Lutfi di dalam ruangan Ardian, sedang berdiri menghadap ke arah jendela kaca yang tembus pandang ke arah luar. Dari tempatnya berdiri, bisa terlihat tempat Zara duduk di meja kerjanya. Tentu saja dengan karyawan yang lain juga.
Ya. Dari tadi, mata Lutfi tidak terlepas dari Zara yang baru keluar kantor Kaidan itu. Sedangkan Kaidan, hanya memperhatikan Lutfi dengan tatapan heran.
Sekian detik kemudian, Zara nampak menolehkan kepala ke arah dalam kantor Kaidan. Lutfi pun terhenyak kaget dan ia segera duduk menghadap ke arah Kaidan sambil menutupi sebagian wajahnya yang tadinya menghadap ke arah kaca. Membuat Kaidan semakin menautkan kedua alisnya.
"Kenapa denganmu?" tanya Kaidan.
"Dan, apa dia benar-benar Zara?! Zara yang ada di ruang broadcast waktu itu?!"
"Apa kau masih tidak yakin? Bukankah wajahnya sama?"
"Wajahnya memang sama! Tapi penampilannya sangat jauh berbeda! Lihatlah!" Lutfi menoleh ke arah Zara lagi. "Dia sangat cantik sekali ...," ungkap Lutfi yang tidak sadar telah terpesona.
Kaidan pun mengkerutkan kening memperhatikan Lutfi. Tiba-tiba Zara kembali menoleh ke arah kantor Kaidan. Membuat Lutfi kembali terhenyak dan langsung menghadap Kaidan dengan panik.
"Dan! Ceritakan apa yang terjadi? Kenapa dia bisa masuk ke sini?!"
"Aku juga baru tahu setelah dia tanda tangan kontrak. Kau tahu, selama ini yang mengurus perekrutan karyawan ada di bawah naungan Bobby. Aku hanya melihat resumnya cukup bagus. Prestasi semasa kuliah juga menonjol. Jadi, aku memutuskan menerimanya."
"Kau menerima gadis secantik itu tanpa memberitahuku?!"
"Lut, aku bicara soal nilai yang dimilikinya! Bukan hanya soal penampilan."
"Cantik itu juga satu nilai utama! Akhirnya setelah sekian lama, ada juga bidadari cantik yang masuk ke perusahaan ini," ungkap Lutfi terlihat senang sekali.
"Ingatlah! Kau baru saja mengoloknya tadi! Kau juga mengingatkannya pada kejadian yang membuatnya sedih di ruang broadcast dulu!"
"Aku tahu ...! Aku tahu! Makannya itu, aku menyadari kesalahanku. Syukurlah dia pindah ke sini, jadi aku bisa meminta maaf padanya ...," ungkap Lutfi dengan tatapan buayanya.
"Lut! Dia itu gadis baik-baik! Jangan jadikan dia sebagai salah satu targetmu!"
"Dan, tiga tahun sudah berlalu. Tahu dari mana kalau dia gadis baik-baik? Banyak hal yang berubah! Termasuk gadis culun yang mendadak jadi bidadari itu. Zara Kavita," kata Lutfi kembali terpana memandangi Zara.
Kaidan kembali mengernyit melihatnya. Rasanya tidak terima hanya dengan melihat tatapan mata Lutfi untuk Zara.
"Sudahlah! Aku harus mulai kerja! Kalau tidak ada hal penting yang kau katakan, keluar dari ruanganku!" pinta Kaidan yang fokus ke arah laptopnya.
"Hei! Apa kau tahu nomor teleponnya?" tanya Lutfi lagi yang nampak tidak menghiraukan saran Kaidan.
"Meski aku tahu, aku tidak akan memberitahumu!"
"Ayolah, Dan! Kau tahu aku baru putus cinta, bukan? Aku—"
"Kalau tidak, aku akan memotong gajimu!" potong Kaidan yang masih menatap laptopnya.
Membuat Lutfi langsung terdiam. Lutfi pun hanya bisa menghela nafas beratnya melihat Kaidan yang melihat laptop dan mengabaikannya itu.
"Baiklah! Karena kau bosnya, aku bisa apa? Tapi aku masih bisa memintanya pada Bobby!" ujar Lutfi terkekeh sendiri.
Kaidan langsung melihatnya dengan tatapan tajamnya. Membuat Lutfi langsung terdiam dan mengganti ekspresi senangnya menjadi biasa. Ia kemudian hanya bisa menuruti perintah Kaidan untuk keluar ruangan. Begitu Lutfi keluar, Kaidan hanya menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali.
Begitu sudah ada di luar ruangan Kaidan, Lutfi berjalan akan keluar, dan otomatis dia melewati meja kerja Zara. Zara nampak fokus bekerja di depan komputernya. Lutfi perlahan-lahan mendekati Zara dengan langkah ragu-ragu. Membuat semua karyawan di sekitar jadi melihatnya.
"Pagi Pak Lutfi?" sapa Andi dan Rina hampir bersamaan.
"Pagi!" balas Lutfi tersenyum lebar sembari melambaikan tangan membalas mereka.
Lutfi kini sudah berdiri di samping Zara dengan melihatnya. Saat itu, Zara tidak menyapa dan tetap fokus pada komputernya. Bahkan terkesan mengabaikannya. Membuat Rina dan Andi heran melihatnya.
"Zara?" panggil Rina membuat Zara terhenti mengetik dan menoleh ke arah Rina.
"Iya, Kak Rina?" tanya Zara.
"Ada pak Lutfi di sebelahmu. Dia ini bos kedua setelah pak Kaidan!" kata Rina. Zara pun menoleh ke arah Lutfi.
"Pagi, Pak," sapa Zara menyapa Lutfi dingin dengan menganggukkan kepalanya sedikit.
