Di dalam ruangan Kaidan, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari memeriksa profil riwayat hidup Zara yang dikirimkan untuk melamar kerja di perusahaan ini. Sedangkan Zara, berdiri menunggu dengan tenang. Seolah-olah Zara tidak mengenalinya.
Sesekali Kaidan melirik ke arah Zara yang berdiri di dekatnya itu. Benarkah ini Zara yang waktu itu? Kenapa dia sangat berbeda? Dia ... sangat cantik sekali. Cara dandan, cara berpakaian dan penampilannya. Dengan wajah yang sama, Zara terlihat seperti orang lain. Kaidan lalu kembali melihat resume milik Zara.
"Lama tidak bertemu?" tanya Kaidan yang berbicara, tapi tidak melihat ke arah Zara dan tetap melihat profil milik Zara.
Zara hanya diam dan sama sekali tidak menjawab. Kaidan kembali melirik ke arahnya yang memang sepertinya tidak berniat untuk menjawab. Kaidan pun kembali melihat profil resume milik Zara.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Kaidan lagi.
"Kalau Anda tidak setuju saya bekerja di sini, saya akan pergi dari sini, Pak," jawab Zara dengan cepat. Kaidan terhenti melihat profil Zara dan mengangkat kepala melihat Zara.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena saya tidak begitu pintar dan tidak berkompeten. Anda bisa mengusir saya kapan saja."
"Tidak juga. Resummu cukup bagus. Lulus dengan nilai IPK tinggi. Prestasimu juga patut dibanggakan. Sesuai dengan apa yang diharapkan di perusahaan ini. Mana mungkin aku mengusirmu?" jawab Kaidan.
"Tidak, Pak. Saya cukup ceroboh dan tidak berpikir panjang. Bertindak terlalu terburu-buru tanpa memikirkan resiko setelah saya melakukan sesuatu," sanggah Zara mantap. Kaidan pun diam berpikir, mencerna maksud kalimat Zara tersebut.
"Apa kamu membicarakan tentang kejadian di ruang broadcast waktu itu?" tanya Kaidan seolah langsung menembaknya.
Zara terhenyak. Ia menatap ke arah Kaidan cepat. Tangannya menggenggam erat. Jujur saja, kalimat Zara memang tertuju pada kejadian waktu itu. Namun, saat mengingat kejadian di ruang broadcast tiga tahun lalu, rasanya masih sangat memalukan dan cukup menyakitkan. Zara kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Saya sama sekali tidak ingat apa pun tentang itu," jawab Zara dingin.
"Sudah tiga tahun berlalu, apa kamu masih marah padaku?" tanya Kaidan lagi yang tidak mau melepaskan soal memori buruk itu.
"Maaf, Pak! Ini adalah tempat kerja. Saya rasa sebagai pemimpin, Anda juga tahu kalau tidak pantas membicarakan soal pribadi di tempat kerja," jawab Zara masih terdengar dingin dan menatap tajam Kaidan.
Sangat terlihat kalau Zara benar-benar masih marah dan kesal. Kaidan memperhatikan tatapan Zara yang penuh rasa benci dan dendam ke arahnya. Zara tersadar kalau ia terbawa emosi, sehingga ia menundukkan pandangan menghindari tatapan Kaidan.
"Maaf, saya mungkin tidak sopan. Jika Anda tidak suka sikap saya, Anda bisa mengeluarkan saya kapan saja."
"Kamu sudah menandatangani kontrak, mana mungkin aku mengeluarkanmu. Kamu harus bekerja seperti perjanjian yang tertulis di kontrak. Tapi kalau kamu ingin membatalkan kontrak itu, artinya kamu juga harus membayar penalti sesuai yang tertulis di sana."
Zara kembali mengangkat kepala melihat ke arah Kaidan dengan memasang wajah tidak terima. Kaidan mengamati dari raut wajah Zara yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Namun, seperti tertahan.
"Aku menerimamu kerja di sini. Tapi, aku melihat justru sepertinya kamu yang ingin membatalkan kontrak ini, bukan?" tanya Kaidan lagi.
Zara masih diam menatap Kaidan dan belum bisa menjawab. Sekian detik kemudian, ia kembali menundukkan pandangan. Seolah pasrah dengan apa ketentuan Kaidan.
"Baiklah!" ucap Kaidan sambil menutup resume milik Zara. "Karena sudah sepakat, kamu bisa mulai bekerja besok! Sesuai posisi yang kamu lamar, aku sendiri yang akan membimbing dan mengajarimu."
***
Zara berjalan keluar dari gedung Axion Tech. Ketika sudah melewati pintu keluar, ia membuka kedua telapak tangan dan melihat tangannya sendiri yang nampak gemetar, karena menahan rasa kesal dan marah begitu berhadapan dengan Kaidan tadi.
Zara lalu kembali menurunkan kedua tangannya. Ia menarik nafas panjang mengontrol detak jantungnya yang berdetak tidak karuan dari tadi. Ia lalu kembali melihat gedung Axion Tech yang dilaluinya.
Selama tiga tahun ini, Zara terus berusaha menghindar dan menghilang dari kehidupan Kaidan. Ia benar-benar tidak menyangka kalau harus dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Siapa yang tahu kalau Kaidan selama ini ternyata adalah pimpinan perusahaan Teknologi yang cukup ternama?
Zara teringat semua kalimat pertanyaan Kaidan saat mewawancarainya tadi. Kenapa Zara merasa seolah-olah Kaidan sedang mengerjainya? Seakan-akan Kaidan memang sengaja menerimanya untuk kembali melakukan hal buruk padanya?
Trauma tiga tahun lalu sudah cukup membuat Zara menjadi orang yang terasingkan di kampus. Apa itu akan terulang lagi di perusahaan ini? Mungkinkah Kaidan akan mengumumkan pada semua karyawan kalau dulu Zara pernah mengungkapkan perasaan padanya? Itulah hal yang terpikirkan oleh Zara.
"Dasar laki-laki mulut ember!" olok Zara pelan berbicara sendiri sembari mendengkus kesal. Zara kembali diliputi rasa marah karena ingatan itu muncul lagi. Namun, sekian detik kemudian ia kembali menundukkan kepala.
"Tapi apa yang bisa aku lakukan?" katanya lagi sembari menghela nafas beratnya. "Aku sudah tanda tangan kontrak dan tidak bisa dibatalkan," tambahnya pasrah.
Zara benar-benar tidak ada pilihan lain lagi selain harus bekerja di sini. Akhirnya ia kembali melangkahkan kaki menjauhi Axion Tech dengan langkah lemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa aku sampai tidak tahu pimpinan perusahaan ini adalah dia?" Zara terus berbicara sendiri melangkah menjauh sembari memukul-mukul kepalanya pelan.
Sedangkan dari lantai tiga gedung Axion Tech, di dalam ruangan Kaidan, Kaidan sedang berdiri di dekat jendela dan memperhatikan pemandangan luar melalui kaca jendelanya. Ia bisa melihat Zara yang sedang berjalan lemas menjauhi gedung Axion Tech.
"Permisi, Pak?"
Terdengar suara seorang laki-laki yang masuk ke dalam ruangan Kaidan. Kaidan tahu itu suara Bobby, asistennya. Sehingga ia tidak perlu menolehkan kepala ke arah Bobby. Justru, Kaidan tidak ingin mengalihkan pandangan dari Zara yang terus semakin jauh itu.
"Ada apa?" tanya Kaidan terus menatap arah pemandangan jendela luar.
"Saya sudah menyiapkan ruangan untuk karyawan baru perempuan itu, Pak. Besok, dia bisa bekerja di ruangan lantai dua," kata Bobby. Kaidan terdiam berpikir sejenak. Ia lalu menolehkan kepala ke arah Bobby cepat.
"Ganti ruangannya dengan ruangan di sebelah kantorku!" pinta Kaidan yang membuat Bobby menautkan kedua alis heran. Dengan begitu tempat kerja Zara nanti bisa berdekatan dengan ruangan Kaidan. Kaidan pun juga bisa melihat Zara dari dalam kaca ruangannya.
"Tapi Pak, ruangan itu sudah cukup penuh. Kalau—"
"Geser saja meja yang lain! Jadi, masih bisa muat untuk satu orang!" potong Kaidan lagi. Bobby awalnya heran dengan perintah Kaidan. Namun, ia tidak bisa menyanggahnya.
"Baik, Pak," jawab Bobby yang akhirnya pergi keluar.
Setelah Bobby keluar, Kaidan kembali melihat ke arah luar jendela. Di mana Zara masih terlihat dari tempat Kaidan berdiri. Kaidan bisa melihat Zara yang memukul-mukul kepala itu. Membuat Kaidan tertawa kecil melihatnya.
"Jadi dia benar-benar Zara? Zara Kavita jurusan sistem informasi yang berprestasi waktu itu?" gumam Kaidan pelan berbicara sendiri. Sekian detik kemudian, Kaidan mengulas satu senyum, di mana hanya Kaidan sendiri yang tahu maknanya.