JKJI 13

1641 Words
*** Sisi terbuka. Cahaya sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membuat ia kembali memejamkan dilihat kembali. Lalu ia dibuka kembali lagi. Diam Kejadian semalam terus berputar dalam ingatannya. Sentuhan Digo, cumbuan Digo, ciuman Digo dan satu hal yang membuat Sisi tersenyum lebar. Digo sempat dipanggil namanya di sela-sela cumbuannya. Tapi senyum Sisi seketika sirna saat mengingat kepemilikan Digo. Digo yang selalu bermain wanita. Digo yang berhati dingin dan tak punya hati. Sisi menunggu diizinkan ke samping, Digo masih ditutup rapat. Tangannya melingkar di perut rata Sisi. Perlahan Sisi memindah tangan Digo dan ia bangun dari tempat tidur. Sisi duduk di tepi tempat tidur sambil meringis, memegang dan memegang bagian organ intimnya. Tangannya meraih piyamanya yang tergeletak di bawah dan kembali memakainya. Dengan sekuat tenaga. Menoleh ke Arah tempat tidur. Ada bercak darah tertinggal di sprei putih itu. Sisi tersenyum miris. Mahkotanya sudah hilang karena dibatalkan sendiri. Sisi menghela nafas panjang dan melangkah mendekat ke Arah Jendela. Menyibak warna krim itu dan menatap pemandangan di luar. Digo yang terhindar langsung diangkat, dipindahkan cahaya matahari yang masuk dan ditanyakan. Mata Digo menyipit pandangan siluet tubuh manusia di renungkan. Senyum Digo mengembang menatapnya. Dengan gerakan perlahan ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah perlahan menghampiri Sisi. Sisi yang tidak disetujui Digo sudah berdiri di belakangnya. Dengan gerakan tiba-tiba Digo langsung memeluk tubuh dari belakang. Tangannya melingkar erat di lingkar Sisi. Bibirnya langsung menciumi tengkuk Sisi. "Di-Digo?" pekik Sisi perlahan. Kali ini ia tak menggeliat untuk melepaskan diri. Sisi hanya diam menerima persiapan Digo. Buat apa menghindar? Toh Digo sudah menerima apa yang Sisi pertahankan selama ini? "Aku mau kamu!" bisik Digo parau sambil mengecup lagi ke sisi. Sisi lambat salivanya pelan. Bibirnya tak mampu berucap. Jantungnya berdegup kencang. Sisi memekik kencang saat Digo langsung menggendong tubuh mungilnya masuk ke dalam kamar mandi. "Digo tunggu." Sisi sedikit panik saat Digo menurunkan dirinya di sebelah bath tub besar. Sisi sempat melirik sekilas benda itu. Digo hanya tersenyum miring. Ia lalu melepaskan kaitan tangannya dan gerakan cepat menyalakan kran air. "Berendam air hangat akan membuat tubuhmu rileks dan meredakan nyeri," jelas Digo. Rupanya ia tau apa keluhan Sisi saat ini. Sisi hanya mengangguk pelan sambil mencengkram piyamanya. "Apa benar-benar sakit?" Sisi mengangguk lemah. Digo tersenyum lembut. Sungguh, senyuman Digo membuatnya meleleh. Sekian lama menikah, baru kali ini Sisi dapat melihat pemandangan itu. "Masuklah!" titah Digo. Sisi menatap sebentar ke arah Bath tub yang hampir terisi penuh oleh air hangat. "Em--aku--aku bisa melakukannya sendiri." sahut Sisi gugup. Digo kembali tersenyum. Tangannya lalu terulur menyentuh piyama Sisi. Sisi sempat bingung dan panik. "Tidak perlu malu. Aku sudah melihat semuanya!" ucap Digo seraya menarik piyama dari tubuh Sisi dan membiarkannya jatuh ke bawah. Sisi menundukkan wajahnya. Wajanya terasa panas sekali. Kedua tangannya menangkup di depan d**a, menutupi asetnya. Sementara ia merapatkan kedua pahanya agar tak terlihat apa yang ada di pangkal pahanya. Digo terkekeh pelan. "Sudahlah. Ayo masuk!" Digo membantu Sisi masuk ke dalam bath tub. "Bagaimana, nyaman?" Sisi hanya mengangguk lemah. Entah sudah berapa kali Digo tersenyum lembut ke arahnya. Tak lama tangan Digo bergerak pelan membuka celana training yang ia pakai. Sisi kembali panik. "Ka-kamu mau ngapain?" seru Sisi. Digo hanya mengangkat kedua pundaknya lalu tanpa permisi ikut masuk ke dalam Bath Tub dan duduk di belakang Sisi. Digo menarik tubuh Sisi dan menempatkan tubuh Sisi di antara kedua kakinya yang terbuka. Punggung Sisi menempel di d**a bidang Digo. Hembusan nafas Digo kembali menerpa kulit tengkuknya. "I love you, Sisi." Wajah Sisi semakin panas dan secara tiba-tiba Digo mengangkat tubuhnya. Sisi berteriak saat sesuatu yang besar masuk ke dalam organ vitalnya. Tubuh Sisi menegang, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tak menyangka Digo akan melakukannya lagi. Dengan cara yang tiba-tiba seperti ini. *** Sisi benar-benar merasa lelah. Digo benar-benar menggempurnya. Setelah adegan di kamar mandi itu, Digo kembali menyerangnya saat Sisi akan keluar dari kamarnya. Entah sudah berapa kali Digo menghajarnya, yang Sisi tau ia keluar dari kamar Digo saat jarum jam menunjukkan angka 12. Kakinya serasa tak bertulang. Lemas dan bergetar saat ia berdiri. Akibatnya Sisi tidak bisa memasak untuk sarapan dan makan siang Digo. Sampai akhirnya Digo memesan fast food dan setelah itu barulah Sisi bisa bebas. Senyum Sisi terus merekah mengingat kejadian itu. Apa setelah ia menyerahkan benda berharganya Digo akan berubah? Tidak akan bermain wanita lagi? *** Setelah kembali ke Surabaya, Digo kembali beraktifitas seperti biasanya begitu juga dengan Sisi. Sisi membangunkan Digo saat pagi, menyiapkan segala kebutuhan Digo, membuatkan sarapan dan siangnya akan mengantar makan siang ke kantor Digo. Sikap dingin Digo juga berubah setelah kejadian manis di Bali itu. Banyak yang merasakan perubahan sikap Digo, termasuk Bi Santi. Pembantu Digo yang sudah ikut Digo bertahun-tahun. "Alhamdulillah, sekarang Mister Digo lebih sering senyum ya Non. Bibi ikut seneng liatnya. Non Sisi benar-benar beruntung bisa mendapatkan cinta Mister Digo." ungkap Bi Santi penuh haru, bahkan airmatanya sampai keluar saking senangnya. "Iya, Bi. Sekarang Digo sedikit lembut. Sudah jarang marah-marah." Sisi ikut bersuara. Kedua pipinya tampak bersemu merah kala mengingat kejadian malam itu. "Semoga di rumah ini segera hadir bayi lucu ya, Non. Bibi sudah tidak sabar ingin menggendong bayi Mister Digo dan Non Sisi." "Aamiin. Doakan aja ya, Bi!" Bi Santi mengangguk pelan lalu menyerahkan 2 kotak tupperware ke arah Sisi. "Ini, Non. Hati-hati di jalan, Non." Sisi meraihnya dengan senyum yang mengembang. "Makasih ya, Bi." Seperti biasanya siang ini Sisi akan mengantar makan siang ke kantor Digo di temani satu bodyguard Digo. *** Langkah kaki Sisi menapaki lantai dasar kantor Digo. Banyak yang sudah mengenal Sisi. Saat bertatap muka dengan Sisi, hampir seluruh staff menyapa dirinya. Beda saat bertatap muka dengan Digo, mereka hanya akan melempar senyum sambil sedikit membungkukkan badannya. Ting! Denting suara dari lift menandakan jika Sisi sudah berada di lantai 9 ruangan Digo. Pengawal membukakan pintu untuk Sisi dan dengan langkah yakin Sisi masuk. Sepi dan Sisi sudah hafal betul dimana Digo berada. Ia melangkah menuju daun pintu ruangan Digo dan membukanya perlahan. Kepala Sisi menyembul terlebih dahulu di iringi senyum manisnya. "Digo---" Sisi tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Matanya menangkap sosok wanita sedang duduk manis di atas pangkuan Digo. Tangan wanita itu melingkar di leher Digo sementara tangan Digo mengait di pinggang wanita itu. Mereka sedang berciuman. Sisi menutup mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca dan jatuh juga buliran bening itu. Kotak bekal yang di pegang Sisi tak sengaja terjatuh dan membuat mereka menoleh cepat. "Digo," panggil Sisi lirih. Digo tak menampilkan ekspresi apapun, wajahnya datar tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Wanita itu turun dari atas pangkuan Digo dan menghampiri Sisi. "Halo. Kita ketemu lagi. Masih ingat denganku?" Sisi menatap ke arah wanita itu tak percaya. Ia memutar ingatannya ke beberapa hari yang lalu dan Sisi sadar. Wanita yang berdiri di depannya ini adalah wanita yang pernah di bawa Digo ke rumah saat mereka masih ada di Bali. "Sepertinya kamu sudah ingat. Panggil aku Jeni. Kau tau. Kedatanganmu mengganggu aktifitas kami." "Digo. Apa maksudnya ini?" tanya Sisi lirih. Ia tak menanggapi perkataan wanita yang bernama Jeni itu. Matanya menatap wajah Digo yang masih saja datar. Langkah kakinya perlahan menghampiri meja Digo. "Jelaskan!" pinta Sisi. Digo menarik nafas kasar lalu bangkit dari tempat duduknya. Berdiri di depan Sisi dengan wajah angkuh. "Harusnya kau yang menjelaskannya padaku." Kening Sisi mengernyit mendengarnya. Ia benar-benar bingung dengan situasi ini. "Apa maksudmu?" "Kau benar-benar tidak ingin jujur padaku?" Sisi masih bingung lalu kepalanya menggeleng pelan. "Apa masalahmu? Kenapa gak kita omongin baik-baik?" Digo tersenyum miring lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana kainnya. "Sekarang aku tau alasanmu menggodaku malam itu." Pandangan mata Sisi beralih menatap Jeni sebentar lalu kembali menatap Digo. "Bagus kalau kamu udah tau semuanya dengan gitu aku gak akan memberi tahu kamu betapa busuknya rencana dia." jelas Sisi menggebu-gebu. Jeni terlihat mengkerutkan keningnya. Ia memilih diam dan menjadi penonton saja. Digo maju selangkah dengan melemparkan tatapan tajamnya. "Jeni punya rencana busuk? Apa tidak salah? Bukankah kau yang ingin mengambil alih semua hartaku dengan cara menjebakku? Merayuku agar aku menyentuhmu kemudian kau hamil dan menuntutku?" Mata Sisi melotot sempurna. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Pandangannya kembali beralih menatap Jeni yang tampak tersenyum culas. "Kau---" Tangan Sisi terangkat menunjuk wajah Jeni tapi dengan cepat Digo mencekalnya. "Turunkan tangan kotormu itu." seru Digo tegas. Sisi kembali menoleh dan menatap Digo. Airmatanya luruh lagi tanpa bisa ia cegah. "Ka-kamu percaya dia?" tanya Sisi lirih. Digo tak menjawab tapi diamnya merupakan jawaban bagi Sisi. "Dia yang ingin menguasai harta kamu. Dia yang mempunyai rencana busuk itu." teriak Sisi tepat di depan wajah Digo. Nafas Sisi terengah-engah menahan sesak di dadanya. Dengan kasar ia menyeka pipinya. "Kau pikir aku akan percaya?" Sisi kembali menggeleng. Ingin sekali ia menampar wajah Digo tapi Sisi tak mampu. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. "Untuk apa aku berbohong? Aku sudah menyerahkan semuanya untukmu---" "Aku tidak memintanya. Kau yang datang sendiri malam itu." sela Digo. Dada Sisi bagaikan di hantam ribuan ton karung. Sesak dan sakit. Airmata Sisi terus mengalir tanpa henti. Kepala Sisi mengangguk. "Ya. Aku emang bodoh. Dengan mudahnya aku datang ke tempat itu. Menawarkan diriku untuk laki-laki b******k sepertimu. Laki-laki yang aku kenal gak punya hati nurani. Laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku tapi sayangnya lebih percaya sama orang lain---" "Cukup," potong Digo. "Aku tidak ingin mendengar semua keluh kesahmu. Kau dan Niki sama saja. Penjilat." Dada Sisi semakin padat. Kakinya bergetar hebat. Ingin sekali ia lari meninggalkan tempat itu. Bola Mata Sisi bergerak bergerak mengikuti Digo. Digo menghampiri Jeni dan langsung memeluk pinggangnya dari samping. "Sekarang aku tau, mana yang harus aku percayai." Digo melemparkan senyum ke Arah Jeni dan Jeni membalasnya. "Ceraikan aku." seru Sisi lantang. Kepala Digo menoleh dengan kening mengernyit. "Cerai? Setelah hampir menjebakku sekarang kau minta cerai?" Digo terkekeh pelan dan menarik Jeni ke dalam pelukannya. "Kamu harus bertanggung jawab atas kesalahanmu. Aku tidak akan menceraikanmu tetapi aku akan membuatmu menjadi pembantu di rumah. Anggap saja itu akan menjadi balasan atas kebodohanmu!" *** Sbya 10 Januari 2018
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD