Kaidan sedang menyetir menuju ke apartemennya. Di sebelahnya, Lutfi yang ikut ke apartemennya sedang termenung bersedih memandangi sebuah foto yang ada di dalam ponselnya. Kaidan pun meliriknya sambil menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali pelan.
"Sudah dari tiga puluh menit yang lalu, kau terus saja memandangi foto itu! Apa matamu tidak juling nanti?"
"Meski sampai juling, aku tetap akan memandangi foto ini. Lantas bagaimana lagi? Aku sangat merindukannya," rengek Lutfi dengan tetap memandangi foto itu.
"Kenapa kau tidak menghubunginya saja?!"
"Kau gila, ya?!" balas Lutfi yang menoleh ke arah Kaidan sambil mengkerutkan kening. "Dia sudah menikah dua tahun lalu! Mana mungkin aku mengganggu rumah tangga orang?!"
"Tanya kabar saja, kan tidak apa-apa!"
"Kalau aku tanya kabar, aku takut kalau nanti kabarku yang jadi memburuk. Karena aku akan semakin merindukannya."
Lutfi berbicara sembari memberikan ekspresi mewek. Kaidan pun hanya diam sambil menghela nafas panjangnya. Lutfi lalu kembali memperhatikan foto dalam ponselnya. Ia seringkali mendapati Lutfi yang bersedih seperti itu.
"Lagi pula, semenjak dia menikah, dia sudah memutus semua kontak dariku. Aku bahkan tidak bisa melihat kabarnya lagi sekarang. Widia ... di mana kamu? Aku merindukanmu ...," kata Lutfi sedih. Kaidan pun hanya kembali menggelengkan kepala beberapa kali.
Selang beberapa menit, mobil Kaidan sampai di depan apartemennya. Kaidan dan Lutfi sama-sama turun dari dalam mobil. Begitu mereka turun, mereka melihat Zara yang baru masuk dan membawa dua buah kantung plastik di tangannya.
"Oh iya! Aku lupa kalau ada perempuan cantik yang jadi tetanggamu!" kata Lutfi tersenyum lebar. Kaidan pun menautkan kedua alis melihatnya.
"Di dalam mobil kau baru menangisi Widia. Tapi begitu melihat Zara, kau langsung berubah sumringah seperti itu! Benar-benar tidak waras!" olok Kaidan.
"Sudahlah! Jangan banyak bicara! Ayo, cepat kita susul dia!" kata Lutfi yang mendadak menarik tangan Kaidan begitu saja. Kaidan pun kaget karena Lutfi menariknya dengan tiba-tiba seperti itu.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" seru Kaidan mencoba menghentikan langkahnya.
"Zara!"
Belum sempat Kaidan melepaskan tangan, Lutfi sudah memanggil Zara lebih dulu. Sehingga Zara menoleh ke arah belakang dan melihat mereka berdua. Zara terhenyak sejenak. Lutfi pun semakin berjalan mendekat. Kaidan tidak punya pilihan selain mengikuti Lutfi.
"Kamu dari mana?" sapa Lutfi yang sudah berdiri di samping Zara.
"Oh! Aku dari supermarket dekat sini," jawab Zara.
"Kenapa membawa makanan banyak sekali? Apa kamu mau mengadakan pesta sendiri?" tanya Lutfi lagi yang melihat Zara membawa dua kantung plastik di tangannya.
"Kakak perempuanku datang melihat apartemen baruku. Jadi, aku membelikan beberapa camilan untuknya."
"Kakak perempuan?! Pasti cantik sepertimu, ya?!" ujar Lutfi. Zara pun hanya menautkan kedua alis heran mendengarnya. Kaidan hanya bisa menahan nafas dan rasa malu dengan kalimat Lutfi.
"Eh! Sepertinya camilannya kurang? Aku akan membelikannya lagi untukmu! Oh iya! Jangan membawa belanjaanmu sendirian!" kata Lutfi yang tiba-tiba mengambil kantung plastik Zara begitu saja. Membuat Zara terhenyak. Setelah itu Lutfi segera memberikannya pada Kaidan.
"Biarkan Kaidan saja yang membawakannya!" kata Lutfi yang memberikannya secara paksa. Kaidan pun bingung sendiri.
"Hei! Aku—"
"Kalian naik saja dulu ke atas! Nanti aku akan menyusul dan membawakan lebih banyak camilan!" seru Lutfi memotong kalimat Kaidan.
Lutfi lalu langsung berjalan menjauh begitu saja. Meninggalkan Kaidan dan Zara berdua. Zara dan Kaidan pun langsung canggung sendiri. Zara lalu melihat kantung plastik miliknya yang ada di tangan Kaidan.
"Kalau begitu, aku bisa bawa sendiri," kata Zara yang kembali ingin mengambil kantung plastik itu. Namun, Kaidan menjauhkan kantung plastik itu dari Zara. Membuat Zara heran.
"Karena sudah di tanganku, jadi biarkan aku yang membawanya," jawab Kaidan dengan nada datar tanpa ekspresi. "Lagi pula, kalau Lutfi tahu, dia tidak akan membiarkanku," lanjut Kaidan yang lalu segera berjalan lebih dulu menuju lift.
Zara mengkerutkan kening heran. Tapi akhirnya ia juga mengikuti Kaidan. Mereka berdua masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup dan lift sudah mulai naik ke lantai atas.
"Ngomong-ngomong, apa pak Lutfi selalu seperti itu?" tanya Zara pada Kaidan untuk memulai percakapan, supaya suasana tidak terlalu canggung.
"Kalau maksudmu menggoda semua perempuan cantik? Ya! Dia selalu melakukannya. Bahkan, awal-awal kalau dia tidak tahu Rina belum menikah, Lutfi pasti akan menggodanya juga," jawab Kaidan. Zara cukup tercengang mendengar jawaban Kaidan. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali heran.
"Apa dia seperti itu sejak kuliah?"
"Tidak! Dia begitu hanya sekitar dua tahun ini. Jangan salah! Lutfi awalnya adalah laki-laki yang sangat setia."
"Benarkah?! Lalu kenapa dia jadi seperti itu?!"
"Dulu, Lutfi pernah mengagumi seorang perempuan. Demi perempuan itu, dia rela berbuat apa saja. Sayangnya, perempuan yang disukai Lutfi tiba-tiba saja menikah. Sejak saat itu, Lutfi berusaha melupakannya, dengan cara menggoda gadis-gadis cantik di sekitarnya. Berharap kalau dia bisa melupakan perempuan yang dicintainya itu," jelas Kaidan. Zara mengangguk-anggukkan kepala menanggapinya.
"Tapi, menurutku tetap saja sikap pak Lutfi tidak benar," kata Zara sembari menghela nafas.
"Aku yakin, dia tidak serius menggoda perempuan di sekitarnya. Jadi, kalau dia menggodamu lagi, tidak perlu dihiraukan," tutur Kaidan.
Zara pun hanya mengangguk dua kali merespon Kaidan. Sekian detik, keduanya kembali terdiam di dalam lift. Kaidan melirik ke arah makanan di dalam kantung plastik yang dibawanya. Setelah itu, ia kembali melirik ke arah Zara.
"Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau kamu punya kakak perempuan?" tanya Kaidan. Membuat Zara menengok ke arahnya.
"Ya! Kakakku satu angkatan dengan pak Kaidan. Dia juga mengambil jurusan teknik informatika."
"Benarkah?!"
"Tapi, dulu dia tidak kuliah di kampus kita. Dia kuliah di kampus lain," jawab Zara. Kaidan ganti mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Sekian detik kemudian, pintu lift terbuka. Kaidan dan Zara keluar dari lift. Mereka berdua menuju ke arah depan pintu apartemen Zara.
"Terima kasih, sudah membawakannya untukku," kata Zara mengambil kantung plastik miliknya.
"Hm! Aku kembali ke tempatku dulu!" jawab Kaidan.
Belum sempat Kaidan kembali, tiba-tiba pintu apartemen Zara terbuka dari dalam. Membuat Zara dan Kaidan menoleh ke arah pintu. Ada seorang perempuan keluar dari dalam. Tentu saja itu kakak Zara.
"Zara?! Kamu sudah pu ...."
Kakak Zara terhenti ketika ia melihat Zara bersama seorang laki-laki. Sekian detik, kakak perempuan Zara terkejut melihat Kaidan. Kaidan pun juga ber-ekspresi sama.
"Kaidan?" sapa kakak perempuan Zara.
"Hai? Lama tidak bertemu?" Kaidan hanya tersenyum membalas sapaan kakak Zara.
"Kenapa kamu bisa pulang dengan adikku?!" tanya kakak Zara lagi.
Zara pun menengok ke arah kakaknya. Ia bingung, kenapa kakaknya bisa kenal dengan Kaidan? Membuat Zara berjalan mendekati kakaknya.
"Kakak kenal? Dia adalah atasanku," jawab Zara. Kakak perempuan Zara nampak terhenyak mendengarnya.
"Benarkah?!" tanya kakak perempuan Zara lagi. Zara menganggukkan kepala dua kali.
Tidak lama setelah itu, Lutfi yang baru datang, keluar dari dalam lift. Dia juga langsung berjalan ke arah apartemen Zara.
"Zara! Aku da ...."
Lutfi mendadak terhenti ketika akan menyapa. Ia terkejut bukan main melihat kakak Zara. Lagi-lagi kakak Zara juga memberi ekspresi yang sama terkejutnya. Lutfi melebarkan kedua mata dan jantungnya mendadak berdebar kencang.
"Wi ... Widia?" sapa Lutfi yang mendadak jadi kacau sendiri.