Rania mendadak gugup ketika dia bertemu dengan Selena, Ibu Abrisam. Siang ini Rania mendapat telepon dari Bagas. Jika Selena ingin bertemu dengan Rania. Ralat!! Sebenarnya ingin bertemu dengan Rana, karena Rania yang menggantikannya. Itu sebabnya dia datang, sedangkan Rana tentu saja wanita itu pergi entah kemana. Agar Grace tidak curiga dan marah padanya.
Seperti saat ini Selena yang mengundang Rania untuk makan siang bersamanya, dan juga membahas tentang pernikahan mereka. Selena juga memuji Rania yang pandai masak, dan rasa masakannya sangat enak. Selena berani bertaruh, jika wanita itu membuka usaha catering atau makanan ringan sudah dipastikan akan laku keras.
"Tante bisa aja." ucap Rania malu.
"Serius loh. Tadi sambal cumi kamu enak banget. Abri aja sampai nambah." goda Selena.
Rania tersipu malu, dia pun menyimpan sambal cumi yang ada di dalam lemari pendingin. Sambal cumi ini bisa bertahan dua minggu jika berada di lemari pendingin.
Kalau begini ceritanya, Selena juga betah kalau berada di dapur bersama dengan Rania. Selain lagi masak, Rania juga jago membuat nyaman Selena ketika mereka masak. Selena juga mempelajari banyak bumbu masakan yang sama sekali belum pernah dia masak.
"Tante aku kasih buah ini dulu ke mas Abri ya." kata Rania menunjukkan potongan buahnya.
Selena mengangguk, dia meminta Rania untuk segera pergi dari dapur. Kalau begini kan Selena juga tega jika harus meninggalkan Abrisam pada sosok wanita yang tepat. Selain baik dan menerima Abrisam apa adanya, wanita itu juga pandai memasak dan mengurus Abrisam. Alangkah baiknya, jika pernikahan mereka dipercepat, dengan begini Selena tidak akan merasa khawatir kembali.
Rania mencari keberadaan Abrisam yang katanya berada di ruang keluarga. Tapi karena rumah ini begitu besar dan luas layaknya lapangan, Rania sama sekali tidak menemukan Abrisam di setiap ruangan rumah ini.
"Mas Abri … " panggil Rania celingukan.
Dia sudah berkeliling dan nyatanya Rania sama sekali tidak menemukan Abrisam. Hingga akhirnya Rania pun menyerah, dia menganggap setelah makan Abrisam mungkin pergi ke kamarnya untuk istirahat. Tapi yang terjadi, ketika membalik badannya Rania malah dikejutkan kedatangan Abrisam yang sudah berdiri di belakang tubuh Rania. Untung saja wanita itu tidak gegabah dalam berjalan, hingga membuat wanita itu tidak menabrak Abrisam sedikitpun.
"Mas Abri … astaga, kaget loh aku." pekik Rania.
Abrisam tersenyum. "Maaf. Tadi aku dengar kamu manggil nama aku, makanya aku datang. Ada ada?"
Rania pun menarik tangan Abrisam untuk duduk. Dia baru saja mengupas buah apel untuk Abrisam. Tadi niatnya untuk makanan penutup Abrisam, tapi yang ada Abrisam malah sudah pergi lebih dulu sebelum Rania datang membawa buah untuk Abrisam.
Tersenyum tips Abrisam berniat untuk mengambil buahnya. Dia akan makan dengan keadaan berdiri, atau berjalan menuju kamarnya. Tapi yang ada Rania malah menarik tangan Abrisam untuk duduk lebih dulu. Tidak baik jika makan dalam keadaan berdiri atau berjalan. Karena kata ayah dulu, kalau makannya sambil gerak setannya juga makan.
Lelucon kecil itu membuat Abrisam tertawa kecil, hingga dia pun tersedak buah yang baru saja dia gigit. Tentu saja Rania langsung panik dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum dalam botol dan dia serahkan pada Abrisam.
"Makanya Mas, kalau makan itu jangan sambil ketawa. Keselek kan jadinya." kata Rania.
"Kamu yang bikin ketawa." protes Abrisam yang tidak terima.
"Kok aku sih, Mas. Kan aku idem-idem bae perasaan."
"Nyatanya ucapan kamu tadi bisa bikin saya ketawa. Mana ada makan sambil jalam, terus setannya ikut makan? Kamu emang udah pernah lihat setan makan apa?"
Secara langsung sih Rania belum pernah melihatnya. Tapi orang dulu itu percaya banget sama hal mistis. Kalau kita makan sambil gerak, setannya pasti ikut makan. Jadinya kita nggak akan pernah merasa kenyang, kecuali setannya yang kenyang. Bahkan Rania juga masih percaya kalau mencukur alis itu bisa melihat setan dengan jelas.
Tentu saja hal itu langsung membuat tawa Abrisam tidak berhenti. Dulu, setelah kecelakaan dia pernah kehilangan alisnya itu pun tidak hanya ada satu tapi dua. Tapi yang ada Abrisam juga tidak pernah melihat setan sama sekali. Dan Abrisam menganggap jika semua itu hanya mitos orang kuno. Kakek Abrisam orang Pribumi, sampai memiliki buku primbon. Masalah nikah atau jodoh pun harus dicocokkan dengan weton. Jika lebih banyak, atau mungkin tidak pas juga pernikahannya tidak akan berjalan dengan baik. Dan waktu itu, waktu Abrisam masih kecil juga suka ditakut-takuti, jika makan tidak habis nangis nasinya nangis. Tidak boleh menunjuk ke kuburan menggunakan jari telunjuk. Nanti jari telunjuk nya hilang. Tidak boleh nyanyi setengah-setengah. Jadi kalau nyanyi itu harus full, dari depan hingga akhir. Agar nanti tidak keluar bulu monyet.
"Dan bodohnya Mas dulu percaya begitu aja ya." kata Rania tanpa meninggalkan aksen tawanya yang khas.
"Iya. Apapun yang kakek aku ceritakan sama aku, itu aku percaya banget loh. Setelah dewasa kalau dipikir-pikir bego juga sih aku."
Rania semakin tertawa. Dia pun langsung meminta Abrisam untuk menghabiskan buahnya yang tinggal dua potong itu. Agar buahnya juga tidak menangis kalau tidak dihabiskan. Tentu saja hal itu juga langsung membuat Abrisam tertawa kecil.
"Tapi seru ya Mas kayak gitu. Coba aja kalau aku masih punya kakek. Pasti seru cerita masa lalu." kata Rania menunjukan raut sedihnya.
Abrisam tersenyum kecil. "Maaf ya, aku nggak tau kalau kakek kamu udah nggak ada."
"Nggak papa kok Mas. Udah takdirnya kakek waktu itu sampai di situ. Ayo Mas di buahnya dihabiskan."
Pria itu mengangguk dan melahap buah itu dengan cepat. Lalu merasakan piring kecil itu ditarik paksa hingga terlepas dari tangan Abrisam. Rania pun segera membawa piring itu ke dapur dan mencucinya. Setelahnya membantu Abrisam bangkit dari duduknya, dan menuntunnya ke kamar. Sambil berpamitan pulang ke rumah. Ini sudah sore dan ayah bisa saja mengkhawatirkan Rania karena belum pulang ke rumah.
" karena diantar Bagas ya." kata Abrisam.
"Gak perlu Mas, aku bisa pulang sendiri kok."
"Tapi Rana--"
"Udah nggak papa Mas. Aku bisa pulang sendiri, istirahat ya Mas. Aku pulang dulu." pamit Rania, bahkan wanita itu sampai menarik tangan Abrisam dan menciumnya.
Tentu saja hal itu langsung membuat pria itu terkejut, tapi sebisa mungkin Abrisam biasa saja hingga mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Itu tandanya Rania telah pergi dari kamar nya.
****
Rania sampai dirumah pukul enam sore. Untuk saja cuaca hari ini cerah dan tidak turun hujan. Dia tidak harus drama lagi, karena hujan turun dan membuat kepala Rania pusing. Bahkan tidak hanya itu, Rania juga dikejutkan oleh kedatangan Rana yang ternyata seharian ini menemani ayahnya di rumah. Meskipun rumahnya harus menjadi kapal pecah karena ulah Rana.
"Yang bayar tagihan AC siapa, Rana. Itu listriknya pasti mahal banget." kata Rania, menyodorkan satu kotak roti pandan pada ayah dan juga Rana.
Wanita itu menoleh cepat menatap Rania dan juga pendingin ruangan di kamarnya secara bergantian. "Calon istrinya Abrisam bayar listrik aja nggak mampu!!"
"Rana--"
"Aku yang bayar, kalau Kakak nggak mampu!"
Sebenarnya bukan tidak mampu. Rania itu mampu membelinya. Tapi kamu Rania hingga harus memikirkan biaya hidupnya selanjutnya setelah membeli barang seperti itu. Nyatanya kipas angin yang ada di kamar Rania saja tidak pernah menyala, apalagi ini pendingin ruangan yang dipakai atau tidak tetap mengenakan listrik.
"Sudah jangan bertengkar." lerai Adhitama.
"Dia boros Ayah." ucap Rania menunjuk Rana.
"Bukan boros tapi royal. Jangan pelit-pelit ih, kurus kering kan jadinya." ucap Rana tidak terima.
Rania hanya geleng kepala dia pun meminta Rana untuk makan saja dibanding harus banyak bicara. Rana juga menyinggung masalah Rania yang bertemu dengan Abrisam hari ini. Apa yang dia bahas, apa yang dia lakukan dan apa yang dia makan di rumah Abrisam.
Langsung saja Rania menjelaskan jika tadi di tadi dia sempat memasak sambal cumi, capcay, dan juga ayam goreng. Tidak ada yang dia bahas banyak dengan ini Abrisam. Karena wanita tua itu langsung pergi setelah makan siang, yang katanya ada urusan dadakan bersama dengan temannya. Yang diyakini Rana pasti mamanya juga salah satu teman tante Selena. Dan yang jelas tante Selena akan membanggakan Rana, karena jago masak dan juga masakannya enak.
"Terus sama si buta ngapain aja?" tanya Rana penasaran.
"Kita cuma makan. Habis itu aku ngapain dia buah, minta dia istirahat." jelas Rania.
"Cerita apa aja?"
"Masa lalu kok. Tentang kakeknya dulu. Udah itu aja sih, karena habis itu aku langsung pulang."
Rana mengangguk, dia pun langsung meraih kunci mobil dan juga roti pandan itu dan memakannya sambil jalan. Tepat dari depan pintu, Rana pun langsung berpamitan pulang. Wanita itu juga meminta Rania untuk di rumah besok, jangan pergi kemanapun sebelum Rana memberi perintah. Karena besok adalah jadwalnya Rana yang akan bertemu dengan Abrisam dan juga ibunya.
"Kenapa?" ucap Rania sendu.
Alis Rana pun mengerput. "Kenapa sedih gitu?" tanya Rana heran. "Udah jatuh cinta sama si buta?" ujarnya kembali.
"Nggak. Maksudnya kenapa mendadak?"
"Karena besok mama mau lihat baju pilihanmu. Jadi dia harus sama aku." jelas Rana dan membuat Rania mengangguk.
Rana pun nyelonong pergi begitu saja. Sedangkan Rania tentu saja hal itu membuat Rania sesak napas. Bukan perkara fisik, atau materi yang Rania lihat. Tapi dia udah terlanjur nyaman sama Abrisam, gimana dong? Mendengar Rana yang akan satu hari dengan Abrisam yang ada malah membuat Rania kepikiran terus.
Melihat reaksi itu Adhitama pun tersenyum dan berdehem. Hingga membuat Rania pun kembali tersenyum dan duduk di samping sang ayah.
"Kenapa Yah, mau minum?" tanya Rania heran.
Adhitama menggeleng. "Mau sampai kapan kamu begini terus? Mengalah dengan adikmu, dan mengikuti apapun yang adikmu inginkan? Kamu punya pilihan, lalu kenapa tidak memilih saja?" tanyanya dan membuat Rania diam.
Andai saja. Mungkin Rania juga akan memilih.
To Be Continued