Pagi itu, udara di dalam kamarku terasa berbeda. Ada aroma bunga melati yang segar bercampur dengan wangi lilin aromaterapi yang menenangkan, namun tetap saja, jantungku berdegup seolah-olah ingin melompat keluar dari dadaku. Hari ini adalah hari yang paling aku takutkan sekaligus paling kunantikan. Hari di mana aku akan menyerahkan seluruh hidupku pada seorang Kalandra Alfabian Atmaja. Aku duduk terpaku di depan meja rias yang besar. Di hadapanku, seorang perias ternama yang didatangkan langsung dari luar negeri sedang dengan teliti menyapukan kuas di wajahku. Tim MUA ini bekerja dengan sangat tenang, namun hasil kerjanya sungguh luar biasa. Mereka mengubah wajahku tanpa menghilangkan jati diriku, riasannya sangat natural, flawless, namun memancarkan kemewahan yang sulit dijelaskan den

