Bab 8. Suara Degup Jantung

1124 Words
"Halo? Bu Ana? Ini, saya Zara yang menempati apartemen Anda, Bu." Zara berbicara melalui ponsel dengan pemilik apartemen. "Oh iya, Mbak Zara? Bagaimana? Apa sudah pindah ke apartemen?" "Sudah, Bu. Baru hari ini saya pindah." "Syukurlah. Kenapa tiba-tiba Mbak menelpon? Apa ada yang tidak beres di apartemen?" "Eemm ... jadi begini, Bu. Apa bisa saya membatalkan kontrak sewanya?" "Apa?! Yang benar saja, Mbak?! Mana boleh begitu?! Sudah tanda tangan kontrak ya tidak bisa dibatalkan!" jawab pemilik apartemen sewot. "Tolonglah, Bu. Nanti saya bersedia menerima setengah uangnya." "Mbak Zara sudah saya kasih diskon banyak, lho! Maaf, ya Mbak. Tidak bisa dibatalkan!" "Tapi, Bu ...." Belum sempat Zara meneruskan kalimatnya, mendadak panggilan sudah terputus. Zara menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat layar yang sudah padam. Zara kembali menghubungi nomor pemilik apartemen. Namun, langsung tidak aktif. Membuat Zara mengkerutkan kening tanda putus asa. Zara pun mengambrukkan diri di sofa dan membuang ponsel di sampingnya. "Habislah aku ...! Apalagi aku sudah menyewa selama enam bulan!" kata Zara berbicara sendiri sembari memijat keningnya. "Kenapa ini bisa terjadi padaku? Semakin menghindar kenapa justru semakin dekat? Benar-benar sial sekali ...!" tambahnya sembari menghela nafas berat. Zara kembali menghela nafas. Tidak ada pilihan lain lagi. Ia lalu berdiri dan kembali untuk melanjutkan beres-beres di apartemen barunya itu. Sedangkan di tempat Kaidan, Lutfi dan Kaidan baru selesai makan bersama. Lutfi bermain game di tempat Kaidan. Sedangkan Kaidan, sedang fokus bekerja di depan laptop miliknya. "Ayo ...! Tembak! Tembak! Jangan mau kalah! Aaarrg!" seru Lutfi fokus bermain game sambil terus berseru sendirian. Kaidan yang sedang konsentrasi itu pun mengkerutkan kening melihat ke arah Lutfi. Ia benar-benar terganggu dengan Lutfi yang berisik. Sekian detik kemudian, Kaidan mencoba kembali fokus pada laptopnya. "Sial! Kalah lagi!" teriak Lutfi sambil membanting stik video gamenya. Kaidan tidak tahan lagi! Ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Lutfi. Ia lalu mematikan video game Lutfi begitu saja. Membuat Lutfi terhenyak kaget dibuatnya. "Apa yang kau lakukan?! Aku mau main satu ronde lagi!" seru Lutfi tidak terima. "Pergilah dari rumahku! Kau sangat mengganggu sekali! Aku mau fokus mengerjakan proyek baru!" kata Kaidan yang segera membereskan permainan game-nya. "Hei ...! Hei! Aku mau tidur di sini!" "Kau hanya akan berteriak sampai malam! Cepat keluarlah!" "Dan, aku janji akan membantumu bekerja malam ini!" Lutfi langsung berdiri dan mencoba membujuk Kaidan. "Aku tidak percaya padamu! Cepat keluar saja!" kata Kaidan yang berhasil membawa keluar Lutfi. "Dan, paling tidak biarkan aku main satu ronde lagi!" "Tidak!" tolak Kaidan. "Kau benar-benar tidak berubah dari dulu! Baiklah ... baiklah! Aku akan pulang!" kata Lutfi sembari memakai sepatunya. Setelah memakai sepatu, Lutfi menoleh ke apartemen Zara yang masih tertutup. "Eh! Ngomong-ngomong Zara belum selesai. Kenapa kita tidak membantunya?" ujar Lutfi berjalan mendekat ke arah pintu apartemen Zara. Kaidan yang melihatnya pun langsung menautkan kedua alis. Ia segera berjalan menyusul Lutfi dan menariknya. "Sudahlah! Jangan mencampuri urusan orang! Pulang saja sana!" Kaidan menarik Lutfi dan memaksanya masuk ke dalam lift. "Hei ...! Ada apa denganmu?!" Lutfi mencoba melawan. Namun, Kaidan tetap memaksa. Kaidan kembali membuat Lutfi masuk ke dalam lift. Sampai akhirnya Lutfi hanya pasrah dan menuruti Kaidan masuk ke dalam lift. "Iya ... iya! Aku pulang!" ujar Lutfi yang tidak bisa lagi menolak. Ia masuk ke dalam lift. Pintu lift yang akan tertutup tiba-tiba terbuka kembali. Lutfi mencegah dengan tangannya. "Hei, Dan! Sampaikan salamku pada Zara kalau dia keluar, ya! Nanti bilang kalau—" "Sudah! Aku tidak mau mendengarmu lagi! Pergilah!" potong Kaidan kembali mendorong Lutfi masuk. Lutfi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kaidan benar-benar tidak peduli. Pintu lift pun tertutup. Kaidan menunggu sesaat sampai lift benar-benar turun dan memastikan Lutfi pergi. Setelah itu Kaidan akan kembali ke arah pintu apartemennya. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah apartemen Zara. Otomatis, Kaidan menolehkan kepala ke arah Zara. Terjadi saling tatap antara mereka dan suasana mendadak berubah canggung. Keduanya hanya saling diam dan tidak menyapa satu sama lain. Sekian detik kemudian, Zara segera mengalihkan pandangan mengabaikan Kaidan. Ia memilih untuk kembali membereskan barangnya. Ia mengambil satu buah kardus dan membawanya masuk ke dalam. Ketika baru satu langkah masuk, tiba-tiba listrik di rumah Zara padam. Membuat Zara terkejut. Kaidan masih diam melihatnya. Zara mencoba kembali melangkah masuk. Tapi, karena gelap, ia tersandung sesuatu membuatnya terjatuh bersama kardusnya. Zara refleks berteriak. Kaidan pun ikut terkejut. Ia baru saja melihat Zara terjatuh. Zara yang masih di lantai itu, duduk dan mengusap sikunya yang sakit, karena tergores sesuatu. Kaidan pun segera berlari untuk menolong Zara. "Kamu tidak apa-apa?!" tanya Kaidan menolong Zara berdiri. "Iya. Tidak apa-apa. Terima kasih," ujar Zara sembari mengusap-usap sikunya. "Kenapa listriknya bisa mati?" tanya Kaidan. "Aku juga tidak tahu? Aku akan menelpon pemiliknya dulu," jawab Zara mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Zara menelpon ibu pemilik apartemen. Namun, ternyata ponsel pemilik apartemen masih tidak aktif. Membuat Zara merasa kembali menjauhkan ponsel sembari menautkan kedua alis. "Tidak aktif!" gumam Zara pelan berbicara sendiri. "Coba aku lihat!" kata Kaidan yang langsung berjalan memasuki apartemen Zara begitu saja. Zara terhenyak. Ia ingin mencegah Kaidan, tapi Kaidan sudah lebih dulu masuk. Zara pun hanya bisa pasrah. Ia mengikuti Kaidan yang sudah di dalam apartemennya. Kaidan menerangi di dalam ruangan dengan senter ponsel untuk mencari tempat sekering lampu. Di dalam apartemen Zara memang masih berantakan karena ia belum selesai beres-beres. Begitu Kaidan menemukan tempat sekering, Kaidan berjalan mendekat. Zara pun mengikutinya. Kaidan membuka sekering untuk memeriksanya. Ia menerangi bagian sekering dengan senter di ponselnya. Zara hanya diam menunggu Kaidan memeriksa. "Sekeringnya terputus," kata Kaidan masih memperhatikan bagian sekering. Zara hanya terdiam. Jujur saja, ia tidak tahu bagaimana cara membenarkan sekering yang putus. Kaidan berhenti memeriksanya. "Apa kamu punya sekering yang baru?" tanya Kaidan lagi. "Aku mana tahu yang seperti itu?" jawab Zara terdengar ragu dan bingung. "Tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambil peralatan listrikku dulu," ujar Kaidan yang berjalan keluar apartemen Zara. Lagi-lagi, Zara hanya diam dan tidak bisa menolak bantuan Kaidan. Tidak membutuhkan waktu lama, Kaidan kembali masuk ke dalam dengan membawa peralatan listrik yang ada di dalam kotak. Ia berjalan ke arah sofa ruang tamu dan meletakkan peralatan itu di atas meja dekat sofa. Zara yang berdiri agak jauh pun berjalan mendekat untuk melihatnya. Namun, tiba-tiba kaki Zara tersandung sesuatu karena ia tidak bisa melihat dalam gelap. Kaidan segera menoleh karena mendengar suara jeritan Zara. Begitu Kaidan baru menoleh, ia terkejut melihat Zara yang tiba-tiba jatuh ke arahnya. Kaidan pun menangkap tubuh Zara secara refleks. Terjadi sangat cepat dan begitu saja. Zara baru terjatuh ke arah Kaidan. Tubuh Zara ada di atas tubuh Kaidan yang menangkapnya. Meski suasana gelap, tapi mereka masih bisa melihat siluet dan wajah masing-masing dari dekat. Mereka berdua sama-sama hanya terdiam membeku tidak bisa bergerak dengan posisi tersebut. Hanya saling tatap dengan jarak dekat. Mendadak degup jantung keduanya bekerja lebih kencang dari biasanya. Seolah-olah bisa terdengar ke telinga masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD