Bab 10. Sudah Melupakannya

1537 Words
Zara baru saja memasuki kantor yang masih sepi karena masih pukul tujuh pagi. Ia berjalan menuju meja kerjanya. Ia sengaja datang sangat pagi-pagi sekali supaya tidak bertemu dengan Kaidan. Zara sudah sampai di meja kerjanya. Ia duduk dan menyalakan komputer. Selagi menunggu komputer menyala, Zara menoleh ke arah ruang kerja Kaidan yang bisa dilihat dari tempatnya. Ruangannya masih kosong, karena Kaidan belum datang. Saat itu, Zara teringat kejadian tadi malam di apartemen. Saat ia terjatuh dan Kaidan menangkapnya. Mendadak wajahnya memerah. Ia lalu memegangi kedua pipinya dan memejamkan mata karena rasa malunya masih terasa nyata. "Zara?!" Tiba-tiba terdengar suara Rina yang menyapanya. Zara pun terhenyak dan segera melepaskan kedua tangan dari pipi. Ia menengok ke arah belakang dan melihat Rina dan Andi yang baru datang. "Pagi, Kak!" sapa Zara setengah salah tingkah. "Wah! Apa semua anak baru memang serajin ini? Ini masih sangat pagi, lho! Kamu bahkan sudah menyalakan komputermu?" tanya Andi. Zara pun hanya tersenyum canggung menanggapinya. Mereka hanya tidak tahu sebenarnya Zara menghindari pertemuan dengan Kaidan yang kini menjadi tetangga apartemennya. "Eemm ... aku juga baru saja datang, kok," jawab Zara canggung. "Zara, bekerjalah dengan santai. Kamu masih baru, jangan terlalu tertekan. Pak Kaidan itu memang keras dan sikapnya sedikit kasar. Tapi hatinya sangat baik, kok," tutur Rina. "Hhmm ... iya," jawab Zara tersenyum canggung. Rina dan Andi pun menempati meja kerja mereka masing-masing yang saling berdekatan. Zara sendiri juga kembali fokus pada komputernya. Ia menarik nafas panjang sejenak. Selagi bekerja, pikiran Zara kembali ke memori tadi malam. Rasanya masih benar-benar kacau. Entah, apa yang akan dilakukan nanti kalau Kaidan sudah datang? "Bos datang!" kata Andi tiba-tiba sembari menunjuk ke arah lantai masuk. Zara pun terhenyak. Ia menoleh ke arah pintu yang baru ditunjuk Andi. Nampak Kaidan dengan setelan jas sangat rapi berjalan memasuki kantor. Wajah Zara mendadak kembali memerah karena ingat kejadian tadi malam. Ia pun langsung kembali melihat komputer, pura-pura tidak tahu kalau Kaidan datang. "Pagi, Pak!" sapa Andi dan Rina pada Kaidan yang sudah dekat. Sedangkan Zara, masih nampak salah tingkah dan kikuk. Ia tidak menyapa atau menoleh. Hanya terus menghadap komputer dengan canggung. "Pagi! Rina, tolong beritahu Bobby jam sembilan kalau dia ikut rapat denganku!" pinta Kaidan. "Baik, Pak," jawab Rina. Kaidan lalu menoleh ke arah Zara yang tidak menyapanya itu. "Zara?" panggil Kaidan. Zara terhenyak dan memutar kursinya untuk melihat Kaidan. "I ... iya, Pak?" "Ikutlah rapat denganku dan Bobby!" "Baik, Pak," jawab Zara masih terdengar ragu. Setelah itu, Kaidan meneruskan jalannya untuk ke kantor. Zara pun juga kembali melihat komputernya. Sekian detik, diam-diam Zara melirik ke arah Kaidan yang berjalan menuju ruangannya. Sampai Kaidan duduk di meja kerja dan menyalakan laptopnya. "Dia menyapaku seperti biasa, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa tadi malam. Apa dia bersikap seperti itu supaya aku tidak canggung, ya?" gumam Zara dalam hati. Zara pun segera menggelengkan kepala beberapa kali pelan. Ia pun kembali menghadap komputernya. Lalu menarik nafas panjang dan berusaha fokus lagi. Sedangkan dari dalam ruangan Kaidan, setelah ia duduk di tempat kerjanya, Kaidan diam-diam melirik ke arah Zara yang sudah kembali fokus pada komputernya. Kaidan memperhatikan Zara dari tempatnya. Ia lalu menautkan kedua alis. Di dalam isi kepalanya sedang memikirkan sesuatu dan hanya ia yang tahu. *** "Kita akan mulai membuat pengembangan aplikasi pembelajaran. Akan diberi nama Brain Spark. Berdasarkan beberapa masalah yang sering dialami seperti keterbatasan sumber daya pendidikan atau kesenjangan kesempatan belajar, maka terciptalah Brain Spark. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Brain Spark ...." Kaidan memimpin rapat perdana untuk proyek barunya. Hanya ada Kaidan, Bobby dan Zara. Zara bertugas untuk mengetik semua poin penting dan mencatat kesimpulan dari ungkapan Kaidan. "Bobby, kau yang meng-handle semuanya!" pinta Kaidan. "Siap, Pak!" "Zara, kamu sebagai sistem analis, bertanggung jawab untuk semua perkembangan data dan dokumen!" "Baik, Pak." Zara menganggukkan kepala. "Baiklah! Aku rasa rapatnya sudah jelas. Kita akhiri rapatnya!" Kaidan membubarkan rapat tersebut. Setelah itu Kaidan membereskan dokumen yang ada di atas mejanya. Bobby membantu membereskan proyektor yang digunakan untuk rapat. "Bob!" panggil Kaidan. "Ada apa, Pak?" "Lakukan survey untuk sekitar lima puluh sekolah dengan aplikasi sebelumnya. Cari kekurangan apa yang mereka alami selama ini!" "Baik, Pak." Bobby pun keluar ruangan menjalankan perintah Kaidan. Kaidan lalu kembali menoleh ke arah Zara yang masih fokus di laptopnya. "Zara?" "Iya, Pak?" "Catatlah ringkasan rapat dan sekalian buatlah kesimpulan, lalu kirimkan ke emailku!" "Baik, Pak!" Zara pun menerima perintah dari Kaidan. Ia segera kembali fokus dan mulai mengerjakan perintah Kaidan. Tiba-tiba dari arah pintu ruangan rapat itu, Lutfi masuk begitu saja. "Dan! Aku sudah mencarimu kemana-ma ...." Begitu Lutfi masuk, tepat ia melihat ternyata Zara juga ada di dalam ruangan. Membuat Lutfi langsung terpana dibuatnya. Zara melihat ke arah Lutfi sebentar, kemudian ia kembali fokus pada laptopnya. "Ada apa?" tanya Kaidan yang menyadarkan Lutfi. "Eeeh, ternyata ada Zara juga, ya?" kata Lutfi yang melangkah masuk dengan melihat Zara dengan tatapan terpesonanya. Namun, Zara hanya diam mengabaikannya. "Zara? Bagaimana dengan pindahannya kemarin? Apa berjalan cukup lancar?" tanya Lutfi yang mengabaikan Kaidan dan berjalan mendekati Zara. "Cukup lancar," jawab Zara singkat. "Apa yang kau lakukan di sini?! Kenapa mencariku?" Kaidan berbicara untuk mengembalikan fokus Lutfi dengan bertanya padanya. "Sebentar ... sebentar!" kata Lutfi pada Kaidan. Kemudian, ia kembali menengok ke arah Zara. "Zara, apa malam ini kamu juga masih butuh bantuan? Kalau iya, aku—" "Tidak!" potong Zara pada Lutfi. "Aku sudah menyelesaikan semuanya tadi malam. Jadi, tidak perlu repot-repot," tambahnya dengan sekali lagi melihat ke arah komputernya. "Oooh ... syukurlah! Padahal aku sama sekali tidak sibuk. Aku hanya ingin membantumu." "Kalau tidak ada kepentingan, keluarlah! Jangan ganggu dia! Dia sedang bekerja!" usir Kaidan lagi pada Lutfi. "Tenanglah! Ada yang ingin aku katakan pada Zara!" lirih Lutfi pada Kaidan. Zara mengangkat bola mata melihat ke arah Lutfi sembari menautkan kedua alis. Setelah itu, ia kembali menghadap laptop. Lutfi kembali melihat Zara. "Zara, kejadian tiga tahun lalu di ruang broadcast waktu itu, aku minta maaf," ujar Lutfi. "Aku bicara tanpa berpikir," tambahnya. Kaidan mengkerutkan kening mendengar Lutfi. Padahal ia tidak ingin Zara mengingatnya karena pasti membuatnya tidak nyaman. Tapi Lutfi justru terus mengungkitnya. Kaidan pun ingin segera berbicara untuk mengalihkan topik. "Lut! Kau—" "Tidak apa-apa!" jawab Zara cepat yang menghentikan kalimat Kaidan. Membuat Kaidan menoleh ke arah Zara. "Sebenarnya aku juga bisa memahaminya. Mungkin waktu itu kita sama-sama belum berpikir dewasa," tambah Zara lagi. Lutfi pun langsung melebarkan senyumnya sumringah. Sedangkan Kaidan mengkerutkan kening mendengar Zara. "Betul! Saat itu kita memang dalam proses pendewasaan! Aku lega mendengarnya!" kata Lutfi senang. "Kalau begitu, apa sekarang kamu masih menyukai Kaidan?" tanya Lutfi lagi. Zara pun tersentak mendengarnya. Kaidan juga sama. Mereka langsung berubah canggung mendengar pertanyaan Lutfi yang sangat tidak terduga itu. Zara nampak salah tingkah dan melirik ke arah Kaidan sebentar. "Tidak!" jawab Zara setelah beberapa detik. "Aku sudah tidak menyukai pak Kaidan." "Itu sangat bagus! Setiap orang memang harus move on! Lupakan masa lalu! Jadi, kamu bisa membuka hati untuk orang lain, bukan?" kata Lutfi lagi. Zara hanya terdiam canggung. "Jadi, Zara? Kira-kira apa selama ini—" "Keluarlah!" Belum sempat Lutfi menyelesaikan kalimatnya, Kaidan tiba-tiba saja mengusirnya begitu saja. Sama seperti di apartemennya tadi malam. "Hei! Apa yang kau lakukan?! Aku masih belum selesai bicara dengan Zara! Aku—" "Keluarlah dan bicara denganku nanti!" Kaidan terus menyeret Lutfi keluar ruangan rapat. Zara memperhatikan mereka dan hanya terdiam. Sampai akhirnya Kaidan berhasil mengeluarkan Lutfi keluar ruangan dan menutup pintu untuk mencegah Lutfi masuk kembali. Setelah Lutfi sudah di luar, Kaidan kembali mendekat ke arah Zara. Zara hanya menatapnya sebentar, lalu berusaha kembali fokus. Sampai Kaidan sudah kembali berdiri di dekat Zara dan ingin mengatakan sesuatu. "Eee ... jangan pikirkan kalimat Lutfi tadi. Itu mungkin bisa membuatmu tidak nyaman dan—" "Tidak masalah!" potong Zara. "Aku memang sudah memaafkan pak Lutfi. Lagi pula, itu juga sudah tiga tahun lalu," lanjutnya. Kaidan berpikir mencerna kalimat Zara. Sekian detik kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala pelan. "Hm! Baguslah kalau begitu!" tanggap Kaidan. Zara lalu melihat ke arah Kaidan dengan ragu-ragu. "Soal tadi malam ... sepertinya aku belum mengucapkan terima kasih secara resmi," kata Zara. Membuat Kaidan menautkan kedua alis melihatnya. "Tadi malam apartemenku jadi terang berkat bantuanmu. Terima kasih," kata Zara lagi. Mendadak Kaidan merasa ada sebuah gemericik di dalam hati mendengarnya. "Tidak perlu berterima kasih secara resmi seperti itu," tanggap Kaidan lagi. "Aku rasa sikapku pada pak Lutfi tadi malam juga cukup kasar. Jadi, aku juga merasa bersalah padanya." "Jangan hiraukan Lutfi. Dia tidak pernah sakit hati. Tenang saja. Aku akan memberitahunya untuk tidak mengganggumu lagi kalau dia mengingatkanmu soal di ruang broadcast waktu itu." "Tidak apa-apa. Aku juga sudah melupakannya. Lagi pula, aku juga sudah tidak menyukaimu lagi. Jadi, sudah tidak masalah lagi sekarang," jawab Zara. Mendengar kalimat Zara, Kaidan kembali terdiam untuk mencernanya di dalam otak. Ia memperhatikan Zara yang kembali fokus pada laptopnya. Sekian detik kemudian, Kaidan kembali mengangguk-anggukkan pelan, tapi seorang terpaksa. "Baiklah!" ucapnya setelah beberapa detik. "Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku. Segera kirim emailnya kalau kamu sudah selesai!" pinta Kaidan lagi. "Baik, Pak!" jawab Zara. Kaidan pun membalikkan badan dengan nampak ragu. Ia berjalan keluar ruangan. Setelah berada di luar ruangan, ia terhenti sejenak. Ia kembali melirik ke arah Zara yang masih fokus bekerja di depan laptop tersebut. Entah kenapa rasanya, mendadak ada yang mengganggu pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD