Aku menarik tanganku dari cengkeraman Kalandra, ketakutan itu mengubah raut wajahku. Koper di sampingku seolah menguapkan bau penghinaan yang baru saja kualami. "Om, aku harus pergi," bisikku, melirik koper di sampingku. "Kumohon. Biarkan aku pergi sebelum semuanya terlambat." Suaraku nyaris tidak ada. Itu adalah permintaan yang jujur, putus asa, lahir dari keinginan untuk melindungi Alisa dan sisa-sisa harga diriku. Aku tidak bisa tinggal di sini, menunggu River menceritakan siapa aku sebenarnya kepada semua orang. Ekspresi Kalandra seketika berubah. Rasa marah karena aku melanggar perintahnya lenyap. Matanya, yang tadinya dipenuhi kekecewaan, kini menyempit. Dia tidak lagi melihat koper, tidak lagi melihatku yang membawa robe dan basah. Dia melihat ke belakangku, ke sesuatu yang tidak

