Bab 6. Sikap Emosional Zara

1067 Words
Hari pertama kerja Zara sudah berakhir. Zara pulang sedikit terlambat karena fase perencanaan yang dikerjakannya tadi, bolak balik mendapat revisi oleh Kaidan. Kini, Zara sedang berdiri di luar gedung menunggu taksi. "Kau ingat, kan? Kejadian tiga tahun lalu di ruang broadcast waktu itu? Mahasiswi sistem informasi bernama Zara? Aku tidak menyangka dia berani menyatakan perasaannya padamu dengan penampilan seperti itu." Mendadak Zara teringat kalimat menyakitkan dari Lutfi. Ia menghela nafas berat dengan kesal. Ia tidak menyangka kalau kejadian memalukan itu masih melekat di memori semua teman Kaidan. Membuat Zara kesal merasakannya. "Seharusnya bisa kutebak, beginilah jadinya kalau aku bekerja dengannya. Benar-benar membuatku marah!" gumam Zara berbicara sendiri pelan sembari mengetuk-ketuk kakinya ke lantai beberapa kali. "Jangan pedulikan kalimat Lutfi sebelumnya tentangmu saat di ruang broadcast dulu. Mulutnya memang tidak bisa dikontrol. Jangan dimasukkan hati." Kali ini Zara gantian teringat kalimat Kaidan. Saat mengingatnya bukannya semakin tenang, justru ia semakin kesal. "Enak saja menyuruhku untuk mengerti?! Setelah mempermalukanku tiga tahun lalu, temannya masih mengolokku juga sekarang. Bahkan dia tidak minta maaf. Tapi aku disuruh untuk memahami temannya begitu saja?! Kenapa begitu egois!" gerutu Zara masih tidak terima sambil menyedekapkan kedua tangan. "Zara? Kamu masih di sini?" Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara Rina. Membuat Zara menolehkan kepala dan melihat Rina dan Andi, keluar dari gedung mendekat ke arahnya. "Kak Rina? Kak Andi?" sapa Zara. "Kamu kenapa masih belum pulang?" "Aku masih menunggu taksi pesananku." "Kenapa wajahmu lesu begitu? Apa kamu sedang marah?" "Tidak," jawab Zara tersenyum getir. "Apa kamu merasa tidak nyaman dibawah bimbingan pak Kaidan?" tanya Rina penasaran. Zara terdiam sembari menunduk. Lebih tepatnya ia tidak nyaman harus dipertemukan oleh Kaidan lagi. Orang yang ia hindari sejak tiga tahun lalu. Kalau Kaidan muncul, ia pun juga harus berhubungan lagi dengan teman-teman Kaidan yang melihatnya saat Zara dipermalukan dulu. "Sabar ya, Zara. Kamu tidak apa-apa, kan? Kami memang tahu kalau pak Kaidan itu keras dan disiplin. Tapi, kami tidak tahu kalau pak Kaidan bisa sampai sekeras itu mengajarimu," kata Rina. "Ah! Bukan masalah pekerjaan, kok!" sanggah Zara. "Lalu masalah apa?" tanya Andi. Zara kembali terdiam sembari menunduk. Tidak mungkin kalau ia bilang ia hanya kesal pada Kaidan karena harus membawanya kembali pada masa traumanya tiga tahun dulu, bukan? "Sudahlah, Zara. Tadi kami sempat melihatmu mengumpat sendiri saat menunggu di sini tadi," ujar Andi lagi. Zara pun terhenyak mendengarnya. "Apa?! Tapi, aku—" "Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Kami bisa memahamimu," potong Andi lagi. Tepat saat itu, dari arah dalam gedung Kaidan juga akan keluar karena selesai bekerja. Kaidan terhenti karena melihat Rina dan Andi sedang membicarakannya. Membuat Kaidan ikut mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam. "Tidak perlu sungkan-sungkan pada kami. Kami tahu kamu anak baru. Seharusnya diperlakukan dengan lebih baik. Bukannya langsung diajari dengan keras seperti itu!" ujar Andi. "Sudah berapa kali kamu disuruh revisi?" tanyanya. "Sekitar sepuluh kali," jawab Zara sambil mengingat. "Sepuluh kali?! Padahal sebelumnya dia tidak mengajarimu, tapi langsung menyuruhmu revisi sepuluh kali?! Benar-benar parah," kata Andi sembari menggelengkan kepala. "Coba kalau kamu ada di bawah naungan Bobby, kamu pasti akan mendapatkan pengalaman yang lebih nyaman di hari pertama," tambah Rina. "Entahlah? Kenapa pak Kaidan berbuat sangat kejam? Padahal kamu masih baru. Apa dia bermaksud mengintimidasimu?" tanya Andi lagi. "Kalian membicarakanku lagi?!" Tiba-tiba suara Kaidan yang tegas muncul dari arah dalam. Kaidan sudah tidak tahan lagi diam mendengar di dalam. Ia keluar dan mengejutkan semua karyawan. "Pa ... Pak Kaidan? Anda sudah pulang? Tumben sekali Anda pulang cepat?" tanya Andi yang gugup dan sekedar basa-basi. "Aku sempat mendengar soal intimidasi. Siapa yang kalian maksud?!" Kaidan bertanya tanpa ekspresi. "Sa ... saya, Pak! Saya sempat mengintimidasi Zara baru saja. Maksud saya hanya bercanda. Hahaha ...!" Andi salah tingkah. Rina pun juga hanya tersenyum canggung. "Maaf, Pak. Kami sedang buru-buru karena ada janji. Jadi, kami harus segera pergi," pamit Andi panik. "Kami permisi, Pak." Rina menunduk takut sekalian minta ijin pergi. Setelah itu sepasang suami istri itu segera berjalan cepat menjauhi Kaidan. Mereka terburu-buru pergi melarikan diri. Zara dan Kaidan melihat mereka semakin jauh sampai masuk ke dalam mobil mereka. Kini, tersisa Kaidan dan Zara berdua saja. Mereka saling pandang sebentar, lalu Zara segera mengalihkan pandangan dengan melihat ponselnya. Mendadak suasana di antara mereka jadi sangat canggung. Kaidan memperhatikan Zara yang dirasanya masih memiliki rasa kesal saat melihatnya. "Apa aku terlalu keras mengajarimu?" tanya Kaidan pada Zara. Zara pun menoleh ke arah Kaidan sebentar, lalu ia segera membuang muka lagi. "Tidak, Pak," jawabnya datar tanpa ekspresi. "Katanya tadi kamu sempat mengumpatku?" "Saya mana berani?" jawab Zara dengan nada sama, tidak bisa menutupi tatapan sebalnya. "Tapi ekspresimu dari tadi terlihat terus saja marah padaku. Apa ada hal yang tidak nyaman dariku?" "Tidak, Pak!" "Zara, kamu mengingatkanku untuk tidak mencampur soal pribadi dengan pekerjaan. Tapi kamu sendiri masih mencampurkan emosimu dalam pekerjaan. Itu tidak baik untukmu," tutur Kaidan. Zara terdiam tidak menjawab dan terus menundukkan pandangan. Dalam tundukan kepalanya itu, ia berpikir kenapa Kaidan mendadak jadi peduli padanya? "Jangan salah paham! Perasaan tidak nyaman seorang karyawan akan mempengaruhi kinerjanya. Jadi, sebagai atasan, aku bertanggung jawab atas hal itu," kata Kaidan lagi. Zara yang mendengarnya pun hanya mendengkus pelan. "Zara ... Zara! Apa yang kamu pikirkan?! Tidak mungkin seorang Kaidan peduli denganmu!" gumam Zara dalam hati. Kaidan memperhatikan Zara yang dari tadi terus hanya menundukkan kepala. Membuatnya menautkan kedua alis dan ingin berbicara lebih nyaman lagi pada Zara. "Zara, apa mungkin kejadian tiga tahun lalu masih mengganggu—" "Tidak!" potong Zara yang langsung mengangkat kepala menatap Kaidan. "Sama sekali tidak, Pak! Saya benar-benar melupakan soal kejadian di broadcast waktu itu! Saya janji, ke depannya saya benar-benar akan menjaga kinerja saya dengan baik!" jawab Zara cepat. Butuh sekian detik bagi Kaidan untuk memprosesnya. "Baiklah ...," ucap Kaidan sembari mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali memilih untuk percaya. Mereka lalu kembali saling terdiam beberapa detik lagi. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu belum pulang?" tanya Kaidan lagi. "Saya masih menunggu taksi pesanan saya." "Karena kebetulan aku juga akan pulang. Bagaimana kalau—" "Tidak perlu!" potong Zara kembali menghentikan kalimat Kaidan. Padahal Kaidan belum menyelesaikan kalimatnya. "Taksi saya akan segera sampai. Jadi, saya akan menunggu di sebelah jalan raya saja! Permisi!" Zara menundukkan kepala untuk berpamitan. Setelah itu, ia segera berjalan menjauhi Kaidan secepatnya. Membuat Kaidan menautkan kedua alis heran melihatnya. "Jelas-jelas dia masih mengingat kejadian waktu itu. Itu juga masih mengganggunya," gumam Kaidan pelan berbicara sendiri sembari menggelengkan kepala beberapa kali. Ia pun hanya bisa menghela nafas berat sembari melihat Zara semakin menjauh darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD