Keesokan harinya, Rana pun memilih untuk pulang. Grace terus saja menelponnya sejak setengah jam yang lalu. Dan nyatanya, Rana paling malas jika harus menerima panggilan itu, dan mendengar omelan Grace.
Semalam, Rania menceritakan apa saja yang mereka lakukan. Termasuk menurunkan Rania di depan rumah Rana. Dimana Abrisam mengajak Rania ke sebuah butik untuk memesan gaun pernikahan mereka. Dan juga pergi membuat undangan sesuai apa yang Rania inginkan. Katanya, semua sesuai keinginan Rania. Itu sebabnya Rana meminta Rania bercerita dengan sedetail mungkin.
"Yaudah aku pulang. Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku. Apalagi Abrisam sekarang udah punya nomer kamu. Yang jelas dia nggak akan telepon aku lagi." kata Rana.
Rania mengangguk. "Iya. Kalau dia telepon aku, nanti aku langsung ngabarin kamu."
Rana bergumam dia pun langsung mengambil kunci minimnya, dan memilih pergi. Dia harus pulang cepat dan mengurus semuanya. Setelah Rania menikah dengan Abrisam, dia harus segera pergi dari kota ini. Agar Grace dan juga Selena tidak tahu, jika selama ini mereka bertukar tempat.
"Aku pulang." pamit Rana. Dia pun menatap Adhitama yang duduk di teras rumah dengan senyum yang mengembang. "Ayah aku pulang." pamit Rana pada Adhitama.
"Hati-hati di jalan."
Rana mengangguk dia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah kecil ini. Di sepanjang jalan keluar dari gang, Rana sempat melihat satu mobil berwarna putih terparkir indah di dekat gang rumah Rania. Dia pun memicingkan matanya menatap siapa pemilik mobil mewah itu. Karena menurut Rana, mobil itu tak asing baginya.
"Mobil mama bukan sih?" gumam Rana.
Tidak buru-buru keluar gang, Rana masih memantau mobil putih dan memastikan jika mobil itu bukanlah mobil ibunya. Dan benar saja, ketika sang pemilik mobil itu keluar. Barulah Rana langsung memundurkan mobilnya agar pemilih mobil putih itu tidak melihat mobil Rana.
"Sial!! Kenapa juga mama ada disana?" gerutu Rana.
Suara klakson dari arah belakang membuat Rana menoleh. Dia pun menatap banyaknya motor yang hendak keluar dari gang. Sedangkan Rana tidak mungkin menjalankan mobilnya untuk keluar dari gang. Sebelum mobil putih itu pergi dari samping gang rumah ini. Lagian untuk apa juga mama nya sampai ke sini? Apa mungkin Grace tahu, jika Rana berada di rumah Rania dan juga Adhitama?
Tidak!! Hal itu tidak boleh terjadi!!
Ketikan kaca membuat Rana menoleh kaget. Dia pun menatap satu pria yang berdiri di sampingnya dengan helm di masih dia kenakan. Tentu saja Rana langsung menurunkan kaca mobilnya, dan menatap pria itu tajam.
"Apa!!" cetus Rana kesal. Dia tahu jika pria itu datang pasti untuk marah-marah pada Rana. Karena mobilnya, yang memenuhi jalan dan pengendara lainnya tidak bisa lewat.
"Heh Mbak bisa nggak sih nyetir mobil? Ini jalan umum, bukan jalan nenek moyangmu!!" sewot orang itu.
"Biasa aja dong!! Ini juga mau lewat kok." jawab Rana tak kalah sewotnya.
"Yaudah buruan!!"
Rana menutup kaca mobilnya. Peduli setan dengan Grace yang akan tahu jika Rana berada di rumah Adhitama. Tapi nyatanya, ketika mobil Rana keluar dari gang. Mobil milik Grace sudah tidak ada disana. Langsung saja wanita itu melajukan mobilnya dengan cepat hingga ke rumah.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit, Rana pun sampai di depan rumahnya. Dia pun memarkirkan mobilnya secara asal. Dia tidak peduli jika mobil putih itu akan keluar atau tidak. Turun dari mobil dengan wajah gembelnya. Rana pun langsung ngacir masuk, dan melihat Grace yang sibuk sarapan dengan David ayah tirinya.
"Halo sayang … kamu kok baru pulang? Kemana aja kamu itu. Kok penampilan kamu begini banget.” kata Grace.
Rana tersenyum paksa dan menghampiri Grace. Dia pun menjelaskan pada Grace jika dia tidur di kantor. Dan Rana meninggalkan make up di rumah, di sana hanya ada kasur dan juga baju ganti saja. Bahkan ketika mandi Rana juga tidak mengenakan sabun mandi. Itu sebabnya dia terlihat kucel dan jelek.
Langsung saja Grace meminta Rana untuk segera mandi. Dia itu sebentar lagi akan menikah, dan Grace mengajak Rana untuk merawat diri di salon. Setidaknya, ketika menikah nanti kulit dan juga wajah Rana harus terlihat sehat dan bersih.
Wanita itu juga tidak menolak, dia pun hanya menganggukkan kepalanya kecil. Selain ngacir pergi ke kamarnya, Rana pun memilih memejamkan matanya sejenak. Kasur di rumah Rania membuat pinggangnya patah. Sangat keras dan tidak membuat Rana nyaman. Dia harus begadang akan hal itu, tidak ada pendingin ruangan dan juga ruangan yang sempit. Hidup kakaknya itu benar-benar menyedihkan.
-IstriPengganti-
Memasuki makan siang, Rania pun melepas celemek di tubuhnya. Dia pun memilih membeli roti panggang yang berada di seberang jalan. Entah kenapa akhir-akhir ini Rania ingin makan sekali roti panggang. Bahkan Rania juga lupa kapan terakhir dia membeli roti panggang untuk dirinya dan juga ayahnya.
“Mau kemana Ran, kok buru-buru.” kata Vano, ketika menyadari jika Rania ingin pergi dari cafe.
Ya selama ini Rania bekerja di salah satu cafe di ibukota. Cafe ini hampir setiap hari ramai pengunjung. Entah anak muda, ibu-ibu arisan atau bahkan beberapa orang pebisnis yang menyewa ruang privasi.
“Beli roti panggang Mas. Kenapa? Mau titip?”
Vano menggeleng. “Nggak lah. Cuma mau tanya aja.”
Rania menunjukkan wajah cemberutnya, dia pun memilih cepat pergi dari cafe ini sebelum roti panggang depan itu tutup. Maklum saja toko itu buka dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang, lalu buka kembali jam empat sore sampai jam sepuluh malam. Dan jika Rania belinya malam, sudah dipastikan jika dia tidak akan bisa. Karena cafe tempat dia bekerja akan ramai ketika malam datang,
Berlari ketika jalanan ibukota sedikit sepi, Rania pun sampai di depan toko roti panggang. Dengan cepat dia pun membeli banyak rasa dan juga roti kukus kesukaan ayahnya. Disini tidak hanya roti panggang saja yang dijual, tapi banyak aneka kue basah dan kering. Ada cupcake yang lucu dan juga kue tart yang tentunya sangat enak rasanya.
“Aku baru tau kalau ada donat.” kata Rania menatap satu kotak donat yang berisikan enam biji dengan rasa yang berbeda.
“Selama ini kamu kemana aja sih Ran. Itu donat udah di situ dari dua bulan yang lalu.” ucap karyawan toko roti ini, yang memiliki nama Bunga.
“Seriusan Mbak Bung, aku nggak tau kalau ada donat. Lagian aku juga udah lama banget gak mampir kesini.”
“Makanya jangan semedi aja kamu itu. Keluar-keluar cuma ke rumah sakit.”
Rania tertawa kecil, dia pun menyerahkan uang berwarna merah pada Bunga. Bukan masalah keluar atau tidak, selama ini Bunga juga tahu kan jika Rania banting tulang dan untuk hidup sehari-hari dan juga pengobatan ayahnya, Tapi saat ini Rania sudah tidak khawatir kembali dengan kesehatan ayahnya. Karena ayahnya sudah dioperasi dan penyakitnya tidak akan kambuh kembali.
Mendengar hal itu Bunga pun ikut senang, setidaknya beban hidup Rania terangkat satu. Dia bisa merasakan hidup normal layaknya pemuda lainnya, Yang merasakan nongkrong, ngopi dan juga jatuh cinta.
Ha … jatuh cinta? Dengan siapa? Toh, Rania juga tidak tahu harus melabuhkan hatinya pada siapa. Tidak mau berlama-lama, Rania pun memilih kembali ke cafe. Jam makan siangnya hampir saja habis karena membeli kue pada Bunga. Jangan sampai Rania tidak bisa makan karena terlalu lama mengobrol pada Bunga.
Perjalanan menuju ke cafe, yang ada Rania malah melihat Bagas yang membawa dua cup kopi s**u di tangannya. Rania pun menghampirinya dan mencari sosok Abrisam yang tidak ada di sampingnya.
“Bagas … .”
Bagas menoleh kaget dia pun meletakkan kopi panasnya di atas meja dan tersenyum ke arah Rania. “Rana … kamu kok ada disini, ngapain?”
“Aku lagi beli roti panggang, Kamu ngapain ada disini? Mas Abri mana?”
Bagas tersenyum kecil. Di pun menunjuk dimana mobilnya berada. "Abri ada di mobil. Mau ketemu?"
Rania menggeleng, dia pun memberikan satu kantong roti panggang pada Bagas. Dan meminta Bagas untuk memberikan roti panggang itu. Jika saja Rania tidak cepat kembali ke tempat kerja. Pasti Rania akan memberikan roti panggang itu sendiri pada Abrisam.
"Kasih ke dia ya. Maaf aku gak bisa ngasih sendiri, ada kerjaan yang harus aku kerjakan. Hmm, nggak papa kan, Gas?" kata Rania tidak enak hati.
Bagas tersenyum. "Iya nggak papa kok Rana. Nanti saya akan kasihkan ke Abri."
"Makasih ya Gas. Maaf udah ngerepotin kamu."
Bukannya marah atau apa, Bagas malah tersenyum kecil. Dia pun menatap punggung Rania yang pergi dari hadapannya. MTa BagS memicing, ketika melihat Rania yang masuk ke sebuah cafe. Dia baru sadar jika baju yang dipakai Rania sama dengan pegawai cafe di depan. Menatap kopinya yang hampir saja dingin, Bagas memilih kembali ke mobil. Tak lupa juga Bagas memberikan roti panggang itu pada Bagas.
"Ini apa?" tanya Abrisam heran.
"Roti panggang." jawab Bagas cuek.
Abrisam tahu jika itu roti panggang. Tapi kan Abrisam tidak meminta Bagas untuk membeli roti panggang. Dia hanya meminta Bagas untuk membelikan kopi s**u saja. Toh, Abrisam juga tidak ingin makan apapun saat ini.
Tidak mau disalahkan, Bagas pun menjelaskan jika dia tidak membeli roti panggang. Tapi, roti itu dia dapat dari Rana. Tadi ketika membeli kopi dan hw dak pergi, Bagas bertemu dengan Rana yang sedang membeli roti panggang. Dan Bagas juga melihat Rana ke sebuah cafe di seberang sana.
"Jadi … itu yang beli bukan aku. Tapi Rana, terus minta aku buat ngasih ini ke kamu. Jelas!!" terang Bagas dan membuat Abrisam tersenyum.
Pria itu langsung membuka kantong roti panggang yang diberikan Rania, dan memakannya dengan pelan. Melihat hal itu Bagas hanya mampu geleng kepala.
"Katanya nggak laper. Tapi diembat juga itu roti panggang!!" cibir Bagas dan membuat Abrisam terkekeh kecil.
"Cerewet!!"
-To Be Continued-