Kabur.
Rintik hujan membasahi bumi desa kelahirannya, Rieka berbaring di kasurnya yang dingin. Biasanya ada bibi yang memeluknya. Tapi wanita yang menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri itu, sore tadi baru saja dikebumikan.
Tidak ada sakit yang dideritanya, setahu Rieka. Namun jika takdir telah sampai siapapun tak dapat lari dari ketentuan Nya.
Gadis berwajah cantik dan bertubuh indah itu berusaha memejamkan matanya, terbayang wajah bibi saat-saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Maaf."
Bibi yang terbaring lemah di pangkuannya memohon maaf padanya.
Untuk apa?
Rieka menarik selimutnya lebih tinggi. Teringat pesan bibi. "Satu-satunya yang harus dijauhinya adalah Paman."
Pria itu adalah pamannya, apa yang harus ditakutkan. Hah, sudahlah. Yang pasti pintu kamar telah dikunci, diganjal dengan lemari baju. Paman tidak akan bisa masuk tanpa ketahuan olehnya terlebih dahulu. Besok pagi, secepatnya ia akan kembali ke asrama Universitas.
Ya, benar. Rieka adalah mahasiswa jurusan keguruan sebuah perguruan tinggi negri kota M. Sebulan lalu terpaksa mengambil cuti kuliah atas permintaan Bibi. Katanya rindu Rieka. Wanita yang merawatnya itu, tidak sanggup berjauhan dalam waktu yang lama.
Hum.
Padahal walaupun tercatat sebagai mahasiswa yang harus tinggal di kota, Rieka selalu mengusahakan dua minggu sekali pulang ke rumah Bibi yang telah dianggap rumahnya sendiri. Karena Rieka tidak mengingat ada rumah lain, di dalam memorinya.
Walaupun dirasa aneh permintaan bibi, Rieka yang sangat menyayangi wanita baya itu tanpa banyak tanya segera menurutinya. Hanya selang satu bulan Bibi pergi meninggalkan nya untuk selama-lamanya.
Kejadiannya sangat cepat. sehari sebelumnya, Bibi mengajak Rieka ke pinggir hutan larangan mencari kayu bakar dan mengutip buah embacang. Sejenis mangga berserabut yang rasanya asam, walaupun telah matang. Namun bibi lumayan menyukai buah itu, dicocol garam dan cabe yang ditumbuk kasar. Katanya sedap, yeay.
"Jangan pernah masuk ke hutan ini. Tinggal lah di kota mulai lusa, bibi telah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu. Cukup untuk biaya hidup dan sekolah sampai lulus jadi guru," kata Bibi saat itu.
Kening Rieka mengerut mendengar kata-kata Bibinya, seolah menyiratkan pesan terakhir bagi orang yang hendak pergi jauh. Pikir Rieka dan ternyata benar.
Hah! Di kamar yang dingin ini ia sendirian, gak sabar menunggu hari terang.
Krek krek krek.
Suara engsel kunci diputar kah atau suara cakaran?
Deg.
Jantung berdegup kencang. Rieka meraih ponsel yang ditaruh di sebelah atas bantalnya. Waktu menunjukkan angka 00.15 pagi.
Oh my God. Siapa itu, apakah Paman seperti yang bibi takutkan selama ini.
Krek Krek krek!
Terdengar lagi. Rieka menajamkan pendengarannya.
Krek!
Lemari yang mengganjal pintu terdorong.
Deg.
Teringat lagi pesan bibinya agar berhati-hati terhadap paman.
Calm down, calm down Rieka. Tenangkan dirimu. Itu hanya paman, tubuh kurusnya tinggal tulang sama kentut. Sekali tendang pasti terjengkang.
Gadis itu mengusir jauh rasa takutnya, perlahan turun dari kasur. Sebenarnya ia telah siaga, cuma tidak pernah menyangka si paman akan beraksi secepat ini.
Dasar laki-laki b******n. Apakah aku akan tidur di luar rumah malam ini, hais. Bibi bantu aku, bibi masih di rumah ini kan.
Monolog Rieka pada dirinya sendiri. Lampu kamar memang sengaja ia matikan. Tangannya terulur, meraba grandel kunci jendela. Mendorong jendela yang memang tidak dikunci itu pelan, berharap semoga tidak menimbulkan bunyi.
Krek!Krek! Krek!
Aish!
Rieka telah bersiap nangkring di jendela, menatap keluar gelap tidak ada cahaya.
Krek! Krek! Krek!
Gubrak!
Akhirnya lemari kain yang tidak terlalu berat itu pun tumbang, Rieka melompat keluar jendela. Sepatu kets yang telah di standby,tak lupa dikenakannya. Rieka bersembunyi di bawah jendela yang kembali ditutupnya. Menyisakan cela buat ngintip ke dalam kamarnya.
Geraman nafas memburu, terdengar menjijikkan. Di kegelapan cahaya, gadis itu dapat melihat bayangan seseorang yang dia yakin pasti adalah pamannya. Pria itu naik ke kasurnya, meraba-raba.
"Rieka," suaranya serak. "Dimana kamu?"
Oh my gosh!
Benar-benar pamannya, tidak berpakaian walaupun selembar boxer. Bayangan alat reproduksi yang mengacung itu, bergoyang-goyang.
"Rieka," panggil Paman lagi. Pria itu ke kamar mandi dan menyalakan lampunya.
"Dimana kamu!" marahnya menggeram sambil memainkan alat reproduksinya. Rieka meneguk liurnya.
Paman menoleh ke arah jendela, deg. Matilah kalau ketahuan, apakah Rieka sanggup melawan tenaga pria dewasa yang sedang di puncak gairah itu.
Tidak ada jalan lain, saat Paman melangkah pasti ke jendela. Rieka berlari sekencang-kencangnya.
"Rieka! Mau lari kemana kamu?" teriak Paman dengan cepat pula mengejarnya.
Rumah bibi memang agak jauh dari pemukiman. Kalau Rieka menjerit minta tolong pasti kedengaran, hanya saja. Tidak akan ada orang yang datang menolong, mereka akan semakin menarik selimut.
Ada kisah di kampung ini yang diceritakan turun-temurun mengenai hutan larangan. Yang jaraknya hanya 20 meter di belakang rumah bibi.
Seekor siluman Serigala yang mencari istri dari jenis manusia. Tapi itu dulu, lima puluh tahun telah berlalu saat terakhir kali Serigala itu muncul.
"Rieka!"
"Hais," keluh gadis itu ketakutan luar biasa. Berlari sekencang yang ia mampu, jangan sampai tertangkap.
"Rieka!"
Suara Paman semakin dekat, ternyata lari pria itu kencang juga. Hanya jarak beberapa langkah di belakangnya. Rieka berlari kearah hutan larangan.
"Jangan kesana!" teriak Paman.
Jadi kemana lagi, batin Rieka tidak perduli. Hanya Serigala mencari istri kan, bukan untuk dimakan. Dari pada sama Paman, yeak.
Rieka terus berlari, hanya beberapa langkah dirinya akan nyaris masuk ke dalam hutan.
Paman berhenti mengejarnya. "Rieka!" panggilnya.
Rieka berhenti tepat di pinggir hutan, di ujung jalan setapak. Kemudian berbalik badan.
"Jangan kesana!" paman melambai.
"Kenapa paman menakuti ku dengan tubuh telanjangmu itu," kata Rieka.
"Jangan takut, Rieka. Paman ingin menyenangkan mu, bukan menakuti mu. Ini enak, percayalah!" Paman memainkan alat reproduksinya yang besar dan panjang itu, digoyang-goyang ke arah Rieka.
Gleg.
"Kamu sudah sering mendengar, bagaimana bibi mu menjerit kenikmatan. Itu karena ini, benda menyenangkan ini." Si paman berkata sambil menikmati permainan tangannya. Bagian tengah tubuhnya condong ke depan. Suara paman mendesah-desah, menghipnotis.
Sialan, sangee beud kayaknya si Om.
Batin Rieka. Memang selalu sih, apalagi saat ia masih kecil. Mulai satu tahun Rieka sudah bisa mencerna pembicaraan orang dewasa, walaupun ia belum bisa bicara. Waktu itu, paman tidak segan-segan menggauli bibi di depannya.
Di mana di rumah bibi yang belum pernah mereka jajal, dari ujung ke ujung. Bahkan di depan pintu, di teras di halaman. Tidak takut kelihatan orang, karena memang tidak ada yang datang ke rumah bibi kecuali diundang. Beramai-ramai, barulah mereka berani.
Setelah Rieka usia tiga tahun dan sepertinya bibi malu, tidak lagi melayani paman kecuali di dalam kamar. Semua itu terekam jelas di memori Rieka kecil.
"Rieka, bantu paman melemaskannya." mohon suara paman memelas dan mendesah.
Rieka menatap ke organ paman yang semakin mengencangkan kocokannya. Mungkin karena ada yang melihatnya, paman jadi semangat. Tubuhnya semakin condong.
Sejenak Rieka terlena, tak sadar paman sudah di dekatnya. Kapan dia melangkah? Mana kakinya tak dapat digerakkan, lagi.
Akh!
Rieka kaget merasa ada yang menarik tubuhnya, reflek gadis itu mendorong. Pamannya terjatuh, terduduk di tanah.
Syukurlah, kesempatan itu ia gunakan berlari masuk Hutan.
"Rieka! Jangan masuk ke sana!"
Gadis itu sudah tidak mendengar lagi panggilan si paman. Rieka gak mau jadi sasaran pemuas nafsu paman. Sama saja dengan mengkhianati bibi, kan. Walaupun masuk hutan sama juga tidak mendengarkan nasehatnya.
Rieka terus berlari mengikuti jalan setapak. Untuk jalan yang tidak pernah dilalui manusia jalan ini cukup bagus dan enak dibawa berlari. Tidak membuatnya takut terjerembab. Di ujung jalan langkahnya berhenti.
Jalan buntu, tidak ada lanjutannya selain masuk ke hutan lebih dalam.
Grrrrerrr!
Dengusan dan geraman, mirip suara hewan buas.
Deg!
Serigala?
***tbc.