Ketika Janji Berdarah di Atas Aspal

1354 Words

Di sudut sebuah restoran yang temaram, jauh dari keramaian kota, Lopita dan Leon duduk berhadapan. Aroma masakan yang menguar di udara tak mampu melunturkan dinginnya suasana di antara mereka. Perut Lopita yang membesar, menandakan kehamilan tuanya, menjadi pusat perhatian sekaligus titik bisu dari konflik yang menggantung. Perang dingin yang telah lama mengakar kini terasa lebih menyengat, sarat dengan beban keputusan pahit yang telah Lopita ambil. Suasana di meja makan terasa begitu kanjung dan hening, hanya diselingi oleh denting sendok dan garpu yang kaku, memantul di antara kebisuan yang memekakkan. "Kamu sudah makan yang cukup?" Suara Leon terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Ada nada kelelahan yang dalam, seperti gema dari perjuangan batin yang tak kunjung usai. Ia berusaha menjal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD