka mengitari pandangannya. Kiri, kanan dan depan, hanya hutan gelap tidak ada cahaya. Di belakang, jalan pulang dimana ada paman yang menunggunya. Memandang ke atas langit, tidak ada bintang. Untunglah hujan telah berhenti, Rieka menajamkan pendengarannya.
Grrr!
"Aaah!" teriak gadis itu. Dirinya dikejutkan lagi dengan suara dan geraman hewan yang kedengerannya buas. Senter ponselnya meredup, "Hais, apakah habis baterei. Bawa Charger juga percuma, di mana mau dicolok gak ada listrik."
Grrr!
Pang! Sepertinya ada yang terkena pukulan. "Kaing! Kaing! Kaing!" Suara geraman berubah jadi suara anjing kesakitan, semakin lama semakin jauh.
Siapa yang melakukannya? Apakah ada orang yang tinggal di hutan ini, tapi tidak mungkin.
Krek! Krek! Krek!
Suara ranting patah, dari balik semak-semak keluar seorang pria muda. Sosok yang sangat tampan.
Di tengah hutan, ada makhluk setampan ini aku pasti betah. Tunggu dulu, apa dia manusia?
Deg, deg deg.
Jantung berdebar bukan lagi karena ketakutan dimakan hewan buas, melainkan dag dig dug seperti orang yang sedang bertemu kekasih.
Rieka meneguk liur memandang sosok tampan di depannya. Dari wajahnya memancarkan cahaya terang tapi tidak menyilaukan pandangan. Rieka rela jika pria tampan ini yang memakannya, sejuta kali lebih baik dari pada dimakan paman.
Ntah kapan pemuda itu melangkah tiba-tiba saja telah berdiri di depannya. Rieka mendongak, dari dekat bahkan lebih tampan. Tubuhnya yang tinggi, Rieka hanya sedagunya. Baunya harum, berbeda dari cowok-cowok di kampusnya yang mengandalkan parfum low cost.
Pemuda itu menunduk menatap dalam ke manik Rieka. Cuaca yang gelap tidak menghalangi pandangannya menatap wajah cowok di depannya.
Rieka mengulurkan tangannya menyentuh wajah tampan itu, lagian udah pasrah juga sekiranya dirinya dijadikan santapannya malam ini.
"Siapa kamu?" tanya Rieka.
Tiba-tiba tengkuknya diraba, tubuhnya disentak ke dalam pelukan hangat. Cukup hangat sampai membuat Rieka terbakar gairah di dinginnya hutan larangan di waktu malam. Bibir mereka hanya berjarak satu senti. Helaan nafas terasa menyapu wajah Rieka yang hampir beku.
"Apakah kamu tau, sudah berapa lama aku menunggumu?" Suaranya sangat merdu di telinga.
"Menungguku?"
"Hum," desah nafasnya wangi.
"Untuk apa menungguku?"
"Membuat keturunan."
"Eump," senyum Rieka tersipu malu.
"Apakah kamu serigala mencari istri?"
"Benar...dan kamu adalah pasangan yang aku tunggu. Masih ada waktu satu tahun tapi kamu datang lebih cepat."
"Jadi bagaimana sekarang? Apa perlu aku balik dulu, baru datang lagi tahun depan."
Pemuda itu tersenyum. "Tidak perlu, lebih cepat lebih baik."
Seketika lumatan yang lembut terasa di bibirnya. Pinggangnya direngkuh seiring ciuman yang semakin dalam. Erangan kenikmatan lolos dari mulut cowok yang menciumnya. Bau nafasnya sangat harum, menambah nafsu ingin b******u.
Gadis itu terbakar gairah, terbayang diingatannya saat-saat dimana paman menggagahi bibi. Sudah lama Rieka ingin mencobanya, cuma belum dapat pasangan yang berkenan di hatinya.
Rieka dan pria itu saling melumat, seolah mereka adalah pasangan kekasih yang lama berpisah. Kini berjumpa saling melepas rindu.
Umph!
Desah Rieka merasa sesak nafas, pemuda itu melepaskan pagutan. Mengusap bibirnya yang basah air liur. "Aku Alarick," katanya memperkenalkan diri.
"Aku,.. "
"Rieka," tebak Alarick cepat.
"Kamu tau namaku?"
"Tentu saja, kamu istriku."
"Istrimu?"
"Iya, ayo kita pergi dari sini." Serta merta Alarick mengangkat Rieka, menggendongnya tanpa kesulitan ataupun keberatan. Seolah gadis itu sebuah boneka yang ringan. Mereka sampai di sebuah Padang rumput, ada danaunya juga. "Wow, indah sekali. Ada cahaya bulan," seru Rieka. Alarick, bisa kamu turunkan aku," mohonnya.