Setelah itu Zara kembali konsentrasi pada komputer di depannya. Rina dan Andi heran dengan sikap Zara pada atasan yang bisa dibilang tidak sopan itu. Membuat Lutfi merasa kecewa dan malu dibuatnya. Namun, ia masih berdiri di sana dan menunggu Zara untuk menyapanya lagi sebagai kakak tingkat. Sekian detik, Zara kembali menoleh karena Lutfi tidak beranjak pergi.
"Apa pak Lutfi membutuhkan hal lain?" tanya Zara dengan nada tegas. Lutfi tidak menyangka dengan respon Zara itu.
"Ti ... tidak," jawab Lutfi mendadak bingung.
"Kalau tidak, saya ingin fokus bekerja! Bukankah waktu masuk Pak Lutfi masih jam sebelas siang nanti?" ujar Zara yang menatap Lutfi dingin tanpa ekspresi. Membuat Lutfi jadi salah tingkah dan serba salah sendiri.
"Ya ... ya! Tentu saja! Bekerjalah yang rajin," kata Lutfi canggung. "Kalian semua juga selamat bekerja, ya!"
Lutfi pun melanjutkan jalan menjauhi meja para karyawan. Sedangkan Zara, kembali konsentrasi melihat laptopnya. Ketika Lutfi sudah menjauh, Zara menoleh ke arah Lutfi dan masih merasa kesal dan tidak bisa menyembunyikan tatapan sebalnya. Zara pun menarik nafas panjang dan kembali fokus pada komputernya.
Sedangkan di ruangan Kaidan, ia melihat semua dari dalam kaca ruangannya. Kaidan menautkan kedua alis cemas melihat Zara dari arahnya. Ia pun juga kembali fokus pada laptopnya sembari berpikir.
"Zara?" panggil Rina pada Zara yang membuat Zara menoleh ke arahnya. "Apa kamu kenal dengan pak Lutfi sebelumnya?" tanyanya. Zara pun terhenyak dan salah tingkah.
"Tidak ... kenapa memangnya?"
"Hanya saja sepertinya dia mengenalimu, tapi kamu tidak peduli," tebak Rina lagi. Sekian detik kemudian, Zara hanya tertawa canggung.
"Benarkah? Mungkin pak Lutfi sedang salah orang," jawabnya masih salah tingkah. Rina pun hanya menaikkan kedua bahu dan kembali konsentrasi bekerja.
Zara juga kembali fokus ke komputernya. Ia selesai membuat fase perencanaan sesuai perintah Kaidan. Ia mencetaknya di printer, lalu membawanya ke ruangan Kaidan.
Zara mengetuk pintu ruangan Kaidan beberapa kali. Setelah Kaidan menyuruhnya masuk, Zara pun membuka pintu dengan membawa hasil kerjaannya. Ia menyerahkannya pada Kaidan.
"Ini, Pak," kata Zara menyodorkan kertas hasil kerjanya pada Kaidan. Kaidan menerimanya dan memeriksa hasil kerjaan Zara. Jujur saja, saat itu Zara merasa gugup saat Kaidan memeriksa hasil kerjanya.
"Kamu lumayan cepat juga," tanggap Kaidan setelah memeriksanya.
Zara diam saja tidak menanggapi. Dalam hati, Zara merasa agak sedikit senang. Sehingga ia mengulas satu senyum tipis. Kaidan lalu mengangkat kepala dan melihat Zara.
"Jangan salah sangka dulu! Aku bukanya memujimu!" ujar Kaidan yang memudarkan senyum Zara.
"Saat mengerjakan sesuatu, jangan hanya asal cepat, tapi teliti itu juga penting. Bahkan kamu mengetik beberapa kalimat yang salah pada perencanaanmu," ujar Kaidan sembari mencoret-coret kertas tersebut. "Aku tidak akan merevisi isinya sebelum semua kalimatnya bisa dibaca! Benarkan dulu!" pinta Kaidan meletakkan kertas itu di atas mejanya.
"Baik, Pak," jawab Zara sembari mengambil kertas miliknya.
"Perusahaan ini mengutamakan profesional. Aku juga harus tegas mengajari anak baru sepertimu!"
"Saya mengerti, Pak," jawab Zara. "Kalau begitu saya permisi." Zara menundukkan kepala sopan. Ia lalu berbalik dan akan berjalan keluar ruangan.
"Zara!" panggil Kaidan lagi menghentikan Zara.
"Iya, Pak?"
"Jangan pedulikan kalimat Lutfi sebelumnya tentangmu saat di ruang broadcast dulu. Mulutnya memang tidak bisa dikontrol. Jangan dimasukkan hati," kata Kaidan yang sebenarnya dari tadi mencemaskan Zara.
"Saya sama sekali tidak memikirkan kalimat pak Lutfi. Tenang saja, Pak. Hanya seperti itu saja, tidak akan mempengaruhi kinerja saya," jawab Zara tegas dengan dan tanpa ekspresi. Zara lalu berbalik dan akan melangkah keluar. Namun, belum satu langkah, ia terhenti dan kembali berbalik menghadap Kaidan lagi.
"Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong soal profesional, bukankah mencampur masalah pribadi dengan pekerjaan juga tidak profesional? Saya sudah mengingatkan Anda sebelumnya. Jadi, saya mohon ke depannya, jangan pernah ungkit kejadian itu lagi. Permisi!" ujar Zara masih dengan nada sama.
Zara sekali lagi menundukkan kepala. Setelah itu ia melanjutkan langkah keluar ruangan Kaidan. Jujur saja, hal itu membuat Kaidan tertegun. Rupanya Zara yang sekarang, benar-benar berbeda dengan Zara yang dulu.