Pernikahan yang Dingin
Piring berdenting pelan ketika Yuna meletakkan sendoknya. Suasana rumah berlantai dua yang megah itu terasa sangat sepi, padahal ada dua orang yang sedang duduk berdampingan di sana. Hanya suara denting alat makan dan hembusan angin dari pendingin ruangan yang terdengar.
Haikal, pria yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun terakhir, sama sekali tidak menatap ke arah Yuna. Matanya tertuju lurus pada layar ponsel di tangan kirinya. Jemarinya menari cepat di atas layar, mengetik sesuatu sambil mengumbar senyum tipis yang jarang sekali Yuna lihat jika pria itu sedang bicara padanya.
Yuna menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Dulu, lima tahun lalu, Yuna membayangkan pernikahan akan berisi tawa, obrolan hangat sebelum tidur, dan pelukan manis saat menyambut pagi. Tapi kenyataannya jauh dari bayangan itu. Pernikahan ini bukanlah impian Yuna, melainkan keputusan orang tuanya.
Kala itu, Yuna memiliki seorang kekasih bernama Rama. Mereka sudah menjalin hubungan sejak bangku kuliah. Rama adalah pria yang sangat penuh perhatian, lembut, dan selalu ada untuk Yuna. Namun, ada satu kekurangan Rama di mata keluarga Yuna: Rama hanya seorang karyawan biasa di perusahaan kecil dengan gaji yang pas-pasan. Orang tua Yuna yang selalu mementingkan gengsi dan status sosial terang-terangan menolak Rama. Mereka memutus paksa hubungan itu, melarang Yuna bertemu Rama lagi, dan langsung menjodohkan Yuna dengan Haikal—seorang putra tunggal dari pengusaha kaya raya.
Yuna ingat betul bagaimana ia menangis semalaman di kamar, memohon pada ayahnya agar tidak dipisahkan dari Rama. Tapi jeritan hatinya tidak didengar. Demi menuruti kemauan orang tua dan tidak ingin menjadi anak yang membangkang, Yuna akhirnya pasrah menaiki pelaminan bersama Haikal.
Lima tahun berlalu. Kehidupan Yuna bergelimang harta. Semua barang yang ia inginkan bisa dibeli dalam sekejap. Namun, hatinya tetap mati rasa.
"Mas," panggil Yuna dengan suara pelan, memecah keheningan di meja makan.
Haikal tidak langsung menjawab. Pria itu mengabaikan panggilannya selama beberapa detik sebelum akhirnya berdehem tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Kenapa?"
"Besok malam kamu ada acara?" tanya Yuna ragu-ragu. "Tadi Ibu telepon. Katanya kalau kamu tidak sibuk, kita disuruh datang ke rumah untuk makan malam bersama."
Haikal akhirnya mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping piring dengan posisi layar menghadap ke bawah. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Yuna dengan pandangan dingin.
"Aku sibuk," jawab Haikal singkat. "Besok ada pertemuan penting dengan klien. Kamu datang saja sendiri ke rumah Ibu kalau mau. Bilang aku sedang mengurus proyek besar."
Yuna menarik napas panjang. Jawaban seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. "Setiap akhir pekan kamu selalu bilang sibuk, Mas. Kapan kita punya waktu berdua?"
Haikal mengusap wajahnya dengan kasar. Wajahnya menunjukkan rasa kesal yang amat sangat. "Yuna, tolong jangan mulai lagi. Aku ini bekerja cari uang untuk keluarga kita, untuk kamu juga. Semua pakaian mahal kamu, tas kamu, rumah ini... semuanya dari uang hasil kerja keras aku. Jangan kaya anak kecil yang minta ditemani terus."
"Aku tidak butuh tas mahal atau pakaian mewah, Mas. Aku cuma mau suami aku ada di rumah," bisik Yuna. Suaranya mulai bergetar menahan emosi yang terpendam sekian lama.
"Cukup, Yuna. Aku capek baru pulang kantor," potong Haikal dengan nada tinggi. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengambil ponselnya kembali. "Aku mau mandi dan tidur di kamar atas. Jangan ganggu aku malam ini."
Tanpa menunggu balasan dari Yuna, Haikal melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Suara langkah kakinya yang berat menggema di lorong rumah sampai akhirnya terdengar suara pintu kamar atas yang ditutup keras.
Yuna menyandarkan punggungnya di kursi. Air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya. Ia merasa sangat terasing di rumahnya sendiri. Yang Yuna tidak pernah tahu, senyuman Haikal di layar ponsel tadi bukanlah tentang proyek kantor atau bisnis jutaan rupiah. Senyuman itu ditujukan untuk seorang wanita muda yang baru saja mengirimkan foto mesra mereka berdua di sebuah kamar hotel. Haikal telah lama berselingkuh di belakang Yuna, tidak hanya dengan satu wanita, melainkan dengan beberapa wanita yang ia temui di tempat hiburan malam dan lingkungan kerjanya. Bagi Haikal, Yuna hanyalah pajangan rumah yang penurut dan tidak akan berani melawan.
Malam semakin larut. Yuna tidak bisa memejamkan mata di kamar utama yang luas dan dingin itu. Ia berjalan menuju lantai atas, berniat mengambil selimut tambahan dari kamar tamu tempat Haikal tidur.
Langkah kaki Yuna sangat pelan saat mendekati pintu kamar atas yang sedikit terbuka. Cahaya remang-remang memancar dari dalam ruangan. Yuna hendak mengetuk pintu, tetapi gerakannya terhenti saat mendengar suara desahan dan bisikan dari dalam kamar.
Yuna menahan napasnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit.
Di dalam kamar, Haikal sedang duduk di tepi ranjang dengan kemeja yang sudah terbuka setengah. Pria itu sedang melakukan panggilan video dengan seseorang melalui ponselnya. Suara dari speaker ponsel terdengar cukup jelas di telinga Yuna.
"Mas... aku kangen. Kapan kamu ke apartemen aku lagi?" suara seorang wanita terdengar manja dari ponsel Haikal.
Haikal tertawa pelan, suara tawa yang tidak pernah Yuna dengar saat mereka sedang berdua. "Sabar, Sayang. Lusa aku usahakan ke sana. Aku juga kangen sama kamu. Gaun merah yang aku belikan kemarin sudah kamu pakai?"
"Sudah dong, Mas. Tapi sekarang sudah aku lepas semua... cuma buat kamu," jawab wanita itu dengan nada menggoda yang sangat vulgar.
Haikal terkekeh gatal, pandangannya terkunci pada layar ponsel sambil mengusap dadanya sendiri yang terbuka. "Dasar nakal. Jangan bikin aku nekat ke apartemen kamu malam-malam begini, ya."
Yuna membeku di luar pintu. Tangan kanannya yang memegang gagang pintu gemetar hebat. Seluruh tubuhnya terasa lemas seketika, seolah-olah semua tenaga di tubuhnya dicabut tanpa sisa. Hatinya seperti dihantam batu besar sampai hancur berkeping-keping.
Selama lima tahun ini, Yuna selalu berusaha menjadi istri yang baik. Ia menuruti semua kemauan Haikal, menjaga nama baik keluarga suaminya, dan mengubur semua mimpinya sendiri. Ia mengira sifat dingin Haikal hanyalah karena pria itu sibuk bekerja. Ternyata, selama ini Haikal membagikan tubuh dan perhatiannya kepada wanita lain.
Yuna mundur perlahan dari pintu itu. Ia berjalan kembali ke bawah dengan langkah sempoyongan, air mata sudah mengalir deras membasahi seluruh wajahnya. Ia menangis tanpa suara di sofa ruang tamu, meratapi nasibnya yang begitu malang.
Di tengah rasa sakit dan kehampaan yang membakar dadanya, pikiran Yuna melayang pada satu nama yang sudah lima tahun ini berusaha ia lupakan.
Rama.
"Rama..." bisik Yuna lirih di antara isak tangisnya.
Yuna teringat bagaimana hangatnya pelukan Rama dulu. Bagaimana Rama selalu menatapnya dengan penuh rasa cinta dan menghargainya sebagai seorang wanita. Jika saja lima tahun lalu ia mempertahankan cintanya pada Rama, apakah hidupnya akan sehampa ini? Apakah ia akan tetap menderita seperti ini?
Yuna memeluk lututnya sendiri di atas sofa. Rasa penyesalan yang sangat besar kini memenuhi dadanya. Ia terjebak dalam ikatan pernikahan yang beracun dengan pria yang sama sekali tidak menghargainya, sementara pria yang benar-benar mencintainya telah hilang tanpa kabar sejak hari pernikahan itu.
Tanpa Yuna ketahui, roda kehidupan sedang berputar. Di tempat lain, di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, seorang pria tampan berjas hitam mahal sedang menatap pemandangan lampu kota dari lantai paling atas. Pria itu adalah Rama. Pria yang dulu dicampakkan dan dihina karena hanya karyawan biasa, kini telah berubah menjadi sosok berkuasa yang memegang kendali atas perusahaan investasi terbesar di kota itu.
Dan Rama tidak pernah melupakan Yuna. Tidak sekalipun.