"Kita belum sampai Rieka. Sabarlah," kata Alarick terus berjalan. Melewati jalan setapak, mereka tiba di gerbang sebuah Kastil. "Rumah! Apa ini rumahmu?" tanya Rieka.
"Rumah kita," jawab Alarick.
Pintu terbuka otomatis, didalam lebih membuat takjub. "Ini istana, bukan rumah."
"Tentu saja, dan kamu adalah nyonya rumah."
Alarick belum menurunkan Rieka. Masuk ke sebuah kamar, barulah pemuda itu menurunkan nya. Rieka dibaringkan di kasur, Alarick ikut berbaring menimpa tubuhnya. "Apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Rieka.
"Menyatu denganmu, membuat keturunan."
"Sekarang?"
"Hum," angguknya seketika mencium Rieka.
Apakah sudah ditakdirkan malam ini aku kehilangan kesucian. Lepas dari Paman, masuk keperangkap pemuda ini. Tapi setidaknya, Alarick pria tipe idamanku.
Batin gadis itu, oh! "Mana pakaianku?" Rieka kaget tiba-tiba mereka sudah telanjang bulat.
"Aku melepasnya menggunakan sihir," jawab pemuda itu.
Akh!
Seterusnya hanya desahan yang keluar dari mulut gadis itu, karena Alarick menjajah seluruh tubuhnya dengan bibir dan lidahnya. Dari wajahnya turun ke lehernya, lanjut kedua buah yang menempel di dadanya. Rieka menggelinjang saat lidah itu tiba di bagian tengahnya. Kakinya dibuka semakin lebar, Alarick memanjat ke tubuhnya. "Ini akan sedikit sakit di awal."
"Lakukan," yakin Rieka. Ini adalah momen yang telah lama ditunggunya. Menjerit-jerit keenakan seperti saat bibi digauli oleh paman.
Alarick memposisikan dirinya, Rieka merasa benda tumpul menyodok perlahan bagian tengahnya. Barulah saat Alarick menekan, Rieka menjerit kesakitan seperti dicabut nyawa.
Arrrrgh!
"Relaks kan dirimu," serak pemuda itu. Ini juga yang pertama baginya. Alat kelaminnya dijepit lubang yang hangat dan sempit. Gairah tak tertahankan, namun ia harus bersabar. Menunggu gadisnya terbiasa dengan ukurannya. Tentu saja jauh lebih perkasa dibandingkan manusia normal pada umumnya. Dirinya adalah siluman berukuran raksasa, hanya demi Rieka ia menjelma jadi manusia normal. Hanya alat reproduksi nya tidak bisa di adjust ukurannya saat sedang gairah. Lain halnya saat tubuhnya tidak terangsang, ukurannya biasa saja.
Alarick mencium Rieka, membangkitkan lagi gairah wanitanya. Ia belum sepenuhnya masuk, tapi ditubuh Rieka mengalir darah keturunan siluman, lama-lama akan terbiasa juga. Hanya gadis itu belum menyadarinya. Perlahan Alarick mendayung saat Rieka melebarkan kakinya dengan sendirinya. Seolah memberi tanda bagi Alarick bahwa Rieka telah siap menerima alat kelaminnya.
Mereka berpacu setelah mendapat irama dan gerakan yang serasi. Semakin cepat, desahan dan erangan memenuhi langit-langit kamar. Rieka merasa terbang ke angkasa, menjerit-jerit saat Alarick mempercepat tumbukannya. Nikmatnya tiada tara, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Alarick membiarkan Rieka merasakan kenikmatannya lebih lama, sampai beberapa kali. Setelah dirasa wanita di bawahnya kelelahan, pemuda itu melepaskan cairannya. Menyembur memenuhi rahim Rieka.
Keduanya berciuman bahagia, ciuman kepuasan.
.
Rieka terbangun, tidak ada Alarick di sampingnya. "Kemana orang itu?" Rieka takut ditinggalkan sendirian. Ia pun turun dari kasur, membuka pintu perlahan. Terdengar suara orang bercakap-cakap di lantai bawah.
"Arik, kamu yakin akan membawa gadis itu ke koloni?"
"Tentu saja, dia putri bangsa kita. Sudah saatnya dia kembali ke asalnya."
"Kamu tau kan, kenapa saat bayi itu gadis itu harus disingkirkan?"
"Paman tidak perlu mengingatkan ku, aku tau apa yang harus aku lakukan. Untuk apa ada diriku jika nyawanya masih terancam!"
___to be cont.