Perasaan Yang Tersiksa

1054 Words
Sampai di kota tempat pembangunan gedung, mereka pun memilih menuju ke hotel yang sudah di pesan oleh Kaleid terlebih dahulu. Kaleid sudah duduk di sofa lobi hotel sambil membaca berita melalui ipad nya, tubuh tegap seorang pria dengan pakaian formal yang sangat pas di tubuhnya itu membuat segelintir wanita yang sedang berada di lobi hotel tersebut tak lepas memperhatikannya. Kaleid masih acuh terhadap beberapa bisikan terdengar tentang dirinya, namun dia mengalihkan fokusnya saat terdengar suara sapaan dari seseorang. "Selamat pagi Mr. Kaleid.." Rico menyapa setelah melihat Kaleid sedang duduk di sofa lobi hotel "Selamat pagi tuan Rico" Sedang Carol hanya tersenyum ke pada kaleid, dan Kaleid juga membalas senyum nya "Anda begitu pagi sudah sudah berada di sini, mungkinkah anda datang kemarin Mr?" Rico melihat jam tangan nya sejenak, masih pukul 8 namun Kaleid sudah duduk santai dan menikmati kopi di tempat ini. "Ahh,, benar sekali tuan Rico. Aku tak ingin melewatkan untuk menikmati tempat ini, karena menurut nona Carol tempat ini sangat indah dan nyaman jadi aku memutuskan untuk datang lebih awal kemari. Dan benar katamu nona Carol, tempat ini sungguh indah dan udaranya sungguh segar" menjelaskan alasannya yang datang lebih cepat kemari, Kaleid tak lepas dari senyuman nya yang membuat nya tampak semakin tampan. Pandangan matanya tak lepas dari Carol yang saat ini mengenakan pakaian kasual dengan celana jeans di atas mata kaki dan kemeja bahan halus yang lengannya di gulung hingga ke siku namun masih terkesan sedikit formal, Carol memang berpenampilan seperti ini saat ada perjalanan dinas. Karena dia tak ingin ribet dan bisa bergerak bebas saat berada di luar ruangan. "Dia memang banyak tahu tempat bagus di kota kota sekitar Mr. Kaleid, maka dari itu dia sungguhlah partner yang tepat saat ingin menjelajahi tempat tempat indah di sekitaran Indonesia" Melihat sejenak kepada Carol yang menunduk dan tersenyum, memang itulah alasannya Carol dengan mudah mencarikan tempat yang menarik untuk berwisata bersama keluarga. "Pak Rico terlalu berlebihan, jangan percaya padanya Mr. Kaleid" Carol tertawa ringan melirik ke arah Kaleid yang memberi tatapan kagum dan senyum yang susah di artikan terlukis di wajah tampannya, membuat Carol sejenak terdiam saat melihat tatapan yang di berikan oleh Kaleid padanya. "Itu benar Carol, kau sudah seperti tourguide haha.." Rico terdiam saat melihat Carol dan Kaleid yang saling tatap, namun sejenak kemudian Carol mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. "Ehmm baiklah kami akan menyimpan barang bawaan kami dulu ke dalam kamar, ayo Carol.." kalimat Rico berhasil membuat Kaleid tersadar bahwa dia sudah berlebihan, dengan segera dia kembali datar dan meminta asistennya mengantar kedua orang rekan bisnisnya ke kamar. Tak berapa lama Rico dan Carol turun kembali ke lobi hotel untuk menemui Kaleid yang masih menunggu di sana, saat sudah sampai mereka pun segera menuju lokasi tempat pembangunan yang telah mereka rencanakan. Semua bahan telah di siapkan dan kini hanya menunggu peletakan pilar pertama oleh Kaleid, tak lama kemudian orang yang di tunggu telah tiba di lokasi. Dengan kedatangan meraka, maka acara peletakan pilar pertama segera di mulai. Kaleid meminta salah satu dari Carol dan Rico melakukan peletakan pilar bersamanya, dan Rico memutuskan Carol lah yang akan melakukannya dengan Kaleid. Kaleid tampak senang, dengan sigap asistennya mengabadikan momen tersebut dengan mengambil beberapa gambar mereka yang tampak tersenyum satu sama lain. Sungguh momen yang jarang bisa terlihat bagi sang asisten. Lain hal nya di rumah Carol, Mike terbangun saat mendengar suara nada pesan di ponselnya. Mike mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk melalui jendela, meraba ke atas nakas dimana ponselnya diletakkan saat sudah mendapat ponselnya diapun segera membuka pesan tersebut. Membuka mata nya dengan sempurna, dilihatnya pesan dari Carol yang mengatakan bahwa dirinya kini berada di luar kota untuk melakukan perjalanan dinas bersama Rico. Dengan gerakan cepat dia sudah duduk di kasur dan menatap ponselnya tak percaya, hilang lagi kesempatan nya untuk berbicara kepada Carol hari ini. Dan lagi apa yang di katakan Carol dalam pesan tersebut, bahwa dia juga tak tahu akan sampai kapan berada di luar kota mengingat dia yang akan memegang proyek ini bersama Rico sahabat Mike. Mike mengehela nafas nya dengan lemah, dan kemudian dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap berangkat ke kantor. Sebenarnya beberapa hari ini dia tak dapat fokus bekerja, karena masalah nya dengan Carol yang masih belum selesai sampai sekarang. Mike sudah siap ke kantor, berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju ke dapur namun langkah nya terhenti saat terdengar suara ibu nya memanggil namanya sambil mengetuk pintu rumahnya. Mike mendengus sejenak namun tak mengubah langkah nya untuk membuka pintu untuk sang ibu. "Mike,, buka pintu nya..." panggil sang ibu "Sebentar mom.." menekan gagang pintu dan membuka kuncinya "Ada apa mom, pagi pagi begini sudah ribut begini?" Mike sedikit tak suka dengan kedatangan ibunya yang di yakini pasti untuk membahas masalah tempo hari "Apa sekarang mom juga tak boleh kemarin, Mike? kenapa kau semakin berubah?" Ibu Mike berkata lirih kepada sang anak, berharap mendapat perhatian lebih dari anaknya "Bukan begitu mom, ini masih pagi tapi mom sudah berteriak tak karuan di depan pintu rumahku. Tidak enak di dengar tetangga mom" Mike melembut dan menghela bahu sang ibu untuk menenangkannya "Ibu hanya sedikit panik Mike, dua hari ini Jeniver tidak keluar dari kamar. Ibunya semalam menelpon mom dan meminta bantuan mom untuk membujuknya, bagaimana kalau kau pergi melihatnya Mike.." "Apa yang harus aku lakukan mom, aku tak tahu bagaimana harus membujuknya.." Mike mendesah dengan keras, bingung entah harus bagaiman menyelesaikan masalah yang kian menyerang kehidupan rumah tangga nya. Perasaan pun nya kian tersiksa denga segala masalah yang muncul. "Bagaimana kalau kita pergi ke rumah paman Louis untuk melihat Jeniver, mom merasa cemas dengan nya nak. Apa kau tak merasa bersalah padanya, dia pasti sangat sedih sekarang ini" Mike terdiam mendengar perkataan ibunya, dia semakin bingung dengan masalah yang semakin memburunya. "Mike.. Kau tak sadar waktu itu, jadi jangan katakan kalau kau tak menyentuhnya nak. Jika ternyata kau melakukannya dan kau tak menyadarinya, itu akan melukai jiwa gadis itu dan kau harus bertanggung jawab atasnya saat itu terbukti sayang" wajah Mike kian menjadi pias mendengar ucapan sang ibu, yang mengatakan dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuat nya walau pun saat itu dia tidak dalam keadaan sadar. "Aku tak akan bisa melakukannya mom, itu akan melukai Carol dan rumah tangga kami akan hancur mom!" lirih Mike tak sanggup untuk membayangkan jika rumah tangga nya dan Carol akan berakhir
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD