Bab 3. Kebetulan

1310 Words
Zara sudah sampai di depan tempat tinggalnya. Ia membuka pintu lalu berjalan lemas memasuki kos tempat tinggalnya. Zara berjalan setengah linglung ke arah sofa kecil tempat duduknya. Ia merebahkan tubuh menyandarkan punggung di sofa sembari menghela nafas berat. Dalam keheningan ruang kos yang sempit itu, Zara memandangi langit-langit ruang tamu sembari merenung. Baru saja terjadi hal besar dalam hidupnya. Pertemuan yang tidak pernah ia harapkan. Pimpinan Axion Tech adalah seorang Kaidan Raditya! Setelah kejadian di ruang broadcast itu, Zara sudah menjalani menjadi orang asing yang bertahan di kampus selama tiga tahun. Baru saja ia akan menarik nafas lega setelah lulus karena terlepas dari kecamuk hati yang cukup membelenggu. Tapi kenapa justru dipertemukan lagi dengan Kaidan?! "Sudah tiga tahun berlalu. Apa kamu masih marah padaku?" Terlintas kalimat Kaidan yang baru saja diajukan pada Zara saat interview tadi. Entah kenapa kalimat itu membuatnya tidak bisa tenang? Terus saja mengitari dan memenuhi isi otaknya. Zara terbangun cepat dan duduk dengan tegak. "Bagaimana aku bisa memaafkannya?! Karena dia, aku jadi orang yang terasingkan satu kampus!" seru Nada berbicara sendiri dengan menghentakkan tangan di sofa karena kesal. "Jadi apa yang harus aku lakukan ...?!" gerutu Zara yang kali ini mengganti nadanya menjadi rengekan. l "Kamu sudah tanda tangan kontrak. Kalau mau membatalkannya, maka kamu harus membayar denda sesuai penalti! Semuanya terserah padamu!" Kalimat Kaidan yang lain melintas di otak Zara. Kalimat itu juga tidak kalah mengganggu dengan kalimat yang pertama tadi. Membuatnya merasa terjebak. Lagi pula, Zara juga sudah melihat berapa besar penalti yang harus dibayar ketika ia membatalkan kontraknya. "Aku mana ada uang sebesar itu ...?!" keluh Zara sembari memejamkan kedua mata dan menghela nafas berat. Sekian detik kemudian, Zara membuka kedua mata. Ia menegakkan punggungan dan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Kejadian yang tidak biasa ini, harus segera ia ceritakan pada Aurel. Zara menghubungi Aurel melalui ponselnya. "Halo?" Sekian detik, terdengar suara Aurel dari dalam ponsel. "Rel! Aku ingin cerita!" "Zar?! Kamu sudah pulang? Bagaimana interviewnya? Lancar?" "Eeemmm ... tidak juga. Tadi ada hal kejadian mengejutkan yang membuatku tidak nyaman." "Hah?! Kejadian menyenangkan? Halo?! Zar?! Kenapa suaramu putus-putus?!" kata Aurel yang setengah berteriak. Zara pun menautkan kedua alis mendengar jawaban Aurel. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat layar benda pipih itu. Kemudian kembali menempelkan di telinga. "Sinyalku baik-baik saja, kok! Mungkin sinyalmu yang jelek. Memangnya kamu ada di mana?" "Aaah! Aku sedang di dalam kereta!" "Di kereta?! Kamu mau ke mana?" "Maaf, aku belum bilang. Aku mau pulang kampung. Aku ditawari om-ku kerja di perusahaannya. Dan tawarannya sangat mendadak. Besok aku sudah disuruh masuk kerja." "Benarkah?! Baguslah kalau begitu!" "Iya. Aku sudah membereskan semua barang di kosku dari tadi malam untuk pulang kampung. Jadi aku tidak akan kembali lagi ke kos selama kurang dari satu tahun." "Apa?! Kenapa kamu tidak memberitahuku?!" "Maaf, aku benar-benar terburu-buru. Aku juga takut kalau mengganggu latihan interviewmu tadi malam." "Apa itu artinya kita tidak akan bertemu selama satu tahun ke depan?" "Sepertinya begitu?" "Aurel! Kenapa kamu setega itu padaku?! Padahal aku selalu memberitahumu kalau aku ada apa-apa!" "Zar, kita hanya berpisah kota. Bukan berpisah negara atau planet! Sekarang teknologi juga sudah maju. Kita masih bisa telepon setiap hari. Oh iya! Ada apa dengan interviewmu tadi? Kapan kamu mulai kerja?!" "Besok aku mulai kerja." "Benarkah?! Jadi besok kita sudah jadi pekerja! Selamat untuk kita, Zara!" "Tunggu, Rel! Aku mau bilang kalau ternyata pimpinan perusahaan itu adalah ...." Zara menghentikan kalimatnya saat berbicara karena ia mendengar suara nada terputus dari dalam ponselnya. Zara menjauhkan ponsel dan kembali melihat layarnya yang memang ternyata sudah padam. Zara mencoba menghubungi Aurel lagi. Tapi sayangnya nomornya mendadak tidak aktif. "Kenapa ini? Apa karena sinyal di sana buruk?" tanya Zara berbicara sendiri. "Ah ...! Sudahlah! Percuma juga cerita dengan sinyal jelek seperti itu!" Zara membuang ponsel di samping. "Kenapa dia tidak cerita kalau mau pulang dan sudah tidak kos lagi di tempat yang sama! Sahabat macam apa dia?!" gerutu Zara yang kesal sendiri. Zara kembali terdiam melamun memandangi langit-langit kamarnya. Ia membayangkan, bagaimana jadinya kalau Aurel tidak ada? Selama ini, hanya Aurel rempah di mana dia bisa cerita. "Kalau begitu aku juga akan pindah dari sini!" kata Zara tiba-tiba kembali terbangun dan duduk. Ia kembali mengambil ponsel sambil mengusap-usap layarnya. "Lagi pula, di sini sudah terlalu banyak kenangan menyebalkan! Hanya kenangan dengan Aurel yang membuat nyaman, tapi dia juga sudah pindah! Aku tidak mau tinggal di sini lagi!" ungkapnya masih merasa kesal. Kemarin, Zara sudah mensurvei beberapa apartemen untuk tempat tinggal barunya. Ia juga sudah menyimpan kontak pemilik apartemen tersebut. Sebenarnya, ia ingin pindah setelah masa tinggal di tempatnya berakhir. Tapi kalau situasinya sudah seperti ini, ia pun ingin segera pindah secepatnya. *** Sesuai rencana, hari ini juga Zara telah melihat-lihat beberapa apartemen, calon tempat ia tinggali. Ia sudah melihat dua apartemen sebelumnya dan ia merasa tidak cocok. Hanya tinggal satu yang kosong yang sedang ia lihat sekarang. "Bagaimana, Mbak? Apa Mbak suka?" tanya Seorang perempuan tengah baya pemilik apartemen tersebut. "Apa air di sini lancar, Bu?" Zara balik bertanya. "Lancar, Mbak! Sangat lancar. Belum ada keluhan soal air sebelumnya." "Bagaimana dengan suasana di daerah sekitar?" "Suasananya cukup tenang. Sangat cocok untuk pekerja seperti Mbak! Jadi mudah untuk konsentrasi." Zara hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Setelah itu ia melihat-lihat lagi ruang bagian dalam apartemen itu. Tempatnya cukup bersih juga. "Mbak, apa kamu sudah punya pacar?" tanya ibu pemilik tersebut yang membuat Zara terhenyak dan menoleh ke arahnya. "Pacar? Belum, Bu. Kenapa?" "Nah! Kalau begitu apartemen ini akan sangat cocok dengan, Mbak! Nomor apartemen ini adalah tiga puluh tiga. Ada di lantai tiga juga. Menandakan angka kembar. Artinya yang menginap di sini, pasti akan segera mendapat jodoh! Dulu, penyewa sebelumnya juga begitu. Dia akhirnya pindah karena sudah mendapat pasangan," jelas ibu pemilik tersebut. "Di seberang apartemen Mbak ini juga ada seorang pria lajang yang belum menikah! Mungkin saja kalau Mbak jadi menyewa di sini, kalian bisa jadi teman dekat, lalu jadi pasangan!" tambah ibu itu lagi sembari menunjuk ke arah apartemen yang berhadapan tepat dengan apartemen ini. Zara tahu, ibu itu hanya melakukan teknik marketing. Sehingga ia hanya menanggapinya dengan tersenyum canggung. Menurut Zara sama sekali tidak ada sangkut pautnya antara nomor apartemen dengan jodoh. Benar-benar konyol! Siapa yang percaya dengan tahayul seperti itu?! "Tapi saya benar-benar tidak berniat untuk mencari pasangan dulu, Bu," sanggah Zara masih dengan nada sopan. "Sudahlah, Mbak tidak perlu dipikir terlalu panjang. Begini saja! Bagaimana kalau saya kasih diskon!" kata ibu itu lagi. Zara pun langsung melebarkan kedua mata antusias. "Diskon?!" "Iya, Mbak! Hanya untuk Mbak saja. Biar saya juga tidak capek bolak balik kalau ada yang tanya apartemen kosong. Saya kasih murah saja untuk Mbak!" "Kalau begitu, saya ambil saja, Bu! Saya bayar enam bulan ke depan sekalian karena murah!" "Syukurlah, Mbak. Kalau begitu silahkan kita transaksi di bawah saja ya, Mbak," ajak ibu itu. Nada menganggukkan kepala sembari tersenyum tanda setuju. Mereka berdua lalu keluar apartemen dan turun lewat lift. Calon apartemen Zara bernomor tiga puluh tiga. Zara akan ingat itu. Sedangkan di seberang calon apartemen Zara, yaitu apartemen nomor tiga puluh empat, keluar seorang laki-laki. Laki-laki itu akan menjadi calon tetangga Zara nantinya. Laki-laki itu meletakkan sampah di luar dekat pintu. Dari tadi, laki-laki itu seperti mendengar suara ibu pemilik apartemen sedang berbicara dengan seseorang di apartemen kosong depan tempatnya. Namun, begitu ia keluar, ia tidak melihat siapa-siapa karena Zara dan ibu pemilik sudah turun ke lantai bawah. "Mungkin ada yang bertanya tapi tidak jadi lagi?" gumam laki-laki itu. Ketika laki-laki itu akan masuk, ia terhenti karena ponselnya berdering. Ia melihat ada panggilan masuk. Ia pun mengangkat panggilannya. "Halo? Pak Kaidan? Saya sudah menempatkan meja karyawan baru yang bernama Zara itu sesuai permintaan Anda, Pak." Suara yang terdengar dari dalam ponsel laki-laki itu. "Hm! Bagus! Besok dia sudah mulai masuk bekerja." Ya! Laki-laki yang menyewa apartemen di seberang calon apartemen Zara adalah ... Kaidan. Mereka berdua masih saling tidak tahu. Lantas, apa yang akan terjadi setelah ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD