Bab 4. Hari Pertama Kerja

1742 Words
"Permisi, Pak Bobby?" Zara melongokkan kepala di pintu kantor Bobby. Bobby yang juga baru datang itu pun menaikkan kedua alis melihat kedatangan Zara. Ia berjalan mendekatinya. "Zara? Kamu sudah datang?" sapa Bobby heran. "Tapi ini masih pukul setengah delapan," tambahnya sembari melihat jam tangan. "Karena ini hari pertama saya kerja, jadi saya hanya ingin datang lebih pagi," jawab Zara sembari tersenyum. "Bagus juga," jawab Bobby sembari mengangguk-anggukkan kepala. "Jarang-jarang ada yang sangat rajin sepertimu." "Terima kasih, Pak." "Baiklah! Kalau begitu, aku akan menunjukkan tempat kerjamu. Ikutlah denganku," kata Bobby sembari berjalan mendahului Zara. Zara mengikuti Bobby dari arah belakang. Bobby berjalan melewati lift yang menuju ke lantai bawah yang membuat Zara heran. Ia terus berjalan sampai tiba di tempat yang dimaksud. "Nah! Ini dia tempat kerjamu!" kata Bobby. Zara masih terdiam dan tidak segera menanggapi. Ia melihat meja kerjanya dengan berpikir. "Eee ... bukankah kemarin pak Bobby bilang kalau tempat kerja saya ada di lantai dua?" tanya Zara. "Ah, iya! Kemarin pak Kaidan menyuruhku memindahkanmu ke sini," jawab Bobby. Zara setengah tercekat mendengar jawabannya. Ia memperhatikan tempat kerjanya yang ada di ruangan terbuka. Mejanya dengan meja karyawan lain juga sangat berdekatan. "Kenapa jaraknya sangat sempit? Apa dia sengaja membuatku tidak nyaman? Atau jangan-jangan, berniat ingin mempermalukanku di depan seluruh karyawannya?" gumam Zara dalam hati yang langsung berprasangka buruk. "Zara?" panggil Bobby sekali lagi pada Zara yang terlihat setengah melamun. "I ... iya, Pak?" "Jangan terlalu tegang. Kamu belum bekerja, jadi jangan berpikir terlalu serius," tutur Bobby. Zara hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum canggung. "Wah! Ternyata ada karyawan baru, ya!" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari arah yang tidak jauh. Zara dan Bobby pun menoleh ke arah asal suara tersebut. Terlihat pasangan laki-laki dan perempuan yang baru memasuki ruang kerja. Zara tersenyum menyapanya. "Kalian tumben datang pagi?" tanya Bobby pada mereka. "Pak Kaidan menyuruh kita untuk mengecek beberapa aplikasi yang kemarin sempat jadi masalah," jawab karyawan perempuan. "Hhmm ...." Bobby hanya mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. "Oh iya! Kenalkan, ini Zara, karyawan baru yang menempati posisi sebagai sistem analis," kata Bobby memperkenalkan Zara pada kedua karyawan tersebut. "Kenalkan, aku Rina," kata karyawan perempuan itu menyodorkan tangan ke arah Zara. Zara pun membalas jabatan tangannya. "Ini suamiku, Andi," tambahnya memperkenalkan karyawan laki-laki yang tadi bersamanya. "Aaah! Kalian suami istri?" tanya Zara nampak tercengang. "Ya! Apa kita tidak terlihat seperti suami istri?" tanya Andi. "Bukan begitu! Tapi aku pikir perusahaan ini tidak boleh mempekerjakan suami istri bersama." "Karena kita dari jurusan yang sama dan juga saat kita melamar posisi ini, dulu memang sedang membutuhkan dua posisi yang setara. Jadi, pak Kaidan merekrut kami secara bersamaan," jelas Rina. Zara mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Kalian adalah senior. Mohon bimbingannya," kata Zara sembari mengangguk sopan. "Bukankah seharusnya kamu berkata begitu pada Bobby? Dia yang selalu mengajari semua karyawan yang baru datang ke sini," kata Andi. Membuat Zara menautkan kedua alis bingung. "Tidak ... tidak! Kali ini bukan aku yang mengajari Zara, tapi pak Kaidan sendiri," jawab Bobby. "Apa?! Pak Kaidan yang turun tangan langsung?!" tanya Andi dan Rina hampir bersamaan. Ekspresi Andi dan Rina membuat Zara bingung. "Memangnya kenapa?" tanya Zara. "Pak Kaidan tidak pernah mengajari langsung karyawan baru. Sama seperti perekrutan karyawan, beliau hanya tinggal terima beres saja. Aku dan suamiku saja diajari oleh Bobby saat pertama kali masuk sini," jelas Rina. Zara pun jadi menautkan kedua alis heran. "Apa jangan-jangan pak Kaidan mentargetkan karyawan baru untuk dijadikan sasaran amarahnya? Bukankah aplikasi yang dibuat selama ini selalu tidak beres?" tebak Andi yang membuat Zara semakin cemas. "Siapa bilang tidak beres?!" Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara tegas Kaidan. Membuat semuanya terkejut bukan main. Mereka semua menoleh ke belakang dan melihat Kaidan berdiri tegap dengan setelan jas yang sangat rapi. Mereka semua langsung salah tingkah melihat bos yang mendadak muncul itu. Melihat Kaidan, Zara langsung merasa jantungnya berdebar lebih kencang. "Pa ... pagi, Pak?" sapa Andi dengan setengah takut-takut. "Tumben, Anda datang pagi sekali, Pak?" tanya Rina yang langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Kalau aku tidak datang pagi, aku pasti tidak mendengar kalian membicarakanku, bukan?" jawab Kaidan dengan nada yang sama. Para karyawan pun langsung tercekat terdiam tidak berani membalas ungkapan Kaidan. Mereka semua menundukkan kepala termasuk Zara. Kaidan melirik ke arah Zara yang juga terdiam tidak berani bicara. "Semuanya, mulailah bekerja!" pinta Kaidan tegas. Kemudian, ia kembali melihat Zara. "Zara, ikut ke ruanganku!" Setelah itu Kaidan berjalan menjauh. "I ... iya, Pak," jawab Zara gugup. Kaidan berjalan menuju ke arah ruangannya. Zara mengikutinya dari belakang. Andi, Rina dan Bobby memperhatikan mereka berdua masuk ke dalam ruangan kaidan. "Kira-kira kenapa pak Kaidan mau berhubungan langsung dengan karyawan baru?" bisik Bobby. "Entahlah? Kau tahu berapa banyak karyawan yang keluar masuk karena sikap keras pak Kaidan, bukan? Makannya, pak Kaidan memberlakukan sistem kontrak, supaya karyawan tidak bisa keluar seenaknya setelah tanda tangan kontrak," jelas Bobby. "Tapi lihatlah gadis kecil itu. Malang sekali nasibnya. Semoga saja pak Kaidan bisa lebih lembut padanya," ujar Rina. Sedangkan di dalam ruangan Kaidan, ia duduk di meja kerjanya. Zara berdiri menunggu perintah. Kaidan mengambil sebuah dokumen dari beberapa tumpukan dokumen di atas meja tersebut, lalu membacanya. "Ceritakan dirimu saat kuliah dulu," kata Kaidan yang berbicara dengan tetap melihat dokumennya. Mendengar pertanyaan Kaidan, Zara pun mengkerutkan kening. "Maaf, Pak! Saya sudah katakan kalau tidak baik mencampurkan urusan pribadi dengan kantor. Bukankah Anda seharusnya bersikap profesional?" jawab Zara. Kaidan menghentikan membaca dokumen. Ia mengangkat kepala melihat Zara yang masih berdiri menunggunya. Kaidan lalu menghela nafas pelan dan fokus ke arah Zara. "Aku ingat, dulu kamu pernah menang kompetisi pengembangan aplikasi, bukan? Ceritakan sistem yang kamu buat waktu kuliah dulu, supaya bisa diaplikasikan pada proyek baru yang akan aku lakukan dalam waktu dekat ini," jelas Kaidan. Mendengar penjelasan Kaidan, Zara tercekat terdiam kaku. Rupanya Kaidan ingin bertanya yang berhubungan dengan pekerjaan. Membuatnya malu sendiri. "Ah! Saya pernah mengembangkan aplikasi pembelajaran online, dulu," jawab Zara dengan memutar kedua bola mata karena salah tingkah. "Hmm ...!" Kaidan mengangguk-nganggukkan kepala. "Kalau begitu, tuliskan fase perencanaannya untukku? Seingatmu saja secara mendasar!" pinta Kaidan lagi. "Baik, Pak." "Ada beberapa tata cara penulisan yang sudah dijadikan dokumen di balik lemari itu," tunjuk Kaidan pada sebuah lemari besar di dalam kantornya. "Ambillah salah satu sebagai contoh dan tuliskan sama persis dengan itu!" "Iya, Pak." Zara pun membalikkan badan dan berjalan menjauh. Menuju ke arah lemari besar yang ditunjuk Kaidan. Ketika Zara berjalan, Kaidan diam-diam memperhatikannya dari belakang. Sampai Zara membuka lemari dan tidak terlihat lagi karena tertutup oleh pintu lemari yang terbuka. Kaidan pun mengulas satu senyum tipisnya secara diam-diam. Ia kembali melihat dokumen yang ada di tangannya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan Kaidan dari arah luar. Membuat Kaidan menoleh ke arah pintu. Ada seorang laki-laki mengenakan kacamata hitam masuk ke dalam ruangannya. "Pagi, Dan!" sapa laki-laki itu berjalan melebarkan senyum ke arah Kaidan. Zara yang masih mencari di balik lemari itu, terhenyak begitu mendengar suara laki-laki itu. Zara kenal betul suara itu. Ia mengintip ke arah meja Kaidan untuk