"Siapa Riko?" tanya Raffa sedikit was-was. Namun dengan raut wajah yang datar, seolah sosok itu tak menarik perhatiannya.
Aleea pun menatap om-nya dan mulai bercerita, dan Raffa sesekali menoleh dari arah jalanan untuk merespon ucapan Aleea.
"Temen sekelas dulu. Dulu kan dia naksir berat sama Layla. Saking sukanya itu sampai satu sekolahan pada tahu. Tapi Layla gak suka dan selalu nyuekin dia. Tapi si Riko tetep kekeuh suka sama Layla sampai-sampai pas waktu nikahan Layla, dia bukannya ngasih selamat, malah ngirim pesan "Kutunggu jandamu, Layla. Waktu itu dia gak dateng ke nikahannya Layla, kayaknya patah hati berat."
Raffa berdehem gusar, kenapa ia baru tahu ada lelaki lain yang begitu tertarik kepada Layla? Apalagi sejak masa sekolah?
"Tapi om jangan kasih tahu siapa-siapa ya, ini rahasia. Layla gak mau orang lain tahu." ucap Aleea dengan tatapan memohon.
Raffa hanya mengangguk meng-iya kan. Lagi pula, memangnya dia mau cerita ke siapa semua curhatan keponakannya yang cerewet itu? Dia sendiri baru menyadari belum ada sosok yang selalu menjadi tempat bercerita dan berkeluh kesah selain keponakannya itu. Meskipun perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh, namun mereka sudah tinggal dan diasuh bersama sedari kecil.
Aleea kecil adalah korban dari retaknya rumah tangga kedua orang tuanya. Keduanya bercerai dan memilih jalan kehidupan masing-masing, meninggalkan anak kecil yang masih menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya.
Namun, Aleea tidak mendapatkannya. Sejak orang tuanya berpisah, ia diasuh oleh nenek dan kakeknya yang tak lain adalah orang tua Raffa. Sementara mamanya Aleea memilih bekerja di luar kota dan bahkan mempunyai keluarga baru di sana.
Oleh karena itu, Raffa selalu merasa kasihan dan selalu ingin menjadi orang terdekat yang Aleea butuhkan kapanpun. Hingga kini mereka begitu dekat dan saling menyayangi melebihi kakak beradik.
"Kalau rahasia, kenapa kamu kasih tahu om?"
"Om kan bisa jaga rahasia." ujar Aleea terkekeh, menampilkan gigi putihnya.
"Terus kenapa harus dirahasiakan?"
"Kata Layla itu aib."
Raffa terkekeh, entah kenapa ia membayangkan wajah Layla yang cemberut kalau tahu rahasianya itu sudah ia ketahui. Ia jadi teringat, apakah dirinya juga aib karena sudah menyatakan perasaannya waktu itu?
Sepertinya Layla tidak menceritakan kejadian itu kepada Aleea. Dan Raffa merasa bersyukur akan hal itu. Karena jika iya, keponakannya itu pasti akan meledeknya habis-habisan.
"Jadi, si Riko itu masih naksir Layla sampai sekarang?" tanya Raffa pemasaran.
Aleea mengangguk ragu, "Kayaknya iya. Soalnya akhir-akhir ini dia sering nge-chat Leea nanyain Layla terus."
"Layla tahu itu?" Kembali Aleea mengangguk, membuat Raffa dilanda penasaran. "Leea kasih tahu tadi."
"Terus responnya gimana?"
"Marah." Raffa terkejut, namun hatinya merasa senang akan hal itu. "Kenapa marah?"
"Ya... Salah Leea juga sih malah ngomongin cowok disaat suaminya baru meninggal. Dia marah, kenapa orang-orang suka ngomongin cowok, mentang-mentang dia janda, gitu."
"Makanya kamu jangan jodoh-jodohin Layla sama si Riko itu." ujar Raffa dengan tatapan yang lurus ke depan.
"Enggak jodohin, om. Lagian Layla juga gak bakalan mau sama si Riko."
"Memangnya kenapa?" tanya Raffa dengan rasa penasaran yanh tak bisa disembunyikan. Semakin lama mendengar cerita Aleea, semakin tinggi pula rasa penasaran akan ceritanya, terutama tentang Layla.
"Bukan type-nya Layla. Leea juga setuju sih, masa perempuan se-alim dan sekalem dia sama cowok begajulan kayak si Riko, mana dia playboy pula. Emang sih ganteng, tapi dikiiitt. Pokoknya masih gantengan om lah. Menang om kemana-mana."
Raffa diam-diam tersenyum senang mendengar penuturan Aleea. Secara fisik dan penampilan, berarti ia menang dari pada si Riko itu.
Di pertigaan, Raffa membelokkan mobilnya ke sebuah kawasan yang menjadi tempat acara bazar UMKM.
Aleea merasa heran sekaligus senang, karena ia belum sempat mengunjungi bazar tersebut.
"Eh, kenapa belok ke sini om?" tanya-nya pura-pura terkejut.
"Gak mau jajan? Yaudah, putar balik aja." ujar Raffa saat hendak memasuki area parkir. Namun Aleea segera mencegahnya, "Eh... Mau lah om."
"Terusin cerita kamu." ujar Raffa sembari mencari tempat parkir yang kosong. Kebetulan tempat itu sudah ramai meskipun hari masih siang mengingat besok adalah akhir pekan.
"Gak biasanya... Dipuji dikit langsung ngasih jajan." gumam Aleea mengetahui alasan Raffa yang tiba-tiba ini. Biasanya lelaki itu malas mengajak keponakannya untuk jajan di luar.
"Om baru gajian, Leea. Gak boleh traktir?" kilah Raffa dengan wajah datar. Hal itu membuat Aleea mencebik jengah. 'Alasan klise.'
"Yasudah, lanjutin dulu cerita kamu."
"Lanjutin apa..." tanya Aleea yang langsung disela oleh Raffa, "Tentang Layla."
Aleea berpikir sejenak sebelum kembali bercerita, "Ehmm... Layla tuh sukanya cowok yang kalem, otaknya pinter, jago ngaji, tinggi, alim. Makanya pas kak Raihan ngajak ta'arufan dia gak nolak."
"Dulu kalian satu pondok?" tanya-nya mengenai Raihan, almarhum suami Layla.
"Enggak, dulu kak Raihan suka main ke anak dewan di pondok dan mungkin ngelihat Layla terus terpesona sama dia. Terus pdkt kirim-kirim surat gitu."
"Kenapa kamu mesem-mesem gitu sih?" tanya Raffa melihat ekspresi Aleea yang senyum-senyum malu.
"Ya seru aja ngingetnya. Leea aja nge-fans sama dia. Pokoknya dia tuh sebelas dua belas sama om, idamannya para santriwati." ucap Aleea sambil terkikik, lalu muram kemudian,
"Sayangnya umur kak Raihan gak lama." ujarnya sambil menerawang, mengingat kabar duka yang disampaikan kakeknya melalui sambungan telepon.