B A B 2

1513 Words
"Jika mencintai diam-diam dapat menghasilkan uang, percayalah, aku sudah jadi sultan sejak dulu kala." —Pagi ini cerah, ada awan, langit biru, dan yang paling penting ada deretan gigi serta senyum manismu. NADINE ‘S POV Aku memakan sarapanku dengan tenang, begitupun Aqila yang sedang duduk memakan sarapannya disampingku. Dia sudah rapi dengan seragam berwarna biru kotak-kotak tersebut. Sedangkan aku, seperti biasa, hanya seadanya. Dan mama masih berada di kamarnya, mempercantik diri. Jika kalian bertanya tentang papaku, dia tidak berada di Indonesia. Pekerjaan yang papa tekuni membuatnya terpaksa tinggal di benua lain. "Kak, lo nanti malem kemana?" tanya Aqila memecah pikiranku. "Emang kenapa?" jawabku cuek. "Ini masih pagi woi! Udah nggak enak aja gaya ngomong lu," ucap Aqila lalu meminum s**u coklatnya hingga tandas. "Iya, Dek, emang kenapa? Lu mau ngajakin gue kemana?" ucapku menatapnya sambil mengukir senyum terpaksa. Ini menyebalkan. "Kita ke mall, yuk! Gue pengen beli sesuatu, katanya baru keluar gitu barangnya, mana lucu." Aku menatap Aqila ngeri. Kenapa harus membuang uang dengan benda yang belum tentu akan digunakan. "Lo mau gunain bendanya atau mau pamer ke temen-temen lo?" tembakku sembari menatap Aqila datar. "Nggak dua-duanya." Aqila menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapih. "Terus buat diapain?" Aku sendiripun jadi penasaran pada apa yang akan Aqila lakukan. "Ada, deh, kepo amat, sih." "Yaudah, lo pergi sendiri aja, nggak usah ngajak gue," ucapku santai lalu meminum s**u hangat di tanganku. "Yah! jangan begitu. Nanti lo sendiri bakalan tau. Pokonya temenin gue aja. Udah gue mau berangkat, lu mau barengan?" Dengan segera aku menggeleng menanggapi tawaran Aqila. "Iya udah sana, jangan lupa pamit sama mama,” peringatku bersiap-siap juga ingin berangkat. "Dah, Kak, gue pergi," pamit Aqila meninggalkan ruangan makan. Sebelum berjalan, aku merapikan ikatan sepatuku terlebih dahulu. Seperti tersihir, aku menatap sepatuku sambil berpikir, apa sepatu ini yang membuat orang-orang menilaiku sebagai orang susah? Bukankah sebuah sepatu akan terlihat lebih keren saat sepatu itu terlihat kotor? Lagipula sepatu ini belum kotor sempurna. Mungkin aku harus mencoba masuk ke dalam lumpur untuk menyempurnakan bentuk sepatuku. Terserahlah apa yang mereka pikirkan tentangku. Toh, ini juga hidupku. Memikirkan omongan mereka tidak akan membuat perutku terisi. Aku berdiri, bersiap pamit pada mama yang baru saja ingin sarapan. "Ma, Nadine pamit," ujarku dengan cepat meninggalkan ruang makan. "Kamu nggak mau bareng Mama?" Aku masih mendengar teriakan mama, selalu pertanyaan sama yang keluar dan jawabanku akan selalu sama, yaitu menolak. Kecuali jika aku sudah terlambat pergi ke sekolah, maka dari itu tidak ada pilihan lain selain sarapan bersama mama dan menumpang pada mobilnya untuk diantar ke sekolah. * * * Halte hari ini seperti biasa, ramai dengan lalu lalang orang yang hendak pergi dan pulang. Aku mengambil posisi di bibir halte, berharap ketika bis nanti datang, aku dapat bergerak cepat dan duduk di kursi favoritku. Headset yang aku pasangkan di telinga masih setia memutarkan music dari salah satu band asal luar negeri. Saat bis yang aku tunggu akhirnya datang, aku sudah bersiap-siap untuk naik. Namun ketika akan baru melangkah, kurasakan sebuah tangan menahanku. Siapapun dia, dia akan membuatku kehilangan kursi belakang di bagian jendela! Aku menoleh, mendapati si bodoh Sean tengah tersenyum manis. Lelaki itu sengaja menahanku sampai semua orang masuk, baru setelah itu ia menarikku untuk masuk ke dalam bis. Aku menghelas napas kasar, kursi favoritku sudah diambil seorang pekerja kantor, mungkin. Dia terlihat lumayan rapi dengan kemeja putih dan jas warna hitam. Seperti teringat dengan masalah yang baru saja terjadi, aku langsung menoleh dan menatap Sean garang. "Lo ngebuat gue kehilangan kursi gue, Bego!" Aku berapi-api, Sean benar-benar membuat pagiku yang cerah berawan berubah menjadi badai guntur. "Itu kursi umum, siapapun boleh duduk disana," ucap Sean santai. "Kalau lo nggak nahan gue, gue pasti bisa duduk disana.” Aku masih menjawab dengan nada tidak terima. Enak saja alasannya seperti itu! “Terus liat sekarang, gara-gara lo kita berdua jadi berdiri begini." "Lo tadi mestinya ngeliat, banyak banget orang-orang tua. Tuh perhatiin, kebanyakan yang lagi duduk orang-orang tua. Ngalah sekali nggak apa-apa, kan?" Aku terdiam, memperhatikan sekeliling. Sean benar, begitu banyak orang tua. "Udah sadar?" Pertanyaan Sean kutanggapi dengan hening, malu membuatku tidak bisa berkata-kata. "Kenapa lo naik bis?" tanyaku memulai topik lain. "Lagi pengen aja," jawab Sean sambil melemparkan pandangan menembus jendela bis untuk melihat jalanan di luar. "Bukan karna pengen ngikutin gue?" celetukku asal sambil menatap Sean datar. "Sinting! Ngapain gue ngikutin lu?" cerocos Sean sembarangan tepat di telingaku. Sementara aku hanya bisa berdoa semoga kesabaranku tetap terjaga. *** "NADINE!" Teriakannya kembali terdengar dan aku dalam hitungan detik langsung saja menoleh. "Kenapasih, Al?" tanyaku dengan nada dibuat-buat tengah sebal. "Lo yang kenapa, pake nanya ke gue," ucap Aldric sambil merapikan seragamnya. "Gue? Gue nggak kenapa-napa," ucapku terus berjalan tidak peduli dengan ucapan random milik Aldric. "Aqila apa kabar?" Pertanyaan tiba-tiba Aldric tentang Aqila membuat langkahku terhenti tepat di keramaian koridor. Aku melirik ke kanan seraya berpikir, "Baik?" jawabku yang sayangnya lebih terdengar seperti pertanyaan. "Aqila nggak apa-apa, kan? Lo nggak gangguin dia, kan?" ucap Aldric memegang kedua bahuku. Mulai lagi kemampuan dramanya! Kadang inilah yang membuatku bingung. Aldric bisa terlihat begitu berkarisma sebagai seorang laki-laki, namun di sisi yang lain, ia bisa menjadi sosok menggelikan dengan segerobak kemampuan drama picisan---dan itu selalu saja terjadi ketika ia mulai membahas Aqila ketika kami bersama. "Apaansih, lo, nggak usah drama! Adek gue baik," jelasku sembari melanjutkan langkah menuju kelas. "Gue mau ngajakin dia jalan ntar malem, dia ada waktu nggak. ya?" Aku segera membalikkan badan, menatap Aldric yang juga ikut berhenti mendadak karena gerakanku. "Nggak ada!” Aku menjawab dengan tegas. “Aqila sama gue mau pergi ntar malem," sambungku secepat kilat dengan tubuh yang tiba-tiba berubah gugup. Kenapa dia harus mengajak Aqila sedangkan aku bisa menemaninya? Ah, bodoh! Aku memang terlalu banyak berharap dalam hubungan persahabatan bodoh ini. "Lo berdua emangnya mau kemana?" tanya Aldric terdengar penasaran. "Nggak usah kepo." Akupun kembali berjalan, lebih cepat, dan makin cepat, hingga akhirnya berlari. "Eh, Nad tungguin gue!" Dapat kudengar teriakan Aldric dan aku makin berlari kencang ke kelasku yang letaknya masih satu tingkat lagi. Sial, aku begitu membenci tangga dalam keadaan darurat seperti ini. Aku sampai di kelas dan langsung duduk di kursiku. Beberapa dari temanku tampak membuat gerombolan, entah apa yang mereka bicarakan karena aku sendiri tentu tidak mengerti---dan lebih tepatnya tidak berminat sama sekali. Membuat lingkaran lalu mulai membicarakan orang lain, sangat bukan aku sekali. Selain membuang-buang waktu, hal tersebut sangatlah tidak keren. Aku berjalan dan mulai duduk di kursi milikku ketika sebuah panggilan singkat terdengar dari belakang. "Nad.” Terlihat Mere tengah menunggu jawabanku. "Apaan?" responku sembari mengatur napas yang putus-putus. "Katanya bakal ada anak baru di kelas kita. Cowok." "Terus? Hubungannya sama gue apaan?" tanyaku bingung. "Ah, lu nggak asik,” kata Mere sebal sehingga cengiran di wajahnya sukses kubuat luntur. Aku mengedikkan bahu tidak peduli, kemudian membalikkan badan dan melihat Aldric baru tiba di kelas dengan napas tersengal. "Lo---“ tunjuk Aldric dengan tatapan lurus melihatku. “---punya utang sama gue." Aldric memasang ekspresi garang. "Nanti, istirahat, lo wajib traktir gue, Nad," ucapnya dan setelah itu langsung berlalu menuju kursi. "Kok gue?" Aku sedikit berteriak mengingat jarak dudukku dan Aldric yang cukup jauh. Satu-satu teman kami terlihat penasaran, tapi untungnya mereka sudah terbiasa dengan aku dan Aldric yang kerap memang seperti kucing dan tikus. "Gue nggak peduli, ntar gue tagih." Aldric masih ngos-ngosan. Kulihat ia membuang muka untuk melihat Dirma dan memukul bahu temannya itu. “Ketua, ini AC mati apa gimana, dah? Panas banget ini.” “Lah udah nyala, Sompret!” kata Dirma ikut ngegas. “Makanya kalau disuruh sekolah sama nyokap ya sekolah aja yang bener, jangan malah ngebelok. Disuruh sekolah buat belajar malah lu pakai buat jogging.” Aku menahan tawa mendengar ucapan Dirma. Begitulah laki-laki di kelas ini, jarang sekali ada yang beres. Muka dan kelakuan kerap berbanding terbalik. "Nad!” Aku terkejut ketika teriakan muncul lagi dari belakang. Aku menoleh dan melihat Cio---lelaki paling makmur di kelas. “Masa cuma Azka doang, gabisa-gabisa, satu kelas dong, Nad," ucap Cio seenak perutnya. "Eh woi, lu kata gue emak lu," balasku langsung menolak. "Yes ditraktir!" kata Cio tidak nyambung namun bersemangat. Aku hanya bisa menepuk jidatku, tidak tahan dengan kelakuan teman yang tidak pernah lurus. Sejujurnya hanya mereka yang mengetahui perihal latar belakang keluargaku yang sebenarnya. Mereka mengetahui masalah ini karna saat pengambilan rapor semester dua, Papa datang menjadi wali. Setelah itu aku memohon pada mereka untuk tidak memberi tau siapapun tentang ini. Jika mereka bertanya kenapa, aku hanya menjawab, "Ini cuma masalah waktu." Hal tersebut membuat mereka berpikir bahwa suatu saat aku akan membongkar tentang ini, walaupun aku sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan hal tersebut. Maka dari itu aku begitu bersyukur karena kelas tidak pernah diacak ketika naik kelas, karena aku sudah terlampau nyaman dengan kebodohan milik kelas ini. Aku kemudian menatap Aldric yang tersenyum puas ke arahku. Aku mengacuhkannya dan memilih menyalakan ponsel. Tidak lama, satu pesan dari Aldric teampak masuk. Aldric: Tenang, ntar gue ikutan bayar mereka makan. Aku memutar leher ke samping, melihat Aldric yang sedang tersenyum ke arahku dari kursi duduknya. Dasar nyebelin! Tapi tetep aja bikin sayang! Batinku senewen. …t b c…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD