Jeniver masih belum juga terbangun saat seorang dokter pribadi keluarganya yang sudah cukup berusia yang bernama dokter Philip datang dan memeriksanya, dari pemeriksaan awal dia menyimpulkan bahwa Jeniver kekurangan kelelahan akibat dari tidak ada nya asupan makanan dan minuman. Dokter segera memasang infus kepada Jeniver dan meresepkan obat yang harus di tebus, nyonya Hera segera memerintahkan asisten rumah tangga nya untuk menebus resep obat dari dokter Philip tadi.
Perlahan Jeniver mencapai kesadarannya setelah beberapa saat di pasang selang infus, wajah nya yang tadi pucat seperti kertas putih pun kini mulai sedikit lebih cerah. Perlahan dia membuka matanya yang tadi tertutup rapat, mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Saat dia sudah sepenuhnya sadar dia menatap ke arah sang ibu yang begitu senang melihatnya, nyonya Hera pun segera menggenggam telapak tangan anaknya yang terasa sangat dingin.
"Kau sudah sadar sayang, bagaimana perasaanmu sekarang ini?" sambil membelai wajah putrinya, nyonya Hera bertanya keadaan anaknya yang masih terlihat tak baik.
"Mom.. hu..hu.." Jeniver langsung bangun dan memeluk sang ibu sambil menangis
"Ada apa sayang, kenapa kau menangis ha..?" nyonya Hera merasa ada yang tidak beres sehingga anaknya menangis seperti ini, namun Jeniver pun menggeleng dan masih tetap berada di dalam pelukan sang ibu.
Mike dan ibu nya kini telah sampai di halaman depan rumah kediaman paman Louis, nyonya Ririn bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sahabatnya di ikuti oleh Mike yang sedikit ragu berjalan masuk. Kedua nya pun langsung menaiki tangga menuju ke atas setelah salah seorang pembantu di rumah tersebut mengatakan bahwa nyonya mereka berada di atas bersama dengan dokter, sampai di lantai atas mereka mencari kamar yang tadi di tunjukkan. Tak berapa lama mereka sudah menemukan kamar yang memang sedang terbuka dan terdengar suara isakan tangis dari seseorang, nyonya Ririn berhamburan masuk ke dalam menghampiri anak dan ibu yang kini sedang berpelukan. Di depan pintu Mike mematung melihat kondisi Jeniver yang menangis sambil memeluk sang ibu, bayangannya teringat saat di mana dia dan Jeniver berada di dalam kamar hotel. Entah apa yang harus dia lakukakan jika benar dia melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukannya kepada Jeniver.
"Ada apa dengan Jeniver nyonya Hera mengapa kau menangis?" tanya nyonya Ririn ketika dia sudah berdiri disamping nyonya Hera.
"Entahlah nyonya Ririn, Jeniver tadi pingsan dan saat tersadar dia pun menangis tak berhenti" Jawab nyonya Hera, namun masih dalam keadaan memeluk sang anak
Akhirnya nyonya Ririn duduk di atas kasur dan membelai punggung Jeniver pelan, dia melihat ke arah pintu di mana Mike masih berdiri mematung.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya, jika ada keluhan lagi pada Jeniver anda bisa menghubungi saya kapan saja nyonya" dokter Philip pamit pulang
"Baiklah dokter, mari saya akan mengantarkan anda sampai ke depan. Nyonya Ririn, saya titip Jeniver dulu" nyonya Hera meminta ibu Mike untuk menemani anaknya
Dokter segera berjalan keluar dari kamar Jeniver di ikuti oleh nyonya Hera, namun nyonya Hera berhenti sejenak saat melihat adanya Mike di depan pintu kamar anaknya "Mike kapan kau datang? Apa kau datang bersama ibumu, masuk lah ke dalam mengapa kau berdiri di sini?" nyonya Hera menegur Mike yang terdiam di tempat nya berdiri.
"Ah iya bibi, a aku datang bersama momy tadi" jawab Mike tergagap melihat ibu Jeniver yang datang menghampiri nya
"Bibi antar dokter ke bawah dulu Mike" nyonya Hera kemudian berjalan meninggalkan Mike yang masih terdiam
Jeniver melirik ke arah pintu kamar nya saat mendengar ibunya yang menyebutkan nama Mike, Jeniver membulatkan matanya ketika melihat Mike sudah berada di depan pintu kamarnya, seketika dia memalingkan wajahnya dan seketika dia pun di serang panik mengingat saat terakhir kali bertemu dengan Mike. Waktu di kamar hotel dan semua yang Mike lakukan padanya, dia pun gemetaran tak terkendali. Melihat Jeniver yang mulai ketakutan, nyonya Ririn dengan cepat memeluk Jeniver dan menenangkan nya.
"Ada apa Jen, kenapa kau seperti ketakutan?" nyonya Ririn menepuk pelan punggung Jeniver yang kini memejamkan matanya
"Mike cepat kemari nak, bantu momy" Mike bergegas menghampiri ibunya dan juga Jeniver yang berbaring di atas kasur masih gemetaran
"Apa yang terjadi mom?"
"Entahlah nak, momy tidak tahu juga sebelumnya dia tidak begini" ibu Mike semakin bingung harus bagaimana, sedang nyonya Hera sejenak ke kamarnya dan menelfon suaminya
"Apa yang terjadi Jen, apa kau kesakitan?" tanya Mike sambil berangsur duduk di tepi kasur Jeniver, Jeniver yang merasa Mike mendekatinya langsung histeris
"Jangan mendekat..jangan..jangan mendekatiku..aku mohon..." Jeniver berbalik dan duduk seketika memeluk kedua lututnya, air mata berjatuhan di kedua pipinya yang makin memucat.
"Jangan...jangan menyentuhku lagi Mike..aku tidak mau lagi.." sekarang tangisan Jeniver pun pecah di dalam kamar, membuat pembantu serta nyonya Hera bergegas naik ke lantai atas dan berlari masuk ke dalam kamar Jeniver
Mike tampak bingung serta gugup, bertanya tanya dalam hatinya saat ini 'apa benar aku telah melakukan hal buruk padanya, jika tidak kenapa dia begitu takut padaku saat ini? ya tuhan.. aku harus bagaimana sekarang?' di sisi lain ibu Mike juga memikirkan hal yang tak jauh berbeda dengan Mike 'bagaimana ini, jika benar Mike sudah melakukan hal buruk pada Jeniver. Aku harus secepatnya membuat rencana baru, agar Mike bisa secepatnya menikah dengan Jeniver'
"Ada apa nyonya Ririn, kenapa Jeniver berteriak histeris begini?"
"Entahlah nyonya Hera, tiba tiba saja dia berteriak" Mike berdiri dan mundur beberapa langkah saat ibu Jeniver kembali ke kamar
Mike kemudian berbalik dan berjalan dengan terburu keluar dari kamar Jeniver, dia kini tak bisa mengabaikan apa yang terjadi pada mereka saat di kamar hotel tempo hari. Dia meremas kepalanya yang kini terisi begitu banyak masalah yang terus bermunculan.
*****
Sore hari menjelang malam di tempat konstruksi yang di datangi Carol, pekerjaan nya di lapangan cukup membuat nya lelah. Kini Carol sudah selesai membersihkan diri, malam ini Kaleid mengajak nya dan juga Rico untuk makan malam bersama dengan tim pembangunan. Carol masih menggunakan bathrobe hotel berjalan keluar dari kamar mandi, dia berjalan mendekati sebuah nakas di samping tempat tidur dimana ponselnya berada. Menyalakan ponselnya namun tak ada pesan maupun panggilan suara dari seseorang yang seharian ini di tunggu nya, orang yang di tunggu Carol tak lain adalah Mike seharian ini suaminya itu tak juga menghubunginya.
Carol semakin merasakan resah biasa nya Mike akan menghubunginya terus hingga ponsel Carol kehabisan batrai dan mati, hatinya pun tak tenang dan terus merasa bimbang. Entah apa yang kini Mike lakukan atau apa yang terjadi dengan suaminya, namun ke egoisan nya juga tak bisa di lawan. Dia tak ingin menghubungi Mike terlebih dahulu, dia akan menunggu telefon dari Mike terlebih dahulu dan mendengar kata maaf dari Mike.