JKJI 12

1827 Words
⚠Peringatan: konten dewasa *** Seminggu sekali di Bali buat Sisi makin tertekan. Entah apa yang dilakukan Digo di pulau Dewata ini. Bisnis atau bersenang-senangkah? Karena setiap malam Digo selalu membawa pulang wanita yang berbeda. Bahkan salah satu wanita itu tak segan-segan meminta Sisi layaknya seorang pembantu. Karena Digo sendiri tidak menjelaskan kepada mereka siapa sebenarnya Sisi. Sisi hanya bisa apa? Ia hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan. Malam ini Digo membawa seorang wanita lagi. Wanita itu sempat menatap Sisi mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku Sisi. Lalu tersenyum remeh dan melenggang mengikuti Langkah digo masuk ke dalam kamar. "Tunggu aku. Aku mandi dulu. Jika perlu apa-kamu ambil saja di dapur." pesan Digo sebelum masuk ke kamar mandi. Wanita itu hanya mengangguk dan terus menatap ke arah Digo sampai Digo menghilang di balik pintu kamar mandi. Sedetik kemudian wanita itu beranjak dari tempat tidur Digo dan pindah keluar kamar. Lihat gambar yang melihat tokoh yang dilihat sebelum masuk ke kamar Digo. Senyum wanita itu mengembang kala telanjang memandang sosok sedang berkutat di dapur. Dengan langkah cepat wanita itu menghampiri Sisi. "Di sini kau rupanya." Sisi menoleh dan mendapati wanita berdiri tegak. Dengan posisi kedua tangan menyilang di depan dadanya. Tubuhnya tinggi membuat Sisi sedikit mendongak. "Ada urusan apa kau kesini?" tanya Sisi ketus. Wanita itu tersenyum tipis. "Siapa kau? Kenapa bisa tinggal serumah dengan Digo? Aku tidak percaya jika kau adalah pembantunya." "Aku tidak mau berdebat denganmu. Pergilah. Aku sibuk." usir Sisi halus. "Apa kau istrinya?" tebak wanita itu. Seketika pergerakan tangan Sisi terhenti membuat tawa wanita itu pecah. "Jadi benar kau istrinya Digo? Lalu kenapa dia memanggilku dan menyuruhku menemaninya? Apa kau tidak bisa memuaskannya?" Sisi menggenggam erat gagang pisau itu. Rahangnya mengatup rapat, menahan emosinya. "Mana mungkin Digo mau tidur denganmu? Lihatlah, kau kecil, dadamu juga rata lalu pantatmu tidak berisi. Pantas saja jika Digo mencari wanita lain." Sisi masih saja diam. Ia melanjutkan aktifitasnya memotong beberapa sayuran untuk persiapan makan malam. "Bilang padaku. Apa kau juga mengincar hartanya?" bisik wanita itu. Sisi menoleh cepat. "Jangan mimpi. Lihat saja, aku akan membuat Digo menghamiliku dan aku akan minta tanggung jawabnya. Dia lalu menikahiku setelah itu aku akan menguras habis hartanya." Wanita itu terbahak lalu pergi dari hadapan Sisi. Sungguh. Rasanya Sisi ingin melempar pisau di tangannya tepat mengenai wajah wanita itu. Sisi melihat wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Ia lalu menarik nafas panjang dan membuangnya dengan cepat. Sisi meletakkan pisau itu dengan kasar lalu melangkah menuju ruang tengah. Melemparkan tubuhnya di atas sofa. Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Digo yang tertutup rapat. Hatinya nyeri saat wanita itu mengatakan ia hanya mengincar harta Digo. Seketika Sisi tersadar dan teringat akan ucapan wanita itu. Wanita itu akan membuat Digo bertanggung jawab dan akan menguras habis harta Digo. Entah kenapa Sisi mendadak resah dan takut. Harusnya ia bisa tersenyum lega karena Digo akan mendapatkan balasan atas perbuatannya. Tapi hatinya berkata lain. Bagaimanapun juga Digo pernah membantu dirinya saat Niki masih di rawat di Rumah Sakit. Sisi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Apa yang harus ia lakukan agar wanita itu pergi? Apa yang ia lakukan untuk menggagalkan rencana wanita itu? Sisi memejamkan matanya, berpikir. Kalaupun ia mengusir wanita itu, Digo pasti akan marah besar seperti sebelumnya. Beberapa detik kemudian Sisi membuka matanya. Ia mengangguk sekali lalu bangkit dari sofa dan berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Keputusannya sudah bulat. Hanya inilah satu-satunya cara agar wanita itu pergi. *** Suara decapan khas orang berciuman menggema di dalam kamar Digo. Digo terus mencumbu wanita itu. Saat tangan Digo hendak melepaskan baju wanita itu saat itu juga pintu kamarnya terbuka perlahan. Digo langsung melepaskan pagutannya dan mulutnya sudah terbuka, bersiap memaki siapa saja yang mengganggu aktifitasnya. Tapi semua kata yang tersusun rapi di dalam otaknya mendadak hilang saat ia tau siapa yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Sisi. Istrinya. Digo menelan salivanya pelan saat menatap ke arah Sisi. Bukan karena ingin marah tapi penampilan Sisi kali ini terlihat beda. Dengan rambut basah yang di biarkan tergerai dan piyama handuk yang membelit tubuh mungilnya mampu membuat sepasang mata Digo tak bisa berkedip. Sisi sedikit membuka baju bagian atas, mengekspos pundak mulusnya. Ia melangkah pelan mendekat ke tempat tidur Digo dan berdiri di sana. "Malam ini gak tau kenapa rasanya dingin. Aku kedinginan. Apa aku mengganggu?" tanya Sisi dengan suara selembut mungkin. Digo sepertinya masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia hanya terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Sisi. "Bisa kau keluar?" hardik wanita di sebelah Digo. Sisi hanya mengangkat kedua pundaknya sambil tersenyum. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa membuatnya terpesona? Batin Sisi sambil tersenyum miring. Merasa tak ada repson dari Digo, wanita itu bangkit dari tempat tidur dan berdiri di depan Sisi. "Keluar atau aku yang akan menyeretmu!" ancam wanita itu. Sisi tak bergeming dan memilih mengacuhkan wanita itu. Wanita itu semakin murka. Tangannya melayang dan hampir saja mendarat di pipi Sisi kalau saja Digo tidak mencekalnya. "Sudah cukup!" seru Digo pelan. Ia menepis tangan wanita itu dengan kasar. "Digo?" lirih wanita itu tak percaya. Matanya membelalak saat tangan Digo langsung melingkar di pinggang Sisi dan menariknya ke dalam pelukannya. "Keluarlah. Malam ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan istriku." Wanita itu menggeleng cepat. "Kau sudah membayarku mahal---" "Anggap saja itu hadiah dariku dan terima kasih atas ciumannya. Aku akan melanjutkannya dengan istriku." Kening wanita itu mengkerut. Sebelum pergi ia sempat menatap Sisi sekilas. "Awas kau." desisnya tajam. Sisi hanya tersenyum sambil menatap kepergian wanita itu. Suara dentuman pintu kamar Digo yang tertutup dengan keras membuat Sisi terhenyak dan tersadar. Ia menggeliatkan tubuhnya, melepaskan diri dari kungkungan tangan besar Digo. "Maaf kalau aku mengganggu." ucap Sisi lirih. Ia bergegas pergi dari kamar Digo. Misinya hanya untuk menyingkirkan wanita itu dari rumah ini. Tapi sepertinya langkah yang ia ambil salah. Dengan gerakan gesit Digo menarik lengan Sisi hingga Sisi kembali terjatuh ke dalam pelukan Digo. Kedua tangan Digo sudah melingkar manis di pinggang Sisi. Sangat erat membuat Sisi terus menggeliat. "Digo, tolong lepasin!" pinta Sisi. Digo tersenyum miring. "Kau tadi tidak mendengar? Aku bilang malam ini aku ingin menghabiskan malam dengan istriku." Sisi panik. Tak menyangka respon Digo akan seperti ini. Sisi kembali menggeliat sambil mendorong d**a Digo dengan kedua tangannya. "Aku--aku hanya--" "Kau sudah memancingku dan kau harus tanggung jawab. Bukankah tugas istri adalah melayani suaminya?" Ucapan Digo membuat tubuh Sisi menegang. Menurut hukum dan agama, Digo adalah suaminya dan Digo sah-sah saja jika ingin melakukan hal lebih kepadanya. "Tunggu Digo. Aku hanya---" "Rileks," sela Digo lagi. Tangannya sudah berpindah membelai lembut pipi Sisi. "Jangan gugup. Tenang saja. Aku akan melakukannya dengan perlahan. Aku tau ini yang pertama bagimu. Kau siap?" Sisi terdiam tak menjawab. Pandangan matanya terkunci pada bola mata hitam milik Digo. Dan entah setan mana yang merasuki tubuhnya, kepala Sisi mengangguk perlahan membuat senyum Digo mengembang. Digo menelusuri wajah Sisi dengan tangannya. Kening, mata, hidung, bibir tak luput dari sentuhannya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah leher Sisi. Tidak menciumnya ataupun menggigitnya. Hanya menghembuskan nafasnya tepat di leher samping Sisi. Kepala Sisi refleks mendongak saat hembusan nafas Digo menerpa kulitnya. Digo belum menciumnya tapi tangannya terus bergerak aktif menelusuri setiap inci tubuh Sisi. Sisi mendesah panjang saat tangan hangat itu menelusup masuk ke dalam piyamanya dan mendarat tepat di atas gunung kembarnya. Remasan tangan Digo semakin membuat Sisi mendesah nikmat. Tanpa sadar tangan Sisi sudah mencengkram rambut belakang Digo. Sisi terus mendesah saat tangan Digo terus bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuhnya. Digo terus memberikan rangsangan lewat hembusan nafasnya di leher Sisi. Sementara tangannya dengan gerakan cepat menyingkap piyama yang Sisi pakai. Piyama itu jatuh perlahan. Hanya tertinggal benda segitiga yang menutupi area intim Sisi. Sisi kembali mendesah hebat saat sesuatu mengelus pelan organ intimnya. Sisi sudah tidak tahan lagi. Dengan cepat tangan Sisi menangkup wajah Digo dan langsung menyambar bibirnya. Ciuman mereka begitu panas. Sisi yang diam ternyata sangat agresif saat urusan ranjang. Digo benar-benar tak menyangka Sisi akan seliar itu. Dengan mudahnya Digo menggendong tubuh mungil Sisi dan membawanya naik ke tempat tidur. Meletakkan dengan pelan tubuh Sisi dan melepaskan pagutannya. Digo menatap takjub tubuh Sisi yang begitu mulus tanpa cacat sedikitpun. Matanya beralih menatap benda segitiga yang masih melekat. Kemudian ia menariknya perlahan. Wajah Sisi langsung memerah. Rasa malu bercampur gairah menjadi satu. Setelah keadaan Sisi benar-benar polos, Digo langsung melucuti pakaiannya sendiri. Melemparnya asal dan kembali menyerang Sisi. Digo tidak langsung melakukan penyatuan. Sepertinya ia ingin bermain-main dulu dengan Sisi. Ia terus memberikan rangsangan pada tubuh Sisi, hingga Sisi bergerak ke sana kemari dengan gelisah. Tangan Digo sangat lihai, begitu juga lidahnya yang terus mengeksplor kulit mulus Sisi. Sisi yang merasa kewalahan akhirnya mengesampingkan egonya. Ia sudah tak tahan dengan segala perlakuan Digo. "Digo, please!" rengek Sisi. Digo mendekatkan wajahnya ke arah Sisi dengan seringai mesumnya. "Coba katakan lagi!" pinta Digo dengan suara seraknya. Sisi menelan ludahnya gugup. Mau tak mau ia yang meminta Digo untuk mengakhiri permainan ini. Tubuhnya sudah terasa panas dingin menahan gairah yang memuncak. Bahkan organ intimnya berkedut hebat. "Please, Digo. Please. Lakuin sekarang!" Digo melebarkan senyumnya penuh makna. "As your wish, baby!" bisiknya tepat di telinga kiri Sisi. Digo menempatkan juniornya tepat di depan organ intim Sisi. Sisi mulai cemas dan panik saat Digo dengan perlahan memasukinya. Suara teriakan Sisi terdengar jelas. Digo mencoba menenangkan dengan mengecup singkat bibir Sisi. "Rileks, Si. Jangan tegang." bujuk Digo. Sisi mengangguk sekali dan mencoba merilekskan dirinya. Setelah yakin Sisi siap, Digo kembali memulai usahanya. Sisi masih saja berteriak dan kadang mencengkram lengan atas Digo. Sakit yang ia rasakan tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Panas dan perih. Sisi memejamkan matanya kuat-kuat. Bulir airmatanya mengalir melewati pelipisnya. Usaha Digo sudah berhasil. Ia terdiam sejenak menunggu Sisi menerima juniornya yang sudah masuk sepenuhnya. "Buka mata kamu, Si. Lihat aku!" Sisi membuka matanya pelan dan kedua pasang mata itu saling beradu. "Sekarang rileks. Sakit ini hanya sebentar nanti kamu akan merasakan nikmat yang tiada tara." Sisi tak menjawab dan memilih memfokuskan pandangannya pada bola mata hitam Digo. Digo mulai bergerak perlahan, cengkraman tangan Sisi menguat saat junior Digo membentur dinding rahim Sisi. Teriakan Sisi berubah jadi desahan yang begitu merdu di telinga Digo. Kenikmatan dunia sudah mereka dapatkan. Digo sedikit mempercepat gerakannya. Milik Sisi terasa erat menjepit juniornya. Sesekali Digo mencium kening dan bibir Sisi. Sisi merasakan sesuatu di bawah sana. Kedutannya semakin cepat dan cengkraman tangan Sisi semakin kuat. Digo melepaskan pagutannya lalu tangannya membingkai wajah Sisi. "Buka mata kamu, Si. Lihat aku. Panggil namaku!" Sisi tak bisa menjawab, ia hanya bisa mengangguk lemah. "Di ----- goooh!" panggilnya panjang dan sulit bergetar hebat. Sisi sudah mencapai titik orgasmenya. Digo semakin meningkat gerakannya dan tak lama kemudian tubuh Digo ikut bergetar karena o*****e. "Aaaaakh. Sisi!" Panggangan Digo sesaat setelah ia mengeluarkan cairan putih itu di dalam rahim Sisi. Digo ambruk dan tidur di sebelah Sisi. Tangannya menarik tubuh Sisi dan menarik ke dalam pelukan. Sebuah pendaratan hangat pendaratan di Sisi. Sisi tersenyum tipis. Ia mengambil langkah apa ini benar atau salah. Menyesalpun tak ada gunanya. *** Sbya 09 Januari 2018
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD