5

1176 Words
Raffa Adi Wijaya adalah seorang dosen muda di sebuah universitas ternama di Jogja. Ia tumbuh dan besar di lingkungan pondok pesantren hingga memasuki bangku kuliah. Setelah lulus dan menjadi sarjana, Raffa menerima beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir selama 4 tahun. Raffa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Raffa remaja memang seorang pemuda yang penuh prestasi, sifatnya pendiam dan lebih senang menyibukkan diri dengan membaca buku. Namun dengan sikapnya itu, ia mampu bergabung dengan sebuah organisasi kemahasiswaan yang membuatnya semakin dikenal berbagai kalangan. Raffa remaja penuh dengan ambisi untuk menyelesaikan pendidikannya. Tidak ada kisah percintaan yang mewarnai sebagian perjalanan hidupnya. Ia terlalu serius belajar dan menata masa depannya sendiri hingga sampai diusiannya yang ke 35, ia masih melajang dan tengah menyelesaikan pendidikan doktornya. Keseriusannya dalam belajar membuatnya menjadi kaku dalam menghadapi persoalan asmara. Raffa sendiri berkali-kali secara tidak sengaja dekat dengan seorang wanita. Kebanyakan ia dekat karena teman-temannya yang usil dan sengaja mengenalkannya dengan wanita-wanita yang tertarik padanya. Dan Raffa tidak pernah benar-benar membawa mereka ke dalam sebuah hubungan romantis. Raffa menolak mereka semua mentah-mentah. Membuat banyak perempuan menangis patah hati. Di sisi lain, sang bapak juga mengeluhkan anak bungsunya yang tak kunjung menikah. Meskipun begitu, ia tak terlalu ikut campur dengan mencarikannya kandidat untuk dijadikannya menantu. Ia hanya ingin Raffa sendiri yang membawa calon istrinya itu ke hadapannya. Dan karena itu, sudah ada beberapa teman lamanya itu datang kepadanya dan menawarkan anaknya untuk berbesanan. Dan lagi, sang bapak tidak menyetujuinya kala sang anak menolaknya. Entah apa yang dicari anaknya sampai Raffa menolak semua perempuan yang datang kepadanya. Sudirman hanya berharap ia masih bisa menyaksikan anak bungsunya menikah sebelum ajal menjemputnya. **** Di sebuah ruangan kampus, Raffa terlihat duduk terdiam menatap mahasiswa yang tengah presentasi. Ia terlihat memperhatikan meskipun pikirannya melayang entah kemana. Para siswa menatap gelagat aneh dosennya yang tak biasa. Sudah dua pertemuan dalam pekan ini dan mereka melihat Raffa yang kurang fokus dalam mengajar. Ia sering terlihat diam dengan pikiran yang tak fokus di tempat. "Demikian penjelasan penafsiran surah Al-insyirah dari ayat satu sampai sebelas yang berkaitan dengan kehidupan modern dan bagaimana kita sebagai pemuda dan pemudi dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sekian dan terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh." Suara riuh tepuk tangan mengakhiri presentasi dari sebuah kelompok tugas. Raffa yang menyadari bahwa tugas penyampaian kelompok itu selesai ikut bertepuk tangan dan mengambil lembar kerja yang diberikan siswanya. "Silahkan duduk kembali." ucap Raffa tenang sembari fokus pada lembaran kertas itu. Diam-diam ia merutuk kesal, pikirannya menjadi buyar karena terlalu memikirkan sosok perempuan cantik di kampung halamannya. Ada rasa resah yang melingkupi hatinya hanya karena seorang perempuan. Raffa tahu ia telah mengambil tindakan yang tepat, memberitahu Layla akan perasaannya, lalu meminta Layla menunggu dirinya hingga waktu yang tiba untuk segera ia pinang. Raffa sempat berpikir, meninggalnya suami pertama Layla mungkin merupakan jalan tuhan untuk dirinya memiliki perempuan itu. Dengan demikian, ia akan berusaha mendapatkan Layla dan menyingkiran laki-laki yang berusaha mendekati janda cantik itu. Pikiran Raffa kembali ke kelasnya saat ini. Ia menatap seluruh siswa yang sedang santai berbincang dan berdiskusi. Kemudian ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum menunjukkan angka 11, sudah waktunya ia membubarkan kelas. "Sudah cukup untuk kegiatan kelas ini. Saya minta dua kelompok kelas lagi mempersiapkan materimya untuk presentasi pekan depan. Sekian, Assalamu'alaikum." Serempak para siswa menjawab salam dari dosennya yang berlalu keluar. Raffa melangkah kecil melihat suasana lorong kampus yang tak terlalu ramai. Sebagian kelas masih terisi oleh mahasiswa dan Raffa bisa berjalan tenang tanpa sapaan dan lirikan dari beberapa mahasiswa. Hingga sebuah sapaan di belakang membuat Raffa menghentikan langkahnya, "Assalamu'alaikum pak Raffa." ucap seorang mahasiswi berhijab peach, terlihat menyilaukan dengan warna kulitnya yang seputih s**u. Raffa mengangguk lantas menjawab salam itu. "Wa'alaikum salam, Eva. Ada apa memanggil saya?" tanya Raffa formal, menatap salah satu siswanya di kelas tafsir tadi dengan tanda tanya. "Saya lihat bapak kurang fokus di kelas tadi, apa bapak baik-baik saja?" tanya Eva yang memang sejak di kelas selalu memperhatikan dosen muda itu. Eva sendiri sedikit dekat dengan dosennya itu. Ia adalah sosok yang membimbing dirinya serta mamanya dalam mengenali dan belajar agama islam. Eva sendiri adalah seorang pebisnis muda yang baru saja mualaf bersama ibunya. Namun karena rasa ketertarikannya yang besar terhadap islam, gadis itu memutuskan untuk kembali kuliah dan belajar lebih serius terhadap agama yang dianutnya sekarang. Dan kebetulan, Raffa kini kembali menjadi salah satu dosennya membuat Eva senang karena ia tidak menampik bahwa ia kagum dan menyukai sosok berkharisma itu. "Saya baik, ahlamdulillah." jawab Raffa dengan sedikit senyum. "Alhamdulillah, kalau begitu. Saya pikir bapak sedang sakit." Raffa menggeleng, lalu kembali berpamitan, "Kalau begitu saya permisi dulu." "Ehm, tunggu... Kata mama, kalau bapak punya waktu luang dan berkenan, bisa hadir di acara pengajian di rumah sore nanti." Raffa berpikir sejenak menatap Eva yang tengah menanti jawaban, "Sepertinya saya tidak bisa, keponakan saya akan datang ke rumah. Tolong sampaikan salam dan permintaan maaf saya ke bu Jane." "Baik, terima kasih pak." jawab Eva sedikit lesu akan penolakan Raffa. Raffa kemudian mengucapkan salam lalu kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan, Raffa mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya. Ia mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi keponakannya untuk menanyakan kesiapan Aleea. Keponakannya itu akan menginap di rumahnya saat akhir pekan. Raffa pun keluar dari ruangannya dan berlalu meninggalkan area kampus. Ia mengendarai mobilnya ke sebuah komplek yayasan tahfidz qur'an dimana Aleea tinggal disana. Setelah sampai di halaman depan, Raffa memarkirkan mobilnya bersamaan dengan datangnya sang ponakan dari dalam gedung. Terlihat Aleea yang mengenalan abaya hitam berjalan menghampiri pos penjaga dan menyerahkan surat izinnya sebelum memasuki mobil yang dikendarai Raffa. "Om gak mau ketemu ustadz Hilmi dulu?" tanya Aleea begitu duduk di atas kursi mobil lalu menyalami pamannya itu. Raffa sendiri langsung menstater mobilnya dan melajukan mobil keluar gerbang. "Langsung pulang aja, kalau ketemu dulu pasti ngobrol lama dan kamu jadi bete sama om." Ustadz Hilmi sendiri merupakan teman Raffa semasa kuliah sarjana dulu, dan kini ia merupakan salah satu dewan pondok yayasan tempat Aleea mengajar. "Gimana ngajar kamu semester ini?" tanya Raffa mengenai kegiatan Aleea di asrama, karena selain kuliah, keponakannya itu memiliki kegiatan mengajar santri pondok yayasan itu. "Ya begitulah om, anak-anak sudah lebih giat menghafalnya. Jadi Leea tinggal banyakin muroja'ahnya." Jawab Aleea kurang semangat, seperti sedang menyimpan suatu beban di dalam benaknya. Raffa yang selalu peka akan kondisi keponakannya merasa heran. "Kenapa lesu begitu?" tanya-nya penasaran. Aleea tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan banyak bercerita jika sudah bertemu dengannya. "Leea lagi ngerasa bersalah banget sama Layla, om." Raffa mencerna sejenak ucapan Aleea barusan. Ah, mendengar namanya disebutkan membuat perasaan Raffa berdebar. Ada perasaan rindu yang kuat untuk melihat kembali sosok yang telah lama dinantinya. Diam-diam Raffa menatap Aleea yang muram dengan tatapan tertarik ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Layla. "Memangnya kenapa?" "Tadi kan kita vc-an, terus Leea malah ngomongin si Riko." Raffa berdehem kala nama laki-laki asing disebut oleh keponakannya, siapa dia? Aleea memang sering curhat dengannya, apalagi tentang Layla, namun nama laki-laki itu belum pernah terdengar olehnya, atau ia hanya lupa? "Siapa Riko?" tanya Raffa sedikit was-was. Namun dengan raut wajah yang datar, seolah sosok itu tak menarik perhatiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD