JKJI 14

1241 Words
*** Sisi tak bisa dihentikan tangisnya. Setelah mendengar ucapan Digo yang terluka itu Sisi langsung berlari meninggalkan ruangan Digo. Hatinya hancur saat mengetahui kenyataan Digo lebih percaya pada wanita lain. Sisi meremas ujung roknya. Kejadian malam itu terus berputar dalam benaknya. Cumbuan Digo dan cintai cinta Digo semakin membuat dadanya cepat. Tubuhnya merosot ke bawah, airmatanya terus mengalir hingga membasahi lantai kamarnya. Hancur sudah harapannya. Harapan membangun kebahagiaan bersama Digo. Seandaikan malam itu ia tidak menolong Digo, mungkin nasibnya tak akan sesial ini. Sisi meyakinkan nama Niki dalam kemenangan. Dalam setiap tetes airmatanya. Kenapa orang yang mencintainya dengan tulus harus pergi dari beruntung? Bi Santi yang merasa khawatir hanya bisa menunggu Sisi dari luar pintu kamarnya. Berkali-kali Bi Santi memanggil Sisi tapi yang Bi Santi dengar hanya tangisan Sisi. Tak ada lagi yang bisa Bi Santi lakukan. *** Digo menyapu seluruh isi mejanya dengan lengannya. Sesekali ia berteriak sambil menjambak rambutnya. Dengan kasar ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Sudahlah Digo. Wanita seperti itu tidak pantas di pertahankan. Dia licik. Lagipula masih ada banyak wanita yang mau menerima kamu apa adanya. Tanpa---mengincar harta kamu." rayu Jeni. Ia duduk di sofa sudut ruangan Digo. Digo menoleh ke arah Jeni dan menatapnya tajam. "Pergilah. Aku sedang tidak ingin di ganggu." Jeni membulatkan matanya. Tanpa menjawab lagi ia segera bangkit dari tempat duduknya dan melenggang pergi dengan hati dongkol. Tapi ia sempat tersenyum sinis melihat keadaan Digo yang tampak kacau. Kita lihat saja, pelan namun pasti semua kekayaanmu akan jatuh ke tanganku. Pintu ruangan Digo tertutup pelan. Sepi. Tak ada lagi Jeni. Digo kembali berteriak sambil menggebrak mejanya. Nafasnya terlihat naik turun. Benar-benar tak menyangka jika Sisi mempunyai rencana seperti itu. Digo memejamkan matanya. Lembaran-lembaran kenangan masa lalu melintas dalam benaknya. Sisi yang lembut. Sisi yang bermata hazel. Sisi yang mempunyai lesung di bawah matanya. Digo tersenyum miris mengingatnya. Dan kejadian beberapa hari yang lalu semakin membuat emosi Digo memuncak. "Bodohnya aku menyatakan perasaanku padanya." gumamnya lirih. *** Hampir tengah malam Digo baru menginjakkan kakinya di lantai rumahnya. Ia melangkah malas menuju kamarnya. Saat melewati kamar Sisi, langkahnya sempat terhenti. Samar-samar ia mendengar suara tangis Sisi. Digo menatap nyalang ke arah daun pintu kamar Sisi lalu membukanya perlahan. Matanya langsung menangkap sosok Sisi tengah duduk bersandar di tempat tidurnya dengan memeluk kedua lututnya. Wajahnya tenggelam di antara lipatan kakinya. Digo menelan salivanya pelan. Ada rasa sesak menghampirinya saat melihat keadaan Sisi. Tapi dengan cepat ia menyingkirkan rasa itu. Bagaimanapun juga Sisi sudah menipunya. Rahang Digo mengatup rapat. "Tidak ada gunanya menangisi kebodohan diri sendiri," ucap Digo tiba-tiba. Sisi mengangkat kepalanya dan menoleh. Matanya bengkak dan wajahnya dipenuhi dengan airmata. "Jangan bersikap seolah-olah kaulah yang paling terluka. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah membuatku kecewa. Kau harus ingat itu!" lanjut Digo. Pintu kamar Sisi kembali tertutup. Digo melangkah cepat menuju kamarnya. Sisi kembali menangis dengan terus menatap daun pintu kamarnya. "Kamu salah. Aku tidak menangisi kebodohanku. Tapi aku menangisi kebodohanmu yang begitu mudah mempercayai orang lain tanpa tau kejadian yang sebenarnya." *** Digo tampaknya tidak main-main dengan ucapannya. Sisi benar-benar di buat kalang kabut dengan tingkah Digo. "Kau sudah masak untuk makan malam?" suara Digo terdengar dingin dari seberang sana. "Iya ini lagi masak." sahut Sisi sambil mengapit hpnya antara pundak kiri dan telinganya. Sementara tangannya sibuk memasukkan beberapa potongan sayur ke dalam panci. "Oke." setelah itu tak ada lagi suara Digo. Sisi meletakkan hpnya dan kembali sibuk dengan aktifitasnya. "Saya bantu ya, Non--" "Jangan Bi. Bibi diem aja di situ." cegah Sisi. Bi Santi hanya bisa menghela nafas pelan. Kalau sudah seperti ini Bi Santi tidak akan berani melakukan apapun. "Non Sisi lagi bertengkar ya sama Mister Digo?" tanya Bi Santi pelan. Sisi memilih tak menjawab dan melanjutkan memasaknya. "Sabar ya, Non. Suatu saat nanti Mister Digo pasti berubah." Sisi menoleh sebentar dan tersenyum ke arah Bi Santi. "Makasih ya, Bi." Sisi melirik jam dinding di dapur. Sepuluh menit lagi Digo pasti akan tiba di rumah. Sisi semakin mempercepat pekerjaannya. Ia tak ingin Digo marah lagi karena keadaan meja makan yang belum siap. *** 20.35 Kepala Sisi sesekali terkantuk ke bawah. Matanya terbuka pelan. Sudah malam tapi Digo belum pulang juga. Makanan sudah tertata rapi sejak 2 jam yang lalu. Sisi menguap dan merentangkan kedua tangannya. Ia mengelus perutnya yang keroncongan lalu matanya melirik ke arah meja makan. Sisi mendengus pelan. Kalau memang Digo tidak pulang malam ini kenapa tidak memberinya kabar? Sisi menatap layar hpnya. Ingin sekali ia menelpon Digo, menanyakan keberadaannya. Tapi Sisi mengurungkan niatnya. Sisi takut Digo akan marah kepadanya. Sisi kembali menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah dan memilih menunggu Digo. *** 22.45 "Heh, bangun. BANGUN!" teriak Digo. Mata Sisi terbuka cepat saat ia mendengat suara Digo yang menggelegar. Sisi langsung berdiri dari sofa dan menatap ke arah Digo yang tampak berdiri sambil memiringkan kepalanya. "Siapa yang menyuruhmu tidur di sini?" Sisi menutup hidung dan mulutnya. Bau alkohol menguar dari mulut Digo. "Kau mabuk?" tanya Sisi pelan. "Jangan pedulikan aku. Ambilkan aku jus jeruk dan bawakan ke kamar." Digo melenggang pergi meninggalkan Sisi. Langkahnya sedikit sempoyongan. Sisi tak membuang waktu lagi, ia langsung melangkah ke dapur dan membuatkan jus jeruk untuk Digo. Pelan sekali Sisi membuka pintu kamar Digo. Digo tampak berbaring di atas tempat tidurnya. Sisi melangkah masuk dan meletakkan jus jeruk itu di atas nakas. Matanya menatap sepatu Digo yang masih melekat di kakinya. Sisi melepasnya perlahan dan menarik selimut untuk menutup tubuh Digo. "b******k kau, Sisi. Kau sama saja dengan Niki. Kalian sama saja." racau Digo. Sisi mengerjapkan matanya dengan cepat untuk menahan airmatanya yang siap tumpah. Pergerakan tangan Sisi tiba-tiba terhenti saat Digo mencekal lengannya. Sisi panik dan berusaha melepaskan cengkramannya. Tapi Digo malah menarik tangan Sisi, membuat tubuh Sisi limbung dan mendarat di tempat tidur Digo. Digo langsung menindih tubuh Sisi dan mencekal kedua tangannya. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa?" mata Digo menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Sisi hanya bisa menggeleng dengan airmata yang sudah bercucuran. Percuma saja ia membela diri, Digo tidak akan mau mempercayainya. "Jangan harap kau bisa mengambil apa yang kumiliki saat ini. Karena sebelum kau melakukan itu, aku akan membuat dirimu menderita." Digo langsung memcium bibir Sisi dengan kasar. Teriakan Sisi sama sekali tak ia hiraukan. Digo benar-benar telah di butakan mata hatinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah satu tujuan. Membuat Sisi menderita. Sudah lama ia menyimpan rasa lebih untuk Sisi. Tapi rasa yang tumbuh di dalam hatinya tak mendapat sambutan dari tambatan hatinya. Cinta itu kejam. Cinta itu egois. Dan Digo tak ingin terjerumus lagi ke dalam cinta yang semu. *** Langkah kaki Sisi tertatih saat melangkah keluar dari kamar Digo. Tepat tengah malam Digo baru menyudahi permainannya. Tak ada kelembutan. Tak ada ungkapan. Yang ada hanyalah pelampiasan. "Aku akan melakukannya. Aku akan membuatmu hamil sesuai dengan rencanamu. Tapi jangan harap kau akan menerima hartaku. Sepeserpun tidak akan aku berikan untukmu." Sisi menangis terisak saat Digo melakukan penyatuan dengan sangat kasar. Digo bahkan mengikat kedua tangan Sisi dengan dasinya. Badan Sisi remuk redam. Sisi merebahkan dirinya di atas tempat tidur miliknya. Memeluk tubuhnya sendiri dengan airmata yang terus berderai. "Ni - ki," panggilnya lirih saat ia tak mampu menahan rasa puas di dadanya. "Mama." Seketika Sisi terdiam. Besok adalah hari Selasa. Hari itu adalah hari dimana ia akan pulang dan menjenguk Lani. Sisi langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu mengirim pesan untuk Lani. Ma, siapin apa yg sekiranya perlu di bawa. Kita akan pergi jauh Ma. Besok Sisi jelasin semuanya. *** Sbya 11 Januari 2018
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD