IP-10

1592 Words
Rana mendadak gemas dengan Rania, yang tak kunjung datang. Ini sudah jam setengah tujuh pagi, dan Grace sudah menelponnya berulang kali, hanya menanyakan wanita itu ada dimana. Tentu saja dia ada di depan rumah Rania, hari ini adalah hari pernikahan Abrisam dan juga Rana. Yang dilangsungkan di sebuah gereja ibukota tepat jam sepuluh pagi. Grace meminta Rana untuk datang lebih dulu, karena wanita itu harus menjalani fitting bajunya kembali karena tidak cukup, belum lagi make up manten itu membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Dan sampai saat ini Rania belum juga menemuinya. Berkali-kali wanita itu menelponnya, mengirim pesan untuk segera keluar. Nyatanya Rania juga tak kunjung datang, hingga akhirnya membuat Rana mau tidak mau turun dari mobilnya. Wanita itu berlari kecil, mengetuk pintu rumah ini dengan tak sabarab. Bahkan Rana juga harus berteriak memanggil nama Rania agar mau keluar dari dalam rumah. Jangan sampai wanita itu berubah pikiran, dan kabur dari tanggung jawabnya. Yang harusnya kabur itu Rana bukan Rania, dan yang harus menikah ini Rania bukan Rana. Dia wanita bebas yang tidak suka komitmen atau apapun itu. “Rania … ,” teriak Rana sekali lagi. Pintu terbuka dengan lebar, menunjukkan wajah Adhitama yang sudah segar bugar dengan jas yang membalut tubuhnya. Rana mengerutkan keningnya, jika ayahnya saja sudah siap, lalu dimana Rania? Apa wanita itu lupa dengan janjinya? “Dia baru saja pulang jam dua belas malam, dan sekarang masih tidur.” kata Adhitama. Mendengus kesal, Rana pun nyelonong masuk. dia pun langsung membuka pintu kamar Rania dan menyeret wanita itu untuk segera bangun dari tidur indahnya. Grace sudah menunggunya dan jangans ampai dia beneran yang harus menikah dengan Abrisam. Rania yang diperlakukan seperti itu langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia pun terkejut dengan tarikan spontan Rana, yang langsung membuat jantung Rania berdetak kencang di atas normal. Tangan yang gemetaran dan juga pandangan yang berkunang-kunang. Nyawanya belum kembali seratus persen, dan dia sudah mendapatkan perlakuan yang tidak baik? “Rana … Kakakmu itu belum siap, nyawanya aja belum kembali sempurna. Jangan bersikap seperti itu.” tegur Adhitama. Rana mendengus, dia pun menatap Adhitama dengan gelisah. “Yah pernikahanku sebentar lagi. Dan Kak Rania belum siap apapun. aku harus bawa dia ke hotel, sebelum jam delapan pagi.” jelas Rana Rana melerai, dia tidak masalah kepalanya hanya pusing karena tarikan itu. Rana dan Adhitama tidak perlu berdebat hanya karena dirinya, lagian ini hanya masalah sepele saja. Rania yang terlambat bangun, karena dia baru saja pulang jam dua belas malam. Itu pun Rania juga tidak langsung tidur. Yang awalnya wanita itu berpikir jam sembilan malam pulang, nyatanya Abrisam malah masih mengajak Rania pergi ke bukit, hanya untuk menikmati gemerlap lampu, meskipun hanya Rania yang melihat dan Abrisam yang hanya duduk di sampingnya tanpa mau melakukan apapun. Tidak mau membuang waktu, dan juga Abrisam yang sudah siap dengan jasnya. Rana langsung mengajak Rania untuk pergi ke hotel, dimana tempat pernikahan mereka. Lagian, Adhitama sudah siap dengan jas hitamnya, yang menandakan pria tua itu sudah siap untuk pergi ke pernikahan putrinya ‘bukan? Menarik tangan wanita itu dengan kasar, tanpa disadari Rana, jika kakaknya yang masih mengantuk, keningnya langsung terbentur pinggiran pintu rumahnya dan membuatnya mengaduh kesakitan. “Makanya kalau jalan itu dilihat!! udah tau ada pintu, tempatnya disana kenapa harus ditabrak!!” omel Rana. Dia sadar nggak sih, kalau kening Rania begini juga karena dia? Tidak mau berdebat sama sekali, Rania pun langsung menarik tangannya dari genggaman Rana. Dia pun meminta Rana untuk berjalan lebih dulu, dan barulah dia yang akan mengekor di belakang Rana. Dia akan membuka matanya selebar mungkin, untuk melihat jalan yang masih buram di pandangan mata Rana. Jalan yang lelet saja, membuat Rana gemas. Dia kembali menarik tangan Rania hingga sampai di samping mobilnya. Mendorong wanita itu masuk ke dalam mobil. Dan barulah mereka meninggalkan pekarangan rumah ini, tanpa memikirkan bagaimana Adhitama berangkat untuk menghadiri pernikahan putrinya. Sejujurnya Abrisam sengaja melakukan hal ini, dia beberapa kali mematikan alarm ponsel Rania. Mensilent ponsel putrinya, agar tetap tidur. Orang tua mana yang tega melihat putrinya menikah dengan orang yang tidak dicintai sama sekali? Bahkan Adhitama juga memikirkan masa depan Rania yang menikah dengan orang buta. Meskipun orang kaya, tapi tetap saja Adhitama memikirkan beban kehidupans elanjutnya yang akan dipikul oleh Rania. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, akhirnya mereka pun sampai di hotel. Rana memilih jalans ambil, dia pun menutup wajahnya dengan kain hitam, masker hitam, dan juga kacamata hitam. Untuk menyamarkan, atau setidaknya mereka tidak ada yang boleh tahu jika mereka ini kembar. Sesampainya di depan pintu, Rana pun meminta Rania untuk mengikuti aba-abanya. Rana itu terkenal judes dan galak, menunjukkan wajah galaknya bukan wajah ramah atau mungkin wajah murah senyum macam Rania. Dan Rana juga meminta Rania untuk menutupi tahi lalatnya yang ada di bawah mata kiri, agar nanti ketika pemberkatan atau sungkem pada grace dan David mereka tidak curiga, jika itu bukan Rana. Dan yang pasti Rana meminta Rania untuk membisikkan kata-kata pedas. Jika dia ingin menolak dan mengakhiri hubungan ini jika Rana tidak puas dengan Abrisam. “Itu yang harus kamu katakan.” kata Rana. Rania mengangguk patuh. “Apa lagi?” “Nggak ada. masuk sana. aku akan duduk paling belakang dengan baju hitam ini, setelah kamu resmi menikah dan memastikan tidak ada orang yang curiga dengan pernikahan ini. Aku akan langsung pergi, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Ini kali pertama dan terakhir aku meminta tolong padamu, dan terima kasih telah menyelamatkan ku dari pernikahan sialan ini.” kata Rana panjang lebar dan menahan tangisannya. Dia juga tidak tega melakukan ini pada Rania, tapi Rana tidak memiliki pilihan selain melakukan ini. kekangan Grace membuat Rana gila, dia ingin hidup bebas tanpa aturan, tapi dia sendiri yang memiliki aturan pada. Jika saja dia bisa memilih, alangkah lebih baik jika dia memiliki kehidupan seperti Rania, bebas berpendapat, bebas melakukan apapun yang dia suka. Jujur … Rana iri dengan kehidupan Rania meskipun serba kekurangan tapi wanita itu bisa merasakan kebahagian yang sama sekali tak pernah Rana rasakan. “Jaga dirimu baik-baik, aku pasti akan merindukanmu kalau kamu jauh.” kata Rania menangis. Rana tersenyum kecil, dia pun mengangguk dan meminta Rania untuk segera masuk. Memeluk saudara perempuannya, berkali-kali Rana mengucapkan banyak terima kasih pada kakaknya itu, yang sudah menyelamatkan hidupnya. Dia berharap, jika Abrisam mampu membahagiakan Rania setelah mereka menikah. Hidup Rania sudah menderita, dan mungkin ini balas budi Rana yang dimana ibunya begitu kejam meninggalkan ayah dan kakaknya. **** Tepat jam sebelas siang, akhirnya Rania resmi menjadi istri dari seorang pengusaha Abrisam Achazia Aksa, jantung Rania tak berhenti berdetak kencang. Dia masih ketakutan, dengan banyaknya orang yang mulai menatap dirinya dengan memuja. Ada yang bertanya siapa namanya, ada yang bertanya berasal dari keluarga mana. Hanya Grace yang mampu menjawab semua itu, sedangkan Rania hanya menundukkan kepalanya saja. Dia lupa apa yang Rana katakan padanya sebelum wanita itu pergi. Setelah romo mengatakan jika Rania dan Abrisa. susah resmi menjadi suami istri, wanita itu sempat melirik ke arah tempat duduk Rana yang paling ujung. Wanita itu langsung bangkit dari duduknya, melambaikan tangannya ke arah Rania dan pergi begitu saja. Entah bagaimana perasaan Rana saat ini, tapi yang dirasakan Rania saat ini adalah sesak. Dia merasa sesak melihat saudara kembarnya harus pergi dari ibukota untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika saja hidup itu adil, Rania yakin dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Menegakkan tubuhnya, ketika sebuah resleting tertarik ke atas. Rania pun tersenyum simpul di depan cermin, wanita itu langsung bangkit dari duduknya. Untuk merapikan gaun ya "Beberapa hari yang lalu, baju ini sempat tidak cukup kamu pakai. Dan sekarang … gaunnya sudah cukup. Apa kamu sedang diet?" tanya Megan. Rania mengangguk, "Iya aku diet beberapa hari ini, agar bajunya muat kembali." Megan tersenyum, sejujurnya dia penasaran dengan hal ini. Baju ini diukur pas di tubuh Rania, dan ketika dicoba untuk kedua kalinya Megan tercengah dengan postur tubuh Rana yang dempal. Dan sekarang gaun itu sudah muat kembali? Kalau dihitung itu hanya terhitung tiga hari saja. Mana mungkin bisa diet secepat itu? Megan menarik tangan Rania, untuk segera bangkit dari duduknya. Dia harus segera turun, karena Abrisam sedang menunggunya dibawah. Pria itu tidak akan mengulurkan tangannya di tangga bawah, seperti yang ada di film-film. Hanya akan ada lagu romantis yang terdengar di telinga Rania. Itu sebabnya, Megan lebih memilih mengantar Rania turun ke bawah untuk bertemu dengan Abrisam. "Harus ya?" tanya Rania bingung. Megan semakin bingung menatap Rania, "Memangnya kamu nggak mau ketemu suami kamu apa?" "Aku--gugup bertemu dengan dia." Megan tertawa kecil, dia pun langsung menggandeng tangan Rania lembut menuntut wanita itu keluar dari kamar. Di bawah sana sudah ada banyak tamu yang menunggu dan melihat penampilan Rania seperti apa. Meskipun Abrisam tidak bisa melihatnya dia juga akan merasakan bangga pada Rania, jika dia memiliki istri yang cantik malam ini. "Jangan gugup … Ini hanya resepsi. Belum nanti malam kan?" katanya berbisik. Rania mendekat bingung dia semakin bingung dengan ucapkan wanita itu. Bukannya ini sudah malam? Bahkan jika dilihat ini sudah jam delapan malam kan? Entah dorongan dari mana Megan ingin sekali menggoda pengantin baru ini. Menghentikan langkahnya Megan pun mulai berbisik. "Kamu akan tambah gugup lagi jika di atas ranjang. Bukannya nanti malam, akan menjadi malam panjang untuk kalian berdua?" Seketika itu juga Rania membulatkan matanya. Dia tahu arah ucapkan wanita itu ke arah mana. Dan beberapa hari ini juga Rania sempat memikirkan hal itu juga. Malam pertama yang entah nanti bentuknya dari mana. Rania saja belum membayangkan dan belum bisa membayangkan, bagaimana Abrisam menyentuhnya. Tapi … apa mungkin nanti malam mereka akan melakukan hal itu? To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD