Suasana di dalam mobil cukup hening beberapa saat. Raffa menatap Layla lekat, menuntut kejelasan dari apa yang sebelumnya ia ucapkan. Berharap perempuan itu mau sedikit terbuka kepadanya dan menceritakan semua perasaannya. Cukup lama Layla terdiam, menatap lurus ke depan ke arah pohon rambutan yang tengah berbuah dan melambai-lambai tertiup angin. Pohon itu seakan menjadi saksi bisu keraguan dan kesedihan yang Layla rasakan. Akhirnya, dengan suara lirih dan terbata-bata, Layla mengungkapkan semua beban yang selama ini bertumpuk di hatinya. "Sekarang mas mengerti kan, kenapa aku menghindar terus? Aku lagi menghindari fitnah. Aku gak mau namaku dianggap buruk dengan statusku saat ini. Orang-orang dan bahkan ibu mertua sendiri menganggap aku murahan karena sudah berani dekat-dekat dengan