memastikan. Ketika tahu, Zara melebarkan kedua matanya. "Lutfi! Dia yang dulu paling parah mengolokku di ruang broadcast itu! Sial! Ternyata dia juga bekerja di sini!" gerutu Zara dalam hati kesal. "Tumben pagi-pagi kau sudah ke sini? Bukankah jadwalmu ke kantor masih jam sebelas siang?" tanya Kaidan pada Lutfi. "Aku dengar dari Bobby, kalau ada karyawan perempuan baru. Kenapa tidak kau kenalkan padaku?" tanya Lutfi sembari menaikkan salah satu alisnya. "Aku memperkejakan siapa pun, tidak perlu kenalan dulu denganmu!" jawab Kaidan nampak tak acuh. "Dan, lihatlah! Aku sudah berpenampilan keren seperti ini demi bisa berkenalan dengan karyawan baru itu. Aku dengar dia cantik. Memangnya aku mau sendiri terus menerus sepertimu?" "Sudah! Keluarlah! Aku sedang konsentrasi!" "Dan, jangan terlalu keras bekerja! Dari kuliah sampai sekarang, kau terus saja melajang. Padahal banyak sekali yang menyatakan cinta padamu. Termasuk yang penampilannya culun itu. Kau ingat? Kejadian waktu kuliah di ruang broadcast itu?" ujar Lutfi sembari tersenyum kekeh. Kaidan pun tercekat sesaat. Ia menutup dokumennya dan melihat ke arah Zara. Ternyata Zara sudah menutup lemarinya dan membawa sebuah dokumen dari sana. Zara berjalan perlahan mendekat ke arahnya di belakang Lutfi. "Kau ingat kejadian itu, kan?" tanya Lutfi lagi. "Sebenarnya dia cantik. Tapi dengan penampilan seperti itu, aku tidak percaya kalau dia berani menyatakan perasaannya." Lutfi masih berbicara sembari tertawa setengah meledek. Kaidan pun langsung setengah panik. Tentu saja Zara bisa mendengar semuanya. Kaidan mencoba memberi kode pada Lutfi dengan berdehem beberapa kali supaya ia diam. Namun, sayangnya Lutfi sama sekali tidak menyadarinya. "Lut, kau—" "Siapa namanya dulu? Za ... Za ...." "Zara!" potong Kaidan yang langsung berdiri melihat lurus ke arah Zara. Ia berniat memanggil Zara yang ada di belakang Lutfi. Sekaligus ingin memberitahu Lutfi. "Nah! Benar! Zara! Aku baru ingat!" seru Lutfi yang masih tidak sadar. Kaidan pun memejamkan kedua mata sembari menghela nafas beratnya. "Kau masih ingat bagaimana wajahnya saat itu? Benar-benar sangat konyol! Tapi ngomong-ngomong, ke mana dia sekarang, ya?" tanya Lutfi seolah berbicara sendiri. "Saya di sini!" ungkap Zara dengan nada tegas karena sudah tidak tahan. Lutfi terhenyak kaget karena mendengar suara perempuan dari arah belakangnya. Ia pun membalikkan badan untuk mencari tahu siapa pemilik suara tersebut. Sekian detik kemudian, Lutfi mengejang kaku. Kedua matanya langsung otomatis membelalak. Ia mengendorkan kacamata hitamnya untuk melihat lebih jelas lagi. Ketika sudah dipastikan, ia langsung berubah jadi patung dan mulutnya langsung kering. "Za ... Za ... Za ...." "Zara Kavita!" potong Kaidan sembari menepuk pundaknya. Membuat mulut Lutfi terhenti sendiri. "Kenalkan, inilah karyawan baru itu. Oh! Seharusnya kau ingat, kalau dia adalah adik tingkat kita dulu, kan?" ujar Kaidan. Lutfi yang langsung berubah pucat itu, pun menoleh ke arah Kaidan linglung. "Apa kabar pak Lutfi?" sapa Zara tegas dengan ekspresi datar dan nampak memendam rasa kesal. "A ... ap ... apa kabar juga?" jawab Lutfi yang mendadak gagap. Kaidan menahan tawa melihat sikap Lutfi seperti itu. "Bagaimana, Zara? Apa kamu sudah menemukan dokumennya?" tanya Kaidan pada Zara yang langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Sudah, Pak." "Kalau begitu siapkan perencanaan sesuai permintaanku tadi!" "Baik, Pak," jawab Zara. Sebelum keluar, Zara sekali lagi menatap ke arah Lutfi tajam yang masih mematung tidak bisa bergerak. Setelah itu ia berjalan keluar ruangan Kaidan. Begitu Zara sudah ada di luar ruangan, Lutfi kesusahan menengokkan kepala ke arah Kaidan karena mendadak lehernya terasa kencang. "Za ... Za ... Za ...." "Zara Kavita!" Lagi-lagi Kaidan menghentikan gagap Lutfi itu. "Di ... dia benar-benar Zara yang waktu itu?!" tanya Lutfi lagi. "Hm!" Kaidan mengangguk satu kali. "Kelak, kau harus lebih berhati-hati! Mungkin saja dia masih dendam padamu," kata Kaidan yang kemudian berjalan kembali ke kursi tempat kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD