Bab 9. Berhenti Berimajinasi

1043 Words
Di dalam ruang gelap apartemen Zara, posisi masih sama seperti sebelumnya. Zara yang kakinya tadi tersandung dan jatuh, kini ada di atas tubuh Kaidan. Mereka masih saling tatap dengan jarak sangat dekat. Saat itu, kedua tangan Kaidan memegangi pinggang Zara. Sedangkan kedua tangan Zara, berada di d**a Kaidan untuk menahan tubuhnya. Tidak sadar, Zara bisa merasakan itu semua. Mendadak ia merasa sesak dan kesulitan bernafas. Semakin lama kenapa justru semakin tidak bisa bergerak?! Seolah semua saraf otot tidak mau diajak bekerja sama. Sehingga mereka justru semakin lama saling tatap dengan posisi seperti itu. Zara mengerjapkan kedua mata dan jantungnya semakin berdebar kencang. "Apa kamu tidak akan berdiri?" tanya Kaidan akhirnya setelah detik-detik waktu berlalu. Begitu Kaidan bertanya, Zara langsung tersadar dari sihir yang baru saja terjadi. Ia pun segera bangun dari tubuh Kaidan dengan salah tingkah. Ia benar-benar kesusahan mengatur debar jantung yang bekerja tidak normal itu. Kaidan pun juga ikut berdiri. Ia lalu mengarahkan senter pada barang yang membuat Zara terjatuh tadi. Sebuah kontainer kecil yang diletakkan di dekat sofa. "Ma ... maaf!" kata Zara sambil membenarkan rambutnya karena salah tingkah. Membuat Kaidan kembali menoleh ke arahnya. "Kamu baik-baik saja?" tanya Kaidan. "Ya! Aku tidak apa-apa!" jawab Zara masih dengan salah tingkah yang sama. "Lain kali, letakkan kontainer di atas meja saja. Supaya tidak tertendang dan membuat jatuh seperti tadi." "Ya! Setelah ini aku pasti akan meletakkannya di atas meja!" jawab Zara mantap. Menunjukkan rasa salah tingkahnya. Kaidan pun mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. Ia lalu kembali mendekati kotak peralatan listrik tadi yang masih di meja dan membukanya. Kaidan lalu mencari peralatan yang dibutuhkannya. Selama Kaidan mencari peralatan, Zara berdiri menunggu dan merasa sangat malu sekali. Kenapa, tadi dia tidak segera berdiri saja?! Kenapa harus saling tatap dengan jarak sedekat itu?! Zara mencengkeram tangan sambil memejamkan kedua mata rapat, mencoba meluapkan perasaan malunya. Tidak lama, Kaidan berhasil menemukan sebuah obeng kecil. Ia juga membawa beberapa peralatan yang dibutuhkan. Setelah itu Kaidan berjalan menuju ke arah sekering kembali. Zara pun juga berjalan mengikuti Kaidan dari belakang. Kaidan sudah berdiri di depan sekering listrik. Tiba-tiba ia menoleh ke arah Zara yang ada di belakangnya. Membuat Zara langsung terhenyak kaget. "Arahkan senternya padaku!" pinta Kaidan. Zara pun menerima ponsel dari Kaidan. Ia lalu mengarahkan senter ke sekering dan Kaidan memperbaikinya. Zara masih harus menghadapi perasaannya yang jumpalitan itu sambil menunggu Kaidan membenarkan sekeringnya. Beberapa menit berlalu, Kaidan berhasil membenarkan sekeringnya. Kaidan menyuruh Zara menyalakan MCB listriknya. Listrik pun kembali menyala dan apartemen Zara jadi kembali terang. "Sudah, beres!" kata Kaidan. Zara pun cukup terkesan dengan hal itu. "Terima kasih. Aku akan mengganti sekering barunya," jawab Zara masih nampak salah tingkah. Kaidan tidak menanggapi dan menoleh ke arah Zara yang setengah menunduk itu. Ia melirik ke arah siku Zara yang ternyata berdarah. Karena sekarang sudah terang, jadi bisa melihat dengan jelas. Kaidan lalu tiba-tiba menarik lengan Zara untuk melihat sikunya dari dekat. Zara pun terhenyak kaget. Zara bingung bercampur terkejut. Namun, ia sendiri baru sadar kalau ternyata sikunya sedikit berdarah. Kaidan memperhatikan siku Zara dari dekat. Membuat jantung Zara semakin tidak menentu. Zara pun segera menarik sikunya dengan cepat dari pegangan Kaidan. Kaidan pun terhenyak saat Zara menarik sikunya. Ia melihat Zara nampak menundukkan kepala. "Apa kamu punya obat luka?" tanya Kaidan. Zara terdiam. Ia mengingat-ingat kira-kira di mana obat luka miliknya? Karena sebelumnya ia lupa sudah meletakkan di kardus nomor berapa? Sedangkan Kaidan sepertinya paham sikap Zara. "Tunggu di sini!" ujar Kaidan tiba-tiba yang kemudian berjalan keluar. Zara lagi-lagi hanya bisa terdiam. Malam ini, Zara benar-benar seperti orang ling lung. Otaknya tidak sinkron dengan semua saraf otot yang sudah bekerja pada tubuhnya. Sekian detik berlalu, Kaidan nampak kembali masuk ke dalam apartemen Zara. Kali ini, Kaidan membawa kotak berisi pertolongan pertama. Kaidan kembali berjalan ke arah Zara dan menarik tangan Zara dan menyuruh Zara duduk di sofa. Setelah sama-sama duduk, Kaidan memegangi siku Zara untuk mengobatinya. "Aku bisa melakukanya sendiri," ujar Zara menarik sikunya kembali. Namun, Kaidan menahannya sehingga Zara tidak bisa menarik sikunya. "Diam saja!" ujar Kaidan menahan tangan Zara. "Kamu akan kesulitan untuk memberi obatnya sendirian." Zara pun kembali terdiam dan akhirnya menurut. Kaidan kembali fokus pada luka di siku Zara. Pertama Kaidan membersihkan darahnya dulu. Waktu itu, Zara jadi bisa melihat wajah Kaidan dari sangat dekat. Wajah Kaidan sama sekali tidak berubah. Masih sama tampannya dengan waktu masa kuliah dulu. Membuat Zara tidak berhenti terpesona memandanginya. "Astaga! Apa yang aku pikirkan?! Bangun, Zara! Bangun! Dia adalah laki-laki bermulut ember yang egois! Kamu tidak boleh tertipu lagi!" gumam Zara dalam hati menyadarkan dirinya sendiri. Ia pun mengalihkan pandangannya. Kaidan selesai membersihkan darah di siku Zara. Setelah itu, ia mengoleskan salap dengan cotton bud sambil meniup siku Zara. Tepat saat itu, d**a Zara langsung terasa berdesir hebat. "A ... apa yang dia lakukan?!" Zara masih berbicara dalam hati yang saat ini tengah terjadi pergulatan sendiri. Di bagian akhir, Kaidan menempelkan plester pada siku Nada. Barulah Kaidan melepaskan pegangannya dari siku Zara. Zara berusaha mengatur nafas karena jantungnya jumpalitan. "Sudah!" ucap Kaidan. Kaidan lalu kembali memasukkan peralatan medis ke dalam kotak pertolongan pertama. Setelah itu, ia berdiri. Zara pun juga ikut berdiri. "Sekeringnya baru diperbaiki. Aku kembali dulu. Kalau listrik mati lagi, kamu bisa mengetuk pintu apartemenku," ujar Kaidan. Zara hanya menganggukkan kepala dua kali pelan menanggapinya. Setelah itu Kaidan mengambil dua kotak miliknya yang saling berdekatan di meja Zara. Lalu ia berjalan keluar ruangan apartemen Zara. Zara pun mengantarnya sampai di pintu. Kaidan keluar melewati pintu Zara. Zara masih memperhatikan Kaidan berjalan kembali ke apartemennya. Perlahan lalu Zara menggeser pintu sampai setengah tertutup, tapi tidak menutupnya. Masih mengintip Kaidan berjalan menjauh. Sampai Kaidan benar-benar masuk ke dalam apartemennya, barulah Zara menutup pintunya. Zara lalu berdiri terdiam di ambang pintu. Ia menengok ke arah sekering yang baru saja diperbaiki Kaidan. Lalu ia mengangkat siku dan melihat lukanya yang sudah tertutup plester, yang juga diobati Kaidan. Kalau tidak ada Kaidan, ia pasti tidur dalam kegelapan malam ini. Dan sikunya pasti akan terasa ngilu karena tidak diobati. Zara kemudian menarik nafas mencoba berpikir jernih memberikan waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Zara mencoba memunculkan logika yang ia miliki. "Dia hanya membantuku sebagai karyawan yang bekerja dengannya. Ya! Itu sangat wajar terjadi! Ayo, Zara! Berhentilah berimajinasi!" kata Zara berbicara sendiri untuk menghilangkan semua ekspektasi aneh yang akan terjadi pada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD