***
"Kamu akan menikah denganku." Digo mengatakannya di iringi dengan seringaian di dipindahkan.
Sisi yang dikonsumsi dikonsumsi salivanya. Takut dan kecewa campur aduk jadi satu. Sisi takut akan sosok dijawab. Ia juga kecewa atas sikap Niki. Bagaimana mungkin Niki mengumpankan dirinya untuk menebus semua orang kepada orang lain?
Kedua mata Sisi sudah berkaca-kaca dan akhirnya menetes juga buliran bening itu. "Tidak mungkin," Sisi lirih dengan kepala menunduk.
"Tanyakan pada suamimu. Segera selesaikan masalah kamu dan besok jam 6 pagi kamu sudah harus ada di rumah ini." Digo menarik kedua menarik dan melangkah kembali menghampiri kursi kebesarannya.
Sisi menyeka airmatanya dengan kasar. Ia melangkah melewati meja Digo. "Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Niki dan memilih dirimu." ucap Sisi tegas. Ia lalu membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu.
Saat dikembalikan mendapat knop pintu, suara Digo kembali menginterupsi. Membuat pergerakan tangan Sisi terhenti.
"Kalau itu memang maumu. Aku hanya bisa melihat mati kamu mati. Karena itu sudah siap. Hanya kamu yang bisa menyelamatkannya." Digo tersenyum miring. Matanya menatap lurus ke belakang Sisi.
Sisi perlahan membalikkan badannya. Wajahnya di penuhi dengan air mata. "Aku pikir kamu yang berhati Malaikat tapi aku salah. Kamu seorang Iblis yang berwajah manusia."
Rahang Digo seketika mengeras. Ia dengan gerakan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan berjalan cepat menghampiri Sisi. Sisi panik. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri. Mencari tempat yang menurutnya aman.
Belum sempat Sisi menghindar tapi tubuhnya sudah terdorong ke belakang dan punggungnya membentur pintu. Sisi meringis, ngilu. Kedua tangan Digo mencengkram erat pundak Sisi dan menekan tubuh mungilnya.
"Kamu bilang aku Iblis?" tanya Digo pelan. Sisi tak menjawab tapi airmatanya terus mengalir. "Seperti inikah manusia? Di saat mereka membutuhkan bantuan, mereka akan mengemis layaknya orang yang paling menderita di muka bumi ini. Lalu setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka melupakan orang yang telah menolongnya?"
Tangan kanan Digo beralih mencekram rahang Sisi dan mendekatkan wajahnya. "A-apa yang akan kau lakukan? Lepaskan!" hardik Sisi.
Digo menampilkan senyum miringnya. "Inikah wanita yang baru saja menghinaku? Lihat. Kau bahkan tak bisa melepaskan diri dari cengkramanku." desis Digo tajam. "Pergilah. Sebelum aku memakanmu sekarang juga!"
Digo melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar. Ia kembali melangkah menjauhi Sisi dan duduk di kursinya. Sisi benar-benar takut untuk saat ini.
Memakanku? Apa dia bukan manusia? Apa dia manusia jadi-jadian? Pikir Sisi.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
Sisi sedikit terlonjak mendengar suara Digo. Tubuhnya bergetar hebat. Sisi membalikkan tubuhnya dan di saat itu pula pintu tiba-tiba terbuka lebar. Tak menunggu waktu lagi, Sisi berlari kencang meninggalkan Istana yang sempat Ia kagumi.
***
Tagihan biaya Rumah Sakit semakin membengkak karena Niki memang harus segera di tangani. Lani sampai menggadaikan sertifikat tanahnya ke salah satu Bank agar bisa membiayai pengobatan Niki.
"Makasih, Ma. Sisi gak tau lagi harus cari uang kemana. Penjualan dari Olshop juga gak bisa membantu." ucap Sisi lirih. Lani membelai rambut Sisi dengan penuh kasih sayang.
"Mama lakuin ini karena Mama sayang kalian."
Sisi langsung memeluk Lani dan menumpahkan tangisnya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Hutang Niki dan biaya Rumah Sakit. Mana dulu yang harus Ia selesaikan?
"Si--si.." panggil Niki lirih. Kelopak matanya terbuka perlahan. Sisi langsung melepaskan pelukannya dan mendekat ke arah Niki.
"Aku di sini, Nik. Aku di sini." sahutnya sambil menangkup wajah Niki. Niki tersenyum tipis sambil mengerjapkan matanya perlahan.
Lani menghela nafas panjang dan memilih keluar dari kamar Niki. Tangan Niki mengusap lembut pipi chubby Sisi. "I love you."
Sisi tersenyum dan membalasnya. "Love you too."
Sisi meletakkan kepalanya di d**a bidang Niki. Memejamkan matanya, melepaskan kerinduannya. "Maaf kemarin aku ninggalin kamu di sini." sesal Sisi.
Niki mengusap lembut kepala Sisi. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Si."
Sisi menarik kepalanya dari d**a Niki. Matanya menatap lurus kedua bola mata Niki. Perkataan Digo tadi pagi berputar-putar dalam benaknya.
"Ada apa?" tanya Niki pelan saat mendapati Sisi terdiam dengan mata berkaca-kaca. Sisi hanya menggeleng sambil tersenyum. Senyum palsu agar kesedihannya tak dapat di lihat oleh Niki.
"Tidurlah, Si. Udah malem. Aku gak mau kamu terlalu capek ngurusin aku." perintah Niki hanya di jawab dengan senyuman oleh Sisi. Sebelum membiarkan Sisi beranjak dari duduknya, Niki menangkup wajah Sisi dan mencium lembut bibirnya.
***
Digo menuruni anak tangga rumahnya. Menyapu seluruh area rumahnya. Tak ada satu halpun yang beda. Semuanya sama seperti sebelumnya. Lalu pandangan matanya beralih menatap jam tangannya.
Jam 7 pagi.
Seketika rahang Digo terkatup rapat saat Ia menyadari sesuatu. Sisi tidak datang ke rumahnya. Ia lalu menelpon orang kepercayaanya.
"Segera urus surat cerai Niki dan istrinya. Paksa mereka untuk tanda tangan. Bawa wanita itu ke rumah. Hari ini juga." Digo memutus sambungan sepihak. "Kau telah mengabaikanku. Kita lihat, seberapa kuat pertahananmu."
***
Sisi tampak merapikan perlengkapan mandi Niki. Pagi ini Niki terlihat sedikit bugar. Tapi sayangnya pihak Rumah Sakit belum memberikan ijin Niki untuk pulang.
"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Niki saat melihat Sisi keluar dari kamar mandi.
"Nanti aku cari diluar. Kamu minum obatnya dulu baru nanti aku keluar cari makan." Sisi duduk di tepi ranjang Niki dan tangannya terulur meraih beberapa obat yang tergeletak di atas nakas.
Dengan sangat telaten Sisi membantu Niki. Meminum obatnya satu persatu.
Niki kembali berbaring setelah meminum semua obatnya. Sisi lalu merapikan selimut Niki yang sedikit berantakan. "Aku mau keluar bentar. Nanti panggil Suster ya kalo kamu butuh sesuatu."
Niki mengangguk lemah. Sisi membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Niki. "Tunggu, Si."
Langkah Sisi terhenti dan perlahan ia membalikkan badannya. "Ya. Ada apa, Nik?"
Niki terdiam sejenak. Ia lalu menghela nafas panjang sebelum mengeluarkan suaranya. "Soal yang kemarin itu---aku gak bohong."
Kening Sisi mengernyit dan ia kembali duduk di tepi ranjang Niki. "Soal yang mana?"
"Hutang." sahut Niki cepat.
Sisi menelan salivanya pelan. Matanya lalu melirik ke arah jam dinding di atas tempat tidur Niki. Sudah jam 8 pagi. Ia kembali teringat akan perintah laki-laki itu. Sisi telah mengabaikannya. Apa yang akan terjadi nanti?
"Aku udah tau semuanya." jawab Sisi lirih.
"Mak-maksudnya?"
"Kemarin aku ketemu sama orangnya. Dia bilang semuanya sama aku. Tentang hutang kamu juga tentang---jaminannya." Sisi langsung memasang wajah lesu begitu menyebut kalimat itu.
Niki terdiam tak tau harus berkata apa. Ia memang salah telah melakukan hal itu. Apalagi melibatkan Sisi dalam masalahnya. "Mungkin dengan aku mati, semuanya akan selesai---"
"Bodoh. Kamu pikir aku akan ngebiarin kamu mati?" potong Sisi. "Aku akan cari jalan lain, Nik--"
Perkataan Sisi terpotong karena seseorang menerobos masuk ke dalam kamar Niki. Orang itu memakai pakaian resmi berwarna hitam. Sisi berdiri dari tempatnya dan Ia hafal betul siapa yang saat ini tengah mengganggunya.
"Mau apa kau kesini?" tanya Sisi ketus.
Laki-laki itu tak menjawab. Kemudian 1 orang lagi dengan memakai kemeja putih muncul sambil membawa sebuah map warna kuning di tangannya. Bajunya seperti orang kantoran. Laki-laki itu menyerahkan map ke arah Sisi.
"Tanda tangani berkas ini!" titah laki-laki itu.
"Berkas apa ini?" tanya Sisi bingung sambil membuka map kuning itu. Sisi membaca baris demi baris tulisan itu dan beberapa detik kemudian Sisi melempar map itu ke arah laki-laki berbaju putih. "Gila. Aku gak akan tanda tanganin surat itu. Bilang sama bos kalian!"
Laki-laki itu dengan gerakan pelan memungut map yang jatuh ke lantai. "Sudahlah Nona. Turuti saja apa kata Mister Digo kalau kalian tidak mau berurusan dengannya."
Sisi tak menghiraukan perkataan orang di depannya. Ia lebih memilih menghampiri Niki dan berdiri di sebelah ranjangnya.
Salah satu dari mereka tiba-tiba mengangkat telpon yang tiba-tiba berdering nyaring. "Maaf Mister. Nona Sisi tidak mau menanda tangani berkas ini."
"BODOH." sembur Digo, refleks laki-laki itu sedikit menjauhkan hp dari daun telinganya. "Mengurus wanita kerdil satu saja tidak bisa. Cepat serahkan hp ini padanya."
"Ba-baik Mister." laki-laki itu maju menghampiri Sisi dan menyerahkan hpnya. "Mister Digo ingin bicara dengan Anda, Nona Sisi."
Niki hanya diam saja saat menatap ke arah benda pipih persegi itu. Sisi yang tampak geram langsung meraih hp itu dengan kasar. "Aku akan melunasi hutang itu dengan caraku sendiri---"
"Apa dengan menjual tubuhmu ke laki-laki hidung belang?" sela Digo membuat Sisi mengepalkan tangannya. "Daripada laki-laki lain yang menikmati tubuhmu, lebih baik kau serahkan saja padaku. Bukan hanya hutangmu yang akan lunas tapi aku juga akan membayarmu dengan mahal---"
"Sudah cukup!" potong Sisi. "Apa maumu sekarang?"
Sisi mendengar tawa Digo yang mengejek. "Tanda tangani surat itu dan pulang ke rumahku, selamanya."
"Kalau aku tidak mau?"
"Pertanyaan yang bagus Prisi Revalina. Jika kau menolak, itu sama saja kau membunuh suamimu."
Kepala Sisi langsung menoleh menatap Niki. Airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Niki yang penasaran tiba-tiba menyambar hp dari tangan Sisi.
"Aku merubah soal jaminan." ucap Niki tegas.
"Wow. Sang Pangeran datang menyelamatkan. Sangat mengharukan."
"Aku yang akan menggantikan Sisi sebagai jaminan." ucap Niki lagi.
"Buat apa? Aku butuh sumber daya manusia yang sehat. Yang bisa bekerja siang dan malam sesuai kemauanku. Bukan manusia lemah sepertimu."
"Aku akan bekerja keras sesuai kemauanmu."
"Bukan hanya sebagai pekerja, aku akan menjadikannya istriku." Niki tak bisa menjawab lagi. Ia hanya bisa mengetatkan rahangnya. "Aku bahkan bisa menjamin kebahagiaannya. Aku punya segalanya. Apa kau senang melihatnya menderita sementara aku bisa memberikan apapun yang dia minta?"
Niki masih saja diam. Pandangannya menatap lurus ke arah Sisi.
"Segera tanda tangani surat cerai itu maka aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Kau fokus saja dengan penyakitmu. Soal Sisi? Kau tidak usah khawatir. Aku jamin dia hidup layak dan tak akan kekurangan suatu apapun."
Mata Niki mengerjap pelan. Belum sempat Ia menjawab tapi panggilan suara sudah di putus secara sepihak. Niki lalu menatap laki-laki asing itu dengan pandangan nanar.
Pikirannya berkelana tentang perkataan Digo. Niki sadar selama ini ia telah merepotkan Sisi dan Mama mertuanya. Sampai kapanpun Ia akan membutuhkan hidup untuk orang lain?
Niki memejamkan mata sesaat lalu memandang laki-laki yang membawa peta kuning di membangkitkan. "Mana surat itu. Aku akan tanda tangan."
***
Sby, 02 Januari 2018