Zara ada di sebuah restoran mie goreng dekat perusahaan. Sebenarnya makan siang sudah disediakan oleh kantor. Tapi, tiba-tiba ia ingin makan mie goreng, siang ini. Sehingga ia makan mie sendirian di restoran itu.
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Zara pun mengeluarkan ponsel dan membacanya. Ada pesan dari Kaidan. Zara menautkan kedua alis dan membacanya.
[Kesimpulan yang kamu kirim lewat email masih salah. Periksa lagi dan kirimkan email ulang setelah direvisi.]
Begitulah pesan dari Kaidan. Zara yang membacanya hanya menghela nafas berat sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
"Apa dia tidak tahu kalau sekarang jam istirahat? Benar-benar bos yang tidak pengertian!" gerutu Zara berbicara sendiri karena kesal.
Zara pun mengetikkan pesan dan membalas Kaidan. Ia bilang mengerti dan akan segera direvisi. Lalu Zara kembali meletakkan ponsel di samping piring mie goreng miliknya.
Belum ada dua detik, ponsel Zara kembali menunjukkan notifikasi pesan masuk. Zara pun kembali mengambil ponsel. Kali ini ada pesan masuk dari Rina.
[Kamu sedang makan di luar? Makan di mana? Kenapa tidak ajak-ajak?]
Setelah Zara membaca pesan dari Rina, ia memotret menu makanannya. Lalu ia mengirimnya sebagai balasan. Setelah itu, ia mengatakan pada Rina tempat restorannya. Setelah itu, Zara kembali meletakkan ponsel dan ia ingin fokus menyantap mie gorengnya.
"Zara?! Zara, kan?!"
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah samping Zara. Zara menengokkan kepala dan melihat laki-laki itu berdiri tepat di sebelahnya. Zara masih memperhatikannya untuk mencoba mengingat.
"Ini aku, Rey! Teman satu SMA dulu!" kata laki-laki itu. Sekian detik kemudian, Zara pun menaikkan kedua alis dan baru mengingatnya.
"Oh, iya ... iya!" respon Zara tersenyum menyambutnya.
Rey pun langsung berwajah sumringah. Ia segera duduk di kursi depan Zara begitu saja. Zara pun terpaksa membiarkan duduk dengannya. Meski sebenarnya ia nampak tidak begitu nyaman.
"Kamu apa kabar?!" tanya Rey ketika sudah duduk.
"Cukup baik," jawab Zara menganggukkan kepala dua kali dengan canggung.
"Kamu bekerja di sekitar sini? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"
"Aku masih baru bekerja belum ada satu bulan. Kamu tahu Axion Tech? Aku bekerja di sana."
"Oooh ...! Perusahaan teknologi yang terkenal itu, ya?! Wah! Jadi kamu seorang programmer?!"
"Aku seorang analis sistem. Dulu, waktu kuliah aku mengambil jurusan sistem informasi. Kebetulan aku diterima dengan posisi yang sesuai."
"Wah! Hebat sekali! Tapi, aku dengar dulu kamu juga sangat berprestasi di kuliah, kan?"
"Aah ... tidak juga. Aku hanya beruntung menang beberapa lomba."
"Jadi, apa kamu juga tahu soal pengembangan aplikasi?"
"Hhmm ... sedikit," jawab Zara sembari mengangguk-anggukkan kepala pelan.
"Sebenarnya, aku ada masalah akhir-akhir ini. Aku bekerja di perusahaan expor impor barang. Aku mengalami kendala aplikasi yang cukup rumit. Apa kamu mau membantuku untuk melihatnya?"
"Bagaimana, ya? Sebenarnya aku lebih banyak mengurusi data. Aku tidak terlalu paham dengan pengoperasian aplikasi seperti itu. Ah! Kamu bisa meminta tolong pada petugas IT di tempatku! Mereka juga menerima keluhan dan bisa memperbaiki aplikasi!" tawar Zara. Rey pun memberi ekspresi ragu-ragu.
"Zara, jangan menganggap terlalu serius. Aku hanya ingin meminta bantuanmu sebagai teman saja. Kalau aku menghubungi petugas IT di tempatmu, bukankah itu juga akan memakan biaya? Jadi, apa kamu bisa menolongku?" tanya Rey. Zara pun semakin bingung dan tidak enak sendiri.
"Ayolah, Zara. Setelah pulang kerja, aku akan menghubungimu lagi. Bagaimana? Kalau begitu aku minta nomormu saja! Biar kita bisa—"
"Permisi!"
Belum sempat Rey meyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara Kaidan dari jarak yang cukup dekat. Zara menoleh ke arah asal suara tersebut. Ternyata Kaidan sudah berdiri tepat di sampingnya. Membuatnya terhenyak melihat Kaidan yang tiba-tiba muncul itu.
"Menyuruh seorang karyawan dan tidak berniat untuk membayarnya adalah sebuah bentuk pemerasan! Bukankah tadi dia sudah bilang kalau tidak bisa? Kenapa kamu bersikeras memaksanya?!" tanya Kaidan pada Rey.
"Si ... siapa kamu?" tanya Rey heran.
"Aku adalah bosnya," jawab Kaidan menunjuk ke arah Zara. "Aku ke sini untuk melindungi karyawanku dari tindak pemerasan!" jawab Kaidan. Mendengar kalimat Kaidan, Zara tercekat sesaat dan menoleh ke arah Kaidan.
"Apa maksudmu?! Aku hanya ingin minta bantuannya secara tulus. Mengingat dulu aku juga sering membantunya waktu SMA!"
"Kau menginginkan Zara melakukan hal tulus padamu, padahal kau sendiri menolongnya dengan pamrih. Sekarang, kau membuatnya sebagai senjata seolah-olah Zara sedang berhutang budi padamu! Apa itu yang dinamakan tulus?!"
"Kau berlebihan sekali! Aku hanya berbicara dengan Zara baik-baik sebagai teman lama! Tolong, jangan ganggu kami!"
"Zara adalah karyawanku! Waktunya adalah milikku! Justru kaulah yang mengganggunya dari tadi!" balas Kaidan. Lagi-lagi Zara terhenyak mendengar kalimat Kaidan untuknya. Ia terdiam kaku dan memperhatikan Kaidan.
"Masa SMA sudah sangat lama berlalu. Kau tanpa sungkan memintanya untuk urusan pribadimu. Itu sama saja dengan tindakan pemerasan. Kau bisa kena tindak pidana!" ujar Kaidan lagi. Zara tercengang melihat Kaidan dan mengerjap-kerjapkan kedua mata perlahan.
Rey hanya terdiam dan tidak bisa menjawab apa pun. Ia pun nampak panik. Sedangkan Zara, hanya terdiam tidak membelanya. Rey lalu melihat ke arah Zara.
"Maaf, Zara! Aku ingat ada rapat mendadak! Aku pergi dulu!" ujar Rey yang langsung berdiri dan pergi begitu saja.
Zara pun hanya terdiam dan mengangguk. Setelah Rey pergi, Kaidan menempati duduk Rey yang berhadapan dengan Zara. Jujur saja, Zara kagum dengan Kaidan. Namun, ia menutupinya dan bersikap salah tingkah.
"Terima kasih, Pak. Sudah membuatnya pergi," kata Zara pada Kaidan.
"Lain kali tidak perlu bersikap malu-malu atau merasa tidak enak. Kalau ingin menolak, tolak saja. Tidak peduli dia teman lama atau bahkan saudara sekalipun."
"Iya, Pak." Zara menganggukkan kepala dua kali pelan. "Tapi, ngomong-ngomong kenapa Pak Kaidan bisa ada di sini?" tanya Zara. Kaidan pun mengkerutkan kening mendengar Zara.
"Bukankah kamu yang mengundangku ke sini? Kamu mengirimkan foto menu dan memberitahuku kamu ada di restoran ini?" jawab Kaidan.
Zara pun terhenyak dan segera memeriksa ponselnya. Ternyata ia memang salah kirim! Seharusnya ia mengirimkannya pada Rina, tapi justru salah pada Kaidan.
"Ah! Maaf, Pak! Saya salah kirim! Harusnya tadi saya kirim ke kak Rina!" jawab Zara panik. "Kalau begitu, pak Kaidan bisa kembali ke kantor sekarang! Maaf, saya sudah merepotkan!"
"Apa kamu mengusirku? Setelah aku menolongmu dari teman jahatmu tadi?!"
"Bu ... bukan begitu, Pak! Saya hanya merasa tidak enak sudah mengurangi waktu Pak Kaidan ke sini."
"Sudahlah! Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga sudah ke sini. Aku akan menemanimu makan. Sekalian pesankan untukku!" pinta Kaidan.
Zara terhenyak melebarkan mata mendengar Kaidan. Tidak percaya dengan kalimat Kaidan baru saja. Benarkah Kaidan ingin makan bersamanya? Kaidan sadar jika Zara tidak segera beranjak dan hanya memperhatikannya.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat pesankan sekarang!" pinta Kaidan sekali lagi.
"Ah! I ... iya, Pak!"
Zara pun mengangkat tangan memanggil pelayan. Pelayan datang dan mencatat pesanan Zara. Setelah itu, pelayan pergi dan Kaidan menyuruhnya kembali makan selagi menunggu pesanan Kaidan datang.
Selagi Zara makan, ia diam-diam memperhatikan Kaidan yang melihat ponselnya. Bagi Zara, suasana agak canggung, karena baru pertama kali, mereka makan berdua seperti ini.
"Dia mengusir Rey untuk melindungiku. Dia juga makan di sini untuk memastikan kalau aku aman dan Rey tidak datang menggangguku lagi. Lidahnya memang sedikit pedas, tapi hatinya baik dan perhatian," gumam Zara dalam hati. "Sekarang aku bisa merasa aman," lanjutnya masih dalam hati sambil tersenyum terharu.